Home » Fiksi » Berpisah Dengan Mentari

Berpisah Dengan Mentari

Ombak kecil bergantian memasuki garis pantai. Bergulungan. Merayap menuju pantai, lalu hilang. Datang lagi segulung dan hilang kembali. Kalau dilihat-lihat ibarat pungguk yang tak berhenti mendatangi bulan, meski sudah berkali-kali gagal mencoba. Kakiku yang menghalangi jalan mereka pun tak membuat mereka menyurutkan perjuangan.

Aku lalu kembali berjalan.

Di Barat, perlahan-lahan mentari siap beranjak menuju peraduannya. Warnanya yang lembayung berpadu cantik dengan biru berkilau wajah laut. Di kakinya, barisan awan memanjang di atas cakrawala sudah siap menyelimuti. Jauh di pantai, sepasang muda-mudi, basah kuyup, berangkulan erat memandanginya. Mereka tersenyum. “Selamat tinggal Mentari yang cantik. Kini saatnya kita mesti berpisah.”

Di Utara, gerombolan nyiur sedang berdansa sambil bersiul bersama angin sore. Tubuhnya yang tinggi ramping bergoyang bergantian menyambut nelayan dengan harta mereka. Di belakangku, suara teriakan anak-anak makin terdengar jelas. “Ayah pulang! Ayah bawa ikan!” Salah satunya terjatuh dan meninggalkan cetakan tubuhnya di pasir. Tapi segera ia bangkit, tertawa-tawa dan lanjut berlari menuju pelabuhan. Tak lama mereka kembali dengan segerobak ikan segar.

Hidup memang ibarat matahari terbit dan tenggelam. Ada yang datang, lalu ada yang pergi. Ada ikan yang ditangkap dan dimakan, esoknya sudah ada ikan yang baru. Yah, itu memang adanya hidup ini. Syukurilah meski terlihat menyedihkan.

“Ah, sudah saatnya aku juga harus pulang dan berhenti. Sudah terlalu lama aku menanti suamiku yang tak kunjung pulang melaut.”

Kubalikkan badan dan tersenyum menanti terbitnya matahari esok.