Home » Kisah Manusia » POPsy! » Psikologi » Dari Psikolog Jadi Pembuat Kue

Dari Psikolog Jadi Pembuat Kue

“Lalu (gelar) S2-nya mau diapain?”

Begitulah komentar yang diterima Andita Saviera (28) saat memutuskan meninggalkan aktivitas sebagai psikolog dan menjadi seorang pembuat kue. Namun ia tetap melaju menjalani hasrat hatinya itu dan menemukan kegembiraan dalam profesi barunya.

Ibu dari Naura Khalila (2,5) ini pada mulanya adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selepas lulus tahun 2005, ia langsung lanjutkan ke jenjang profesi dan mendapatkan gelar psikolog di tahun 2007. Setahun sebelumnya, ia telah menikah dengan salah satu teman kampusnya.

Begitu menjadi psikolog, ia lalu bekerja di sebuah klinik psikologi di kawasan Ragunan. Di situ ia mulai menangani klien. Ia mengaku memang berambisi menjadi psikolog.

“Sejak dulu tuh mikirnya pengen jadi psikolog mau membantu orang pasti seneng gitu,” begitu alasannya. Ia pun tak mengalami masalah “hanya” dibayar seratus ribu rupiah per sesi (Rp. 80.000 ia terima, sisanya untuk bayar uang sewa tempat).

Namun keinginannya membantu orang lain tak bisa semulus yang dibayangkan.

Tak lama; satu dua bulan setelah praktik, ia pun mengandung. Kehamilan ini ternyata berdampak besar bagi Andita. Sedari kecil ia mengidap spasmofilia; sebuah kondisi akibat kekurangan magnesium dan kalsium. Kondisi ini menyebabkannya sering mengalami lemas, nyeri otot, nyeri tulang, sesak napas, sakit kepala dan bahkan diare dan kejang. Kondisi ini pula yang akhirnya membuat Andita harus berhenti beraktivitas sama sekali, termasuk praktik.

Selepas dari klinik, ia mulai mempelajari pembuatan aksesoris manik-manik. Ia merasa gembira ketika mengerjakannya. Akunya, sang mertua lah yang membuatnya tertarik dengan seni membuat aksesoris ini. Saat itu ia baru teringat bahwa sejak kecil ia memang senang dengan warna dan kombinasinya serta menciptakan sesuatu. Namun sayang belum pernah tersalurkan. Jadilah ia mulai menggeluti pembuatan aksesoris manik-manik. Akibatnya, minat menjadi psikolog pun menurun.

Lagi-lagi, kehamilan jadi halangan. Karena tak kuat untuk duduk lama, kegiatan membuat aksesoris juga terhenti. Ia juga sering keluar masuk rumah sakit karena penyakitnya.

Ketika akhirnya Nana (panggilan dari Naura) lahir, Andita pun memutuskan untuk di rumah saja mengurus anak. Alasannya, karena ia merasa berat untuk meninggalkan Nana. Jadilah ia sering di rumah dan mencoba memasak. Di tahun 2010 lalu ia juga mencoba untuk membuat kue.

Ternyata ada berkah terselubung dari spasmofilia yang diidapnya. Ia merasakan kesenangan ketika memasak; saat ada komentar positif tentang masakannya. Tapi ia merasakan kesenangan yang lebih ketika membuat kue. Komentar orang lain terhadap kue bikinannya lebih positif daripada terhadap masakannya.

Beneran appreciation-nya tuh dan itu membuat gue rasa terpenuhi lah, ada perasaan…puas gitu, menyenangkan, seneng,” begitu ia menggambarkan yang dirasakannya.

Ia kemudian mencari di internet dan menemukan ada komunitas ibu-ibu pecinta memasak. Setelah bergabung, ia menemukan ada kursus menghias kue. Dengan berbekal uang jajan dari ibu serta menahan keinginan membeli baju, ia pun bisa ikut kursus tersebut.

Oh my god, gue suka banget!”

Kue pertama

Kemudian ia mulai melakukan promosi. Teman-teman adiknya menjadi pelanggan pertama. Sebuah pesta mini diadakan untuk memperkenalkan cupcakes buatannya. Ia juga mulai melatih dirinya dalam membuat cupcakes. Hingga akhirnya Juli 2010 Andita meluncurkan nama Mamamadecakes dalam bentuk blog. Di sinilah ia mulai menemukan passion dalam membuat kue.

Cupcakes berornamen pertama

Pada awalnya, ayah ibu hanya bisa nyengir saja. Mereka berpikir kesenangan anaknya itu hanya sesaat saja. Mereka juga masih berharap Andita akan tetap menjadi psikolog. Orang-orang sekitar lainnya juga banyak yang bertanya, “jadi (gelar) S2-nya gak dipake?” Namun Andita tetap bulat pada keputusannya.

Setahun kemudian, bisnis kue pun berkembang, bahkan lebih dari yang dibayangkan Andita. Pesanan makin banyak. Yang tadinya pelanggan hanya pesan dalam hitungan satuan, kini Andita sudah pernah mengerjakan hingga 100 pesanan cupcakes. Mamamadecakes pun merambah ke pembuatan kue, bukan hanya cupcakes. Otomatis, pendapatan pun meningkat. Bahkan bisa dibilang lebih besar ketimbang pendapatannya saat menjadi psikolog. Orang tua pun mulai memberikan dukungan. Katanya, mereka akan membantu pengembangan dapur.

Cupcakes saat ini

Perkembangan bisnis ini ternyata juga membawa hambatan baru. Karena keseluruhan proses pembuatan kue, mulai dari membuat adonan, memasak, menghias hingga mengantar masih dilakukan sendiri, alhasil banyak waktunya tersita untuk bekerja. Ia mulai merasa bersalah karena tidak bisa bermain dengan anaknya. Bahkan ia pernah bekerja hampir seharian (20-an jam) untuk menyelesaikan pesanan dan hanya sempat beberapa kali mencium atau memeluk Nana.

Kesibukan luar biasa ini yang akhirnya membuat Andita mempekerjakan 2 orang asisten rumah tangga: 1 untuk mengurus rumah dan 1 untuk menjaga anak. Ia juga terpaksa harus menolak beberapa pesanan.

“Ini gila nih, gue jangan terlalu gila terima pesenan sampe gue lupa tujuan sebenernya gue di rumah itu kenapa,” begitu alasannya.

Namun ia belum berhasil menemukan rekan baker yang bisa membantunya.

Baking itu adalah bagian yang sangat penting, dan itu baking termasuk  salah satu skill yang menurut gue susah, harus teliti.”

Meski masih menemui hambatan, Andita mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari pengalamannya. Kepuasan membuat cupcakes ternyata tak ditemuinya dimana-mana; ketika menjadi psikolog pun tidak. Ketika mendapatkan komentar bahagia dari pelanggan, rasanya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sedangkan ketika menghadapi klien, ia masih harus melewati berbagai macam proses (pencarian masalah, analisa dan penyembuhan). Belum tentu juga klien itu akan menerima hasilnya. Hal itu melelahkan, katanya.

Sometimes, kita harus melewati sesuatu tertentu untuk menyatakan kita gak suka sama itu (menjadi psikolog).”

Ia juga punya masukan bagi siapapun untuk urusan pekerjaan. Baginya passion atau panggilan hati itu penting. Jika seseorang passionate dengan apa yang dikerjakannya, semua halangan pasti akan bisa dilewati. Justru kita akan makin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Kepekaaan terhadap kondisi pasar juga penting. Kita perlu tahu apa saja yang sedang diminati pasar. Dan menggunakan media yang diakses oleh pasar (media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan blog), pasti akan membantu jika ingin bisa bekerja dari rumah.

Selain itu, jangan minder dan merasa tidak bisa. Karena siapapun masih punya waktu untuk belajar. Apalagi jika orang itu senang dengan apa yang dikerjakannya.

Dan yang terakhir, tidak pernah ada kata terlambat jika seseorang ingin berubah atau bangkit. Lihat saja, pengalaman Andita telah berbicara dengan sendirinya.

Rujukan

POPsy! Jurnal Psikologi Populer – diakses pada 7 Oktober 2011

Mama Made Cakes – diakses pada 30 Agustus 2011.

Spasmophilia – diakses pada 30 Agustus 2011.