Baju Putih Kedombrongan Pak Jokowi

Selasa kemarin, 10 April 2012, aku mendapat kepercayaan menjadi nara sumber di acara workshop tentang e-learning di Solo. Penyelenggaranya adalah UNS. Seru juga, karena aku akan ke Solo pulang pergi di hari yang sama.

Berbicara tentang Solo, yang diingat pertama tentunya adalah budaya serta batik. Tapi akhir-akhir ini ada yang lebih menarik tentang kota Solo, khususnya bagi warga Jakarta. Apalagi kalau bukan Pak Joko Widodo, walikotanya yang akan ikut pemilihan DKI-1.

Sebagai warga Jakarta yang berniat menggunakan hak pilih, aku penasaran dengan pendapat warga Solo tentang Pak Jokowi, sapaan akrab pak walikota. Dan aku mendapatkannya saat ngobrol dengan orang-prang di dalam workshop.

“Pak Jokowi itu terkenal dengan ‘turun ke lapangannya’,” kata seorang ibu.

Lalu dari seorang dokter berusia dewasa muda, “Pak Jokowi, membuat kita banga jadi warga Solo. Tadinya Solo biasa-biasa saja, tapi sekarang sering ada festival-festival (budaya).”

“Beliau juga mendengarkan aspirasi-aspirasi rakyatnya,” imbuhnya.

“Lalu apa sih prestasinya Pak Jokowi?” tanyaku.

“Secara fisik mungkin tidak banyak. Yang paling terlihat hanya Bandara Adi Sumarmo, yang termasuk bandara kecil, termasuk salah satu bandara terbersih. Dan ini ketika di bawah (pemerintahan) Pak Jokowi. Lalu ada bus gratis masuk ke bandara. Tadinya tidak ada.”

“Nah, secara psikologis, prestasinya adalah ketika ia berhasil merelokasi 900-an pedagang kaki lima (PKL) tanpa ada kerusuhan. Sebab mereka sempat mengancam membakar gedung walikota, jika jadi direlokasi. Dan ancaman ini tentu bukanlah isapan jempol belaka.”

“Selain itu,Pak Jokowi juga masuk salah satu nominasi walikota terbaik dunia,” lanjutnya.

“Menarik juga sosok walikota ini. Tampaknya Warga Solo sangat bangga dan cinta dengannya.”

Seusai ngobrol dengan pria muda tadi, aku pun segera berangkat pulang menuju Jakarta. Seduduknya di pesawat, aku dikejutkan penampakan seseorang berbaju putih kedombrongan dan bercelana hitam. Orangnya kurus, kulit agak kecoklatan. Iya, Pak Jokowi naik pesawat yang sama denganku, dan duduk hanya 2 kursi di belakangku.

“Hihihi. Kekasihku nge-fans banget dengan Pak Jokowi. Kalau dapat foto berdua, dia pasti senang (dan iri tentunya).”

Jadi setelah turun pesawat, aku sok kenal sok dekat. Aku perkenalkan diri sebagai warga UI yang kemarin tak sempat lihat kuliah umumnya di kampus. Ternyata dia ingat lokasinya. Lalu aku minta fotonya.

“Boleh, wong cuma foto aja,” katanya sambil tersenyum.

Pak Jokowi, selepas turun pesawat

“Lho, kok cuma foto saya sendiri?” tanyanya, saat tahu aku hanya memfotonya saja.

“Wah, susah, tak ada yang bisa dimintai bantuan memfoto,” kataku, sedih.

Di tengah usahaku ngobrol lebih lanjut, sebuah panggilan masuk ke ponselku. Kesempatanku berdiskusi pun hilang. Pak Jokowi keburu direbut warga lain. Tapi tak mengapa, aku jadi punya impresi terhadap salah satu bakal calon gubernur DKI. Jikalau beruntung lagi, aku akan bisa bertemu dengan yang lainnya. Semoga.

One thought on “Baju Putih Kedombrongan Pak Jokowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>