Menjadi peneliti itu bukan lantas menjadi orang yang paling tahu sedunia. Justru akan makin jelas kenyataan, bahwa banyak yang belum diketahui.
Itu insight yang terpikir saat aku mulai berkuliah lagi di jurusan sains psikologi pendidikan. Di sini aku dididik untuk menjadi peneliti di bidang psikologi pendidikan.
Hampir tiap hari kami disibukkan dengan aktivitas sok pintar, macam membaca jurnal hasil [...]
Menjadi peneliti itu bukan lantas menjadi orang yang paling tahu sedunia. Justru akan makin jelas kenyataan, bahwa banyak yang belum diketahui.
Itu insight yang terpikir saat aku mulai berkuliah lagi di jurusan sains psikologi pendidikan. Di sini aku dididik untuk menjadi peneliti di bidang psikologi pendidikan.
Hampir tiap hari kami disibukkan dengan aktivitas sok pintar, macam membaca jurnal hasil penelitian, membuat makalah, berdiskusi, dan sebagainya. Tapi bukannya makin pintar, justru makin merasa banyak yang belum diketahui.
Banyak sekali fenomena-fenomena psikologis yang belum terkuak. Penelitian yang sudah ada pun, tentu masih ada kelemahannya. Nah, itu penelitian-penelitian dengan partisipan orang luar negeri, dengan pola teori mereka juga. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Siang ini (13/05/2013) aku berkesempatan menonton sidang terbuka promosi seorang calon doktor di kampus. Penelitiannya sangat menarik, karena ia meneliti tentang pemaafan dalam budaya Jawa.
“Wow, keren sekali!”
Anggapanku juga diamini oleh guru besar yang menguji calon doktor tersebut. Kata mereka, pemaafan itu sesuatu yang sangat penting, sehingga penelitian tentang itu pun juga penting. Apalagi ketika penelitiannya dibalut perspektif budaya Jawa.
Dari presentasi calon doktor, yang akhirnya menjadi doktor, makin menguatkan bahwa aku belum tahu apa-apa. Banyak sekali hal yang tadinya kupikir sudah kuketahui, tapi ternyata tidak.
Jadi hati-hati saja, ketika kita pikir kita tahu segalanya. Jangan-jangan justru kita tidak tahu apapun.
“Please, dear self. Stay humble.”
Paling bahaya memang mampir ke toko buku. Semuaaa buku ingin dibeli. Padahal, lemari buku di rumah, termasuk setengah tempat tidurku, sudah penuh buku yang belum terbaca.
Sejauh ini ada beberapa buku incaran yang belum terbeli. Ini dia:
Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking. Susan Cain (2012). Dari judulnya [...]
Paling bahaya memang mampir ke toko buku. Semuaaa buku ingin dibeli. Padahal, lemari buku di rumah, termasuk setengah tempat tidurku, sudah penuh buku yang belum terbaca.
Sejauh ini ada beberapa buku incaran yang belum terbeli. Ini dia:
- Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking. Susan Cain (2012). Dari judulnya juga sudah ketahuan isi buku ini; termasuk mengapa aku ingin membelinya.

- 102 Minutes. Jim Dwyer & Kevin Flynn. 2nd ed 2011. Isinya adalah kisah-kisah korban selamat tragedi runtuhnya menara kembar WTC 11 September 2001. Tampaknya akan mengerikan sekaligus mengharukan.

- Buyology: Truth and Lies About Why We Buy. Martin Lindstrom. 2010. Buku hasil riset mendalam ini menjelaskan bagaimana manusia mengambil keputusan untuk membeli sesuatu. Menarik!

- The Magic of Reality. Richard Dawkins. 2012. Ceritanya, tentang penjelasan fenomena-fenomena alam dari sudut pandang sains.

- A Taxonomy for Teaching, Learning & Assessing. Lorin W. Anderson, et.al. 2000. Bukunya berisi revisi taksonomi Bloom yang terkenal itu.

There! Semoga ada yang berbaik hati membelikan. Apalagi buku terakhir, yang sulit didapat di toko buku lokal.
Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.
Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai [...]
Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.
Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai gitaris 2.
Rasanya seperti baru kemarin aku tergabung di sana. Latihan dari 1 studio ke studio lain. Dari yang sound system-nya pas-pasan hingga mencoba studionya personil band Stinky.
Seperti baru kemarin juga, gerilya dari satu panggung ke panggung lain. Dari 1 festival ke festival lain. Satu radio ke radio lain.
Kupikir dulu jalanku adalah di musik, yaitu jadi musisi. Sejak kecil, musik sudah jadi bagian hidupku. Tiap pagi selalu terputar alunan lagu dari kaset milik bapak ibu. Saat SMA, aku mulai ngeband secara resmi. Dari 1 acara ulang tahun teman ke ulang tahun teman lain, hingga acara ulang tahun sekolah.
Setelah tergabung dalam Harmonic, aku pun makin yakin dengan jalan musik. I’m willing to go through everything for it. Tawaran menjadi salah satu kepala bidang di senat kampus ditolak. Tawaran kerja dengan gaji menggiurkan juga kutolak. Semua untuk bisa bermain musik dalam band dan manggung, lalu bisa menghasilkan kaset.
Namun makin lama, aku merasa ada yang tidak pas. Sepertinya bukan jadi musisi seperti itu yang kubutuhkan. Yang selalu terbayang saat mengandaikan diri menjadi musisi adalah: panggung kecil, dekat penonton, suasana hangat, diselingi minuman hangat dan obrolan santai. Bukan seperti band-band di televisi.
Band-band di televisi juga turut membentuk keputusanku. Aku tak ingin seperti mereka, yang tak otentik. Dicitrakan sesuai kebutuhan dan kemauan produser, demi keinginan pasar. Belum lagi isi lagu mereka. Rata-rata lagu-lagu cinta yang..yah, tak mengajarkan hal-hal positif bagi pendengarnya. Aku takut suatu saat akan jadi bagian roda itu.
Pemikiranku makin bulat. Jalanku bukan di situ. Dan aku pun mengundurkan diri dari band.
Malam ini, hampir 5 tahun kemudian. Ingatanku terbang menuju masa itu, saat aku dan Harmonic berjalan bersama. Kami telah membuat lagu-lagu yang bagus. Enak didengar lah. Tapi memang jalan kita hanya sampai di situ saja; setidaknya untuk kali ini.
Namun kawan, aku doakan kita, kamu dan kamu, supaya, meski tak lagi bersama dalam musik, akan tetap menjalani hidup masing-masing yang penuh berkah. Sungguh kawan, karena tak mungkin aku untuk tak merindukanmu.
Tak terasa sudah satu semester aku menjalani kuliah pasca sarjana. Buku catatan kuliah sudah habis setengah lebih. Folder-folder di komputer sudah penuh dengan dokumen tugas, e-book dan jurnal-jurnal penelitian. Buku-buku baru sudah memenuhi kamar. Ujian-ujian juga sudah terlewati. Tinggal beberapa ujian dan tugas berbentuk esai atau laporan yang dalam beberapa hari ke depan.
Awal Tahun [...]
Tak terasa sudah satu semester aku menjalani kuliah pasca sarjana. Buku catatan kuliah sudah habis setengah lebih. Folder-folder di komputer sudah penuh dengan dokumen tugas, e-book dan jurnal-jurnal penelitian. Buku-buku baru sudah memenuhi kamar. Ujian-ujian juga sudah terlewati. Tinggal beberapa ujian dan tugas berbentuk esai atau laporan yang dalam beberapa hari ke depan.
Awal Tahun 2013 nanti aku tak akan lagi belajar teori kreativitas, filosofi pendidikan, filsafat ilmu, penelitian lanjut dan juga psikologi keberbakatan. Aku akan berjumpa pengetahuan-pengetahuan baru. Dosen-dosen baru. Tugas-tugas baru. Dan tentunya, mulai menseriusi topik tesis.
Di akhir tahun dan akhir semester ini aku bersyukur diberikan kesempatan berkuliah lagi. Sungguh, ini sebuah pengalaman yang mencerahkan sekaligus menyenangkan; saat bertukar pikiran dengan pengajar serta teman sekelas, menerima pandangan-pandangan baru dari mereka, menyatukan dengan pemahaman lama di dalam kepala atau juga merevisinya.
And I’m looking forward for the next semester’s class.
Seumur hidup saya belum pernah berkunjung ke Bali. Paling jauh, berkelana ke Yogyakarta. Hah!
Tapi minggu depan saya berkesempatan mampir ke pulau dewata itu. Bukan untuk berlibur (walaupun juga untuk itu), namun ikut ISODEL, sebuah konferensi internasional tentang e-learning, pendidikan jarak jauh dan pendidikan terbuka. Perginya dari tanggal 3-6 Desember.
Konferensinya sendiri diadakan [...]
Seumur hidup saya belum pernah berkunjung ke Bali. Paling jauh, berkelana ke Yogyakarta. Hah!
Tapi minggu depan saya berkesempatan mampir ke pulau dewata itu. Bukan untuk berlibur (walaupun juga untuk itu), namun ikut ISODEL, sebuah konferensi internasional tentang e-learning, pendidikan jarak jauh dan pendidikan terbuka. Perginya dari tanggal 3-6 Desember.
Konferensinya sendiri diadakan di Discovery Kartika Plaza Hotel, tanggal 4-6 Desember. Tahun 2009 saya juga pernah ikut konferensi serupa yang bertempat di Yogyakarta. Saat itu, saya sempat disangka panitia, padahal akan menjadi pembicara.Huh!
Konferensi kali ini pasti lebih seru, karena akan berangkat bersama 4 orang rekan di kantor. Semoga sempat berbagi hasilnya di sini nanti, dan tidak jadi turis yang norak.

Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.
Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.
Semoga berhasil adik-adik!
Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.
Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.
Semoga berhasil adik-adik!
Yeah! I’m enjoying college life. Learning new things. Sharing and discussing knowledge with fellow students. Writing papers. Lecturers. Sleepiness. Laughter. All of it; at least until today.
Soal ujiannya berbentuk esai, 10 soal, mayoritas hafalan, waktu pengerjaannya 1 jam 30 menit. Uhuk uhuk!

Ujian Tengah Semester Psikologi Keberbakatan dan Kurikulum Berdiferensiasi
Soal ujiannya berbentuk esai, 10 soal, mayoritas hafalan, waktu pengerjaannya 1 jam 30 menit. Uhuk uhuk!
Tanda X kulihat ada di kolom di mana mestinya aku mengisi tanda tangan bukti kehadiran kuliah. Ya, siang ini aku tak kuliah; karena kebodohanku sendiri. Huh!
Pukul 12-an aku sudah siap berkuliah. Beberapa tab peramban internet dan dokumen-dokumen segera kututup, lalu komputer pun kumatikan. Berpamitan, kemudian aku pergi menuju kelas.
Jam tanganku masih menunjukkan pukul [...]
Tanda X kulihat ada di kolom di mana mestinya aku mengisi tanda tangan bukti kehadiran kuliah. Ya, siang ini aku tak kuliah; karena kebodohanku sendiri. Huh!
Pukul 12-an aku sudah siap berkuliah. Beberapa tab peramban internet dan dokumen-dokumen segera kututup, lalu komputer pun kumatikan. Berpamitan, kemudian aku pergi menuju kelas.
Jam tanganku masih menunjukkan pukul 12.30-an.
“Masih satu setengah jam lagi aku baru kuliah. Sekarang makan dulu deh.”
Pecel ayam kantin Taman Korea jadi pilihan pengisi tenagaku. Walau rasanya tak senikmat dulu ketika aku kuliah S1, tapi masih lumayanlah rasanya.
Selepas kenyang dan cuci tangan, aku beranjak menuju kantin psikologi.
“Masih setengah jam lagi kuliah mulai.”
Aku pun duduk dan bercengkerama dengan beberapa makhluk mahasiswa di kantin.
Kulihat jam, tak terasa sudah 13.45. Kuangkat tas, notes dan pulpen Pilot yang baru kubeli di koperasi. Dengan santai aku melenggang ke kelas di gedung H.109. Tak sampai 5 menit aku sudah sampai di depan pintu kelas.
Hendak kubuka gagang pintu, saat kulihat di kaca pintu ada segerombolan orang sudah duduk melingkar di dalam kelas.
“Wah, belum jam 2 tapi kelas sudah mulai. Apa ini kelas lain ya? Tapi kok wajahnya teman sekelasku? Waduh, kayaknya aku salah lihat jam kuliah. Sudah pasti gak boleh masuk kelas. Dosennya tidak suka dengan keterlambatan.”
Ya sudah, dengan langkah galau aku meninggalkan kelas berisi kuliah Metode Penelitian Lanjut itu. Kubuka ponsel dan memeriksa jadwal kuliah. Memang betul, jadwalnya adalah jam 13.00.
“Kenapa begini ya? Seingatku kuliahnya jam 2 deh.”
Daripada berpikir lama-lama dan makin galau, aku akhirnya masuk ke perpustakaan dan mulai berniat membaca buku sebagai bahan tugas esok. Meskipun saat awal-awal membacanya, aku masih diliputi kegalauan.
Pukul 15.30 aku keluar perpustakaan dan hendak menuju kelas. Maksudnya ingin minta materi kuliah dan tanya-tanya tugas. Ternyata di pintu keluar perpus aku jumpa salah satu teman sekelasku. Dari dia aku tahu apa saja yang dipelajari tadi, tugasnya dan juga adanya perubahan jam kuliah dari jam 2 menjadi jam 1.
“Bah, ternyata itu penyebabnya.”
Jadilah ini pembolosan perdana di S2. Dan begitulah asal tanda X kolom tanda tanganku.
Rekomendasi
Komentar
- FA Triatmoko HS on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Book Wish List
- Ibe on Book Wish List
- Ibe on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Catatan Akhir Semester
- auliyyaa on Catatan Akhir Semester
- Novani Nugrahani on Tentang Kesederhanaan
- Bali, Saya Datang! | aku dalam kata on Sorry, You’re the Speaker
- iiE on Sorry, You’re the Speaker
- FA Triatmoko HS on Seminggu Pertama Kuliah
Kategori
- Acak (201)
- Artikel (1)
- Berita Dunia (12)
- Inspirasi (5)
- Lingkungan (2)
- Bukuku (1)
- Cerita (74)
- Foto (5)
- Pendidikan (4)
- Psikologi (44)
- Kebersyukuran (26)
- Kisah Manusia (12)
- Kreativitas (1)
- POPsy! (5)
- Puisi (66)
- Refleksi (19)
- Tentang Cinta (9)
- Twente (8)
- Ulasan (20)
Arsip
Telusuri blog ini






