Home » Cerita » Tujuh Donat, Dua Calon Perawat dan Seorang Penyamarata

Tujuh Donat, Dua Calon Perawat dan Seorang Penyamarata

Dari 7 donat yang ada, 3 berhasil kuhabiskan! Dan saat ini, semuanya sudah termakan habis; 4 lainnya dilahap teman-temanku. Padahal, sejam sebelumnya, aku kebingungan bagaimana mesti menghabiskan ketujuh roti yang bolong-tengahe itu.

Pukul 10.30an, kelas Fakultas Ilmu Keperawatan dimana aku menjadi fasilitatornya, sudah ditutup. Saatnya kembali ke kantor dan makan siang. Sekeluarnya dari kelas, beberapa mahasiswa kelasku sedang bergerombol di lorong, di depan kelas.Ternyata, mereka sedang melakukan transaksi jual beli donat. Diantara segerombolan itu, ada 2 anak yang sedang berjualan donat. Ketika melihatku, mereka menawarkan dagangannya padaku.

“Beli donat, mas?” katanya agak malu-malu.

Aku ragu, tapi tertarik; mengingat perut pun sedang kriuk-kriuk minta diisi. Tapi, di depanku ada 2 orang yang jualan. Aku jadi bingung memilih membeli donat dari siapa. Kalau dari si A, nanti bagaimana perasaan si B, dan sebaliknya. Supaya adil, akhirnya aku memilih membeli dari keduanya. Namun aku perlu tahu latar belakang mereka berjualan donat; supaya makin yakin.

“Ini jualan untuk apa?” tanyaku pada kedua pedagang donat.

“Untuk bantuan gempa, mas” jawab si mahasiswi.

“Untuk pribadi, mas” jawab si mahasiswa.

“Tapi yang ini lebih murah mas, cuma 1.500. Dia jualnya 2.000,” imbuh si mahasiswi seperti tak kehilangan calon pembeli.

Oke, masing-masing memiliki argumen sendiri. Aku pun menetapkan akan membeli dari keduanya.

“Namun, kalau beli satu, sepertinya kok janggal; sedikit sekali ya, nanggung,” pikirku.

“Oke, aku beli dua saja,” sambil menghitung-hitung biaya yang perlu kubayar.

Kedua pe(rawat)dagang itu segera menyiapkan donatnya.

“Mau rasa apa, mas?” tanya si mahasiswa.

“Coklat sama….eeemmm..kacang aja deh” jawabku.

Si mahasiswi, tidak menanyaiku; tapi tak apa. Toh, nanti donat-donat ini bisa kubagikan dengan teman-teman kantor dan seorang fasilitator yang juga bertugas di fakultas ini.

Keempat donat sudah siap diberikan kepadaku oleh kedua pedagang. Tapi tunggu, bagaimana aku bisa membawanya? Mereka cuma menyediakan masing-masing donat dengan penutup berupa tisu. Mana mungkin aku bisa menentengnya ketika sedang mengendarai motor menuju kantor?

“Lah, gue bawanya gimana ini?” tanyaku kepada keduanya.

Mereka pun kebingungan mencari-cari plastik. Setelah merogoh rogoh dan mencari-cari, hasilnya nihil. Sepertinya aku harus membawa keempat donat itu dengan tangan, sampai salah satu dari mereka bilang,”mas, pake ini aja,” sambil menunjuk kotak kertas tempat ia membawa seluruh donatnya.

“Tapi ini masih ada 3, mas” sambil membuka kotak itu dan menunjukkan ketiga donat di dalamnya.

“Yaudah, gue beli 3 ajah biar gampang.”

“Tapi, kalau gue beli 3 di A, lalu si B gimana? Ga adil dong?” aku bergelut dalam pikiran. Sejenak aku diam dan berpikir, sebelum kemudian mengambil keputusan,

“Gue beli 3 juga dari elo deh,” tunjukku pada penjual yang satu lagi.

“Wah, taktik dagang nih ya?” candaku pada mereka. Dan, mereka pun tertawa senang.

Ketika mereka memasukkan keenam donat ke kardus kertas, aku menghitung biaya gantinya. Ternyata totalnya adalah Rp.10.500.

“Tak apa-apalah, namanya juga membantu” begitu pikirku.

Si mahasiswi kemudain menyerahkan sekotak berisi 6 buah donat berbagai rasa. Kuambil, dan lalu segera aku pergi ke parkiran motor. Sayup-sayup di belakangku, terdengar suara gerombolan tadi, “Laku keras nih!”

Aku tertawa dalam hati mendengarnya, dan mengingat transaksi tadi. Tapi dalam benakku sudah ada rencana lain. Selain ke teman-teman kantor, donat ini akan kuberikan satu pada reka fasilitator di FIK ini pula. Pasti dia akan senang.

Begitu keluar gedung, kulihat rekanku itu sudah menunggu di kursi berpayung, di taman fakultas. Begitu melihatku menenteng sebuah kotak kardus dia bertanya,”apaan itu?”

“Tadi mahasiswa gue jualan donat, jadi gue beli aja,” jawabku.

“Lah, di kelas gue juga ada yang jual. Dan ini gue beliin satu buat elo,” jawabnya sambil menunjukkan donat berlapis keju di tangannya.

“Yah, gimana ngabisinnya ini tujuh donat?” kataku.