Kesedihan Luthier Tegal Parang

“Kami lagi libur,” katanya ketika membuka pintu rumah yang sekaligus bengkel pembuatan dan perbaikan gitar.

“Yah. Kayaknya bakal seperti tujuan sebelumnya, yang tutup pada hari Minggu,” pikirku.

Namun Pak Tirto tetap mempersilakanku masuh ke rumah sederhananya. Sebuah sofa berbentuk L yang cukup untuk 6 orang dan sebuah meja menungguku. Di dinding sebelah kiri terdapat semacam kain kanvas, yang berisi coret-coretan tanda tangan dan nama-nama.

“Pasti seluruh kliennya yang ngetop-ngetop yang isi di situ,” batinku.

Sebelum ke tempat Pak Tirto di kawasan Mampang, aku berniat membetulkan gitar elektrik di daerah Pasar Minggu. Namun karena tutup aku ke sini. Jadilah aku ke tempat bapak berkacamata dan tinggal di tengah pasar di kawasan Tegal Parang. Luthier, begitu pembuat alat musik berdawai seperti Pak Tirto disebut.

Lalu aku duduk dan mendengarkannya.

“Ini lagi libur, tidak terima pesanan. Baru beberapa waktu lalu istri saya meninggal. Pikiran masih belum siap untuk kerjaan.”

“Sudah 2-3 minggu kami bolak-balik rumah sakit, menjaga ibu. Ke dokter. Ke pengobatan alternatif. Kata dokter, pilihannya operasi lagi atau di-kemoterapi. Namun harus menunggu pulihnya kondisi ibu. Ibu sempat pulih, namun akhirnya drop lagi.”

“Yang saya paling sedih itu, ketika cucu saya mencari eyangnya. Kan eyangnya suka main ke rumah cucu dan sebelum ke rumah sakit, sempat tidur di sana.”

“Eyang dimana?” kata Pak Tirto menirukan cucunya.

Sambil menyesap batang rokok Dji Sam Soe kelimanya, tampak ia mulai berkaca-kaca.

Kan bingung jawab pertanyaan anak seperti itu. Saya jawab saja eyang sedang pergi.”

Aku hanya bisa mendengarkan.

Tak lama obrolan berpindah. Pak Tirto mulai berkisah tentang gitar Les Paul-nya yang dibeli anak mantan menteri koperasi. Gitar Jem yang dibuatnya sendiri dan dipakai keliling Indonesia oleh teman-teman musisinya. Pertemanannya dengan Bonita, Adoy dan Cozy Street Corner. Dengan Kiboud Maulana. Dengan John Paul dan beberapa bule lain yang memesan gitar atau bas padanya.

Pak Tirto memang langka. Tak banyak yang kutahu memiliki kemampuan membuat gitar; dan sudah diakui musisi-musisi lokal maupun internasional. Apalagi kini ia hanya bekerja sendiri tanpa anak buah.

Kehilangan istri memang nampak sangat berat baginya. Kata seorang temanku, sang istri sering menemani Pak Tirto menyelesaikan gitar. Membuatkan kopi, atau menerima pesanan ketika Pak Tirto istirahat.

Namun pembuatan gitar tetap harus berjalan. Gitar ku pun akhirnya ditinggal di sana. Ia tak menjamin bisa tahu kapan bisa selesai. Aku pun tak masalah, asalkan Pak Tirto enjoy menyelesaikannya dan aku bisa memainkan gitar itu lagi.

“Monggo pak, saya pamit,” kataku sambil mengucap turut berduka cita dalam hati.

 

Angan Khusus

Katanya setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Begitu tertulis di undang-undang negara kita. Apakah benar demikian adanya? Mungkin bagi pendidikan umum, sedang menuju ke sana. Namun bagi pendidikan yang tidak biasa? Mungkin masih menjadi angan-angan.

Suatu waktu aku berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah yang memiliki departemen untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Saat itu aku ingin belajar, khusus untuk anak dengan sindrom autisme. Di sana aku belajar dari 2 orang guru dan 2 orang murid autis.

Di sekolah tersebut, kurikulum nasional sama sekali tidak berlaku. Setiap anak yang dilayani, memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Buku-buku yang diproduksi untuk kurikulum nasional, hanya dipakai sebagai pembanding kemampuan anak di sana. Misalnya, di buku tertulis anak kelas 1 seharusnya memiliki kemampuan dan pengetahuan A atau B atau C. Jika ada anak di sekolah tersebut baru bisa A B dan C itu, maka kurikulum bagi anak tersebut akan dibuat sesuai kemampuan anak kelas 1.

Menjadi guru di sana pun bukan tanpa kesulitan. Selain mereka memiliki kurikulum khusus bagi setiap anak, mereka harus memiliki passion lebih untuk mengajar untuk mencegah stres dalam bekerja. Bayangkan saja, setiap hari, mulai jam 08.00-14.00, selama beberapa tahun, guru akan menemui siswa yang sama dengan kesulitan yang kurang lebih sama. Mereka akan mendapati bahwa siswanya hanya akan mengalami sedikit perkembangan kemampuan, setelah usaha keras guru. Selain itu beban kerja guru cukup besar, karena sesi istirahat atau makan siang pun guru perlu ‘mengajar’ juga.

Usaha keras ini juga diamini oleh seorang pengasuh di sekolah luar biasa, yang menangani anak autis. Katanya, untuk  menangani sekitar 116 anak berkubutuhan khusus, hanya ada 20 orang pengasuh. Di antara pengasuh tersebut, ada juga yang berperan ganda sebagai juru masak atau pelatih olah raga. Menurut pengasuh berusia 25 tahun itu, mencari pengasuh itu sangat sulit. Jarang ada yang mau. Sempat ada yang menjalani sesi trial selama sehari, namun tidak kuat dan akhirnya tidak melanjutkan.

Berbeda dengan guru di kedua institusi sebelumnya, ada lagi seorang ibu dengan anak tuna netra. Kebetulan ia sempat berbagi pengalaman di kelas Anak Berkebutuhan Khusus. Kesulitan yang dialaminya ketika memberikan pendidikan bagi anak adalah sulitnya mendapatkan sumber belajar. Belum banyak materi belajar yang bisa ‘dibaca’ anak tuna netra. Memang teknologi untuk membuatnya sudah ada, namun harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu baru 1 alat saja. Sedangkan masih ada beberapa alat lainnya yang tidak kalah mahal.

Akhirnya, harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia. Namun apakah bisa dilakukan, sementara pendidikan yang umum saja masih karut marut? Aku sendiri selalu optimis akan bisa. Beberapa orang dan kelompok yang peduli, sudah mulai menginisiasinya. Harapannya, angan-angan yang ada di benak guru dan orang tua, serta orang-orang yang peduli itu, akan bisa mengembangkan sayapnya dan kemudian menjadi nyata.

Olimpiade Matematika dari Papua

Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.

Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.

menyusun teka-teki berbentuk balok

Semoga berhasil adik-adik!

Bakat dan Sikap Kreatif Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci, yang kita kenal saat ini karena lukisan Monalisa, bisa dikategorikan sebagai seorang pribadi yang kreatif. Ia memiliki bakat kreatif serta memiliki beberapa sikap kreatif yang menonjol sebagai indikatornya. 

Leonardo memiliki bakat kreatif, yaitu mampu menangkap masalah lebih cepat, luwes dalam berpikir, mampu mengelaborasi dan memiliki ide-ide yang orisinil. Bakat pertama bisa dilihat dari ide atau produk yang dihasilkannya, yang baru ditemukan atau dihasilkan puluhan hingga ratusan tahun sesudah masanya. Ia telah mengajukan teori heliosentris 40 tahun sebelum Copernicus. Penggunaan kaca pembesar yang besar untuk meneliti benda angkasa juga adalah sarannya. Idenya juga mendahului teori gravitasi yang dikemukakan Newton serta teori evolusi Darwin.

Bakat kedua, keluwesan dalam berpikir bisa dilihat dari kemampuannya untuk ‘berpindah-pindah’ mempelajari atau melakukan sesuatu. Ia bisa membuat lukisan, yang membutuhkan imajinasi, namun sekaligus bisa melakukan analisis dalam risetnya tentang anatomi dan gerakan kuda. Keluwesan juga bisa dilihat dari beragamnya subyek yang dipelajari oleh Lenoardo, mulai dari melukis, anatomi, astronomi, botani, geologi, ilmu pesawat atau geografi.

Bakat ketiga Leonardo yaitu kemampuannya dalam mengelaborasi atau menyempurnakan sesuatu. Leonardo bisa menggambungkan 2 hal, kemampuan melukis dan pengetahuan tentang anatomi, menjadi sebuah lukisan yang memiliki anatomi sempurna. Selain anatomi, ia juga menggabungkan menyempurnakan kemampuan melukisnya dengan mempelajari cahaya dan bayangan. Hasilnya, ia mampu membuat lukisan dengan kualitas lembut dan hidup, yang akan jadi standar bagi pelukis di abad ke-16.

Bakat keempat adalah orisinalitas. Semasa hidupnya, Leonardo tidak hanya dikenal dengan lukisan Monalisa, namun juga segudang produk orisinil lainnya. Dikatakan ia pernah membuat desain pesawat terbang, parasut, kapal selam, alat selam, mekanisme pompa, turbin air, kompas, senjata militer dan masih banyak lagi. Khusus untuk pesawat, dikatakan bahwa desain pesawatnya merupakan salah satu tonggak dalam sejarah usaha manusia untuk terbang.

Selain memiliki bakat, kreativitas Leonardo da Vinci juga didukung oleh sikap kreatifnya, yaitu terbuka terhadap pengalaman baru, rasa ingin tahu yang tinggi, ulet, mandiri, berani tampil berbeda dan percaya diri. Sikap keterbukaan Leonardo bisa dilihat saat ia membuka diri mempelajari bermacam hal dan bertemu dengan lingkungan-lingkungan baru. Ia pernah belajar di dalam lingkungan filsuf, ahli matematika dan seniman. Selain itu, ia pernah masuk ke lingkungan apoteker dan dokter untuk kemudian mempelajari anatomi. Leonardo juga pernah masuk lingkungan militer, dimana ia menghasilkan peta dengan presisi tinggi.

Sikap kedua yaitu rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan tinggi Leonardo bisa nampak saat ia memanfaatkan lingkungan yang ditinggalinya untuk belajar. Ia belajar anatomi. Ia belajar cahaya dan bayangan. Ia juga mempelajari anatomi, bahkan gerakan kuda, agar bisa membuat monumen penunggang kuda.

Sikap berikutnya adalah ulet. Sikap ini nampak belum konsisten dalam diri Leonardo. Kadang ia ulet dan fokus pada yang diminatinya, tapi kadang ia tidak fokus. Ketika mempelajari anatomi , cahaya serta bayangan dan gerakan kuda, ia nampak bisa fokus dan menghasilkan karya. Namun ia juga pernah tidak berhasil menyelesaikan karya, seperti lukisan yang dipesan oleh Servite Vriar. Dikatakan, ketidakfokusan ini adalah buah sifat perfeksionis Leonardo.

Sikap selanjutnya adalah mandiri dan berani tampil beda. Sikap ini nampak muncul bersamaan pada diri Leonardo. Dikatakan bahwa Leonardo mendapatkan kesempatan untuk berpikir, bermain dengan gagasannya dan belajar sesuka hati. Ia juga membuat berbagai macam desain, sepertinya tanpa memperdulikan apa yang sedang jadi arus utama di masyarakat saat itu. Teknik melukisnya, chiaroscuro, yang saat itu berbeda dengan seniman lain, akhirnya bisa diterima dan menjadi standar bagi pelukis di abad 16.

Sikap terakhir adalah percaya diri. Sikap ini terlihat dari relasi yang dijalinnya dengan orang lain, yang beberapa di antaranya adalah orang-orang besar di masa itu. Ia pernah masuk ke lingkungan apoteker, dokter, filsuf, ahli matematika, anak the Grand Duke of Milan, komandan militer paus, wakil raja Louis XII dan bahkan paus serta raja Perancis, Francois I. Berelasi dengan mereka tentu saja membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi. Dan Leonardo bisa melakukannya.

Finlandia: Anomali Sistem Pendidikan

Finlandia. Mungkin kita hanya kenal negara ini karena Nokia, produsen ponsel yang sempat jadi raja di bidang telekomunikasi. Namun kini mereka terkenal tak hanya karena itu, melainkan juga karena kualitas pendidikannya yang tinggi. Kualitas ini dilihat dari konsistensi ranking mereka dalam tes PISA (Programme for International Study Assessment), sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan di dunia.

Cina memang menempati urutan pertama dalam tes PISA 2009, namun Finlandia yang saat itu ada di peringkat 3, selalu konsisten menempati peringkat atas. Keberhasilan Finlandia ternyata bersumber dari implementasi sistem pendidikannya yang unik.

PISA adalah sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan di dunia. Evaluasi 3 tahunan ini dilakukan dengan mengukur keterampilan dan pengetahuan siswa berusia 15 tahun yang diplih secara acak (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2012). Bidang yang diukur adalah membaca, matematika dan sains.

Pada tahun 2009, Cina menempati ranking pertama secara umum, diikuti Korea dan Finlandia. Amerika Serikat menempati urutan 17, Inggris peringkat 25 dan Indonesia ada di nomor 57 dari 65 peserta (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2009). Finlandia, meski hanya peringkat 3, memiliki konsistensi dalam mendapatkan peringkat atas.

Konsistensi Finlandia mendapatkan peringkat atas dalam tes PISA membuat banyak pakar pendidikan ingin tahu penyebabnya. Menurut situs University of Helsinki, kemajuan pendidikan di Finlandia dimulai pada abad 19. Saat itu, Uuno Cygnaeus, “bapak pendidikan dasar” Finlandia mencetuskan ide bahwa kelas yang paling baik adalah kelas di mana murid lebih banyak berbicara dibanding guru. Selain itu, tokoh-tokoh pendidikan di Finlandia juga memakai pandangan John Dewey dalam pendidikannya, yaitu belajar dengan mempraktikkannya (Siina , 2012).

Dari beberapa sumber di internet, bisa disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Finlandia adalah sumbernya, yaitu pandangan possitif terhadap profesi guru, tidak adanya ujian wajib dan standar, kurikulumnya tidak terlalu ‘akademis’ dan sekolah memiliki otonomi dalam menyelenggarakan pendidikan. Berikut ini adalah penjelasan masing-masingnya.

Guru di Finlandia adalah seseorang yang dihargai, sama seperti dokter, pengacara atau peneliti. Mereka adalah orang-orang dengan kualifikasi tinggi (untuk bisa mengajar penuh, butuh gelar S2) dan seleksinya pun ketat (Lopez, 2012). Henna Virkkunen, menteri pendidikan Finlandia, pada tahun 2011 menyampaikan pandangannya mengenai guru di negaranya.

Menurutnya, guru adalah kunci masa depan Finlandia. Mereka belajar di universitas selama 5 tahun dan menjalani banyak pelatihan guru dengan pengawasan (Snider, 2011).Calon guru tersebut akan mendapatkan umpan balik dari pengawasnya. “Lingkungan pendidikan kita didasarkan pada kepercayaan dan kerja sama, sehingga saat kita mengadakan tes dan evaluasi, hasilnya digunakan bukan untuk mengendalikan [guru], melainkan untuk pengembangannya,” tambah sang menteri.

Di Finlandia, tidak ada ujian baku yang diwajibkan pemerintah sebelum usia 17-19 (Lopez, 2012). Metode evaluasi di Finlandia adalah berupa umpan balik yang diberikan dalam bentuk narasi, dimana penekanannya adalah pada deskripsi perkembangan belajar dan area yang perlu dikembangkan oleh siswa. Evaluasinya juga berupa soal-soal terbuka yang berfokus pada penggunaan informasi untuk mendorong siswa belajar dan menyelesaikan masalah, bukan pada hukuman (Darling-Hammond, 2012). Satu-satunya ujian yang ada di Finlandia adalah ujian masuk universitas, yaitu ujian matrikulasi; dan ini tidak wajib. Ujian ini dibuat oleh dewan ujian matrikulasi dari kementerian pendidikan.

Kurikulum di Finlandia pun tidak terlalu ‘akademis’ seperti yang dibayangkan ada di negara dengan pencapaian akademis yang tinggi. Siswa di sekolah-sekolah Finlandia mengikuti jam belajar yang lebih sedikit. Sekolah dan guru diberi kebebasan dalam menentukan kurikulum, metode pengajaran dan juga materi ajar. Guru-guru juga mengadakan pertemuan, setidaknya satu kali dalam seminggu, untuk secara kelompok, merencanakan dan mengembangkan kurikulum. Di dalam pertemuan tersebut, semua guru didorong untuk saling berbagi material (Darling-Hammond, 2012).

Di dalam kelas, sangat jarang ada guru yang berdiri di depan kelas dan memberikan ceramah selama 50 menit. Siswalah yang menjadi pusatnya, dengan menentukan sendiri target mingguan dengan guru, pada bidang tertentu dan memilih tugasnya sendiri. Sehingga yang terjadi di kelas adalah: siswa berjalan kesana kemari, mengumpulkan informasi, bertanya pada guru dan bekerja sama dengan siswa lain dalam kelompok kecil.

Desain pembelajaran semacam ini dikembangkan secara lokal oleh guru di sekolah. Sehingga,guru selalu ditantang untuk membuat kurikulum dan mengembangkan evaluasi kinerja yang sesuai dengan kondisi sekolah. Untuk itu saat menjalani pelatihan, guru dibekali dengan keterampilan mengajar siswa yang memiliki gaya belajar beragam, termasuk yang berkebutuhan khusus. Penekanannya adalah pada multikulturalitas dan pencegahan munculnya kesulitan belajar dan pembedaan (Darling-Hammond, 2012). Dan pada akhirnya, slogan no child left behind pun menjadi nyata.

Daftar Pustaka

Darling-Hammond, L. (2012, November). What we can learn from Finland’s successful school reform. Diambil kembali dari National Education Association Today: http://www.nea.org/home/40991.htm

Lopez, A. (2012, May 21). How Finnish schools shine. Dipetik October 3, 2012, dari The Guardian Teacher Network Blog: http://www.guardian.co.uk/teacher-network/teacher-blog/2012/apr/09/finish-school-system

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2009). PISA 2009 ranking. Diambil kembali dari PISA 2009 key findings: http://www.oecd.org/pisa/46643496.pdf

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2012). About Pisa. Dipetik October 3, 2012, dari PISA: http://www.oecd.org/pisa/aboutpisa/

Siina , V. (2012, January 25). News & Events. Dipetik October 3, 2012, dari University of Helsinki: http://www.helsinki.fi/news/archive/1-2012/25-16-58-02.html

Snider, J. (2011, April 17). Keys To Finnish Educational Success: Intensive Teacher-Training, Union Collaboration. Dipetik October 2012, 2012, dari Huffington Post Blog: http://www.huffingtonpost.com/justin-snider/keys-to-finnish-education_b_836802.html

Vygotsky dan Manfaatnya Bagi Orang Tua

Minggu 9 September 2012, @bincangedukasi mengadakan #twitedu dengan topik orang tua menjadi guru bagi anaknya. Karena teringat dengan teori sosiokultural dari Vygotsky, aku kemudian membagikannya dan mengaitkannya dengan topik. Ini hasilnya:

Yuk Menulis!

Tahun 2012 aku pernah ikut kelas Academic Writing di Lembaga Bahasa Internasional FIB UI. Ternyata pernah menulis sebuah esai tentang dampak positif menulis bagi mahasiswa. Kala itu tulisannya berbahasa Inggris. Ini ringkasannya.

 

Peperangan di Halte Arion

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.

Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. Saat itu aku baru pulang dari Wisma Adisutjipto. Tak berapa lama setelah ku duduk, seseorang di sebelah kiriku mencolek-colek tanganku. Aku menengok dan menemukan seorang ibu, kira-kira 50 tahun usianya mengajakku bicara.

Kulitnya berwarna coklat sawo matang. Tulang wajahnya tampak menonjol. Alisnya tipis. Lingkar matanya agak cekung. Punggungnya bongkok. Saat itu ia mengenakan jilbab dan semacam daster yang menutupi tubuhnya hingga ke kaki.

“Dek, mau beli tas ibu gak? Lima puluh ribu, untuk berobat ibu,” sambil membuka plastik hitam berisi tas berwarna hitam pula.

Ia lalu menaikkan daster dan menunjukkan lututnya. Lutut tersebut tampak agak merah.

Dengan mengatupkan kedua telapak tangan ke arahnya, aku sesopan mungkin menolaknya. “Tampaknya ini strategi meminta-minta,” pikirku.

“Maaf bu,” kupandang ibu itu sejenak dan menyelesaikan kalimat, kemudian memalingkan muka menanti bus lagi.

Ibu itu masih mencoba menawarkan kembali dagangannya. Aku pun menolaknya kembali. Pertama, karena aku memang tak butuh tas. Kedua, bagiku, memberikan apa yang dimauinya hanya akan membuat perilaku tersebut bertahan. Ia akan terus meminta-minta.

Ia masih juga mencoba. Harga dagangan pun diturunkan jadi Rp. 20.000. Aku masih bergeming, tapi dalam hati tidak.

Kuingat uangku masih cukup untuk memberikan apa yang dia minta. Tapi aku ingin konsisten dengan tidak memberikannya. Setidaknya jika aku tak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aku bisa mencegah penidakberdayaan masyarakat. Namun ternyata tak semudah itu.

“Kok lo jahat banget sih? Lo kan punya uang segitu. Apa ruginya kalau uang itu lo berikan?”

“Tapi kalau gue berikan, ibu ini akan terus meminta-minta. Dia akan selamanya jadi peminta.”

“Tapi..”

“Tapi…”

Perdebatan makin menjadi saat ibu ini akhirnya tidak menjual tasnya.

“Ibu minta sepuluh ribu aja dek, buat ongkos pulang,” pintanya sambil mencolek lenganku lagi.

Mencoba tenang aku kembali menolaknya.

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Debat dalam diri makin kuat. Punggung dan tanganku menegang. Suaranya seperti menusuk-nusuk hati dan pikiranku.

“Lo diajarkan untuk mengasihi sesama. Tapi kok gini?”

“Ini bentuk kasihku untuknya.”

“Tapi apa ruginya hanya sepuluh ribu?”

“Tidak. Aku harus konsisten.”

Aku pun lelah. Bus menuju blok m sempat hendak kujadikan pelarian. Namun tak berapa lama bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Kuangkat badan dan segera naik ke sana.

Dari jendela bus, kupandangi ibu itu.

“Ya Tuhan, kalau aku berdosa karena ini, ku mohon ampun.”

Dan bus pun melaju bersama deru dalam diriku.

Malam kemarin, di tempat yang sama; di bawah lampu halte pukul 6 sore, kulihat ibu yang sama. Namun kali ini aku memutuskan untuk menunggu bus di luar halte. Tak mengapa jika aku harus berdiri lama.

Pakaiannya kurang lebih sama, hanya kali ini ia pakai rok sedikit di bawah lutut. Ia duduk di halte bagian tengah, sementara calon penumpang di halte itu duduk sekitar 1 meteran darinya.

Beberapa kali aku sempat meliriknya, apalagi saat ada orang yang duduk di sebelahnya persis. Yang kulihat adalah kurang lebih sama dengan yang kualami. Ia mengajak bicara orang di tersebut, lalu membuka plastik berisi tas.

Aku tak tahu apa yang ia omongkan. Tapi semua orang yang sempat diajak bicara, menunjukkan gestur menolak sesuatu. Ada yang dengan senyum lalu memalingkan muka dan ada yang seperti caraku menolaknya. Dan sekarang si ibu masih tetap duduk di tengah halte, membawa tas plastik dan dijauhi sekitarnya.

Dari luar halte, pertentangan dalam diri perlahan timbul kembali.

“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat? Jika tidak, aku mohon ampunanMu lagi.”