Home » Cerita » Harian » Kebersyukuran » Lebih Baik (Tidak) Sakit Gigi

Lebih Baik (Tidak) Sakit Gigi

Sudah dua minggu lebih, gigi, mulut dan sekitarnya menjadi tema utama hidupku. Dan akhirnya, 2 hari belakangan ini, kesembuhan makin jadi milikku.

Kejadiannya bermula dari Senin 11 Juli 2011, saat aku mengalami sakit gigi. Hari itu pagi-pagi aku mendatangi pusat kesehatan di kampus. Setelah bertemu dokter giginya, ternyata aku mestinya rontgen gigi dulu, baru konsultasi dengan beliau. Ya sudah, akhirnya aku hanya minta dokter membersihkan karan-karang di gigiku.

Hari berikutnya aku rontgen di tempat yang sama, dan kemudian melapor ke dokter yang sama. Katanya, gigi geraham belakangku harus dicabut, karena mendorong gigi di depannya.

“Dok, bisa cabut di sini atau perlu ke spesialis?”

“Di sini juga bisa,” jawabnya.

“Bisa langsung kerja gak?” aku khawatir karena di Juli ini akan banyak kegiatan.

“Bisa!”

Jadilah kami janjian hari Jumat jam 07.30 untuk cabut gigi.

Ternyata tidak hanya cabut gigi, melainkan operasi, karena gusiku akan disayat, dan gigi yang tersembunyi di dalamnya akan dicabut.

“GLEK!”

Tapi pagi itu aku sudah siap dan percaya diri (pagi-paginya mandi dan keramas; tak ada hubungannya sih).

-

Pukul 07.30 aku sudah sampai dan langsung disambut kursi pasien gigi. Aku duduk dan langsung mulai ‘direparasi’. Pertama kali pastinya aku dibius.

“Glek! Jarum suntik dimasukkan ke mulut!” seumur-umur, ini tampaknya baru pertama kali terjadi padaku. Tapi inilah yang harus terjadi. Takut sih iya, tapi ya mau bagaimana lagi. Kalau mau sembuh, ya harus seperti ini.

“Berapa lama dok cabutnya?”

“Paling lama setengah jam.”

Setelah dibius, bibir, gusi, gigi dan sedikit bagian lidahku tak berasa apa-apa. Ah, untunglah. Apa rasanya kalau tidak ada penemuan yang bernama anastesi ini?

Dokternya kemudian mengganti beberapa kali alat yang dipakainya. Ada suntikan, pisau kecil, bor dan juga alat mirip obeng. Namun tampaknya gigi belum tercabut juga.

Kulihat jam, sudah hampir jam 09.30. Tiba-tiba, alat mirip obeng yg dipakai dokter, seperti telah mengeluarkan sesuatu dari mulutku.

“Ah, syukurlah. Doaku selama cabut gigi ternyata berhasil. Giginya sudah tercabut.”

Tapi kok dokternya diam saja? Aku justru diminta berkumur-kumur.

“Mas, maaf. Kayaknya harus dirujuk ke spesialis deh. Giginya besar sekali. Saya tidak kuat mengangkatnya.”

“GLEK GLEK!”

“Oooh,” aku hanya bisa pasrah. Wong tak bisa apa-apa juga.

Dokter kemudian menjahit gusi yang sudah sempat disayat tadi.

“Aneh juga rasanya, gusi dijahit. Seperti tak sengaja menelan rambut, cuma lebih tebal.”

Selepas dijahit, gusiku diberi kapas dan aku diminta menahannya dengan cara mengatupkan mulutku. Dokter lalu membuat surat rujukan ke dokter spesialis di RS. Pasar Rebo.

“Harus sekarang ya dok?” tanyaku; mengingat tadinya aku sudah ada rencana mau mengerjakan sesuatu d kantor.

“Iya, sekalian aja.”

Aku pun menuruti dan langsung beranjak.

Di luar pintu operasi, kekasihku ternyata sudah menunggu. Kuceritakan semua yang terjadi, dan kami pun akan berangkat ke Ps. Rebo.

Setelah meminjam helm, kami bergegas kesana.

Ini kali pertama aku berobat diRS. Pasar Rebo. Biasanya aku hanya menjenguk saja. Setelah membuat kartu pasien dan mendaftar, kami mengantri di poli gigi. Bius yang tadi diberikan, sudah mulai menipis. Gusiku mulai nyut-nyutan.

Akhirnya aku bisa masuk dan menui dokter yang disarankan. Lalu kuserahkan surat rujukannya.

“Lah, ini dirujuk dari UI. Emang kenapa?”

Aku bingung sendiri, lalu menceritakan kejadiannya.

Setelah dia mendapatkan gambaran kejadiannya, aku diminta duduk di kursi pasien. Wajahku ditutupnya dengan kain, tinggal tersisa mulut dan hidungku saja. Di sebelah kiri, seorang asisten sudah siap membantu.

Dokternya kemudian mengambil hasil rontgen tempo hari. Tiba’tiba dia bertanya, “sudah berapa banyak gigi yang diambil?”

“Wah, gak tu tuh dok. Mana saya lihat?”

Dokter itu kemudian melepas semua atribut operasi yang sudah dipasang.

“Saya gak berani ambil resiko kalau begini. Kamu rontgen saja dulu, baru kesini lagi. Tapi karena Rontge-nya ngantri dan saya cuma praktik pagi, jadi operasinya hari Sabtu saja ya?”

GLEK!

“Saya Sabtu gak bisa, sudah ada acara. Rabu aja ya?”

“Bisa. Rabu pagi ya?”

Kesepakatan pun terjadi. Aku akan kembali lagi hari Rabu pagi.

Masih ditemani kekasihku, kami pun menuju ruang rontgen, antri lalu rontgen dan kembali ke UI. Menanti.. Menanti hari Rabu..