Balada Pria Pemijat

Dua minggu ini, tema kehidupanku tak jauh dari pijat memijat. Setelah minggu lalu ditawari pijat plus plus di Shanghai, kali ini aku mendengarkan kerasnya kehidupan seorang pemijat.

Sabtu malam aku mencoba layanan pijat refleksi. Katanya mereka menggunakan cairan campuran minyak zaitun dan garam khusus untuk memijat. Kalau dilihat-lihat layanan serupa, pijat refleksi nampaknya bukan layanan utamanya. Layanan utama justru ruangan garam, yang diyakini mampu menyembuhkan sinus dan asma.  Continue reading

Kesedihan Luthier Tegal Parang

“Kami lagi libur,” katanya ketika membuka pintu rumah yang sekaligus bengkel pembuatan dan perbaikan gitar.

“Yah. Kayaknya bakal seperti tujuan sebelumnya, yang tutup pada hari Minggu,” pikirku.

Namun Pak Tirto tetap mempersilakanku masuh ke rumah sederhananya. Sebuah sofa berbentuk L yang cukup untuk 6 orang dan sebuah meja menungguku. Di dinding sebelah kiri terdapat semacam kain kanvas, yang berisi coret-coretan tanda tangan dan nama-nama.

“Pasti seluruh kliennya yang ngetop-ngetop yang isi di situ,” batinku.

Sebelum ke tempat Pak Tirto di kawasan Mampang, aku berniat membetulkan gitar elektrik di daerah Pasar Minggu. Namun karena tutup aku ke sini. Jadilah aku ke tempat bapak berkacamata dan tinggal di tengah pasar di kawasan Tegal Parang. Luthier, begitu pembuat alat musik berdawai seperti Pak Tirto disebut.

Lalu aku duduk dan mendengarkannya.

“Ini lagi libur, tidak terima pesanan. Baru beberapa waktu lalu istri saya meninggal. Pikiran masih belum siap untuk kerjaan.”

“Sudah 2-3 minggu kami bolak-balik rumah sakit, menjaga ibu. Ke dokter. Ke pengobatan alternatif. Kata dokter, pilihannya operasi lagi atau di-kemoterapi. Namun harus menunggu pulihnya kondisi ibu. Ibu sempat pulih, namun akhirnya drop lagi.”

“Yang saya paling sedih itu, ketika cucu saya mencari eyangnya. Kan eyangnya suka main ke rumah cucu dan sebelum ke rumah sakit, sempat tidur di sana.”

“Eyang dimana?” kata Pak Tirto menirukan cucunya.

Sambil menyesap batang rokok Dji Sam Soe kelimanya, tampak ia mulai berkaca-kaca.

Kan bingung jawab pertanyaan anak seperti itu. Saya jawab saja eyang sedang pergi.”

Aku hanya bisa mendengarkan.

Tak lama obrolan berpindah. Pak Tirto mulai berkisah tentang gitar Les Paul-nya yang dibeli anak mantan menteri koperasi. Gitar Jem yang dibuatnya sendiri dan dipakai keliling Indonesia oleh teman-teman musisinya. Pertemanannya dengan Bonita, Adoy dan Cozy Street Corner. Dengan Kiboud Maulana. Dengan John Paul dan beberapa bule lain yang memesan gitar atau bas padanya.

Pak Tirto memang langka. Tak banyak yang kutahu memiliki kemampuan membuat gitar; dan sudah diakui musisi-musisi lokal maupun internasional. Apalagi kini ia hanya bekerja sendiri tanpa anak buah.

Kehilangan istri memang nampak sangat berat baginya. Kata seorang temanku, sang istri sering menemani Pak Tirto menyelesaikan gitar. Membuatkan kopi, atau menerima pesanan ketika Pak Tirto istirahat.

Namun pembuatan gitar tetap harus berjalan. Gitar ku pun akhirnya ditinggal di sana. Ia tak menjamin bisa tahu kapan bisa selesai. Aku pun tak masalah, asalkan Pak Tirto enjoy menyelesaikannya dan aku bisa memainkan gitar itu lagi.

“Monggo pak, saya pamit,” kataku sambil mengucap turut berduka cita dalam hati.

 

Angan Khusus

Katanya setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Begitu tertulis di undang-undang negara kita. Apakah benar demikian adanya? Mungkin bagi pendidikan umum, sedang menuju ke sana. Namun bagi pendidikan yang tidak biasa? Mungkin masih menjadi angan-angan.

Suatu waktu aku berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah yang memiliki departemen untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Saat itu aku ingin belajar, khusus untuk anak dengan sindrom autisme. Di sana aku belajar dari 2 orang guru dan 2 orang murid autis.

Di sekolah tersebut, kurikulum nasional sama sekali tidak berlaku. Setiap anak yang dilayani, memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Buku-buku yang diproduksi untuk kurikulum nasional, hanya dipakai sebagai pembanding kemampuan anak di sana. Misalnya, di buku tertulis anak kelas 1 seharusnya memiliki kemampuan dan pengetahuan A atau B atau C. Jika ada anak di sekolah tersebut baru bisa A B dan C itu, maka kurikulum bagi anak tersebut akan dibuat sesuai kemampuan anak kelas 1.

Menjadi guru di sana pun bukan tanpa kesulitan. Selain mereka memiliki kurikulum khusus bagi setiap anak, mereka harus memiliki passion lebih untuk mengajar untuk mencegah stres dalam bekerja. Bayangkan saja, setiap hari, mulai jam 08.00-14.00, selama beberapa tahun, guru akan menemui siswa yang sama dengan kesulitan yang kurang lebih sama. Mereka akan mendapati bahwa siswanya hanya akan mengalami sedikit perkembangan kemampuan, setelah usaha keras guru. Selain itu beban kerja guru cukup besar, karena sesi istirahat atau makan siang pun guru perlu ‘mengajar’ juga.

Usaha keras ini juga diamini oleh seorang pengasuh di sekolah luar biasa, yang menangani anak autis. Katanya, untuk  menangani sekitar 116 anak berkubutuhan khusus, hanya ada 20 orang pengasuh. Di antara pengasuh tersebut, ada juga yang berperan ganda sebagai juru masak atau pelatih olah raga. Menurut pengasuh berusia 25 tahun itu, mencari pengasuh itu sangat sulit. Jarang ada yang mau. Sempat ada yang menjalani sesi trial selama sehari, namun tidak kuat dan akhirnya tidak melanjutkan.

Berbeda dengan guru di kedua institusi sebelumnya, ada lagi seorang ibu dengan anak tuna netra. Kebetulan ia sempat berbagi pengalaman di kelas Anak Berkebutuhan Khusus. Kesulitan yang dialaminya ketika memberikan pendidikan bagi anak adalah sulitnya mendapatkan sumber belajar. Belum banyak materi belajar yang bisa ‘dibaca’ anak tuna netra. Memang teknologi untuk membuatnya sudah ada, namun harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu baru 1 alat saja. Sedangkan masih ada beberapa alat lainnya yang tidak kalah mahal.

Akhirnya, harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia. Namun apakah bisa dilakukan, sementara pendidikan yang umum saja masih karut marut? Aku sendiri selalu optimis akan bisa. Beberapa orang dan kelompok yang peduli, sudah mulai menginisiasinya. Harapannya, angan-angan yang ada di benak guru dan orang tua, serta orang-orang yang peduli itu, akan bisa mengembangkan sayapnya dan kemudian menjadi nyata.

Olimpiade Matematika dari Papua

Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.

Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.

menyusun teka-teki berbentuk balok

Semoga berhasil adik-adik!

Peperangan di Halte Arion

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.

Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. Saat itu aku baru pulang dari Wisma Adisutjipto. Tak berapa lama setelah ku duduk, seseorang di sebelah kiriku mencolek-colek tanganku. Aku menengok dan menemukan seorang ibu, kira-kira 50 tahun usianya mengajakku bicara.

Kulitnya berwarna coklat sawo matang. Tulang wajahnya tampak menonjol. Alisnya tipis. Lingkar matanya agak cekung. Punggungnya bongkok. Saat itu ia mengenakan jilbab dan semacam daster yang menutupi tubuhnya hingga ke kaki.

“Dek, mau beli tas ibu gak? Lima puluh ribu, untuk berobat ibu,” sambil membuka plastik hitam berisi tas berwarna hitam pula.

Ia lalu menaikkan daster dan menunjukkan lututnya. Lutut tersebut tampak agak merah.

Dengan mengatupkan kedua telapak tangan ke arahnya, aku sesopan mungkin menolaknya. “Tampaknya ini strategi meminta-minta,” pikirku.

“Maaf bu,” kupandang ibu itu sejenak dan menyelesaikan kalimat, kemudian memalingkan muka menanti bus lagi.

Ibu itu masih mencoba menawarkan kembali dagangannya. Aku pun menolaknya kembali. Pertama, karena aku memang tak butuh tas. Kedua, bagiku, memberikan apa yang dimauinya hanya akan membuat perilaku tersebut bertahan. Ia akan terus meminta-minta.

Ia masih juga mencoba. Harga dagangan pun diturunkan jadi Rp. 20.000. Aku masih bergeming, tapi dalam hati tidak.

Kuingat uangku masih cukup untuk memberikan apa yang dia minta. Tapi aku ingin konsisten dengan tidak memberikannya. Setidaknya jika aku tak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aku bisa mencegah penidakberdayaan masyarakat. Namun ternyata tak semudah itu.

“Kok lo jahat banget sih? Lo kan punya uang segitu. Apa ruginya kalau uang itu lo berikan?”

“Tapi kalau gue berikan, ibu ini akan terus meminta-minta. Dia akan selamanya jadi peminta.”

“Tapi..”

“Tapi…”

Perdebatan makin menjadi saat ibu ini akhirnya tidak menjual tasnya.

“Ibu minta sepuluh ribu aja dek, buat ongkos pulang,” pintanya sambil mencolek lenganku lagi.

Mencoba tenang aku kembali menolaknya.

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Debat dalam diri makin kuat. Punggung dan tanganku menegang. Suaranya seperti menusuk-nusuk hati dan pikiranku.

“Lo diajarkan untuk mengasihi sesama. Tapi kok gini?”

“Ini bentuk kasihku untuknya.”

“Tapi apa ruginya hanya sepuluh ribu?”

“Tidak. Aku harus konsisten.”

Aku pun lelah. Bus menuju blok m sempat hendak kujadikan pelarian. Namun tak berapa lama bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Kuangkat badan dan segera naik ke sana.

Dari jendela bus, kupandangi ibu itu.

“Ya Tuhan, kalau aku berdosa karena ini, ku mohon ampun.”

Dan bus pun melaju bersama deru dalam diriku.

Malam kemarin, di tempat yang sama; di bawah lampu halte pukul 6 sore, kulihat ibu yang sama. Namun kali ini aku memutuskan untuk menunggu bus di luar halte. Tak mengapa jika aku harus berdiri lama.

Pakaiannya kurang lebih sama, hanya kali ini ia pakai rok sedikit di bawah lutut. Ia duduk di halte bagian tengah, sementara calon penumpang di halte itu duduk sekitar 1 meteran darinya.

Beberapa kali aku sempat meliriknya, apalagi saat ada orang yang duduk di sebelahnya persis. Yang kulihat adalah kurang lebih sama dengan yang kualami. Ia mengajak bicara orang di tersebut, lalu membuka plastik berisi tas.

Aku tak tahu apa yang ia omongkan. Tapi semua orang yang sempat diajak bicara, menunjukkan gestur menolak sesuatu. Ada yang dengan senyum lalu memalingkan muka dan ada yang seperti caraku menolaknya. Dan sekarang si ibu masih tetap duduk di tengah halte, membawa tas plastik dan dijauhi sekitarnya.

Dari luar halte, pertentangan dalam diri perlahan timbul kembali.

“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat? Jika tidak, aku mohon ampunanMu lagi.”

Penyesalan Orang-orang Sekarat

Memang benar adanya bahwa penyesalan selalu datang belakangan, bahkan menjelang kematian.

Penyesalan-penyesalan itulah yang dicatat oleh Bronnie Ware, seorang perawat yang bertugas menemani pasien-pasien sekarat selama 12 minggu terakhir mereka.

Catatan Ware dalam blog-nya, Inspiration and Chai, kemudian dibukukan menjadi The Top Five Regrets of the Dying. Di dalamnya berisi kearifan yang didapat orang-orang sekarat semasa hidupnya dan bagaimana kita bisa belajar dari mereka.

“Saat ditanya mengenai penyesalan atau tentang sesuatu yang berbeda yang mereka ingin lakukan, tema-tema umum muncul berulang-ulang,” katanya. Ini adalah 5 yang paling sering.

Jujur Sesuai Diri Sendiri

“Aku berharap punya keberanian untuk menjalani hidup yang jujur pada diri sendiri, bukan hidup seperti yang diinginkan orang lain.”

Ini adalah penyesalan paling umum dirasakan. Saat seseorang menyadari hidupnya akan segera berakhir, namun masih banyak mimpi di masa lampau yang tidak terwujud karena pilihan-pilihan yang mereka buat maupun tidak mereka pilih.

Tidak Kerja Terlalu Keras

“Aku berharap tidak bekerja terlalu keras.”

Penyesalan ini muncul dari pasien-pasien pria Ware. Mereka melewatkan masa-masa muda anaknya serta kasih sayang pasangan dan menghabiskan banyak waktu hidupnya dalam roda pekerjaan.

Ungkapkan Perasaan

“Aku berharap memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan.”

Banyak orang yang menekan perasaannya agar tak bermasalah dengan orang lain. Memang orang lain pasti akan berekasi saat kita berkata jujur, namun kejujuran itu nantinya akan meningkatkan kualitas hubungan yang ada. Atau, akan melepaskan kita dari hubungan yang tak sehat. Ujung-ujungnya, kitalah yang jadi pemenangnya.

Komunikasi dengan Teman

“Aku berharap tetap berkomunikasi dengan teman-teman.”

Banyak penyesalan mendalam saat para pasien tidak mengusahakan dan menyediakan waktu untuk pertemanan. Mereka terjebak dalam kehidupan sendiri dan melewatkan persahabatan. Dan saat ajal menjelang, kerinduan akan sahabat pun menyerang. Karena itulah yang dibutuhkan di minggu-minggu terakhir: cinta dan persahabatan.

Lebih Bahagia

“Aku berharap membiarkan diri lebih bahagia.”

Ternyata banyak yang tak menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan. Mereka cenderung berada dalam pola hidup dan kebiasaan lama. Ketakutan untuk berubah memaksa mereka berpura-pura di hadapan orang lain. Di saat yang sama, mereka merindu untuk tertawa lepas dan melakukan hal-hal bodoh.

Bagaimana Dengan Kita?

Lalu bagaimana dengan kita? Mana yang akan kita pilih? Refleksikanlah.

 

Sumber

Inspiration and Chai. Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.

The Guardian. Top Five Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.

Dari Psikolog Jadi Pembuat Kue

“Lalu (gelar) S2-nya mau diapain?”

Begitulah komentar yang diterima Andita Saviera (28) saat memutuskan meninggalkan aktivitas sebagai psikolog dan menjadi seorang pembuat kue. Namun ia tetap melaju menjalani hasrat hatinya itu dan menemukan kegembiraan dalam profesi barunya.

Ibu dari Naura Khalila (2,5) ini pada mulanya adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selepas lulus tahun 2005, ia langsung lanjutkan ke jenjang profesi dan mendapatkan gelar psikolog di tahun 2007. Setahun sebelumnya, ia telah menikah dengan salah satu teman kampusnya.

Begitu menjadi psikolog, ia lalu bekerja di sebuah klinik psikologi di kawasan Ragunan. Di situ ia mulai menangani klien. Ia mengaku memang berambisi menjadi psikolog.

“Sejak dulu tuh mikirnya pengen jadi psikolog mau membantu orang pasti seneng gitu,” begitu alasannya. Ia pun tak mengalami masalah “hanya” dibayar seratus ribu rupiah per sesi (Rp. 80.000 ia terima, sisanya untuk bayar uang sewa tempat).

Namun keinginannya membantu orang lain tak bisa semulus yang dibayangkan.

Tak lama; satu dua bulan setelah praktik, ia pun mengandung. Kehamilan ini ternyata berdampak besar bagi Andita. Sedari kecil ia mengidap spasmofilia; sebuah kondisi akibat kekurangan magnesium dan kalsium. Kondisi ini menyebabkannya sering mengalami lemas, nyeri otot, nyeri tulang, sesak napas, sakit kepala dan bahkan diare dan kejang. Kondisi ini pula yang akhirnya membuat Andita harus berhenti beraktivitas sama sekali, termasuk praktik.

Selepas dari klinik, ia mulai mempelajari pembuatan aksesoris manik-manik. Ia merasa gembira ketika mengerjakannya. Akunya, sang mertua lah yang membuatnya tertarik dengan seni membuat aksesoris ini. Saat itu ia baru teringat bahwa sejak kecil ia memang senang dengan warna dan kombinasinya serta menciptakan sesuatu. Namun sayang belum pernah tersalurkan. Jadilah ia mulai menggeluti pembuatan aksesoris manik-manik. Akibatnya, minat menjadi psikolog pun menurun.

Lagi-lagi, kehamilan jadi halangan. Karena tak kuat untuk duduk lama, kegiatan membuat aksesoris juga terhenti. Ia juga sering keluar masuk rumah sakit karena penyakitnya.

Ketika akhirnya Nana (panggilan dari Naura) lahir, Andita pun memutuskan untuk di rumah saja mengurus anak. Alasannya, karena ia merasa berat untuk meninggalkan Nana. Jadilah ia sering di rumah dan mencoba memasak. Di tahun 2010 lalu ia juga mencoba untuk membuat kue.

Ternyata ada berkah terselubung dari spasmofilia yang diidapnya. Ia merasakan kesenangan ketika memasak; saat ada komentar positif tentang masakannya. Tapi ia merasakan kesenangan yang lebih ketika membuat kue. Komentar orang lain terhadap kue bikinannya lebih positif daripada terhadap masakannya.

Beneran appreciation-nya tuh dan itu membuat gue rasa terpenuhi lah, ada perasaan…puas gitu, menyenangkan, seneng,” begitu ia menggambarkan yang dirasakannya.

Ia kemudian mencari di internet dan menemukan ada komunitas ibu-ibu pecinta memasak. Setelah bergabung, ia menemukan ada kursus menghias kue. Dengan berbekal uang jajan dari ibu serta menahan keinginan membeli baju, ia pun bisa ikut kursus tersebut.

Oh my god, gue suka banget!”

Kue pertama

Kemudian ia mulai melakukan promosi. Teman-teman adiknya menjadi pelanggan pertama. Sebuah pesta mini diadakan untuk memperkenalkan cupcakes buatannya. Ia juga mulai melatih dirinya dalam membuat cupcakes. Hingga akhirnya Juli 2010 Andita meluncurkan nama Mamamadecakes dalam bentuk blog. Di sinilah ia mulai menemukan passion dalam membuat kue.

Cupcakes berornamen pertama

Pada awalnya, ayah ibu hanya bisa nyengir saja. Mereka berpikir kesenangan anaknya itu hanya sesaat saja. Mereka juga masih berharap Andita akan tetap menjadi psikolog. Orang-orang sekitar lainnya juga banyak yang bertanya, “jadi (gelar) S2-nya gak dipake?” Namun Andita tetap bulat pada keputusannya.

Setahun kemudian, bisnis kue pun berkembang, bahkan lebih dari yang dibayangkan Andita. Pesanan makin banyak. Yang tadinya pelanggan hanya pesan dalam hitungan satuan, kini Andita sudah pernah mengerjakan hingga 100 pesanan cupcakes. Mamamadecakes pun merambah ke pembuatan kue, bukan hanya cupcakes. Otomatis, pendapatan pun meningkat. Bahkan bisa dibilang lebih besar ketimbang pendapatannya saat menjadi psikolog. Orang tua pun mulai memberikan dukungan. Katanya, mereka akan membantu pengembangan dapur.

Cupcakes saat ini

Perkembangan bisnis ini ternyata juga membawa hambatan baru. Karena keseluruhan proses pembuatan kue, mulai dari membuat adonan, memasak, menghias hingga mengantar masih dilakukan sendiri, alhasil banyak waktunya tersita untuk bekerja. Ia mulai merasa bersalah karena tidak bisa bermain dengan anaknya. Bahkan ia pernah bekerja hampir seharian (20-an jam) untuk menyelesaikan pesanan dan hanya sempat beberapa kali mencium atau memeluk Nana.

Kesibukan luar biasa ini yang akhirnya membuat Andita mempekerjakan 2 orang asisten rumah tangga: 1 untuk mengurus rumah dan 1 untuk menjaga anak. Ia juga terpaksa harus menolak beberapa pesanan.

“Ini gila nih, gue jangan terlalu gila terima pesenan sampe gue lupa tujuan sebenernya gue di rumah itu kenapa,” begitu alasannya.

Namun ia belum berhasil menemukan rekan baker yang bisa membantunya.

Baking itu adalah bagian yang sangat penting, dan itu baking termasuk  salah satu skill yang menurut gue susah, harus teliti.”

Meski masih menemui hambatan, Andita mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari pengalamannya. Kepuasan membuat cupcakes ternyata tak ditemuinya dimana-mana; ketika menjadi psikolog pun tidak. Ketika mendapatkan komentar bahagia dari pelanggan, rasanya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sedangkan ketika menghadapi klien, ia masih harus melewati berbagai macam proses (pencarian masalah, analisa dan penyembuhan). Belum tentu juga klien itu akan menerima hasilnya. Hal itu melelahkan, katanya.

Sometimes, kita harus melewati sesuatu tertentu untuk menyatakan kita gak suka sama itu (menjadi psikolog).”

Ia juga punya masukan bagi siapapun untuk urusan pekerjaan. Baginya passion atau panggilan hati itu penting. Jika seseorang passionate dengan apa yang dikerjakannya, semua halangan pasti akan bisa dilewati. Justru kita akan makin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Kepekaaan terhadap kondisi pasar juga penting. Kita perlu tahu apa saja yang sedang diminati pasar. Dan menggunakan media yang diakses oleh pasar (media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan blog), pasti akan membantu jika ingin bisa bekerja dari rumah.

Selain itu, jangan minder dan merasa tidak bisa. Karena siapapun masih punya waktu untuk belajar. Apalagi jika orang itu senang dengan apa yang dikerjakannya.

Dan yang terakhir, tidak pernah ada kata terlambat jika seseorang ingin berubah atau bangkit. Lihat saja, pengalaman Andita telah berbicara dengan sendirinya.

Rujukan

POPsy! Jurnal Psikologi Populer – diakses pada 7 Oktober 2011

Mama Made Cakes – diakses pada 30 Agustus 2011.

Spasmophilia – diakses pada 30 Agustus 2011.

Kabar Menyesakkan

Ketidakberhasilanku mendapatkan beasiswa untuk sekolah ke Belanda, mengingatkanku pada seorang kawan.

Sebut saja namanya Eno. Pria bertubuh pendek namun kekar ini adalah temanku sedari TK hingga SMP. Karena sekolah kami tak ada SMA-nya, maka kami pun berpisah. Sejak saat itu aku tak lagi mengetahui kabar berita tentangnya.

Sampai suatu saat, sebuah info sampai di telingaku. Katanya, dia mendapat kesempatan berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Bogor, lewat jalur PMDK. Tentu aku senang.

Namun bukan itu inti beritanya. Menurut info, dia tidak mengambilnya karena tak ada biaya.

Oh. Seketika aku sedih karenanya. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa daya? Aku tak bisa bantu secara finansial. Nomor kontaknya aku tak punya. Mau berkunjung ke rumahnya, kok aku merasa tak punya keberanian ya? (penyakit introvert menyerang).

Dan yang paling sedih, adalah ketika kudengar info bahwa dia sedang bekerja sebagai kuli bangunan.

Aku hanya diam dan tak bisa berkata-kata lagi; terlalu sesak akal dan hati ini.

1 2