Wisata di Shanghai Perlu Lihai

Memang ya. Menjadi wisatawan di negeri orang harus penuh kewaspadaan. Kalau tidak, akan seperti kisah turis-turis di acara Scam City di Saluran National Geographic.

Sejak 29 Mei hingga 1 Juni 2014, aku berkesempatan pergi ke Shanghai. Tujuan utama perjalanan itu adalah menghadiri konferensi tentang ubiquitous learningNamun rugi namanya jika tak jalan-jalan. Hari pertama, aku dan seorang kawan pergi ke Sichuan Road. Katanya di situ banyak pusat perbelanjaan. Namun karena tak menemukanoleh-oleh menarik, kami akan lanjutkan perburuan keesokan harinya.

Sichuan Road

Pada hari kedua, kami naik Metro, sebutan untuk KRL di Shanghai. Setelah kurang lebih 15 menit, kami sampai di Nanjing Road. Konon katanya di sana banyak pusat perbelanjaan. Memang benar. Oleh-oleh untuk kolega kantor, kami dapat di sana. Namun tak hanya itu yang kami dapat.

Nanjing Road adalah sebuah jalan, kurang lebih 5-6 kilometer panjangnya. Di sepanjang jalan itu, terdapat pusat-pusat perbelanjaan. Karena acara kami selesai pukul 4 atau 5 sore, kami sampai di Nanjing sekitar pukul 7.

Nanjing Road di malam hari

Awalnya kami antusias. Tempatnya cukup menjanjikan untuk mencari oleh-oleh. Baru sampai, kami sudah membeli setumpuk teh berasa macam-macam. Kami pun lanjut untuk mencari lainnya.

Namun di tengah perjalanan, kami didekati pria lokal.

Do you want a massage?” katanya pada kami. “Sexy girl massage?” lanjutnya.

No!” jawabku, malas.

Lalu kejadian yang sama muncul. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Banyak kali. Sampai akhirnya kami malas dan sangat terganggu. Tiap kali ada orang berjalan mendekat, langsung pasang muka tertekuk dan siap menolak.

Namun kewaspadaan harus tetap dijaga, karena gangguan berikutnya lebih “halus.”

Saat sedang duduk melepas lelah, 2 orang wanita muda, berparas cantik, mendatangi kami. Salah satunya dengan sok akrab mencolekku dari belakang. Ia langsung menanyakan asal kami, seakan tahu bahwa ada 2 non warga sekitar sedang kebingungan mencari tujuan wisata,

Mereka memperkenalkan diri sebagai turis dari propinsi lain di Cina. Alasan mereka menyapa kami, karena ingin berteman, karena sesama turis yang tidak tahu tujuan di Nanjing. Lalu mereka mengajak kami jalan bersama, kemudian makan. Karena kami tolak, mereka lalu mengajak kami minum saja. “Make friends,” katanya.

Kalau kuperhatikan, mereka tak nampak seperti turis yang kebingungan. Pakaian mereka cukup menantang. Seorang yang bicara dekatku, memakai hot pants, berkemeja dengan kancing atas terbuka 1, rambut dicat emas, dan alis dibentuk. Ia juga nampak nyaman gerak-geriknya. Tak seperti turis dari luar kota yang mestinya nampak sedikit bingung. Keduanya pun tak membawa tas apapun. Janggal sekali.

Sampai akhirnya kami berdua berhasil meyakinkan bahwa kami ingin keliling lagi mencari oleh-oleh. Temanku bahkan bilang kami sedang berlibur. FYI, kami berdua ini pria. Mereka mungkin menyangka yang bukan-bukan karenanya.

Akhirnya mereka pun pergi. Kami pun demikian, namun lewat jalan lain.

Beberapa hari kemudian, aku diberitahukan mengenai skenario penipuan seperti itu. Skenario pertama, gadis-gadis itu sudah kongkalikong dengan bar tertentu. Kami diajak minum ini itu, kemudian botol-botol kosong diselundupkan ke tempat kami minum. Akibatnya kami harus bayar  mahal untuk minuman tersebut. Skenario kedua agak mirip, hanya tanpa botol-botol. Intinya kami akan diajak minum dan membayar mahal.

Syukurlah kami tak memutuskan kasihan pada mereka dan menemani mereka minum. Kalau tidak, jangan-jangan kami akan bangkrut tiba-tiba karena minum-minum. Apalagi kalau sampai kami menerima tawaran pijat plus-plus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>