Dari Enschede, 17.00 WIB

Syukurlah! Penantian sejak pertengahan Januari usai sudah dengan kejelasan; yang menegangkan sekaligus membahagiakan.

Maret sudah masuk, tapi pengumuman penerimaan belum ada. Di akhir Maret, 2 deadline beasiswa incaran akan datang. Kalau aku tak segera mengirimkan aplikasi beasiswa, dimana disertakan surat pernyataan penerimaan, maka melayanglah kesempatan kuliah di Belanda.

Maka pertengahan Maret, aku minta tolong salah satu pemberi rekomendasiku  untuk bertanya ke sana; sebelumnya e-mail pertanyaanku tak dibalas staf penerimaan. Jadilah 22 Maret terjadi perbincangan tentang status aplikasiku.

Menurut panitia penerimaan, aplikasiku cukup menjanjikan. Namun mereka masih butuh bukti bahwa aku memiliki skill menulis dan juga penalaran. Jadilah pada tanggal 23 aku ditugaskan membuat sebuah esai, untuk dikumpulkan pada 26 Maret.

Tugasnya adalah: aku diminta membuat sebuah rencana sistematis untuk mempersiapkan elemen-elemen di universitas (mahasiswa, pengajar, peneliti dan staf administrasi) bisa menghadapi sebuah perubahan (detilnya tak bisa kuceritakan lebih banyak).

“Lho, kenapa ya, aku diminta buat esai? Kayaknya gak ada di pengumuman awal deh.”

“Apa gue kurang meyakinkan ya?”

“Jadi gak pede nih.”

DAG DIG DUG!

Karena deadline itu, Kamis dan Jumatnya, aku minta ijin bos untuk menyepi di perpustakaan. Setelah berjuang, tugas pun selesai dan berhasil dikirim pada 26 Maret siang. Rencananya pagi-pagi mau kirim, tapi masukan dari kekasih membuatku menambahkan satu paragraf baru pada esai itu.

Usai tambahan separagraf, esai pun di-attach, lalu didoakan, kemudian dikirim. Amin! Tinggal tunggu pengumuman tanggal 28.

Senin, 28 Maret pun tiba. Sembari menunggu, seluruh aplikasi mendaftar beasiswa sudah kusiapkan. Tinggal masukkan surat penerimaan, lalu amplopnya dilem dan dikirim. Tapi sampai jam 16.30, kabar dari panitia belum masuk ke folder Twente di gmail-ku. Aku pun segera pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, seperti biasa aku langsung memarkir motor lalu masuk kamar. Setelah ganti baju, ponsel kuambil, lalu Opera Mini kubuka. Laman Gmail menjadi destinasinya. Saat itulah folder Twente sudah terisi sebuah e-mail.

“Ya Tuhan, inikah jawabannya?”

Perlahan kuarahkan kursor ke folder itu.

“Aduh, apa ya isinya?”

Ku klik folder tersebut dan membaca kalimat pertama, “Dear Mr. Triatmoko Heru Santoso, The Admission Committee evaluated your assignment and are happy to inform you..”

“Syukurlah, aku diterima!” hanya kubaca sekilas lanjutannya.

Tak sadar, mataku berkaca-kaca.

Kututup segera Opera Mini, lalu kurimkan sebuah pesan singkat ke ponsel kekasihku.

“Syukurlah, mas diterima.”

Ku jalan segera menuju dapur. Di sana ibuku berada.

“Ibu, aku keterima di Belanda.”

“”Puji Tuhan,” katanya sambil mengecup pipi dan keningku. Kulihat air mata menitik di pipinya.

Mbak yang sedang di samping ibu juga menyalamiku.

“Itu beneran?” tanyanya.

“Iya lah. Tapi asal beasiswanya keterima. Kalau enggak, ya ga jadi berangkat.”

Aku pun keluar dari dapur. Senyum mengembang di wajahku.

“Mungkin ini memang jalan yang sudah disiapkan bagiku. Aku akan menjalaninya, semoga dengan baik dan penuh dedikasi.”

5 thoughts on “Dari Enschede, 17.00 WIB

  1. Pingback: Gratitoday: 150411

  2. Pingback: Ditampar Hebat | aku dalam kata

  3. Pingback: Ditampar Hebat | aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>