Hand-Face Changer

*tulisan ulang sebuah notes di Facebook

Tak sedikit teman yang berkomentar tentang wajahku. Kata mereka, wajahku begitu-begitu saja; datar-datar lah, tanpa ekpresi lah, ini itu lah. Oleh sebab itu, Aku terbakar semangat untuk menciptakan sebuah alat supra-canggih, yaitu pengubah wajah portable atau kusebut dia dengan nama hand-face changer (H-FC).

Prinsip dasar alat ini adalah mengubah wajah seperti tampilan emoticon. Untuk makin mempermudah pengguna, alat ini ditanam di telapak tangan. Jadi, ketika hendak mengubah wajah, tinggal buka telapak tangan, pilih wajah yang diinginkan, dan.. Voila! Wajah telah berubah.

Setelah melalui penelitian yang sungguh-sungguh, hingga berdarah-darah, akhirnya mesin H-FC ini selesai juga. Seperti ini bentuknya, lengkap dengan tombol on-off yang berfungsi menyalakan atau mematikan mesin pengubah itu:

H-FC

Hand-face changer yang mutakhir itu

Aku pun segera mengujicobakan alat ini pada wajahku sendiri. Awalnya, H-FC ini belum stabil, karena mesinnya belum panas. Namun dalam 10 menit, alat itu sudah panas dan siap digunakan. Dengan bantuan seorang teman kantor, hasilnya pun terlihat segera. Ya seperti ini:

Hasil H-FC

Hasil H-FC

Bagaimana, tertarik mempergunakannya?

Aku, Dahulu Hingga Hari Ini

Aku. Dahulu. Pernah merindukan kamu. Mengingat-ingat senyumanmu. Mengulang-ulang gerak lambat tawa khasmu. Atau sekedar membaca kembali tulisan tanganmu.

Aku. Tak lama lalu. Pernah merasakan sembiluan karena keputusanmu meninggalkanku. Katamu, kita tak akan pernah berhasil. Katamu, tak ada guna jika lanjutkan jalan berdua. Sampai akhirnya kamu kembali kepadanya.

Aku. Tak sampai sebulan lalu. Telah menetapkan untuk menerima kepedihan itu. Ia bagian dari masa lampau yang perlu kuterima. Kuikhlaskan ia sebagai jalur menuju hikmah di kemudian waktu. Dan aku tetapkan untuk melepasmu.

Aku. Hari ini. Berharap tak perlu menyudahi mimpi-mimpi tadi. Jadinya, tak perlu pula aku menyudahi nafasmu dengan ujung belatiku.

Nikmatnya Segelas Air

Aku berhenti dari lariku dan duduk di kursi peron. Terengah-engah. Punggung dan dada kemeja penuh bercak keringat. “Sia-sia aku ngebut dari rumah!”

Pukul 12-an aku keluar dari gang rumah di kawasan Utan Kayu. Siang ini aku ada kuliah di Depok jam 13.00. Metro Mini jurusan Kampung Melayu segera kuhentikan, begitu lewat di depanku.

Penuh. Sumpek. Wangi minyak menyengat sampai ubun-ubun, plus “aroma” ketiak mas-mas yang berdempetan di depanku. Lega rasanya saat aku bisa turun dan tiba di Stasiun Manggarai.

Berlari kecil aku menuju loket. Backpack berisi laptop 14 inchi dan 2 buku setebal bata merah tak membantuku mempercepat laju lari. Dari loket aku bergegas memasuki peron. Sudah pukul 12.15. Sebuah kereta commuter line sedang parkir di jalur menuju Bogor. “Itu dia!”

Celingak celinguk, sambil kulari membelah stasiun. Takutnya ada kereta menyambar dan mengambil nyawaku.

Kuarahkan pandang ke kereta tujuanku. “Lho..lho..lho..kok pintunya menutup? Kok dia mulai jalan?”

Dan kini aku sedang terduduk penuh peluh menyaksikan ekor kereta melambaikan tanda perpisahan denganku. Baru  jam 12.58 aku akan bisa mulai mengejarnya.

Reflek, kuambil segelas air di saku samping tasku. Untung dia selalu kubawa kemanapun.

Kutarik bungkus sedotannya lalu kutusukkan ke tutup gelasnya. Cusss! Dan beberapa bulir air keluar dari lubangnya.

Kumasukkan sedotan ke mulut dan mulai menyesap dalam-dalam sumber kehidupan itu.

“Astagfirullah! Aku sedang puasa!”

*edisi tersunting dari tulisan saat workshop menulis bersama Ayub Yahya.

Awan Mendung dan Panas Mentari

Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.

“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.

“Mengapa tak suka, nak?”

“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!”

“Tapi inilah tugas kita nak. Apa kau mau melepaskan diri darinya?”

“Jika memang harus!” Serangkai petir terlepas dari mata awan kecil.

Sejenak mereka terdiam, sambil berpandangan.

“Aku akan pergi!” lanjutnya.

Ayah masih dan hanya terdiam melihat awan kecil membebaskan tangan dari gandengannya lalu melayang sendirian.

Awan kecil kemudian kembali ke jalur yang telah dilaluinya tadi, dengan wajah muram.

Ia melihat sebuah desa dengan mayoritas atap rumah daun kelapanya sudah terlepas. Beberapa pohon sudah tumbang. Penduduk desa sedang berkeringat membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dua ekor tikusmengapung tak bernyawa di sungai yang meluap.

Awan kecil makin sedih. Dan ia pun menangis.

Kemudian ia menengok ke jalur yang tak dilalui kawanannya. Di sana, tanah sudah pecah pecah. Daun-daun lesu mencoklat. Penduduk desa bersusah payah mencangkul sawah yang tak akan bisa dipanen hasilnya. Dan tak jauh dari situ,  seekor rusa mati di samping sungai kecil yang sama matinya.

Awan kecil terhenti dalam hening. Air matanya makin deras.

Sayup-sayup ia mendengar suara, “Terus. Terus. Aku haus.”

Tersadar, ia segera kembali ke tempat ayahnya berada.

“Ayah! Aku mau jadi mendung!”

“Aku mau turun menjadi hujan!”

“Aku mau menangis dalam bahagia, seperti seorang yang berkorban bagi sesamanya yg kesulitan.”

“Baiklah nak! Kutunggu kau di tanah sini ya!”

Dengan senyuman, awan kecil terjun dan memecahkan dirinya.

*Bisa dibaca juga di WritingSessionClub.Blogspot.com

Minus Dua dan Nol

Angin berhembus semilir menggoyangkan rerumputan. Nyamuk-nyamuk mulai keluar dari sarangnya, siap mencari mangsa. Matahari siap tertidur “Mengapa Aku ada sih?” tanya Minus Dua pada angka Nol.

Nol diam saja sembari mencondongkan diri ke arah Minus Dua.

“Aku tak habis pikir mengapa Ia memilih memakai namaku?” ditunjukknya seorang wanita usia hampir-20 tahun yang kini jadi tuannya.

“Yang Aku tahu, Ia selalu mengulang-ulang dalam pikirannya,”

WAJAHKU JELEK DAN BERKULIT HITAM

“Sama kejadiannya dengan kawanku, Minus 4. Ia selalu mendengar ulangan kata-kata tuannya,”

AKU PENDEK, HIDUNG PESEK, BADAN KURUS DAN TAK PUNYA TEMAN.

“Namun kami masih beruntung memiliki tuan. Lihat di sana. Minus 79 tak pernah bertuan untuk waktu lama. Tiap tuan barunya akan berakhir membunuh dirinya sendiri.

“Kami semua sedih karena ini. Siapa yang mau seumur hidup diganggu suara-suara negatif itu?”

Nol tertunduk.

“Padahal, sebelum Manusia memilihku, Plus 8 sudah mengantri di sampingku. Entah apa pertimbangannya.”

Nol mengangkat kepalanya. Ia akan mencoba menjawab, namun tahu tak akan mampu menjawabnya dengan memuaskan.

“Yang kutahu, kalian ada untuk membantu Manusia. Misalnya, dengan adanya Minus Dua, manusia jadi tahu berapa apel tersisa dari 8 apel, setelah dimakan kelelawar dan jatuh ke tanah. Atau, Manusia jadi tahu suhu lingkungan sekelilingnya dan bisa memutuskan mau memakai baju apa hari itu.”

“Aku juga tak tahu pasti mengapa, namun jika kuperhatikan, dalam hati Manusia selalu menganggap semua Minus sebagai diri yang sesungguhnya. Dan Aku pun sedih karena itu.”

“Padahal lihatlah Bumi ini. Semua berawal dari Nol dan berkembang menuju Plus. Pohon tumbuh meninggi, memiliki ranting, bercabang dan berbuah. Hewan, dari fetus, menjadi bayi, jadi dewasa dan kemudian memiliki bayi.”

“Adalah hukum alam, ketika semua makhluknya berpotensi menjadi lebih baik dari pertama kali muncul di dunia.”

“Tapi, mengapa mereka memanggil namaku sebagai nama mereka?” tanya Minus Dua.

“Aku pun tak bisa jawab,” sesal Nol.

Mentari terbenam mulai melukiskan lembayung di langit. Hingga perlahan malam mengganti tirai dengan gelap. Dan kedua sahabat itu pun menutup hari dengan tanya yang belum tuntas terjawab.

 

Titik Hujan, Tikus Tanah & Air Putih

Awan kecil sudah merelakan diri menjadi bagian dari bumi. Ia pun menitis menjadi hujan dan menyatu dengan tanah. Tapi betapa kecewanya ia ketika tahu apa yang ditemuinya disana.

Perlahan ia menyusupi rongga-rongga tanah. Tak ada yang akan menghentikan niatnya kini. Namun tiba-tiba ia tertumbuk, semacam tembok berwarna putih. Bentuknya bulat dan berdinding. Kini awan kecil yang sudah menjadi titik hujan terperangkap di dalamnya.

Ketika mencoba membebaskan diri, seekor tikus tanah melintas dan menabrak benda perangkap itu.

“Bisa kau bantu aku keluar dari sini?” kata titik hujan.

“Ternyata ada air terjebak di dalam ember,” katanya sambil mengayunkan tangan agar ember tersebut tumpah.

Air-air di dalamnya kemudian tercecer keluar.

“Benda apa ini? Siapa makhluk yang tega membuat dan meletakkannya di sini?” titik hujan kesal.

“Berkenalanlah dengan ember, sebelum dia memenjarakanmu lagi suatu saat nanti.”

“Ember ini buatan manusia. Aku seringkali melihatnya untuk membawa air-air sepertimu. Kalau sudah bolong seperti ini, jelas ia tak berguna lagi. Maka manusia membuangnya ke dalam tanah.”

Belum selesai ia mencerna penjelasan tikus tanah yang tampak sudah uzur itu, ia dikejutkan oleh air-air seperti dirinya, namun putih.

“Siapa kamu?” tanya titik hujan.

Namun air putih itu diam saja.

“Itu salah satu kreasi manusia lagi. Tadinya ia sepertimu. Tapi ia jadi begitu karena tercampur deterjen. Manusia memang kreatif,” kata tikus tanah, mencibir.

“Meski terlihat polos, namun ia sudah banyak membunuh kawan-kawanku. Kau tahu?!” Mata tikus tanah membelalak menatap air putih.

“Manusia. Katanya makhluk berakal dan beradab. Tapi membunuhi makhluk lain demi kesenangan diri sendiri.” Tikus tanah memerah wajahnya, penuh amarah.

“Belum lagi pohon-pohon yang merana karena diracuninya!” Si tikus tampak makin geram.

Menyedihkan sekali, pikir titik hujan. Ia seperti menggumamkan kekecewaannya pada Sang Pencipta.

“Tak perlu kalian menyalahkan siapa-siapa. Tidak manusia, tidak pula Penciptanya,” akhirnya air putih buka suara.

“Manusia masihlah teramat muda. Coba bandingkan dengan dirimu yang usianya sama tuanya dengan kehidupan itu sendiri,” sambil menunjuk titik hujan.

“Atau denganmu yang sudah mengenal tanah, barangkali sejak tubuhmu masih raksasa,” menengok ke arah si tikus.

“Wajar saja jika mereka belum tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Yang mereka tahu hanyalah kesejahteraan diri mereka sendiri. Ibaratnya merekalah pusat alam semesta ini. Maka merekalah yang patut diperhatikan.”

“Tak ada yang perlu kita keluhkan. Jalanilah peran sebaik mungkin. Kau, jadilah pemuas dahaga tanah dan pohon. Kau, tetaplah menggemburkan tanah. Dan aku? Alam paling tahu bagaimana membuatku murni kembali.”

Titik hujan termenung mendengarnya. Air putih ini, meski dikambinghitamkan dan kotor, tetap bisa menerima apa yang terjadi padanya.

Titik hujan pun malu. Ditatapnya tikus tanah yang juga tertunduk malu.

Kami pun berpisah di sini. Tikus tanah kembali melanjutkan perjalanannya. Aku meneruskan menanggapi panggilan akar. Dan air putih hilang tersesap tanah.

Awan Kecil & Burung Jalak

Awan kecil siap menitik menuju tanah ibunya. Ditengoknya kembali langit dan ayahnya yang bergantung di sana. Ayah tersenyum bangga. Namun awan kecil merunduk dalam ketidakrelaan.

“Aku masih ingin di langit. Bercanda dengan angin. Dikelitiki petir. Untuk apa aku mesti berjumpa dengan bumi?”

Ia pun makin meluncur ke bumi dan makin tak ikhlas.

Tiba-tiba seekor burung jalak ikut menukik di samping awan kecil. Badannya kecil. Bulunya campuran putih dominan dan hitam. Paruhnya yang kuning satu-satunya warna yang berbeda.

“Halo kawan! Mau bertemu dengan pohon juga ya?” katanya dengan suara setengah berkicau.

“Iya,” awan kecil menjawab dengan was-was binatang yang baru dikenalnya itu.

“Wah, kau harus siap-siap berbagi ruang dengan yang lain ya. Banyak yang ingin tidur di dalamnya.”

“Ngomong-ngomong, kau orang baru di sini ya? Aku belum pernah melihatmu,” tanya si jalak.

“Betul,” awan kecil menjawab. Dalam hati ia bergumam, “burung ini bodoh sekali, tak kenal siapa aku.”

“Kau tahu? Aku sudah tua, namun pepohonan masih saja memberikan dirinya untukku dan keluargaku.”

Awan kecil terdiam.

“Di dalam lubang di salah satu pepohonan itu, istri dan ketiga anakku, dilindunginya.”

“Kalau kami lapar, kami tinggal mencari buah di rantingnya atau ke bawah mencari serangga.”

“Kalau haus, kami tinggal melompat, hap, dan kami sudah di kolam.”

“Sungguh mulia, Siapapun yang menyediakannya. Pohon yang kokoh nan subur. Kolam yang segar. Tanpa mereka, kami tak akan hidup.. Ah, sudahlah omong kosongku. Kau mau mampir ke tempatku dulu?” tanya busung jalak.

“Tak usah. Titipkan salam bagi keluargamu,” balas awan kecil.

Burung jalak berbelok menuju sebuah pohon rindang. Cicitan anak-anaknya sudah terdengar nyaring.

Nyanyian keluarga jalak itu, entah bagaimana mampu menenangkan awan kecil. Ia merasa dirinya tak akan sia-sia. Ia memiliki peran penting dalam kehidupan, meski kadang ia menginginkan peran lain.

Ia pun kini telah siap menyambut tanah.

“Oia, jalak, kita akan jumpa lagi. Pasti itu!” teriaknya dalam senyuman.

Awan Kecil

“Ayah, nanti aku mau jadi awan terus ya?” sambil berputar kesana kesini bersama angin.

Ayah hanya tersenyum mendengar tingkah polah awan mini di sampingnya.

“Di sini enak. Aku bisa lihat semua makhluk bumi. Atap pepohonan. Liukan sungai. Indah sekali mereka ya. Aku suka!”

Ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut.

-

Sampai suatu waktu.

“Ayah, badanku kok makin berat ya? A..a..aku takut akan ja..jatuh,” awan kecil buru-buru menggandeng tangan ayah.

“Tak mengapa nak. Ini sudah waktunya menemui ibu bumi,” sambil ayah menunjuk ke bawah.

“Aku tak mau ayah. Aku ingin di sini saja,” awan kecil mulai berkaca-kaca.

“Nak, kamu lihat ikan di sungai itu? Tanpa keberadaanmu, mereka pasti akan kekeringan dan mati. Coba bayangkan kalau kamu tidak turun dan sungainya menipis.”

“Coba lihat pula pepohonan itu. Mereka tak akan bisa berbincang dengan kita jika tak bertumbuh dengan baik. Tanpa kamu, mereka tak akan setinggi itu.”

“Jadi memang aku harus kesana ya? Meski aku tak ingin?”

“Benar nak. Peranmu adalah sebagai ‘yang mengindahkan’ mereka, sehingga yang lain pun bisa menikmatinya. Tidakkah itu mulia, anakku?”

Awan kecil pun tersenyum.

Dilepaskan tangan ayahnya. Dan dia segera meluncur setitik demi setitik menjumpai pohon dan sungai.

Berpisah Dengan Mentari

Ombak kecil bergantian memasuki garis pantai. Bergulungan. Merayap menuju pantai, lalu hilang. Datang lagi segulung dan hilang kembali. Kalau dilihat-lihat ibarat pungguk yang tak berhenti mendatangi bulan, meski sudah berkali-kali gagal mencoba. Kakiku yang menghalangi jalan mereka pun tak membuat mereka menyurutkan perjuangan.

Aku lalu kembali berjalan.

Di Barat, perlahan-lahan mentari siap beranjak menuju peraduannya. Warnanya yang lembayung berpadu cantik dengan biru berkilau wajah laut. Di kakinya, barisan awan memanjang di atas cakrawala sudah siap menyelimuti. Jauh di pantai, sepasang muda-mudi, basah kuyup, berangkulan erat memandanginya. Mereka tersenyum. “Selamat tinggal Mentari yang cantik. Kini saatnya kita mesti berpisah.”

Di Utara, gerombolan nyiur sedang berdansa sambil bersiul bersama angin sore. Tubuhnya yang tinggi ramping bergoyang bergantian menyambut nelayan dengan harta mereka. Di belakangku, suara teriakan anak-anak makin terdengar jelas. “Ayah pulang! Ayah bawa ikan!” Salah satunya terjatuh dan meninggalkan cetakan tubuhnya di pasir. Tapi segera ia bangkit, tertawa-tawa dan lanjut berlari menuju pelabuhan. Tak lama mereka kembali dengan segerobak ikan segar.

Hidup memang ibarat matahari terbit dan tenggelam. Ada yang datang, lalu ada yang pergi. Ada ikan yang ditangkap dan dimakan, esoknya sudah ada ikan yang baru. Yah, itu memang adanya hidup ini. Syukurilah meski terlihat menyedihkan.

“Ah, sudah saatnya aku juga harus pulang dan berhenti. Sudah terlalu lama aku menanti suamiku yang tak kunjung pulang melaut.”

Kubalikkan badan dan tersenyum menanti terbitnya matahari esok.