Lebih Baik Sehat

Setelah menanti operasi gigi yang tertunda, hari Rabu pun tiba.

Pagi-pagi aku sudah sampai di sana, dan bisa langsung menjalankan operasi. Dokterpun sudah siap dengan peralatan tempurnya. Hasil rontgen sudah dipajang di depan kursi operasi.

“Besar juga ya. Untung Jumat lalu belum dicabut. Ternyata belum sama sekali tercabut. Ini operasi yang sulit, masuk kategori A3.”

“Wah, saya jadi deg-degan dok (meski tak tahu apa itu A3).”

“Jangankan kamu. Saya aja deg-degan.”

GLEK!

Wajahku pun ditutup kembali. Asisten sudah siap dengan mesin penyedot di samping kiri. Dokter dan alat operasi ada di kanan. Dari sela kain penutup, aku lihat jarum suntik untuk biusnya sedang menuju ke arah mulutku.

Dokter yang ini cara membiusnya berbeda dengan yang di kampus. Jika dokter kampus minta maaf kalau aku mengeluarkan suara atau gestur sakit, dokter ini tak terlalu terpengaruh. Bahkan, saat gigiku sedang digoyang-goyang, ada beberapa bagian gigi yang belum terbius. Dia lalu menusukkan jarum suntik ke beberapa tempat dengan cepat. Begitu aku mengerang, dia langsung menyuntikkan biusnya.

Walau tampak sadis, tampaknya itu hal yang tepat. Kalau dokternya tidak tegaan, operasi pasti akan berjalan makin lama. Pasti akan mengurangi beberapa menit waktu sisa biusnya.

Kurang lebih satu jam, gigi pun berhasil tercabut!

“Gede bener. Gendut ini giginya,” kata dokter sambil memotret gigiku dengan Blackberry-nya.

Aku lega selega-leganya! Biayanya diberi diskon pula. Biasanya bisa sampai 2-3 juta, tapi aku hanya perlu membayar Rp. 500.000 saja. Untunglah.

“Minggu depan kamu kesini lagi ya, lepas jahitan.”

“Oke!”

Ternyata penderitaanku belum selesai. Selama seminggu itu: pipiku bengkak, mangap sulit, makan sulit, minum sulit. Aku hanya bisa makan bubur yang tanpa dikunyah dan langsung ditelan. Akibatnya, lambungku pun kena iritasi. Tiap kali menelan, rasanya nyeri di daerah ulu hati. Alamak!

Terpaksa, ketika seharusnya menjadi instruktur pelatihan, aku harus istirahat di rumah. Beruntung sekali kawan-kawanku sangat sigap dan siap menggantikanku di hari pertama pelatihan. Di hari kedua dan ketiga, dengan susah payah, aku tetap bisa memberikan pelatihan. Syukurlah!

Benar ya kata orang, kesehatan itu amat berharga. Tidak enak kalau lagi sakit. Aktifitas terganggu, makan sulit, obrolan terganggu, dan lain-lain.

Syukur pada Tuhan, pengalaman ini bisa kuterima. Memang bertubi-tubi sih, mengingat tak lama lalu aku pasti tidak jadi berangkat kuliah ke Belanda. Tapi, kalau tidak ada kejadian ini, mana mungkin aku jadi lebih kuat lagi? Setidaknya, aku jadi punya bahan curhatan ketika kelas pelatihan.

Hidup ini memang adil, seadil-adilnya!

2 thoughts on “Lebih Baik Sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>