Siapa Butuh Siapa?

Ternyata sesungguhnya kita yang membutuhkan mereka.

Dari kecil, kita selalu diajarkan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Anak yatim piatu, pengemis, gelandangan, dan orang-orang yang hidupnya tak senyaman kita. Bantuan bisa berupa uang, makanan pakaian atau seminimal mungkin, doa.

Ajaran itu masih ‘nempel’ sampai sekarang. Jadi kadang kita merasa enggan untuk memberikan sumbangan. Alasannya, kita juga membutuhkannya lho.

Tapi kalau kita coba resapi lebih dalam, bukan mereka yang membutuhkan kita.

Memang, hidup mereka tak senyaman kita. Makan dan minum saja sulit. Tapi, seperti sebuah kutipan “burung -burung di langit yang tak pernah mengumpulkan makanan dalam lumbung saja selalu diberkahi,” orang-orang tersebut selalu juga mendapati berkah.

Justru kita inilah yang seringkali, karena kesibukan dalam kehidupan dunia, jadi merasa tak diberkahi. Kita terlalu sibuk mengharapkan anugerah yang ekstravaganza, sampai lupa hal-hal kecil yang bermakna. Hembusan angin di tiap pagi. Cicit burungnya. Masakan bikinan ibu. Doanya saat kita pergi kerja. Juga saat memberikan sesuatu pada yang butuh. Aaah, nikmatnya.

Jadi, pagi ini aku mendeklarasikan diri untuk berbagi rejeki pada mereka. Bukan hanya karena ingin membantu mereka, tapi juga untuk belajar lebih memaknai hidup dengan penuh syukur. Dan caranya adalah dengan berbagi.

pesan bagi diri sendiri: semoga tak hanya omong belaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>