Angan Khusus

Katanya setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Begitu tertulis di undang-undang negara kita. Apakah benar demikian adanya? Mungkin bagi pendidikan umum, sedang menuju ke sana. Namun bagi pendidikan yang tidak biasa? Mungkin masih menjadi angan-angan.

Suatu waktu aku berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah yang memiliki departemen untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Saat itu aku ingin belajar, khusus untuk anak dengan sindrom autisme. Di sana aku belajar dari 2 orang guru dan 2 orang murid autis.

Di sekolah tersebut, kurikulum nasional sama sekali tidak berlaku. Setiap anak yang dilayani, memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Buku-buku yang diproduksi untuk kurikulum nasional, hanya dipakai sebagai pembanding kemampuan anak di sana. Misalnya, di buku tertulis anak kelas 1 seharusnya memiliki kemampuan dan pengetahuan A atau B atau C. Jika ada anak di sekolah tersebut baru bisa A B dan C itu, maka kurikulum bagi anak tersebut akan dibuat sesuai kemampuan anak kelas 1.

Menjadi guru di sana pun bukan tanpa kesulitan. Selain mereka memiliki kurikulum khusus bagi setiap anak, mereka harus memiliki passion lebih untuk mengajar untuk mencegah stres dalam bekerja. Bayangkan saja, setiap hari, mulai jam 08.00-14.00, selama beberapa tahun, guru akan menemui siswa yang sama dengan kesulitan yang kurang lebih sama. Mereka akan mendapati bahwa siswanya hanya akan mengalami sedikit perkembangan kemampuan, setelah usaha keras guru. Selain itu beban kerja guru cukup besar, karena sesi istirahat atau makan siang pun guru perlu ‘mengajar’ juga.

Usaha keras ini juga diamini oleh seorang pengasuh di sekolah luar biasa, yang menangani anak autis. Katanya, untuk  menangani sekitar 116 anak berkubutuhan khusus, hanya ada 20 orang pengasuh. Di antara pengasuh tersebut, ada juga yang berperan ganda sebagai juru masak atau pelatih olah raga. Menurut pengasuh berusia 25 tahun itu, mencari pengasuh itu sangat sulit. Jarang ada yang mau. Sempat ada yang menjalani sesi trial selama sehari, namun tidak kuat dan akhirnya tidak melanjutkan.

Berbeda dengan guru di kedua institusi sebelumnya, ada lagi seorang ibu dengan anak tuna netra. Kebetulan ia sempat berbagi pengalaman di kelas Anak Berkebutuhan Khusus. Kesulitan yang dialaminya ketika memberikan pendidikan bagi anak adalah sulitnya mendapatkan sumber belajar. Belum banyak materi belajar yang bisa ‘dibaca’ anak tuna netra. Memang teknologi untuk membuatnya sudah ada, namun harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu baru 1 alat saja. Sedangkan masih ada beberapa alat lainnya yang tidak kalah mahal.

Akhirnya, harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia. Namun apakah bisa dilakukan, sementara pendidikan yang umum saja masih karut marut? Aku sendiri selalu optimis akan bisa. Beberapa orang dan kelompok yang peduli, sudah mulai menginisiasinya. Harapannya, angan-angan yang ada di benak guru dan orang tua, serta orang-orang yang peduli itu, akan bisa mengembangkan sayapnya dan kemudian menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *