Suspension Bridge dan ojek sakti

Salah satu target utama perjalanan kami adalah main ke jembatan panjang, namanya Suspension Bridge. Menurut info pemandu kami, sebaiknya sepagi mungkin ke sana. Kalau sudah pukul 9, biasanya sudah ramai.

Setelah makan snack pagi burcangjo, pukul 6.30 pagi kami jalan ke Suspension Bridge dan air terjun. Ke sananya cukup jauh, dan turun tangga-tangga batu. Katan Mas Ali, lebih pendek jaraknya dibanding ke danau, tapi karena naik turun tangga batu, jadi terasa lebih melelahkan.

Continue reading

Tanakita Camping Ground

Sesampainya di Tanakita, kami disambut oleh beberapa staf dan juga snack pisang dan singkong goreng, serta kopi dan teh. Kami juga selalu dipandu oleh seorang yang sama, dari awal sampai akhir menginap.

Tanakita ini terdiri dari beberapa area. Begitu masuk gerbang, ada parkiran cukup luas. Lalu ada area makan, area bersama dan kantor staf. Di samping area itu, ada 2 area terbuka yang luas, disertai dengan kursi meja untuk makan atau ngobrol-ngobrol. Di bawahnya, ada 2 area utama untuk tenda; mungkin bisa sampai 30 tenda 3×3 meter.

Continue reading

Nge-bolang menuju Tanakita

Sehari sebelumnya kami mengepak segala sesuatu yang kami perlukan. Target kami hanya bawa 2 tas punggung besar dan 1 tas punggung kecil untuk Francis.

Untuk Francis, kami siapkan 7 paket baju celana; termasuk untuk tidur. Kami juga bawa jaket, sepatu keds dan sendal untuk basah-basahan. Tidak lupa membawa senter, payung, jas hujan dan peralatan kebersihan serta kesehatan pribadi. Untuk popok, kami bawa 9 saja.

Continue reading

Makan Mie Rebus Bersama Ya

“Aku juga ingin punya anak,” kurang lebih itulah tujuan yang ingin kakakku. Dan ternyata, itulah jalan yang telah disiapkan Tuhan baginya.

Namanya Veronica Mariana Dwi Astuti. Aku memanggilnya, Mbak Tuti. Kalau di luar, ia dikenal sebagai Vero. Tahun ini ia berusia 38 tahun. Ia menikah pada tahun 2016, tak lama setelah aku. Mei 2017, ia melahirkan seorang laki-laki, namanya Elven. Kakak si Ncis, tapi usianya lebih muda.

Continue reading