Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.
Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.
Semoga berhasil adik-adik!
Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.
Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.
Semoga berhasil adik-adik!
Leonardo da Vinci, yang kita kenal saat ini karena lukisan Monalisa, bisa dikategorikan sebagai seorang pribadi yang kreatif. Ia memiliki bakat kreatif serta memiliki beberapa sikap kreatif yang menonjol sebagai indikatornya.
Leonardo memiliki bakat kreatif, yaitu mampu menangkap masalah lebih cepat, luwes dalam berpikir, mampu mengelaborasi dan memiliki ide-ide yang orisinil. Bakat pertama bisa dilihat [...]
Leonardo da Vinci, yang kita kenal saat ini karena lukisan Monalisa, bisa dikategorikan sebagai seorang pribadi yang kreatif. Ia memiliki bakat kreatif serta memiliki beberapa sikap kreatif yang menonjol sebagai indikatornya. 
Leonardo memiliki bakat kreatif, yaitu mampu menangkap masalah lebih cepat, luwes dalam berpikir, mampu mengelaborasi dan memiliki ide-ide yang orisinil. Bakat pertama bisa dilihat dari ide atau produk yang dihasilkannya, yang baru ditemukan atau dihasilkan puluhan hingga ratusan tahun sesudah masanya. Ia telah mengajukan teori heliosentris 40 tahun sebelum Copernicus. Penggunaan kaca pembesar yang besar untuk meneliti benda angkasa juga adalah sarannya. Idenya juga mendahului teori gravitasi yang dikemukakan Newton serta teori evolusi Darwin.
Bakat kedua, keluwesan dalam berpikir bisa dilihat dari kemampuannya untuk ‘berpindah-pindah’ mempelajari atau melakukan sesuatu. Ia bisa membuat lukisan, yang membutuhkan imajinasi, namun sekaligus bisa melakukan analisis dalam risetnya tentang anatomi dan gerakan kuda. Keluwesan juga bisa dilihat dari beragamnya subyek yang dipelajari oleh Lenoardo, mulai dari melukis, anatomi, astronomi, botani, geologi, ilmu pesawat atau geografi.
Bakat ketiga Leonardo yaitu kemampuannya dalam mengelaborasi atau menyempurnakan sesuatu. Leonardo bisa menggambungkan 2 hal, kemampuan melukis dan pengetahuan tentang anatomi, menjadi sebuah lukisan yang memiliki anatomi sempurna. Selain anatomi, ia juga menggabungkan menyempurnakan kemampuan melukisnya dengan mempelajari cahaya dan bayangan. Hasilnya, ia mampu membuat lukisan dengan kualitas lembut dan hidup, yang akan jadi standar bagi pelukis di abad ke-16.
Bakat keempat adalah orisinalitas. Semasa hidupnya, Leonardo tidak hanya dikenal dengan lukisan Monalisa, namun juga segudang produk orisinil lainnya. Dikatakan ia pernah membuat desain pesawat terbang, parasut, kapal selam, alat selam, mekanisme pompa, turbin air, kompas, senjata militer dan masih banyak lagi. Khusus untuk pesawat, dikatakan bahwa desain pesawatnya merupakan salah satu tonggak dalam sejarah usaha manusia untuk terbang.
Selain memiliki bakat, kreativitas Leonardo da Vinci juga didukung oleh sikap kreatifnya, yaitu terbuka terhadap pengalaman baru, rasa ingin tahu yang tinggi, ulet, mandiri, berani tampil berbeda dan percaya diri. Sikap keterbukaan Leonardo bisa dilihat saat ia membuka diri mempelajari bermacam hal dan bertemu dengan lingkungan-lingkungan baru. Ia pernah belajar di dalam lingkungan filsuf, ahli matematika dan seniman. Selain itu, ia pernah masuk ke lingkungan apoteker dan dokter untuk kemudian mempelajari anatomi. Leonardo juga pernah masuk lingkungan militer, dimana ia menghasilkan peta dengan presisi tinggi.
Sikap kedua yaitu rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan tinggi Leonardo bisa nampak saat ia memanfaatkan lingkungan yang ditinggalinya untuk belajar. Ia belajar anatomi. Ia belajar cahaya dan bayangan. Ia juga mempelajari anatomi, bahkan gerakan kuda, agar bisa membuat monumen penunggang kuda.
Sikap berikutnya adalah ulet. Sikap ini nampak belum konsisten dalam diri Leonardo. Kadang ia ulet dan fokus pada yang diminatinya, tapi kadang ia tidak fokus. Ketika mempelajari anatomi , cahaya serta bayangan dan gerakan kuda, ia nampak bisa fokus dan menghasilkan karya. Namun ia juga pernah tidak berhasil menyelesaikan karya, seperti lukisan yang dipesan oleh Servite Vriar. Dikatakan, ketidakfokusan ini adalah buah sifat perfeksionis Leonardo.
Sikap selanjutnya adalah mandiri dan berani tampil beda. Sikap ini nampak muncul bersamaan pada diri Leonardo. Dikatakan bahwa Leonardo mendapatkan kesempatan untuk berpikir, bermain dengan gagasannya dan belajar sesuka hati. Ia juga membuat berbagai macam desain, sepertinya tanpa memperdulikan apa yang sedang jadi arus utama di masyarakat saat itu. Teknik melukisnya, chiaroscuro, yang saat itu berbeda dengan seniman lain, akhirnya bisa diterima dan menjadi standar bagi pelukis di abad 16.
Sikap terakhir adalah percaya diri. Sikap ini terlihat dari relasi yang dijalinnya dengan orang lain, yang beberapa di antaranya adalah orang-orang besar di masa itu. Ia pernah masuk ke lingkungan apoteker, dokter, filsuf, ahli matematika, anak the Grand Duke of Milan, komandan militer paus, wakil raja Louis XII dan bahkan paus serta raja Perancis, Francois I. Berelasi dengan mereka tentu saja membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi. Dan Leonardo bisa melakukannya.
Finlandia. Mungkin kita hanya kenal negara ini karena Nokia, produsen ponsel yang sempat jadi raja di bidang telekomunikasi. Namun kini mereka terkenal tak hanya karena itu, melainkan juga karena kualitas pendidikannya yang tinggi. Kualitas ini dilihat dari konsistensi ranking mereka dalam tes PISA (Programme for International Study Assessment), sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem [...]
Finlandia. Mungkin kita hanya kenal negara ini karena Nokia, produsen ponsel yang sempat jadi raja di bidang telekomunikasi. Namun kini mereka terkenal tak hanya karena itu, melainkan juga karena kualitas pendidikannya yang tinggi. Kualitas ini dilihat dari konsistensi ranking mereka dalam tes PISA (Programme for International Study Assessment), sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan di dunia.
Cina memang menempati urutan pertama dalam tes PISA 2009, namun Finlandia yang saat itu ada di peringkat 3, selalu konsisten menempati peringkat atas. Keberhasilan Finlandia ternyata bersumber dari implementasi sistem pendidikannya yang unik.
PISA adalah sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan di dunia. Evaluasi 3 tahunan ini dilakukan dengan mengukur keterampilan dan pengetahuan siswa berusia 15 tahun yang diplih secara acak (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2012). Bidang yang diukur adalah membaca, matematika dan sains.
Pada tahun 2009, Cina menempati ranking pertama secara umum, diikuti Korea dan Finlandia. Amerika Serikat menempati urutan 17, Inggris peringkat 25 dan Indonesia ada di nomor 57 dari 65 peserta (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2009). Finlandia, meski hanya peringkat 3, memiliki konsistensi dalam mendapatkan peringkat atas.
Konsistensi Finlandia mendapatkan peringkat atas dalam tes PISA membuat banyak pakar pendidikan ingin tahu penyebabnya. Menurut situs University of Helsinki, kemajuan pendidikan di Finlandia dimulai pada abad 19. Saat itu, Uuno Cygnaeus, “bapak pendidikan dasar” Finlandia mencetuskan ide bahwa kelas yang paling baik adalah kelas di mana murid lebih banyak berbicara dibanding guru. Selain itu, tokoh-tokoh pendidikan di Finlandia juga memakai pandangan John Dewey dalam pendidikannya, yaitu belajar dengan mempraktikkannya (Siina , 2012).
Dari beberapa sumber di internet, bisa disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Finlandia adalah sumbernya, yaitu pandangan possitif terhadap profesi guru, tidak adanya ujian wajib dan standar, kurikulumnya tidak terlalu ‘akademis’ dan sekolah memiliki otonomi dalam menyelenggarakan pendidikan. Berikut ini adalah penjelasan masing-masingnya.
Guru di Finlandia adalah seseorang yang dihargai, sama seperti dokter, pengacara atau peneliti. Mereka adalah orang-orang dengan kualifikasi tinggi (untuk bisa mengajar penuh, butuh gelar S2) dan seleksinya pun ketat (Lopez, 2012). Henna Virkkunen, menteri pendidikan Finlandia, pada tahun 2011 menyampaikan pandangannya mengenai guru di negaranya.
Menurutnya, guru adalah kunci masa depan Finlandia. Mereka belajar di universitas selama 5 tahun dan menjalani banyak pelatihan guru dengan pengawasan (Snider, 2011).Calon guru tersebut akan mendapatkan umpan balik dari pengawasnya. “Lingkungan pendidikan kita didasarkan pada kepercayaan dan kerja sama, sehingga saat kita mengadakan tes dan evaluasi, hasilnya digunakan bukan untuk mengendalikan [guru], melainkan untuk pengembangannya,” tambah sang menteri.
Di Finlandia, tidak ada ujian baku yang diwajibkan pemerintah sebelum usia 17-19 (Lopez, 2012). Metode evaluasi di Finlandia adalah berupa umpan balik yang diberikan dalam bentuk narasi, dimana penekanannya adalah pada deskripsi perkembangan belajar dan area yang perlu dikembangkan oleh siswa. Evaluasinya juga berupa soal-soal terbuka yang berfokus pada penggunaan informasi untuk mendorong siswa belajar dan menyelesaikan masalah, bukan pada hukuman (Darling-Hammond, 2012). Satu-satunya ujian yang ada di Finlandia adalah ujian masuk universitas, yaitu ujian matrikulasi; dan ini tidak wajib. Ujian ini dibuat oleh dewan ujian matrikulasi dari kementerian pendidikan.
Kurikulum di Finlandia pun tidak terlalu ‘akademis’ seperti yang dibayangkan ada di negara dengan pencapaian akademis yang tinggi. Siswa di sekolah-sekolah Finlandia mengikuti jam belajar yang lebih sedikit. Sekolah dan guru diberi kebebasan dalam menentukan kurikulum, metode pengajaran dan juga materi ajar. Guru-guru juga mengadakan pertemuan, setidaknya satu kali dalam seminggu, untuk secara kelompok, merencanakan dan mengembangkan kurikulum. Di dalam pertemuan tersebut, semua guru didorong untuk saling berbagi material (Darling-Hammond, 2012).
Di dalam kelas, sangat jarang ada guru yang berdiri di depan kelas dan memberikan ceramah selama 50 menit. Siswalah yang menjadi pusatnya, dengan menentukan sendiri target mingguan dengan guru, pada bidang tertentu dan memilih tugasnya sendiri. Sehingga yang terjadi di kelas adalah: siswa berjalan kesana kemari, mengumpulkan informasi, bertanya pada guru dan bekerja sama dengan siswa lain dalam kelompok kecil.
Desain pembelajaran semacam ini dikembangkan secara lokal oleh guru di sekolah. Sehingga,guru selalu ditantang untuk membuat kurikulum dan mengembangkan evaluasi kinerja yang sesuai dengan kondisi sekolah. Untuk itu saat menjalani pelatihan, guru dibekali dengan keterampilan mengajar siswa yang memiliki gaya belajar beragam, termasuk yang berkebutuhan khusus. Penekanannya adalah pada multikulturalitas dan pencegahan munculnya kesulitan belajar dan pembedaan (Darling-Hammond, 2012). Dan pada akhirnya, slogan no child left behind pun menjadi nyata.
Daftar Pustaka
Darling-Hammond, L. (2012, November). What we can learn from Finland’s successful school reform. Diambil kembali dari National Education Association Today: http://www.nea.org/home/40991.htm
Lopez, A. (2012, May 21). How Finnish schools shine. Dipetik October 3, 2012, dari The Guardian Teacher Network Blog: http://www.guardian.co.uk/teacher-network/teacher-blog/2012/apr/09/finish-school-system
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2009). PISA 2009 ranking. Diambil kembali dari PISA 2009 key findings: http://www.oecd.org/pisa/46643496.pdf
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2012). About Pisa. Dipetik October 3, 2012, dari PISA: http://www.oecd.org/pisa/aboutpisa/
Siina , V. (2012, January 25). News & Events. Dipetik October 3, 2012, dari University of Helsinki: http://www.helsinki.fi/news/archive/1-2012/25-16-58-02.html
Snider, J. (2011, April 17). Keys To Finnish Educational Success: Intensive Teacher-Training, Union Collaboration. Dipetik October 2012, 2012, dari Huffington Post Blog: http://www.huffingtonpost.com/justin-snider/keys-to-finnish-education_b_836802.html
Minggu 9 September 2012, @bincangedukasi mengadakan #twitedu dengan topik orang tua menjadi guru bagi anaknya. Karena teringat dengan teori sosiokultural dari Vygotsky, aku kemudian membagikannya dan mengaitkannya dengan topik. Ini hasilnya:
mau sharing teori dari Vygotsky ttg bmn anak belajar dan bgmn ortu bisa menerapkannya sehari-hari #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September [...]
Minggu 9 September 2012, @bincangedukasi mengadakan #twitedu dengan topik orang tua menjadi guru bagi anaknya. Karena teringat dengan teori sosiokultural dari Vygotsky, aku kemudian membagikannya dan mengaitkannya dengan topik. Ini hasilnya:
mau sharing teori dari Vygotsky ttg bmn anak belajar dan bgmn ortu bisa menerapkannya sehari-hari #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
menurutnya, pengetahuan ada di luar dr anak; dr lingkungan, dan bs didapat melalui interaksi. interaksi bs dgn objek atw orang lain #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
interaksi dgn objek, mialnya saat anak ketemu apel. dia mengamati apel. dilihat warnanya, dirasa bentuknya, dimakan & tahu rasanya #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
interaksi dgn orang lain, bentuknya dalam diskusi.orang lain ini memegang peran penting bg peningkatan pengetahuan anak #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
ada anak yg bisa mengerjakan puzzle 10 pieces. tp dia belum bisa yg 20 pieces. disini peran orang lain td. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
orang lain td tdk sembarangan. dia mestinya adlh orang dewasa atw teman sebaya yg pny pengetahuan lebih. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
orang tsb perannya memberi dukungan SEMENTARA saat anak belajar sst, sampai akhirnya bisa sendiri.jd semacam tangga bg anak #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
dukungan bisa berupa pemberian petunjuk, penjelasan, pertanyaan, dorongan atw contoh. tp intinya, hny bersifat sementara. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
misalnya, saat anak bingung menyusun puzzle 20 piece, dukungannya, “coba lihat yg warnanya sama” lalu biarkan anak selesaikan. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
yg penting dr teori milik Vygotsky ini adalah interaksi. jd, dalam praktiknya, ortu perlu banyak berinteraksi dgn anak. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
jk diingat bhw menurut Vygotsky, pengetahuan ada di lingkungan, artinya sumber pengetahuan amatlah banyak.yg terdekat, di rmh #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
hampir apapun bs jadi sumber belajar. cara pakai sendok, mengikat sepatu, bentuk semut, dsb. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
peran ortu menjadi tangga tadi. bantu anak memegang sendok, menyendok makanan, bahkan kalau perlu membengkokkannya. ahaha. #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
prinsip dr bantuannya: sifatnya sementara smp anak bisa sendiri. tekniknya: tanya jawab,petunjuk, contoh, penjelasn, pemicu #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
akhirnya, menurut Vygotsky, kualitas interaksi (mis, diskusi yg intens) menentukan kualitas pengetahuan anak #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
sbg penutup, pertanyaan dr sy, seberapa banyak waktu dan usaha yg bisa kita, khususnya ortu, luangkan utk interaksi td? #twitedu
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) September 9, 2012
Tahun 2012 aku pernah ikut kelas Academic Writing di Lembaga Bahasa Internasional FIB UI. Ternyata pernah menulis sebuah esai tentang dampak positif menulis bagi mahasiswa. Kala itu tulisannya berbahasa Inggris. Ini ringkasannya.
saat ikut kelas menulis akademis, ternyata pernah menulis tentang efek positif menulis bagi mahasiswa. berbagi aah #menulis
— FA Triatmoko [...]
Tahun 2012 aku pernah ikut kelas Academic Writing di Lembaga Bahasa Internasional FIB UI. Ternyata pernah menulis sebuah esai tentang dampak positif menulis bagi mahasiswa. Kala itu tulisannya berbahasa Inggris. Ini ringkasannya.
saat ikut kelas menulis akademis, ternyata pernah menulis tentang efek positif menulis bagi mahasiswa. berbagi aah #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
lewat menulis, kita bisa menurunkan tingkat stres, meningkatkan kesehatan dan menambah pendapatan #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
pertama, hsl penelitian thn ’88: mengungkapkan peristiwa traumatis lwt tulisan, membuat mahasiswa jarang sakit dan pny mood + #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
Antal & Range (2005): mhsw yg menulis traumanya, alami penuruan kecemasan, depresi dan keinginan bunuh diri #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
kedua, saat stres, kemampuan mengembangkan sel kekebalan tubuh, membunuh sel tumor, dan memproduksi antibodi menurun. #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
dampak pertahanan tubuh menurun: kita lbh mudah sakit. olh sebab itu, jika bisa mengurangi stres, kemungkinan sehat lebih tinggi. #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
tambahan, thn ’99, 47% pasien asma dan rheumatoid arthritis yg mnulis kjadian stresful, alami p’ningkatan. yg topik netral:24% #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
ketiga, menulis bisa meningkatkan pendapatan, dengan mengirimkan tulisan ke media massa. apalagi kalau bisa menulis buku #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
penulis amatiran spt sy, bisa dpt 10% dr harga buku. kalikan sj dgn jumlah yg terjual. bayangkan yg sdh setara JK Rowling #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
jadi, dgn menulis bisa menurunkan stres sehingga kita bisa lebih sehat dan bisa menambah pendapatan. maka menulislah #menulis
— FA Triatmoko HS (@fa_triatmoko) July 10, 2012
“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”
Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.
Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. [...]
“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”
Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.
Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. Saat itu aku baru pulang dari Wisma Adisutjipto. Tak berapa lama setelah ku duduk, seseorang di sebelah kiriku mencolek-colek tanganku. Aku menengok dan menemukan seorang ibu, kira-kira 50 tahun usianya mengajakku bicara.
Kulitnya berwarna coklat sawo matang. Tulang wajahnya tampak menonjol. Alisnya tipis. Lingkar matanya agak cekung. Punggungnya bongkok. Saat itu ia mengenakan jilbab dan semacam daster yang menutupi tubuhnya hingga ke kaki.
“Dek, mau beli tas ibu gak? Lima puluh ribu, untuk berobat ibu,” sambil membuka plastik hitam berisi tas berwarna hitam pula.
Ia lalu menaikkan daster dan menunjukkan lututnya. Lutut tersebut tampak agak merah.
Dengan mengatupkan kedua telapak tangan ke arahnya, aku sesopan mungkin menolaknya. “Tampaknya ini strategi meminta-minta,” pikirku.
“Maaf bu,” kupandang ibu itu sejenak dan menyelesaikan kalimat, kemudian memalingkan muka menanti bus lagi.
Ibu itu masih mencoba menawarkan kembali dagangannya. Aku pun menolaknya kembali. Pertama, karena aku memang tak butuh tas. Kedua, bagiku, memberikan apa yang dimauinya hanya akan membuat perilaku tersebut bertahan. Ia akan terus meminta-minta.
Ia masih juga mencoba. Harga dagangan pun diturunkan jadi Rp. 20.000. Aku masih bergeming, tapi dalam hati tidak.
Kuingat uangku masih cukup untuk memberikan apa yang dia minta. Tapi aku ingin konsisten dengan tidak memberikannya. Setidaknya jika aku tak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aku bisa mencegah penidakberdayaan masyarakat. Namun ternyata tak semudah itu.
“Kok lo jahat banget sih? Lo kan punya uang segitu. Apa ruginya kalau uang itu lo berikan?”
“Tapi kalau gue berikan, ibu ini akan terus meminta-minta. Dia akan selamanya jadi peminta.”
“Tapi..”
“Tapi…”
Perdebatan makin menjadi saat ibu ini akhirnya tidak menjual tasnya.
“Ibu minta sepuluh ribu aja dek, buat ongkos pulang,” pintanya sambil mencolek lenganku lagi.
Mencoba tenang aku kembali menolaknya.
“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”
Debat dalam diri makin kuat. Punggung dan tanganku menegang. Suaranya seperti menusuk-nusuk hati dan pikiranku.
“Lo diajarkan untuk mengasihi sesama. Tapi kok gini?”
“Ini bentuk kasihku untuknya.”
“Tapi apa ruginya hanya sepuluh ribu?”
“Tidak. Aku harus konsisten.”
Aku pun lelah. Bus menuju blok m sempat hendak kujadikan pelarian. Namun tak berapa lama bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Kuangkat badan dan segera naik ke sana.
Dari jendela bus, kupandangi ibu itu.
“Ya Tuhan, kalau aku berdosa karena ini, ku mohon ampun.”
Dan bus pun melaju bersama deru dalam diriku.
–
Malam kemarin, di tempat yang sama; di bawah lampu halte pukul 6 sore, kulihat ibu yang sama. Namun kali ini aku memutuskan untuk menunggu bus di luar halte. Tak mengapa jika aku harus berdiri lama.
Pakaiannya kurang lebih sama, hanya kali ini ia pakai rok sedikit di bawah lutut. Ia duduk di halte bagian tengah, sementara calon penumpang di halte itu duduk sekitar 1 meteran darinya.
Beberapa kali aku sempat meliriknya, apalagi saat ada orang yang duduk di sebelahnya persis. Yang kulihat adalah kurang lebih sama dengan yang kualami. Ia mengajak bicara orang di tersebut, lalu membuka plastik berisi tas.
Aku tak tahu apa yang ia omongkan. Tapi semua orang yang sempat diajak bicara, menunjukkan gestur menolak sesuatu. Ada yang dengan senyum lalu memalingkan muka dan ada yang seperti caraku menolaknya. Dan sekarang si ibu masih tetap duduk di tengah halte, membawa tas plastik dan dijauhi sekitarnya.
Dari luar halte, pertentangan dalam diri perlahan timbul kembali.
“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat? Jika tidak, aku mohon ampunanMu lagi.”
Setelah seminggu tak ada kabarnya, akhirnya terdengarlah info bahwa surat permohonan bantuan biaya pendidikanku sedang diproses. Semoga dalam waktu dekat ada berita menggembirakan. Kalau tidak, ya tak mengapa. Aku siap!
Kabar itu muncul di sela kegiatan wawancara yang sedang kami jalankan di kantor. Aku dan beberapa teman sedang mencari fasilitator untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru, [...]
Setelah seminggu tak ada kabarnya, akhirnya terdengarlah info bahwa surat permohonan bantuan biaya pendidikanku sedang diproses. Semoga dalam waktu dekat ada berita menggembirakan. Kalau tidak, ya tak mengapa. Aku siap!
Kabar itu muncul di sela kegiatan wawancara yang sedang kami jalankan di kantor. Aku dan beberapa teman sedang mencari fasilitator untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru, lewat wawancara itu.
Yang membahagiakan lagi adalah saat mendengar beberapa testimoni fasilitator yang ikut tahun lalu. Katanya, kegiatan pelatihan untuk mempersiapkan mereka, sangat bermanfaat ketika terjun langsung dalam orientasi mahasiswa baru. Bahkan seorang di antaranya mengaku kesempatan menjadi fasilitator menjadikannya seorang yang lebih baik dalam mengajar.
Tak kurang membahagiakannya adalah saat mengetahui beberapa yang tadinya pernah jadi muridku, saat ini akan menjadi guru bagi orang lain. Seperti ini ya rasa bahagia campur bangga campur syukur, seorang guru saat melihat murid lebih baik dari dirinya?
Ah, syukurlah atas hari ini!
Memang benar adanya bahwa penyesalan selalu datang belakangan, bahkan menjelang kematian.
Penyesalan-penyesalan itulah yang dicatat oleh Bronnie Ware, seorang perawat yang bertugas menemani pasien-pasien sekarat selama 12 minggu terakhir mereka.
Catatan Ware dalam blog-nya, Inspiration and Chai, kemudian dibukukan menjadi The Top Five Regrets of the Dying. Di dalamnya berisi kearifan [...]
Memang benar adanya bahwa penyesalan selalu datang belakangan, bahkan menjelang kematian.
Penyesalan-penyesalan itulah yang dicatat oleh Bronnie Ware, seorang perawat yang bertugas menemani pasien-pasien sekarat selama 12 minggu terakhir mereka.
Catatan Ware dalam blog-nya, Inspiration and Chai, kemudian dibukukan menjadi The Top Five Regrets of the Dying. Di dalamnya berisi kearifan yang didapat orang-orang sekarat semasa hidupnya dan bagaimana kita bisa belajar dari mereka.
“Saat ditanya mengenai penyesalan atau tentang sesuatu yang berbeda yang mereka ingin lakukan, tema-tema umum muncul berulang-ulang,” katanya. Ini adalah 5 yang paling sering.
Jujur Sesuai Diri Sendiri
“Aku berharap punya keberanian untuk menjalani hidup yang jujur pada diri sendiri, bukan hidup seperti yang diinginkan orang lain.”
Ini adalah penyesalan paling umum dirasakan. Saat seseorang menyadari hidupnya akan segera berakhir, namun masih banyak mimpi di masa lampau yang tidak terwujud karena pilihan-pilihan yang mereka buat maupun tidak mereka pilih.
Tidak Kerja Terlalu Keras
“Aku berharap tidak bekerja terlalu keras.”
Penyesalan ini muncul dari pasien-pasien pria Ware. Mereka melewatkan masa-masa muda anaknya serta kasih sayang pasangan dan menghabiskan banyak waktu hidupnya dalam roda pekerjaan.
Ungkapkan Perasaan
“Aku berharap memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan.”
Banyak orang yang menekan perasaannya agar tak bermasalah dengan orang lain. Memang orang lain pasti akan berekasi saat kita berkata jujur, namun kejujuran itu nantinya akan meningkatkan kualitas hubungan yang ada. Atau, akan melepaskan kita dari hubungan yang tak sehat. Ujung-ujungnya, kitalah yang jadi pemenangnya.
Komunikasi dengan Teman
“Aku berharap tetap berkomunikasi dengan teman-teman.”
Banyak penyesalan mendalam saat para pasien tidak mengusahakan dan menyediakan waktu untuk pertemanan. Mereka terjebak dalam kehidupan sendiri dan melewatkan persahabatan. Dan saat ajal menjelang, kerinduan akan sahabat pun menyerang. Karena itulah yang dibutuhkan di minggu-minggu terakhir: cinta dan persahabatan.
Lebih Bahagia
“Aku berharap membiarkan diri lebih bahagia.”
Ternyata banyak yang tak menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan. Mereka cenderung berada dalam pola hidup dan kebiasaan lama. Ketakutan untuk berubah memaksa mereka berpura-pura di hadapan orang lain. Di saat yang sama, mereka merindu untuk tertawa lepas dan melakukan hal-hal bodoh.
Bagaimana Dengan Kita?
Lalu bagaimana dengan kita? Mana yang akan kita pilih? Refleksikanlah.
Sumber
Inspiration and Chai. Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.
The Guardian. Top Five Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.
Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.
“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.
“Mengapa tak suka, nak?”
“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu [...]
Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.
“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.
“Mengapa tak suka, nak?”
“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!”
“Tapi inilah tugas kita nak. Apa kau mau melepaskan diri darinya?”
“Jika memang harus!” Serangkai petir terlepas dari mata awan kecil.
Sejenak mereka terdiam, sambil berpandangan.
“Aku akan pergi!” lanjutnya.
Ayah masih dan hanya terdiam melihat awan kecil membebaskan tangan dari gandengannya lalu melayang sendirian.
Awan kecil kemudian kembali ke jalur yang telah dilaluinya tadi, dengan wajah muram.
Ia melihat sebuah desa dengan mayoritas atap rumah daun kelapanya sudah terlepas. Beberapa pohon sudah tumbang. Penduduk desa sedang berkeringat membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dua ekor tikusmengapung tak bernyawa di sungai yang meluap.
Awan kecil makin sedih. Dan ia pun menangis.
Kemudian ia menengok ke jalur yang tak dilalui kawanannya. Di sana, tanah sudah pecah pecah. Daun-daun lesu mencoklat. Penduduk desa bersusah payah mencangkul sawah yang tak akan bisa dipanen hasilnya. Dan tak jauh dari situ, seekor rusa mati di samping sungai kecil yang sama matinya.
Awan kecil terhenti dalam hening. Air matanya makin deras.
Sayup-sayup ia mendengar suara, “Terus. Terus. Aku haus.”
Tersadar, ia segera kembali ke tempat ayahnya berada.
“Ayah! Aku mau jadi mendung!”
“Aku mau turun menjadi hujan!”
“Aku mau menangis dalam bahagia, seperti seorang yang berkorban bagi sesamanya yg kesulitan.”
“Baiklah nak! Kutunggu kau di tanah sini ya!”
Dengan senyuman, awan kecil terjun dan memecahkan dirinya.
*Bisa dibaca juga di WritingSessionClub.Blogspot.com
Rekomendasi
Komentar
- FA Triatmoko HS on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Book Wish List
- Ibe on Book Wish List
- Ibe on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Catatan Akhir Semester
- auliyyaa on Catatan Akhir Semester
- Novani Nugrahani on Tentang Kesederhanaan
- Bali, Saya Datang! | aku dalam kata on Sorry, You’re the Speaker
- iiE on Sorry, You’re the Speaker
- FA Triatmoko HS on Seminggu Pertama Kuliah
Kategori
- Acak (201)
- Artikel (1)
- Berita Dunia (12)
- Inspirasi (5)
- Lingkungan (2)
- Bukuku (1)
- Cerita (74)
- Foto (5)
- Pendidikan (4)
- Psikologi (44)
- Kebersyukuran (26)
- Kisah Manusia (12)
- Kreativitas (1)
- POPsy! (5)
- Puisi (66)
- Refleksi (19)
- Tentang Cinta (9)
- Twente (8)
- Ulasan (20)
Arsip
Telusuri blog ini





