Ada Meski Tak Terlihat

Selepas rapat, menjelang jam 4 sore, sebuah SMS datang seperti hujan deras memenuhi sungai di mataku.

Aku sedang berbicara dengan seorang kolega, saat sebuah pesan singkat menggetarkan ponselku. Isinya, ibu berbicara menyelamati ulang tahunku. Banyak doa di sana, mulai dari pekerjaan, rejeki hingga pendidikan. Aku membacanya terus hingga di akhir, “aku sangat menyayangimu.”

Aku tersedak. Sungai itu seperti hendak meluapi desa di tepiannya. Kutahankan diri, sambil terus mendengarkan obrolan.

Kalimat terakhir itu sepertinya membuatku merasa awkward. Ya, aneh. Di keluargaku, pengungkapan ekspresi atau emosi menjadi sesuatu yang langka. Meskipun itu adalah ungkapan rasa sayang. Wajar saja kalau banyak yang bilang bahwa aku terlalu datar atau lempeng. “Itu semacam ‘budaya’ di keluarga,” begitu pikirku.

Sejenak aku tak tahu mesti balas apa.

Namun kurefleksikan sejenak. “Aku bisa mengucapkan kalimat yang sama pada kekasihku. Tapi kenapa bagi wanita mulia yang berjuang melawan maut melahirkanku, aku kesulitan?”

Ya! Sebuah pesan terima kasih dan ‘aku juga sayang ibu’ kukirimkan ke nomornya.

Beberapa jam kemudian, pesan dari bapak juga masuk. Intinya dia juga mendoakanku sambil meminta maaf karena tak bisa memberikan apa-apa.

Kiriman-kiriman itu kemudian kuceritakan pada kekasihku. Katanya, “we love you!”

Selepas pulang, kejadian ini menggenangi pikiranku selama perjalanan. Perasaan-perasaan aneh nan bahagia menggelembungi dadaku.

Akhirnya aku sampai pada suatu simpulan sementara, “tampaknya mesti tak terlihat, kasih sayang itu tetaplah ada,” begitu bunyinya.

Meskipun tak terlihat, udara memenuhi sekitar kita, menyusupi hidung dan menggerakkan roda jasmani kita. Namun kadang kita terlalu ingin merasakan udara yang wangi atau udara yang sejuk, dan melupakan bahwa udara apapun itu tetaplah bentuk kasih Bumi pada kita.

“Ya, tampaknya itu. Mereka sayang padaku, meski tak pernah utarakannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *