#gratitoday 070612 – Beasiswa, Bangga dan Bahagia

Setelah seminggu tak ada kabarnya, akhirnya terdengarlah info bahwa surat permohonan bantuan biaya pendidikanku sedang diproses. Semoga dalam waktu dekat ada berita menggembirakan. Kalau tidak, ya tak mengapa. Aku siap!

Kabar itu muncul di sela kegiatan wawancara yang sedang kami jalankan di kantor. Aku dan beberapa teman sedang mencari fasilitator untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru, lewat wawancara itu.

Yang membahagiakan lagi adalah saat mendengar beberapa testimoni fasilitator yang ikut tahun lalu. Katanya, kegiatan pelatihan untuk mempersiapkan mereka, sangat bermanfaat ketika terjun langsung dalam orientasi mahasiswa baru. Bahkan seorang di antaranya mengaku kesempatan menjadi fasilitator menjadikannya seorang yang lebih baik dalam mengajar.

Tak kurang membahagiakannya adalah saat mengetahui beberapa yang tadinya pernah jadi muridku, saat ini akan menjadi guru bagi orang lain. Seperti ini ya rasa bahagia campur bangga campur syukur, seorang guru saat melihat murid lebih baik dari dirinya?

Ah, syukurlah atas hari ini!

Awan Mendung dan Panas Mentari

Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.

“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.

“Mengapa tak suka, nak?”

“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!”

“Tapi inilah tugas kita nak. Apa kau mau melepaskan diri darinya?”

“Jika memang harus!” Serangkai petir terlepas dari mata awan kecil.

Sejenak mereka terdiam, sambil berpandangan.

“Aku akan pergi!” lanjutnya.

Ayah masih dan hanya terdiam melihat awan kecil membebaskan tangan dari gandengannya lalu melayang sendirian.

Awan kecil kemudian kembali ke jalur yang telah dilaluinya tadi, dengan wajah muram.

Ia melihat sebuah desa dengan mayoritas atap rumah daun kelapanya sudah terlepas. Beberapa pohon sudah tumbang. Penduduk desa sedang berkeringat membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dua ekor tikusmengapung tak bernyawa di sungai yang meluap.

Awan kecil makin sedih. Dan ia pun menangis.

Kemudian ia menengok ke jalur yang tak dilalui kawanannya. Di sana, tanah sudah pecah pecah. Daun-daun lesu mencoklat. Penduduk desa bersusah payah mencangkul sawah yang tak akan bisa dipanen hasilnya. Dan tak jauh dari situ,  seekor rusa mati di samping sungai kecil yang sama matinya.

Awan kecil terhenti dalam hening. Air matanya makin deras.

Sayup-sayup ia mendengar suara, “Terus. Terus. Aku haus.”

Tersadar, ia segera kembali ke tempat ayahnya berada.

“Ayah! Aku mau jadi mendung!”

“Aku mau turun menjadi hujan!”

“Aku mau menangis dalam bahagia, seperti seorang yang berkorban bagi sesamanya yg kesulitan.”

“Baiklah nak! Kutunggu kau di tanah sini ya!”

Dengan senyuman, awan kecil terjun dan memecahkan dirinya.

*Bisa dibaca juga di WritingSessionClub.Blogspot.com

Siapa Butuh Siapa?

Ternyata sesungguhnya kita yang membutuhkan mereka.

Dari kecil, kita selalu diajarkan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Anak yatim piatu, pengemis, gelandangan, dan orang-orang yang hidupnya tak senyaman kita. Bantuan bisa berupa uang, makanan pakaian atau seminimal mungkin, doa.

Ajaran itu masih ‘nempel’ sampai sekarang. Jadi kadang kita merasa enggan untuk memberikan sumbangan. Alasannya, kita juga membutuhkannya lho.

Tapi kalau kita coba resapi lebih dalam, bukan mereka yang membutuhkan kita.

Memang, hidup mereka tak senyaman kita. Makan dan minum saja sulit. Tapi, seperti sebuah kutipan “burung -burung di langit yang tak pernah mengumpulkan makanan dalam lumbung saja selalu diberkahi,” orang-orang tersebut selalu juga mendapati berkah.

Justru kita inilah yang seringkali, karena kesibukan dalam kehidupan dunia, jadi merasa tak diberkahi. Kita terlalu sibuk mengharapkan anugerah yang ekstravaganza, sampai lupa hal-hal kecil yang bermakna. Hembusan angin di tiap pagi. Cicit burungnya. Masakan bikinan ibu. Doanya saat kita pergi kerja. Juga saat memberikan sesuatu pada yang butuh. Aaah, nikmatnya.

Jadi, pagi ini aku mendeklarasikan diri untuk berbagi rejeki pada mereka. Bukan hanya karena ingin membantu mereka, tapi juga untuk belajar lebih memaknai hidup dengan penuh syukur. Dan caranya adalah dengan berbagi.

pesan bagi diri sendiri: semoga tak hanya omong belaka

Lebih Baik Sehat

Setelah menanti operasi gigi yang tertunda, hari Rabu pun tiba.

Pagi-pagi aku sudah sampai di sana, dan bisa langsung menjalankan operasi. Dokterpun sudah siap dengan peralatan tempurnya. Hasil rontgen sudah dipajang di depan kursi operasi.

“Besar juga ya. Untung Jumat lalu belum dicabut. Ternyata belum sama sekali tercabut. Ini operasi yang sulit, masuk kategori A3.”

“Wah, saya jadi deg-degan dok (meski tak tahu apa itu A3).”

“Jangankan kamu. Saya aja deg-degan.”

GLEK!

Wajahku pun ditutup kembali. Asisten sudah siap dengan mesin penyedot di samping kiri. Dokter dan alat operasi ada di kanan. Dari sela kain penutup, aku lihat jarum suntik untuk biusnya sedang menuju ke arah mulutku.

Dokter yang ini cara membiusnya berbeda dengan yang di kampus. Jika dokter kampus minta maaf kalau aku mengeluarkan suara atau gestur sakit, dokter ini tak terlalu terpengaruh. Bahkan, saat gigiku sedang digoyang-goyang, ada beberapa bagian gigi yang belum terbius. Dia lalu menusukkan jarum suntik ke beberapa tempat dengan cepat. Begitu aku mengerang, dia langsung menyuntikkan biusnya.

Walau tampak sadis, tampaknya itu hal yang tepat. Kalau dokternya tidak tegaan, operasi pasti akan berjalan makin lama. Pasti akan mengurangi beberapa menit waktu sisa biusnya.

Kurang lebih satu jam, gigi pun berhasil tercabut!

“Gede bener. Gendut ini giginya,” kata dokter sambil memotret gigiku dengan Blackberry-nya.

Aku lega selega-leganya! Biayanya diberi diskon pula. Biasanya bisa sampai 2-3 juta, tapi aku hanya perlu membayar Rp. 500.000 saja. Untunglah.

“Minggu depan kamu kesini lagi ya, lepas jahitan.”

“Oke!”

Ternyata penderitaanku belum selesai. Selama seminggu itu: pipiku bengkak, mangap sulit, makan sulit, minum sulit. Aku hanya bisa makan bubur yang tanpa dikunyah dan langsung ditelan. Akibatnya, lambungku pun kena iritasi. Tiap kali menelan, rasanya nyeri di daerah ulu hati. Alamak!

Terpaksa, ketika seharusnya menjadi instruktur pelatihan, aku harus istirahat di rumah. Beruntung sekali kawan-kawanku sangat sigap dan siap menggantikanku di hari pertama pelatihan. Di hari kedua dan ketiga, dengan susah payah, aku tetap bisa memberikan pelatihan. Syukurlah!

Benar ya kata orang, kesehatan itu amat berharga. Tidak enak kalau lagi sakit. Aktifitas terganggu, makan sulit, obrolan terganggu, dan lain-lain.

Syukur pada Tuhan, pengalaman ini bisa kuterima. Memang bertubi-tubi sih, mengingat tak lama lalu aku pasti tidak jadi berangkat kuliah ke Belanda. Tapi, kalau tidak ada kejadian ini, mana mungkin aku jadi lebih kuat lagi? Setidaknya, aku jadi punya bahan curhatan ketika kelas pelatihan.

Hidup ini memang adil, seadil-adilnya!

Lebih Baik (Tidak) Sakit Gigi

Sudah dua minggu lebih, gigi, mulut dan sekitarnya menjadi tema utama hidupku. Dan akhirnya, 2 hari belakangan ini, kesembuhan makin jadi milikku.

Kejadiannya bermula dari Senin 11 Juli 2011, saat aku mengalami sakit gigi. Hari itu pagi-pagi aku mendatangi pusat kesehatan di kampus. Setelah bertemu dokter giginya, ternyata aku mestinya rontgen gigi dulu, baru konsultasi dengan beliau. Ya sudah, akhirnya aku hanya minta dokter membersihkan karan-karang di gigiku.

Hari berikutnya aku rontgen di tempat yang sama, dan kemudian melapor ke dokter yang sama. Katanya, gigi geraham belakangku harus dicabut, karena mendorong gigi di depannya.

“Dok, bisa cabut di sini atau perlu ke spesialis?”

“Di sini juga bisa,” jawabnya.

“Bisa langsung kerja gak?” aku khawatir karena di Juli ini akan banyak kegiatan.

“Bisa!”

Jadilah kami janjian hari Jumat jam 07.30 untuk cabut gigi.

Ternyata tidak hanya cabut gigi, melainkan operasi, karena gusiku akan disayat, dan gigi yang tersembunyi di dalamnya akan dicabut.

“GLEK!”

Tapi pagi itu aku sudah siap dan percaya diri (pagi-paginya mandi dan keramas; tak ada hubungannya sih).

-

Pukul 07.30 aku sudah sampai dan langsung disambut kursi pasien gigi. Aku duduk dan langsung mulai ‘direparasi’. Pertama kali pastinya aku dibius.

“Glek! Jarum suntik dimasukkan ke mulut!” seumur-umur, ini tampaknya baru pertama kali terjadi padaku. Tapi inilah yang harus terjadi. Takut sih iya, tapi ya mau bagaimana lagi. Kalau mau sembuh, ya harus seperti ini.

“Berapa lama dok cabutnya?”

“Paling lama setengah jam.”

Setelah dibius, bibir, gusi, gigi dan sedikit bagian lidahku tak berasa apa-apa. Ah, untunglah. Apa rasanya kalau tidak ada penemuan yang bernama anastesi ini?

Dokternya kemudian mengganti beberapa kali alat yang dipakainya. Ada suntikan, pisau kecil, bor dan juga alat mirip obeng. Namun tampaknya gigi belum tercabut juga.

Kulihat jam, sudah hampir jam 09.30. Tiba-tiba, alat mirip obeng yg dipakai dokter, seperti telah mengeluarkan sesuatu dari mulutku.

“Ah, syukurlah. Doaku selama cabut gigi ternyata berhasil. Giginya sudah tercabut.”

Tapi kok dokternya diam saja? Aku justru diminta berkumur-kumur.

“Mas, maaf. Kayaknya harus dirujuk ke spesialis deh. Giginya besar sekali. Saya tidak kuat mengangkatnya.”

“GLEK GLEK!”

“Oooh,” aku hanya bisa pasrah. Wong tak bisa apa-apa juga.

Dokter kemudian menjahit gusi yang sudah sempat disayat tadi.

“Aneh juga rasanya, gusi dijahit. Seperti tak sengaja menelan rambut, cuma lebih tebal.”

Selepas dijahit, gusiku diberi kapas dan aku diminta menahannya dengan cara mengatupkan mulutku. Dokter lalu membuat surat rujukan ke dokter spesialis di RS. Pasar Rebo.

“Harus sekarang ya dok?” tanyaku; mengingat tadinya aku sudah ada rencana mau mengerjakan sesuatu d kantor.

“Iya, sekalian aja.”

Aku pun menuruti dan langsung beranjak.

Di luar pintu operasi, kekasihku ternyata sudah menunggu. Kuceritakan semua yang terjadi, dan kami pun akan berangkat ke Ps. Rebo.

Setelah meminjam helm, kami bergegas kesana.

Ini kali pertama aku berobat diRS. Pasar Rebo. Biasanya aku hanya menjenguk saja. Setelah membuat kartu pasien dan mendaftar, kami mengantri di poli gigi. Bius yang tadi diberikan, sudah mulai menipis. Gusiku mulai nyut-nyutan.

Akhirnya aku bisa masuk dan menui dokter yang disarankan. Lalu kuserahkan surat rujukannya.

“Lah, ini dirujuk dari UI. Emang kenapa?”

Aku bingung sendiri, lalu menceritakan kejadiannya.

Setelah dia mendapatkan gambaran kejadiannya, aku diminta duduk di kursi pasien. Wajahku ditutupnya dengan kain, tinggal tersisa mulut dan hidungku saja. Di sebelah kiri, seorang asisten sudah siap membantu.

Dokternya kemudian mengambil hasil rontgen tempo hari. Tiba’tiba dia bertanya, “sudah berapa banyak gigi yang diambil?”

“Wah, gak tu tuh dok. Mana saya lihat?”

Dokter itu kemudian melepas semua atribut operasi yang sudah dipasang.

“Saya gak berani ambil resiko kalau begini. Kamu rontgen saja dulu, baru kesini lagi. Tapi karena Rontge-nya ngantri dan saya cuma praktik pagi, jadi operasinya hari Sabtu saja ya?”

GLEK!

“Saya Sabtu gak bisa, sudah ada acara. Rabu aja ya?”

“Bisa. Rabu pagi ya?”

Kesepakatan pun terjadi. Aku akan kembali lagi hari Rabu pagi.

Masih ditemani kekasihku, kami pun menuju ruang rontgen, antri lalu rontgen dan kembali ke UI. Menanti.. Menanti hari Rabu..

Awan Kecil & Burung Jalak

Awan kecil siap menitik menuju tanah ibunya. Ditengoknya kembali langit dan ayahnya yang bergantung di sana. Ayah tersenyum bangga. Namun awan kecil merunduk dalam ketidakrelaan.

“Aku masih ingin di langit. Bercanda dengan angin. Dikelitiki petir. Untuk apa aku mesti berjumpa dengan bumi?”

Ia pun makin meluncur ke bumi dan makin tak ikhlas.

Tiba-tiba seekor burung jalak ikut menukik di samping awan kecil. Badannya kecil. Bulunya campuran putih dominan dan hitam. Paruhnya yang kuning satu-satunya warna yang berbeda.

“Halo kawan! Mau bertemu dengan pohon juga ya?” katanya dengan suara setengah berkicau.

“Iya,” awan kecil menjawab dengan was-was binatang yang baru dikenalnya itu.

“Wah, kau harus siap-siap berbagi ruang dengan yang lain ya. Banyak yang ingin tidur di dalamnya.”

“Ngomong-ngomong, kau orang baru di sini ya? Aku belum pernah melihatmu,” tanya si jalak.

“Betul,” awan kecil menjawab. Dalam hati ia bergumam, “burung ini bodoh sekali, tak kenal siapa aku.”

“Kau tahu? Aku sudah tua, namun pepohonan masih saja memberikan dirinya untukku dan keluargaku.”

Awan kecil terdiam.

“Di dalam lubang di salah satu pepohonan itu, istri dan ketiga anakku, dilindunginya.”

“Kalau kami lapar, kami tinggal mencari buah di rantingnya atau ke bawah mencari serangga.”

“Kalau haus, kami tinggal melompat, hap, dan kami sudah di kolam.”

“Sungguh mulia, Siapapun yang menyediakannya. Pohon yang kokoh nan subur. Kolam yang segar. Tanpa mereka, kami tak akan hidup.. Ah, sudahlah omong kosongku. Kau mau mampir ke tempatku dulu?” tanya busung jalak.

“Tak usah. Titipkan salam bagi keluargamu,” balas awan kecil.

Burung jalak berbelok menuju sebuah pohon rindang. Cicitan anak-anaknya sudah terdengar nyaring.

Nyanyian keluarga jalak itu, entah bagaimana mampu menenangkan awan kecil. Ia merasa dirinya tak akan sia-sia. Ia memiliki peran penting dalam kehidupan, meski kadang ia menginginkan peran lain.

Ia pun kini telah siap menyambut tanah.

“Oia, jalak, kita akan jumpa lagi. Pasti itu!” teriaknya dalam senyuman.

Awan Kecil

“Ayah, nanti aku mau jadi awan terus ya?” sambil berputar kesana kesini bersama angin.

Ayah hanya tersenyum mendengar tingkah polah awan mini di sampingnya.

“Di sini enak. Aku bisa lihat semua makhluk bumi. Atap pepohonan. Liukan sungai. Indah sekali mereka ya. Aku suka!”

Ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut.

-

Sampai suatu waktu.

“Ayah, badanku kok makin berat ya? A..a..aku takut akan ja..jatuh,” awan kecil buru-buru menggandeng tangan ayah.

“Tak mengapa nak. Ini sudah waktunya menemui ibu bumi,” sambil ayah menunjuk ke bawah.

“Aku tak mau ayah. Aku ingin di sini saja,” awan kecil mulai berkaca-kaca.

“Nak, kamu lihat ikan di sungai itu? Tanpa keberadaanmu, mereka pasti akan kekeringan dan mati. Coba bayangkan kalau kamu tidak turun dan sungainya menipis.”

“Coba lihat pula pepohonan itu. Mereka tak akan bisa berbincang dengan kita jika tak bertumbuh dengan baik. Tanpa kamu, mereka tak akan setinggi itu.”

“Jadi memang aku harus kesana ya? Meski aku tak ingin?”

“Benar nak. Peranmu adalah sebagai ‘yang mengindahkan’ mereka, sehingga yang lain pun bisa menikmatinya. Tidakkah itu mulia, anakku?”

Awan kecil pun tersenyum.

Dilepaskan tangan ayahnya. Dan dia segera meluncur setitik demi setitik menjumpai pohon dan sungai.

Ada Meski Tak Terlihat

Selepas rapat, menjelang jam 4 sore, sebuah SMS datang seperti hujan deras memenuhi sungai di mataku.

Aku sedang berbicara dengan seorang kolega, saat sebuah pesan singkat menggetarkan ponselku. Isinya, ibu berbicara menyelamati ulang tahunku. Banyak doa di sana, mulai dari pekerjaan, rejeki hingga pendidikan. Aku membacanya terus hingga di akhir, “aku sangat menyayangimu.”

Aku tersedak. Sungai itu seperti hendak meluapi desa di tepiannya. Kutahankan diri, sambil terus mendengarkan obrolan.

Kalimat terakhir itu sepertinya membuatku merasa awkward. Ya, aneh. Di keluargaku, pengungkapan ekspresi atau emosi menjadi sesuatu yang langka. Meskipun itu adalah ungkapan rasa sayang. Wajar saja kalau banyak yang bilang bahwa aku terlalu datar atau lempeng. “Itu semacam ‘budaya’ di keluarga,” begitu pikirku.

Sejenak aku tak tahu mesti balas apa.

Namun kurefleksikan sejenak. “Aku bisa mengucapkan kalimat yang sama pada kekasihku. Tapi kenapa bagi wanita mulia yang berjuang melawan maut melahirkanku, aku kesulitan?”

Ya! Sebuah pesan terima kasih dan ‘aku juga sayang ibu’ kukirimkan ke nomornya.

Beberapa jam kemudian, pesan dari bapak juga masuk. Intinya dia juga mendoakanku sambil meminta maaf karena tak bisa memberikan apa-apa.

Kiriman-kiriman itu kemudian kuceritakan pada kekasihku. Katanya, “we love you!”

Selepas pulang, kejadian ini menggenangi pikiranku selama perjalanan. Perasaan-perasaan aneh nan bahagia menggelembungi dadaku.

Akhirnya aku sampai pada suatu simpulan sementara, “tampaknya mesti tak terlihat, kasih sayang itu tetaplah ada,” begitu bunyinya.

Meskipun tak terlihat, udara memenuhi sekitar kita, menyusupi hidung dan menggerakkan roda jasmani kita. Namun kadang kita terlalu ingin merasakan udara yang wangi atau udara yang sejuk, dan melupakan bahwa udara apapun itu tetaplah bentuk kasih Bumi pada kita.

“Ya, tampaknya itu. Mereka sayang padaku, meski tak pernah utarakannya.”