Ada Haru Dari Teras Rumah

Tiba-tiba, rasa melankolis mulai menggenangi mataku saat menatap foto mereka berdua. Garis-garis pengalaman hidup mulai melintas wajah mereka. Sudah banyak pahit dan manis tertulis disana. Meski demikian, tatapan dan senyuman mereka menyatakan kebahagiaan yang dirasa. Sebabnya di belakang mereka, telah berdiri sebuah rumah hasil kerja banting tulang menahun. Pemandangan ini benar-benar mulai meruntuhkan bendungan dalam hatiku. “Tuhan, aku bersyukur atas apa yang telah Kau anugerahkan untuk Bapak dan Ibuku.”

Jika aku ingat pengalaman mereka, rumah ini adalah suatu mukjizat yang tak pernah terpikirkan. Bagaimana tidak? Kami sekeluarga adalah orang-orang dengan kemampuan finansial pas-pasan. Maka membuat rumah sendiri seperti yang berhasil berdiri ini, merupakan sebuah angan yang tak terbayangkan.

Bapak, sudah selama aku hidup, selalu bekerja di tempat yang sama, dengan job desc yang sampai sekarangpun aku tak bisa mendeskripsikannya. Yang ku tahu, dia sering mengurus sertifikat tanah, atau jual beli tanah. Dan percaya atau tidak, aku masih ragu dengan nama instansi tempat dia bekerja. Dulu aku tahu ia bekerja di PT. Djarum Kudus (entah benar atau salah). Sekarang dia di PT. Golindo Adyantara. Gajinya pun tak seberapa. Menurut ibu, dari dulu hingga saat ini, masih saja berkisar beberapa ratus ribu.

Lain lagi dengan ibuku. Bisa dibilang ia lah penopang keuangan keluarga, meski hanya guru pegawai negeri sipil yang mengajar kelas 1 SD. Penghasilannya, walau tak seberapa, mampu menghidupi keluarga dan bahkan menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus kuliah. Tabungan penghasilan ini pula yang akhirnya bisa membuat kami memiliki mobil dan juga membangun rumah.

Selama ini, rumah yang kami tinggali adalah rumah, semacam rumah kantor, yang ‘”dipinjamkan” dari tempat bapak bekerja. Seingatku, dari sejak kami pindah ke Jakarta sekitar tahun 1985-an, kami sudah menempati rumah ini. Tak hanya diberikan rumah, kami juga tak perlu membayar tagihan listrik dan telepon. Bahkan, saat sebelum krisis moneter tahun 1998, kami juga dipinjamkan mobil merk Kijang. (Memang, kami sangat sangat diberkahi. Dan aku bersyukur sekali karenanya).

Meskipun begitu, kami merasa butuh untuk mandiri. Sebab itu, kami memutuskan untuk membangun rumah baru. Sebenarnya, kami sudah punya rumah sederhana di kawasan Bojong. Namun rumah tersebut tak memungkinkan untuk ditinggali oleh kelima anggota keluarga kami. Akhirnya rumah itu pun disewakan dan kami sepakat membangun rumah baru.

Akhir 2010 rencana itu mulai dijalankan. Setelah berjibaku sana sini; membeli bahan bangunan, merancang rumah, mencari tukang bangunan dan mengumpulkan uang (dari tabungan, meminjam sanak saudara hingga menjual barang berharga), akhirnya di awal 2011 rumah ini sudah berdiri. Tinggal pagar besi saja yang belum dipasang disana; menunggu pagar tersebut selesai dilas. Namun bisa dibilang rumah ini sudah jadi. Di teras rumah baru inilah, aku meminta Bapak dan Ibu, yang jarang sekali difoto bersama, untuk diabadikan dalam gambar.

Pagi ini, saat aku menelusuri foto-foto dalam kamera dan menemukan foto mereka itu, aku terharu. Aku ingat betapa Bapak dan Ibu sangat bahagia karenanya. Tiap pagi, sepulang dari lokasi proyek, Bapak selalu memberitakan kemajuan yang dilihatnya. Tiap sore Ibu juga demikian. Ia selalu bercerita bagaimana keharuan yang dirasakannya ketika memandangi rumah yang telah kami bangun dengan ribuan mungkin jutaan bulir keringat. Perjuangan mereka berdua makin menambah keharuan dalam hatiku. Dan aku hanya bisa bersyukur dan bersyukur padaMu.

3 thoughts on “Ada Haru Dari Teras Rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *