Home » Cerita » Puas dan Tak Menyesali Keputusan

Puas dan Tak Menyesali Keputusan

Aku baru tahu kalau Tania ternyata sudah putus dengan cowoknya; ia mengatakannya ketika kita sedang makan bersama di kawasan Pasar Baru.

Kupikir, mereka akan langgeng-langgeng saja, meskipun sejak lama mereka menjalani long distance relationship. Asumsi itu diperkuat dengan kepindahan pacarnya tersebut ke Jakarta, untuk bekerja. Apalagi, rumah mereka pun berdekatan. Namun ternyata dugaanku salah. Belum ada sebulan mereka sudah tak lagi berstatus pacaran.

“Jadi, lo lebih nyaman cerita di busway atau di dalam kereta?” tanyaku, menggoda Tania.

Kami pun tergelak, seraya berjalan menuju jalan raya, dan memutuskan naik kereta dari stasiun Juanda–sebelumnya, kami naik bajaj agar sampai stasiun.

Beruntung, kereta segera tiba tak lama setelah kami muncul di peron. Sayang, keberuntungan kami tak terulang dalam pencarian kursi kosong. Kami berdua hanya kedapatan ruang kosong untuk berdiri. Namun tak apa-apa. Selepas kami menemukan tempat yang nyaman untuk berdiri, cerita Tania pun dimulai.

“Awalnya sih dari pas liburan gue ke Bali. Gak sih. Sebenernya udah dari sebelum itu, tapi makin memuncak ketika di Bali.”

Aku mempersiapkan diri mendengarkan.

“Jadi kan gue liburan ke Bali selama seminggu. Nah, selama liburan itu, cowok gue gak pernah ngubungin gue, sampe akhirnya gue yang ngubungin. Kan gue bete.”

“Hal ini sebenernya ujungnya karena ada ketidak-klop-an gue sama cowok gue. Gak klopnya itu: yang menurut gue itu penting, tapi buat dia biasa aja.”

“Waktu itu gue pernah sakit. Wajar dong, saat gue sakit, gue berharap dia jenguk. Hal yang sama pasti akan gue lakukan kalo dia sakit. Namun, harapan gue itu membuat dia merasa tertekan; karena merasa tertuntut untuk menjenguk. Dia emang orangnya cuek. Jadi, kami gak pernah ‘ketemu’,” lanjutnya.

“Temen gue pernah bilang,mendingan kalian jauh-jauhan aja, karena saat itu gue gak akan mempersoalkan kebutuhan untuk ketemu itu. Cowok gue juga pastinya gak akan merasa tertuntut, karna emang ga mungkin dia bolak balik Jakarta Yogya.”

“Yang terjadi adalah lingkaran setan. Pas gue butuh dia ada, tapi dia gak bisa. Guenya juga jadi ngerasa bersalah; berasa terlalu menuntut cowok gue.”

“Bisa jadi dia mengalami hal yang sama,” kataku.

“Pas dia gak bisa memenuhi kebutuhan lo, bisa jadi dia juga merasa bersalah. Dan lingkaran setan pun muncul juga,” kuutarakan alasan; yang sangat mungkin terjadi pada mantan pacarnya.

“Mungkin juga,” jawabnya.

Tania nampaknya sudah mulai mengenali akar permasalahan yang dihadapinya; dan itu adalah hal yang positif menurutku.

“jadi ini yang membuat lo disorientasi?” ku candai dia.

“Ha ha ha, sial lo!”

Sebelumnya, ketika kutanya, “kita nyari apa sih?” dia menjawab, “sekarang hari Minggu.” Tak salah jika dia kusebut mengalami disorientasi.

Tania lalu melanjutkan kisahnya, ketika mereka membicarakan permasalahan yang sedang dihadapi. Dalam pembicaraan tersebut, mereka sama-sama mengutarakan perasaan masing-masing. Baik Tania dan pacarnya, sama-sama mengakui bahwa mereka sudah ‘biasa-biasa’ saja; sudah datar. Akhirnya, mereka pun sepakat untuk mengakhiri hubungan pacarannya.

Kejadian ini berlangsung kurang lebih 3 minggu lalu. Saat itu, mereka sedang jalan-jalan bersama. Tania merasa, selama perjalanan tersebut, cowoknya terasa ‘jauh’; ketika Tania ke sini, cowoknya kesana. Mereka juga tak bergandengan tangan. Namun, setelah keputusan untuk berpisah diambil, cowoknya pun jadi dekat; Tania mulai digandeng,dirangkul dll.

“Rrrrrr, maksudnya ni cowok apaan sih? Dulu lo kemana aja!” pikirnya dengan geram.

Aku menepukkan tangan di pundaknya.

“Tapi, apakah lo puas dengan keputusan lo?” coba ku konfirmasi dari Tania.

“Yah, cukup puas. Selain itu, gue gak nyesel. Biasanya kan, kalo abis putus, orang langsung nyesel, ‘menye-menye’ dan pengen balikan. Tapi gue enggak. Menurut gue, keputusan ini adalah yang terbaik, setidaknya buat gue.”

“Bukan tidak mungkin, ini adalah yang terbaik juga buat cowok lo,” kataku.

“Iya,” katanya.

Sambil mendengarkan, kulihat kereta telah sampai tujuan. Ku menoleh ke arah tania. “Eh, gue duluan ya,” saat kereta sudah tiba di stasiun Tanjung Barat.

Aku segera bergerak menuju pintu KRL, dan kami pun berpisah.

  • nes

    hi moko,
    just curious..do you post this writing with the consent of your friend? she does not mind that her ‘curhat’ is publicly posted? again just curious.

    • http://fatriatmokohs.com FA Triatmoko HS

      Yup, I did. I’ve always inform them when I want to publish their experience in my blog. And, I always use an alias to replace their name.

      But sometimes, I didn’t, because the ‘curhat’ was used only to open the writing. And there are no names mention there.

      Yet, it’s an interesting questions. I will keep that in mind, before publishing others personal thing. :)