Awan Mendung dan Panas Mentari
Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.
“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.
“Mengapa tak suka, nak?”
“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!”
“Tapi inilah tugas kita nak. Apa kau mau melepaskan diri darinya?”
“Jika memang harus!” Serangkai petir terlepas dari mata awan kecil.
Sejenak mereka terdiam, sambil berpandangan.
“Aku akan pergi!” lanjutnya.
Ayah masih dan hanya terdiam melihat awan kecil membebaskan tangan dari gandengannya lalu melayang sendirian.
Awan kecil kemudian kembali ke jalur yang telah dilaluinya tadi, dengan wajah muram.
Ia melihat sebuah desa dengan mayoritas atap rumah daun kelapanya sudah terlepas. Beberapa pohon sudah tumbang. Penduduk desa sedang berkeringat membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dua ekor tikusmengapung tak bernyawa di sungai yang meluap.
Awan kecil makin sedih. Dan ia pun menangis.
Kemudian ia menengok ke jalur yang tak dilalui kawanannya. Di sana, tanah sudah pecah pecah. Daun-daun lesu mencoklat. Penduduk desa bersusah payah mencangkul sawah yang tak akan bisa dipanen hasilnya. Dan tak jauh dari situ, seekor rusa mati di samping sungai kecil yang sama matinya.
Awan kecil terhenti dalam hening. Air matanya makin deras.
Sayup-sayup ia mendengar suara, “Terus. Terus. Aku haus.”
Tersadar, ia segera kembali ke tempat ayahnya berada.
“Ayah! Aku mau jadi mendung!”
“Aku mau turun menjadi hujan!”
“Aku mau menangis dalam bahagia, seperti seorang yang berkorban bagi sesamanya yg kesulitan.”
“Baiklah nak! Kutunggu kau di tanah sini ya!”
Dengan senyuman, awan kecil terjun dan memecahkan dirinya.
*Bisa dibaca juga di WritingSessionClub.Blogspot.com
Rekomendasi
Komentar
- FA Triatmoko HS on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Book Wish List
- Ibe on Book Wish List
- Ibe on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Catatan Akhir Semester
- auliyyaa on Catatan Akhir Semester
- Novani Nugrahani on Tentang Kesederhanaan
- Bali, Saya Datang! | aku dalam kata on Sorry, You’re the Speaker
- iiE on Sorry, You’re the Speaker
- FA Triatmoko HS on Seminggu Pertama Kuliah
Kategori
- Acak (201)
- Artikel (1)
- Berita Dunia (12)
- Inspirasi (5)
- Lingkungan (2)
- Bukuku (1)
- Cerita (74)
- Foto (5)
- Pendidikan (4)
- Psikologi (44)
- Kebersyukuran (26)
- Kisah Manusia (12)
- Kreativitas (1)
- POPsy! (5)
- Puisi (66)
- Refleksi (19)
- Tentang Cinta (9)
- Twente (8)
- Ulasan (20)
Arsip
Telusuri blog ini




