Penyesalan Orang-orang Sekarat

Memang benar adanya bahwa penyesalan selalu datang belakangan, bahkan menjelang kematian.

Penyesalan-penyesalan itulah yang dicatat oleh Bronnie Ware, seorang perawat yang bertugas menemani pasien-pasien sekarat selama 12 minggu terakhir mereka.

Catatan Ware dalam blog-nya, Inspiration and Chai, kemudian dibukukan menjadi The Top Five Regrets of the Dying. Di dalamnya berisi kearifan yang didapat orang-orang sekarat semasa hidupnya dan bagaimana kita bisa belajar dari mereka.

“Saat ditanya mengenai penyesalan atau tentang sesuatu yang berbeda yang mereka ingin lakukan, tema-tema umum muncul berulang-ulang,” katanya. Ini adalah 5 yang paling sering.

Jujur Sesuai Diri Sendiri

“Aku berharap punya keberanian untuk menjalani hidup yang jujur pada diri sendiri, bukan hidup seperti yang diinginkan orang lain.”

Ini adalah penyesalan paling umum dirasakan. Saat seseorang menyadari hidupnya akan segera berakhir, namun masih banyak mimpi di masa lampau yang tidak terwujud karena pilihan-pilihan yang mereka buat maupun tidak mereka pilih.

Tidak Kerja Terlalu Keras

“Aku berharap tidak bekerja terlalu keras.”

Penyesalan ini muncul dari pasien-pasien pria Ware. Mereka melewatkan masa-masa muda anaknya serta kasih sayang pasangan dan menghabiskan banyak waktu hidupnya dalam roda pekerjaan.

Ungkapkan Perasaan

“Aku berharap memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan.”

Banyak orang yang menekan perasaannya agar tak bermasalah dengan orang lain. Memang orang lain pasti akan berekasi saat kita berkata jujur, namun kejujuran itu nantinya akan meningkatkan kualitas hubungan yang ada. Atau, akan melepaskan kita dari hubungan yang tak sehat. Ujung-ujungnya, kitalah yang jadi pemenangnya.

Komunikasi dengan Teman

“Aku berharap tetap berkomunikasi dengan teman-teman.”

Banyak penyesalan mendalam saat para pasien tidak mengusahakan dan menyediakan waktu untuk pertemanan. Mereka terjebak dalam kehidupan sendiri dan melewatkan persahabatan. Dan saat ajal menjelang, kerinduan akan sahabat pun menyerang. Karena itulah yang dibutuhkan di minggu-minggu terakhir: cinta dan persahabatan.

Lebih Bahagia

“Aku berharap membiarkan diri lebih bahagia.”

Ternyata banyak yang tak menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan. Mereka cenderung berada dalam pola hidup dan kebiasaan lama. Ketakutan untuk berubah memaksa mereka berpura-pura di hadapan orang lain. Di saat yang sama, mereka merindu untuk tertawa lepas dan melakukan hal-hal bodoh.

Bagaimana Dengan Kita?

Lalu bagaimana dengan kita? Mana yang akan kita pilih? Refleksikanlah.

 

Sumber

Inspiration and Chai. Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.

The Guardian. Top Five Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.

Susan Boyle – Prayer of Saint Francis

Make me a channel of your peace:
Where there is hatred, let me bring your love,
Where there is injury, your pardon, Lord,
And where there’s doubt true faith in you.

Make me a channel of your peace:
Where there’s despair in life, let me bring hope,
Where there is darkness, only light,
And where there’s sadness, ever joy.

O Master, grant that I may never seek
So much to be consoled as to console;
To be understood as to understand,
To be loved, as to love with all my soul!

Make me a channel of your peace:
It is in pardoning that we are pardoned,
In giving of ourselves that we receive,
And in dying that we are born to eternal life.

Belajar dari Ayu Utami

Sebuah pintu kayu berukuran kurang lebih 1×2 meter menerima kedatangan kami. Dari dalam, keluar sesosok wajah bermata tajam dengan senyum mengembang. Dia adalah  Ayu Utami. Dan hari ini, aku dan teman-teman Agenda 18 akan belajar tentang menulis dan filosofi tulisannya dari novelis peraih Katulistiwa Literary award 2008 itu.

Setelah memborong beberapa buku diskon di Gramedia Matraman dan nyasar di kawasan Utan Kayu, kami akhirnya tiba di rumah Mbak Ayu. Rumahnya tampak bersahabat dengan lingkungan. Di pagar depan ada serumpun bambu. Begitu masuk ruang pertama, langsung masuk ke ruang kerjanya. Di ruangan itu, sama seperti ruang lain, tak ada pendingin ruangannya. Sebagai ganti, ruangan tersebut berjendela banyak, tak berpintu bagian dalamnya dan tinggi jarak antara lantai dan atap. Ia juga membuat pupuk kompos untuk tanaman di rumah. Beginilah caranya untuk tidak tergantung dengan teknologi dan menjadi terpisah dari alam sekitar.

Begitu masuk, mata otomatis diarahkan ke sebuah dinding dengan lemari buku besar. Entah ya, mungkin ukurannya 10x5m; dan isinya buku semua. Sebuah tangga beroda tampak bersandar disana. Di sebelahnya, semuah meja kayu, kursi dan laptop berinternet. Di sinilah Ayu biasa menulis, sambil juga membaca.

Ia lalu menempatkan sebuah kursi di depan meja perpustakaannya dan mulai berkisah.

Menurutnya, ia tak pernah merasa jenuh ketika menulis. Ia selalu punya sesuatu untuk ditulis. Kejenuhan ini beda dengan tak bisa menuangkan ide. Kalau itu, dia juga pernah mengalaminya. Solusi yang dijalankannya: istirahat dulu, nonton film, main piano atau naik papan panjat.

Terkait dengan hobi panjat dinding dan naik gunung, novelis berusia 42 tahun ini mengaku hobi ini sangat berpengaruh terhadap penulisannya. Ketika menulis Bilangan Fu, ia bisa naik ke Gunung Gede 3 kali dalam sebulan.

Dari beberapa cerita yang telah dibaginya, yang menurutku menarik adalah pendapatnya mengenai pengaruh alkitab bagi penulisannya. Ditemani ubi dan talas rebus, sari kacang dan diiringi rintik hujan, ia membagikan pandangannya itu.

Ayu, yang dibesarkan di keluarga penganut Katolik,  merasa sangat terinspirasi oleh kitab sucinya. Meski saat ini ia mengaku tak lagi mempercayai institusi agama, tapi kitab suci sangatlah menarik baginya. Katanya, di dalam cerita alkitab, banyak hal yang bisa didapat. Kita bisa menemukan berbagai macam karakter manusia, sebagai bahan pembuatan karakter. Juga bisa ditemukan berbagai macam konflik di sana. Dia sangat kaya sebagai karya sastra. Namun yang terpenting, nilai-nilai di dalamnya yang kemudian menjadi dasar pemikiran Ayu dalam melakukan berbagai hal.

Selain itu, dia juga mengutarakan pandangannya terhadap pertelevisian di Indonesia. Menurutnya, saat ini jarang ada acara televisi bagus. Oleh sebab itu, dia merasa tak butuh televisi teknologi terbaru. Televisi di ruang kerjanya, hanyalah televisi jadul yang difungsikannya jika ingin menonton DVD.

Ngobrol dengan Mbak Ayu memang butuh kemampuan menalar agak mengawang. Topik bahasannya banyak yang filosofis dan mendasar. Sehingga perlu perhatian ekstra dalam memahaminya. Namun, pemikiran kritis itulah yang memang menjadi ciri khasnya yang ingin ditularkan pada orang lain.

Tak terasa pukul 4 lewat. Kami pun segera mohon pamit pada empunya rumah. Setelah sesi foto-foto dan tanda tangan, kamipun bertolak dari rumahnya.

Terima kasih sudah bersedia diganggu hari Minggunya. Lain kali kami ganggu-ganggu lagi.

Aku Suka Senin!

Senin. Sering disamaartikan dengan berakhirnya masa libur akhir pekan. Dan, disamakan dengan dimulainya hari kerja yang meletihkan. Sehingga muncul anekdot “I don’t like Monday” atau “Aku tak suka hari Senin”. Namun, tak ada salahnya mulai kita belajar dari rekan-rekan beda spesies yang hidup diantara kita ini.

Senin ini, mereka pagi-pagi sudah olahraga.

Badan keringatan dan bau setelah olahraga. Solusinya: mandi pagi.

Kalau sudah wangi, enaknya ngumpul-ngumpul sama keluarga.

Lalu makan bareng.

Minum-minum bareng.

Kalau sudah kenyang, bolehlah, masuk kamar lalu dandan biar ca’em.

Ngaca deh, biar yakian kalau sudah cakep.

Kalau sudah rapi jali, jangan lupa pamit sama orang tua; supaya menjadi berkah dalam kegiatan hari ini.

Lalu, masuk mobil dan siap berangkat beraktivitas.

Kalau tak bawa mobil, kita selalu bisa nebeng kok.

Dan, siap beraktivitas hari ini!

Selamat hari Senin, semuanya! Selamat menjadi berkah bagi sesama! :)

Sumber

The Telegraph Picture Galleries 30 Oktober 2009.

The Telegraph Picture Galleries 23 Oktober 2009.

Kehidupan Anak Dicatat Ibu Pelupa

Seorang ibu bernama Karen Wilkinson-Wigham, mencatat kehidupan bayinya agar dia bisa mengingatnya, setelah hilang ingatan akibat meningitis.

Karen Wilkinson-Wigham dan George, anaknya

Tahun 2005, ibu berusia 37 tahun ini terserang TB meningitis. Akibatnya, dia mengalami koma dan harus dirawat secara intensif. Meski selamat dari penyakit berbahaya yang disebabkan oleh infeksi dan pembengkakan lapisan otak ini, sistem ingatan jangka pendeknya mengalami kerusakan permanen. Oleh sebab itu, ibu dari 2 anak, Colne dan Lancs, lupa kejadian yang dialami tiap hari; termasuk kelahiran kedua anaknya itu.

Setelah tahu sedang mengandung anak ketiga, setiap hari ia menulis catatan harian, sehingga tidak lupa masa kecil calon bayinya itu. Catatan ini dimulai saat George, nama anak ketiganya, lahir di bulan September.

“Catatan ini sangat penting bagiku, sebab ketika George sudah besar dan bertanya padaku, dia akan mendapat jawabannya,” katanya.

Penyakitnya mulai muncul pada natal 2005, saat dia mulai sakit dan mengalami migren berat. Dia segera dilarikan ke rumah sakit, namun langsung mengalami koma. Meskipun dokter khawatir dia tak akan sembuh benar, tapi dia berhasil sembuh, walau mengalami kerusakan ingatan.

*terharu*

Sumber

The Telegraph – Mother with no memory keeping diary ‘to remember son’s life’

TB Meningitis dari www.meningitis.org