Home » Harian » Hanya Pemikiran Kita Yang Tidak Baru

Hanya Pemikiran Kita Yang Tidak Baru

Kubuka mata setelah tidur menutupnya malam ini. Kugapai-gapai ponsel, yang biasanya ada di samping kiri badanku (atau kadang tertindihnya). Kupicingkan mata menatapnya; mencoba mencari tahu jam berapa sekarang.

05.36. Begitu terlihat di layarnya. Sudah beberapa minggu ini aku selalu terbangun di jam-jam yang kurang lebih sama seperti hari ini.

Aku jadi teringat pada suatu masa dalam hidupku. Kala itu, Aku terbangun di pagi hari dalam kondisi tak menyenangkan; badan letih, tak termotivasi karena tak ada tujuan yang jelas. Belum lagi aura ketidakjelasan yang terasa hingga seharian. Dan di malam harinya, perasaan bersalah menyerang karena telah menyia-nyiakan hari ini. Hidupku seperti hanya berputar-putar begitu saja setiap hari.

Kalau Aku mengingat-ingatnya, ada campur-campur perasaan yang kualami. Menyesal, pasti; kenapa dulu Aku bisa ada dalam kondisi itu? Sedih, iya; betapa Aku membuang-buang waktu masa itu. Tapi Aku juga bahagia. Pengalaman itu memberikanku sebuah cara pandang baru terhadap kehidupan. Kata orang bijak, kita akan mengetahui keberhargaan sesuatu jika kita kehilangannya. Yup, itu yang kualami. Tak ada bahagia-bahagianya diriku saat itu. Semua yang terjadi seperti bekerja melawanku. Apapun yang kulakukan pun seperti melawan arus hidup. Tak ada benarnya diriku rasanya. Aku sadar betapa membahagiakannya sebuah kebahagiaan itu.

Namun itu dulu.

Pagi ini, kubuka dengan puji syukur dan harapan-harapan. Jendela di belakang kepalaku segera kubuka juga, sambil kubangunkan badan ini. Kusibakkan gordyn dan tampaklah gelapnya pekarangan rumahku. Kubuka kunci jendela, lalu jendelanya. Udara dingin segera menyentuhi kulitku, mengaliri kamarku; sayang sekali model jendelaku tak memungkinkan untuk dibuka selebar-lebarnya, dan membiarkan udara pagi memenuhi kamar. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang dan kuhembuskan keluar. Belum puas, kutarik nafas lebih panjang, lalu kuhembuskan lagi. Tarikan ketiga lebih kuat lagi, hingga memenuhi paru-paruku. Kurasakan energi pagi memenuhi tubuhku. Kurasakan dia mengalirinya.

Kubuka mata dan mendapatkan pemahaman: udara, pepohonan di sekitar rumahku memang itu-itu saja; tak banyak perubahan. Namun pasti ada sesuatu yang baru dari mereka, entah itu ada sel-sel baru yang lahir, ada hewan baru yang menghuninya, dan juga oksigen baru yang telah membantu fotosintesis di hari sebelumnya. Aku, sebagai bagian dari dunia yang sama pula, bukan tidak mungkin terikat dengan hukum alam yang sama pula. Pasti ada sesuatu yang baru juga dalam tiap harinya. Sejenak kupikir.

Aha! Tampaknya, pemikiranku sendirilah yang mengaburkan pemahaman itu. Pemikiran bahwa hari ini akan jadi hari yang sama seperti kemarin!

Kubalik badanku, membuka pintu, keluar dan bersiap untuk mandi. Ya, memang hari ini akan sama seperti hari-hari kemarin; bangun pagi, makan, mandi, berangkat ke kantor, bekerja, pulang (sesekali mengunjungi rumah kekasih) lalu tidur dan bangun lagi. Namun, bahwa setiap hari adalah sesuatu hari yang benar-benar baru dan sayang jika dianggap sama seperti hari-hari lalu, membuatku beraktivitas dengan gaya yang berbeda juga. Pastinya Aku akan menjalani peran lamaku, namun kali ini penuh dengan nuansa baru.