Home » Fiksi » Kebersyukuran » Refleksi » Tentang Cinta » Awan Kecil

Awan Kecil

“Ayah, nanti aku mau jadi awan terus ya?” sambil berputar kesana kesini bersama angin.

Ayah hanya tersenyum mendengar tingkah polah awan mini di sampingnya.

“Di sini enak. Aku bisa lihat semua makhluk bumi. Atap pepohonan. Liukan sungai. Indah sekali mereka ya. Aku suka!”

Ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut.

-

Sampai suatu waktu.

“Ayah, badanku kok makin berat ya? A..a..aku takut akan ja..jatuh,” awan kecil buru-buru menggandeng tangan ayah.

“Tak mengapa nak. Ini sudah waktunya menemui ibu bumi,” sambil ayah menunjuk ke bawah.

“Aku tak mau ayah. Aku ingin di sini saja,” awan kecil mulai berkaca-kaca.

“Nak, kamu lihat ikan di sungai itu? Tanpa keberadaanmu, mereka pasti akan kekeringan dan mati. Coba bayangkan kalau kamu tidak turun dan sungainya menipis.”

“Coba lihat pula pepohonan itu. Mereka tak akan bisa berbincang dengan kita jika tak bertumbuh dengan baik. Tanpa kamu, mereka tak akan setinggi itu.”

“Jadi memang aku harus kesana ya? Meski aku tak ingin?”

“Benar nak. Peranmu adalah sebagai ‘yang mengindahkan’ mereka, sehingga yang lain pun bisa menikmatinya. Tidakkah itu mulia, anakku?”

Awan kecil pun tersenyum.

Dilepaskan tangan ayahnya. Dan dia segera meluncur setitik demi setitik menjumpai pohon dan sungai.

  • http://arghett.blogspot.com Kimi

    Jangan bersedih, Kak Toso! Tetap semangaaaaat…! :D

  • http://fatriatmokohs.com FA Triatmoko HS

    makasih Kimi! semangat buat sidangnya! ;)