Home » Harian » Kisah Manusia » Refleksi » Peperangan di Halte Arion

Peperangan di Halte Arion

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.

Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. Saat itu aku baru pulang dari Wisma Adisutjipto. Tak berapa lama setelah ku duduk, seseorang di sebelah kiriku mencolek-colek tanganku. Aku menengok dan menemukan seorang ibu, kira-kira 50 tahun usianya mengajakku bicara.

Kulitnya berwarna coklat sawo matang. Tulang wajahnya tampak menonjol. Alisnya tipis. Lingkar matanya agak cekung. Punggungnya bongkok. Saat itu ia mengenakan jilbab dan semacam daster yang menutupi tubuhnya hingga ke kaki.

“Dek, mau beli tas ibu gak? Lima puluh ribu, untuk berobat ibu,” sambil membuka plastik hitam berisi tas berwarna hitam pula.

Ia lalu menaikkan daster dan menunjukkan lututnya. Lutut tersebut tampak agak merah.

Dengan mengatupkan kedua telapak tangan ke arahnya, aku sesopan mungkin menolaknya. “Tampaknya ini strategi meminta-minta,” pikirku.

“Maaf bu,” kupandang ibu itu sejenak dan menyelesaikan kalimat, kemudian memalingkan muka menanti bus lagi.

Ibu itu masih mencoba menawarkan kembali dagangannya. Aku pun menolaknya kembali. Pertama, karena aku memang tak butuh tas. Kedua, bagiku, memberikan apa yang dimauinya hanya akan membuat perilaku tersebut bertahan. Ia akan terus meminta-minta.

Ia masih juga mencoba. Harga dagangan pun diturunkan jadi Rp. 20.000. Aku masih bergeming, tapi dalam hati tidak.

Kuingat uangku masih cukup untuk memberikan apa yang dia minta. Tapi aku ingin konsisten dengan tidak memberikannya. Setidaknya jika aku tak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aku bisa mencegah penidakberdayaan masyarakat. Namun ternyata tak semudah itu.

“Kok lo jahat banget sih? Lo kan punya uang segitu. Apa ruginya kalau uang itu lo berikan?”

“Tapi kalau gue berikan, ibu ini akan terus meminta-minta. Dia akan selamanya jadi peminta.”

“Tapi..”

“Tapi…”

Perdebatan makin menjadi saat ibu ini akhirnya tidak menjual tasnya.

“Ibu minta sepuluh ribu aja dek, buat ongkos pulang,” pintanya sambil mencolek lenganku lagi.

Mencoba tenang aku kembali menolaknya.

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Debat dalam diri makin kuat. Punggung dan tanganku menegang. Suaranya seperti menusuk-nusuk hati dan pikiranku.

“Lo diajarkan untuk mengasihi sesama. Tapi kok gini?”

“Ini bentuk kasihku untuknya.”

“Tapi apa ruginya hanya sepuluh ribu?”

“Tidak. Aku harus konsisten.”

Aku pun lelah. Bus menuju blok m sempat hendak kujadikan pelarian. Namun tak berapa lama bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Kuangkat badan dan segera naik ke sana.

Dari jendela bus, kupandangi ibu itu.

“Ya Tuhan, kalau aku berdosa karena ini, ku mohon ampun.”

Dan bus pun melaju bersama deru dalam diriku.

Malam kemarin, di tempat yang sama; di bawah lampu halte pukul 6 sore, kulihat ibu yang sama. Namun kali ini aku memutuskan untuk menunggu bus di luar halte. Tak mengapa jika aku harus berdiri lama.

Pakaiannya kurang lebih sama, hanya kali ini ia pakai rok sedikit di bawah lutut. Ia duduk di halte bagian tengah, sementara calon penumpang di halte itu duduk sekitar 1 meteran darinya.

Beberapa kali aku sempat meliriknya, apalagi saat ada orang yang duduk di sebelahnya persis. Yang kulihat adalah kurang lebih sama dengan yang kualami. Ia mengajak bicara orang di tersebut, lalu membuka plastik berisi tas.

Aku tak tahu apa yang ia omongkan. Tapi semua orang yang sempat diajak bicara, menunjukkan gestur menolak sesuatu. Ada yang dengan senyum lalu memalingkan muka dan ada yang seperti caraku menolaknya. Dan sekarang si ibu masih tetap duduk di tengah halte, membawa tas plastik dan dijauhi sekitarnya.

Dari luar halte, pertentangan dalam diri perlahan timbul kembali.

“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat? Jika tidak, aku mohon ampunanMu lagi.”

  • Ireng_legi

    sukaaa deh sama ceritanya moko…keyeeeeen….*angkat dua jempol tangan+dua jempol kaki*

  • Dialogduahati

    Aku tau ibu itu. Memang dia sehari-harinya nongkrong situ mok. Kl main2 ke deket arion lg, kabarin yah.

    • http://fatriatmokohs.com FA Triatmoko HS

      wah, penunggu halte ternyata ya..
      btw, kalau gue main2 ke arion, emang lo mau nemenin gitu? :D