Terima Kasih Adik Koci

Ah, tak terasa 4 Februari nanti, Kekoci genap berusia 1 tahun. Hingga Sabtu kemarin (26/01/2013), Kekoci sudah diadakan untuk ke-11 kalinya.

Pagi ini, saat sedang menyiapkan foto untuk dipublikasikan, ada haru luar biasa kurasakan dalam diri. Melihat senyum adik-adik koki cilik (Koci) saat memasak. Melihat tingkah polah mereka dalam bekerja kelompok. Melihat sorot mata serius kala menyiapkan makanan.

Tak kusangka aku ada di dalam sejarah gerakan Kekoci ini. Awalnya hanya berasal dari sebuah ide bahwa memasak itu merupakan keterampilan hidup penting, kemudian berkembang menjadi Kekoci yang seperti saat ini. Sudah 11 kelas, kurang lebih 20-an anak menjadi peserta (ada yang sudah berkali-kali ikut lho). Dari topi koki buatan sendiri, pakau karton warna warni, hingga akhirnya punya topi dan celemek sendiri.

Dan yang paling membuat haru adalah membayangkan, suatu saat nanti akan ada di antara Koci-koci kami yang menjadi pemasak hebat! Setidaknya, pemasak hebat bagi keluarganya kelak.

Koci-koci calon pemasak hebat!

Koci-koci calon pemasak hebat!

Terima kasih adik-adik Koci, telah diberi kesempatan mengabadikanmu dalam Kekoci. Tahukah kamu? Kamilah justru yang merasakan berkah melimpah karena diperbolehkan membantumu menyenangi memasak. :’)

Karna Tak Mungkin Aku Untuk Tak Merindukanmu

Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.

Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai gitaris 2.

Rasanya seperti baru kemarin aku tergabung di sana. Latihan dari 1 studio ke studio lain. Dari yang sound system-nya pas-pasan hingga mencoba studionya personil band Stinky.

Seperti baru kemarin juga, gerilya dari satu panggung ke panggung lain. Dari 1 festival ke festival lain. Satu radio ke radio lain.

Kupikir dulu jalanku adalah di musik, yaitu jadi musisi. Sejak kecil, musik sudah jadi bagian hidupku. Tiap pagi selalu terputar alunan lagu dari kaset milik bapak ibu. Saat SMA, aku mulai ngeband secara resmi. Dari 1 acara ulang tahun teman ke ulang tahun teman lain, hingga acara ulang tahun sekolah.

Setelah tergabung dalam Harmonic, aku pun makin yakin dengan jalan musik. I’m willing to go through everything for it. Tawaran menjadi salah satu kepala bidang di senat kampus ditolak. Tawaran kerja dengan gaji menggiurkan juga kutolak. Semua untuk bisa bermain musik dalam band dan manggung, lalu bisa menghasilkan kaset.

Namun makin lama, aku merasa ada yang tidak pas. Sepertinya bukan jadi musisi seperti itu yang kubutuhkan. Yang selalu terbayang saat mengandaikan diri menjadi musisi adalah: panggung kecil, dekat penonton, suasana hangat, diselingi minuman hangat dan obrolan santai. Bukan seperti band-band di televisi.

Band-band di televisi juga turut membentuk keputusanku. Aku tak ingin seperti mereka, yang tak otentik. Dicitrakan sesuai kebutuhan dan kemauan produser, demi keinginan pasar. Belum lagi isi lagu mereka. Rata-rata lagu-lagu cinta yang..yah, tak mengajarkan hal-hal positif bagi pendengarnya. Aku takut suatu saat akan jadi bagian roda itu.

Pemikiranku makin bulat. Jalanku bukan di situ. Dan aku pun mengundurkan diri dari band.

Malam ini, hampir 5 tahun kemudian. Ingatanku terbang menuju masa itu, saat aku dan Harmonic berjalan bersama. Kami telah membuat lagu-lagu yang bagus. Enak didengar lah. Tapi memang jalan kita hanya sampai di situ saja; setidaknya untuk kali ini.

Namun kawan, aku doakan kita, kamu dan kamu, supaya, meski tak lagi bersama dalam musik, akan tetap menjalani hidup masing-masing yang penuh berkah. Sungguh kawan, karena tak mungkin aku untuk tak merindukanmu.

Catatan Akhir Semester

Tak terasa sudah satu semester aku menjalani kuliah pasca sarjana. Buku catatan kuliah sudah habis setengah lebih. Folder-folder di komputer sudah penuh dengan dokumen tugas, e-book dan jurnal-jurnal penelitian. Buku-buku baru sudah memenuhi kamar. Ujian-ujian juga sudah terlewati. Tinggal beberapa ujian dan tugas berbentuk esai atau laporan yang dalam beberapa hari ke depan.

Awal Tahun 2013 nanti aku tak akan lagi  belajar teori kreativitas, filosofi pendidikan, filsafat ilmu, penelitian lanjut dan juga psikologi keberbakatan. Aku akan berjumpa pengetahuan-pengetahuan baru. Dosen-dosen baru. Tugas-tugas baru. Dan tentunya, mulai menseriusi topik tesis.

Di akhir tahun dan akhir semester ini aku bersyukur diberikan kesempatan berkuliah lagi. Sungguh, ini sebuah pengalaman yang mencerahkan sekaligus menyenangkan; saat bertukar pikiran dengan pengajar serta teman sekelas, menerima pandangan-pandangan baru dari mereka, menyatukan dengan pemahaman lama di dalam kepala atau juga merevisinya.

And I’m looking forward for the next semester’s class. 

 

Peperangan di Halte Arion

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.

Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. Saat itu aku baru pulang dari Wisma Adisutjipto. Tak berapa lama setelah ku duduk, seseorang di sebelah kiriku mencolek-colek tanganku. Aku menengok dan menemukan seorang ibu, kira-kira 50 tahun usianya mengajakku bicara.

Kulitnya berwarna coklat sawo matang. Tulang wajahnya tampak menonjol. Alisnya tipis. Lingkar matanya agak cekung. Punggungnya bongkok. Saat itu ia mengenakan jilbab dan semacam daster yang menutupi tubuhnya hingga ke kaki.

“Dek, mau beli tas ibu gak? Lima puluh ribu, untuk berobat ibu,” sambil membuka plastik hitam berisi tas berwarna hitam pula.

Ia lalu menaikkan daster dan menunjukkan lututnya. Lutut tersebut tampak agak merah.

Dengan mengatupkan kedua telapak tangan ke arahnya, aku sesopan mungkin menolaknya. “Tampaknya ini strategi meminta-minta,” pikirku.

“Maaf bu,” kupandang ibu itu sejenak dan menyelesaikan kalimat, kemudian memalingkan muka menanti bus lagi.

Ibu itu masih mencoba menawarkan kembali dagangannya. Aku pun menolaknya kembali. Pertama, karena aku memang tak butuh tas. Kedua, bagiku, memberikan apa yang dimauinya hanya akan membuat perilaku tersebut bertahan. Ia akan terus meminta-minta.

Ia masih juga mencoba. Harga dagangan pun diturunkan jadi Rp. 20.000. Aku masih bergeming, tapi dalam hati tidak.

Kuingat uangku masih cukup untuk memberikan apa yang dia minta. Tapi aku ingin konsisten dengan tidak memberikannya. Setidaknya jika aku tak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aku bisa mencegah penidakberdayaan masyarakat. Namun ternyata tak semudah itu.

“Kok lo jahat banget sih? Lo kan punya uang segitu. Apa ruginya kalau uang itu lo berikan?”

“Tapi kalau gue berikan, ibu ini akan terus meminta-minta. Dia akan selamanya jadi peminta.”

“Tapi..”

“Tapi…”

Perdebatan makin menjadi saat ibu ini akhirnya tidak menjual tasnya.

“Ibu minta sepuluh ribu aja dek, buat ongkos pulang,” pintanya sambil mencolek lenganku lagi.

Mencoba tenang aku kembali menolaknya.

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Debat dalam diri makin kuat. Punggung dan tanganku menegang. Suaranya seperti menusuk-nusuk hati dan pikiranku.

“Lo diajarkan untuk mengasihi sesama. Tapi kok gini?”

“Ini bentuk kasihku untuknya.”

“Tapi apa ruginya hanya sepuluh ribu?”

“Tidak. Aku harus konsisten.”

Aku pun lelah. Bus menuju blok m sempat hendak kujadikan pelarian. Namun tak berapa lama bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Kuangkat badan dan segera naik ke sana.

Dari jendela bus, kupandangi ibu itu.

“Ya Tuhan, kalau aku berdosa karena ini, ku mohon ampun.”

Dan bus pun melaju bersama deru dalam diriku.

Malam kemarin, di tempat yang sama; di bawah lampu halte pukul 6 sore, kulihat ibu yang sama. Namun kali ini aku memutuskan untuk menunggu bus di luar halte. Tak mengapa jika aku harus berdiri lama.

Pakaiannya kurang lebih sama, hanya kali ini ia pakai rok sedikit di bawah lutut. Ia duduk di halte bagian tengah, sementara calon penumpang di halte itu duduk sekitar 1 meteran darinya.

Beberapa kali aku sempat meliriknya, apalagi saat ada orang yang duduk di sebelahnya persis. Yang kulihat adalah kurang lebih sama dengan yang kualami. Ia mengajak bicara orang di tersebut, lalu membuka plastik berisi tas.

Aku tak tahu apa yang ia omongkan. Tapi semua orang yang sempat diajak bicara, menunjukkan gestur menolak sesuatu. Ada yang dengan senyum lalu memalingkan muka dan ada yang seperti caraku menolaknya. Dan sekarang si ibu masih tetap duduk di tengah halte, membawa tas plastik dan dijauhi sekitarnya.

Dari luar halte, pertentangan dalam diri perlahan timbul kembali.

“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat? Jika tidak, aku mohon ampunanMu lagi.”

Penyesalan Orang-orang Sekarat

Memang benar adanya bahwa penyesalan selalu datang belakangan, bahkan menjelang kematian.

Penyesalan-penyesalan itulah yang dicatat oleh Bronnie Ware, seorang perawat yang bertugas menemani pasien-pasien sekarat selama 12 minggu terakhir mereka.

Catatan Ware dalam blog-nya, Inspiration and Chai, kemudian dibukukan menjadi The Top Five Regrets of the Dying. Di dalamnya berisi kearifan yang didapat orang-orang sekarat semasa hidupnya dan bagaimana kita bisa belajar dari mereka.

“Saat ditanya mengenai penyesalan atau tentang sesuatu yang berbeda yang mereka ingin lakukan, tema-tema umum muncul berulang-ulang,” katanya. Ini adalah 5 yang paling sering.

Jujur Sesuai Diri Sendiri

“Aku berharap punya keberanian untuk menjalani hidup yang jujur pada diri sendiri, bukan hidup seperti yang diinginkan orang lain.”

Ini adalah penyesalan paling umum dirasakan. Saat seseorang menyadari hidupnya akan segera berakhir, namun masih banyak mimpi di masa lampau yang tidak terwujud karena pilihan-pilihan yang mereka buat maupun tidak mereka pilih.

Tidak Kerja Terlalu Keras

“Aku berharap tidak bekerja terlalu keras.”

Penyesalan ini muncul dari pasien-pasien pria Ware. Mereka melewatkan masa-masa muda anaknya serta kasih sayang pasangan dan menghabiskan banyak waktu hidupnya dalam roda pekerjaan.

Ungkapkan Perasaan

“Aku berharap memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan.”

Banyak orang yang menekan perasaannya agar tak bermasalah dengan orang lain. Memang orang lain pasti akan berekasi saat kita berkata jujur, namun kejujuran itu nantinya akan meningkatkan kualitas hubungan yang ada. Atau, akan melepaskan kita dari hubungan yang tak sehat. Ujung-ujungnya, kitalah yang jadi pemenangnya.

Komunikasi dengan Teman

“Aku berharap tetap berkomunikasi dengan teman-teman.”

Banyak penyesalan mendalam saat para pasien tidak mengusahakan dan menyediakan waktu untuk pertemanan. Mereka terjebak dalam kehidupan sendiri dan melewatkan persahabatan. Dan saat ajal menjelang, kerinduan akan sahabat pun menyerang. Karena itulah yang dibutuhkan di minggu-minggu terakhir: cinta dan persahabatan.

Lebih Bahagia

“Aku berharap membiarkan diri lebih bahagia.”

Ternyata banyak yang tak menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan. Mereka cenderung berada dalam pola hidup dan kebiasaan lama. Ketakutan untuk berubah memaksa mereka berpura-pura di hadapan orang lain. Di saat yang sama, mereka merindu untuk tertawa lepas dan melakukan hal-hal bodoh.

Bagaimana Dengan Kita?

Lalu bagaimana dengan kita? Mana yang akan kita pilih? Refleksikanlah.

 

Sumber

Inspiration and Chai. Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.

The Guardian. Top Five Regrets of the Dying. Diakses pada 5 Februari 2012.

Kaleiblogskop 2011

Seru juga tampaknya membuat daftar tulisan yang berhasil kubuat selama setahun ini. Sekaligus bisa mengingat-ingat apa saja pengalaman di tahun ini.

Yuk dimulai!

Di bulan Januari, aku membuat 5 tulisan. Tema besarnya adalah pengumuman pendaftaran kuliah di University of Twente dan kondisi terkini rumah baru keluargaku.

Februariku menghasilkan 3 tulisan. Tak ada tema umum di bulan ini.

  • Gratitoday: 080211, 8 Februari 2011. Hari itu kebersyukuranku diisi tentang kegiatan di kantor, (masih) tentang penngumuman kuliah, sakitnya kekasihku dan highlight-nya adalah sepatu baru untuk jogging.
  • Belajar Menulis Cerita Pendek, 9 Februari 2011. Ternyata di bulan ini, aku memulai ikut belajar di kelas online cerpen PlotPoint. Pengajarnya, Mbak Sitta Karina. Seru sekali belajarnya! Dapat ilmu baru, sekaligus menambah teman baru.
  • Sayang, Aku Bukan Supir, 15 Februari 2011. Tulisan yang satu ini dipicu oleh pernyataan seorang selebriti tentang rasa sayangnya pada sang pacar. Dari wawancara diketahui bahwa alasan si selebriti wanita sayang pada si selebriti pria adalah, “Dia selalu ada saat aku butuhkan.”

Bulan Maret menjadi bulan tersepi di blog. Cuma ada 2 tulisan di sana.

  • Berhentilah Mengirimi Saya SMS!, 4 Maret 2011. Saat itu sedang marak-maraknya pesan singkat yang berisi iklan-iklan yang tak kubutuhkan; dan dari nomor-nomor tak dikenal. Karena itu, aku mencari info bagaimana bisa mengatasi hal itu. Dan ternyata memang ada nomor ponsel dimana kita bisa mengadukan iklan-iklan tersebut.
  • Gratitoday: 120311, 12 Maret 2011. Tema hari itu adalah diterimanya kekasihku di Leiden serta wawancaranya dengan Edinburgh University yang berjalan lancar. Selain itu, aku juga mulai mengurus dokumen aplikasi beasiswa Depkominfo.

Di bulan April, tema besar dari 7 tulisanku adalah kebahagiaan dan perenungan.

  • Gratitoday: 040411, 5 April 2011. Hari itu ceritaku tentang selesainya kelas online cerpen, pengurusan beasiswa dan nostalgia membeli komik silat Pukulan Geledek.
  • Dari Enschede, 17.00 WIB, 5 April 2011. Yeah! Aku diterima di program Curriculum Instruction and Media Application di University of Twente, Belanda!
  • Belajar Dari Ayu Utami, 5 April 2011. Di hari yang sama aku juga menceritakan pengalaman berkunjung ke rumah Ayu Utami bersama teman-teman penulis Agenda 18. Yap, the Ayu Utami!
  • Tentang Kesederhanaan, 7 April 2011. Ini jenis tulisan paling kusuka: kisah sehari-hari, nyata, penuh emosi dan refleksi. Kali ini tentang pandangan dan refleksiku mengenai konsep kesederhanaan dalam pikiranku. Tak disangka, ada 35 jempol like dari Facebook. Terima kasih pada siapapun itu, atas jempolnya!
  • Senja Remang-remang, 15 April 2011. Ini adalah salah satu hasil kelas cerpen PlotPoint. Isinya tentang obrolan emosional suami istri di suatu sore.
  • Gratitoday: 150411, 15 April 2011. Rasa syukur hari itu fokus pada pengalaman menggantikan atasanku untuk rapat di Dirjen Pendidikan Tinggi, tentang pendidikan jarak jauh.
  • Monggo Coklatnya, 18 April 2011. Tulisannya tentang amarah karena coklat monggoku yang hilang diambil masku. Namun, apakah itu sebanding dengan rasa persaudaraan kami? Tentunya tidak.

Bulan Mei 6 tulisan di blog ini isinya seputar cerita pendek dan awal masa berat dalam hal pendidikan.

  • Bersabarlah Kekasih, 17 Mei 2011. Ingat kekasihku yang telah diterima di Leiden University? Sayang sekali dia tak dapat beasiswanya, sehingga tak bisa lanjut untuk bisa berkuliah. Namun kami masih menunggu pengumuman beasiswa StuNed.
  • Berpisah Dengan Mentari, 27 Mei 2011. Ini satu lagi hasil kelas cerpen PlotPoint. Ceritanya tentang penantian seorang istri yang suaminya tak kunjung pulang melaut.
  • Ada Meski Tak Terlihat, 27 Mei 2011. Sehari sebelumnya, aku berulang tahun ke 29 dan menerima banyak ucapan selamat ulang tahun. Beberapa diantaranya adalah orang-orang signifikan dalam hidupku. Di hari itu pula aku belajar bahwa meski tak selalu mengungkapkan secara langsung, tapi mereka selalu menyayangiku.
  • Pertunjukan Inovatif Jabang Tetuko, 29 Mei 2011. Pada 28 Mei 2011 aku dan kekasih menonton sebuah pertunjukan wayang orang dipadu dengan teknologi media dijital. Seru dan inovatif!
  • Awan Kecil, 31 Mei 2011. Lagi-lagi cerita pendek, tapi kali ini bukan hasil kelas PlotPoint. Isinya tentang percakapan Awan Kecil yang beranjak dewasa dengan ayahnya.
  • Awan Kecil & Burung Jalak, 31 Mei 2011. Lanjutan dari kisah Awan Kecil. Kali ini Awan Kecil bercakap-cakap dengan Burung Jalak yang kemudian mampu meyakinkannya untuk ikhlas.

Bulan Juni, ada 6 tulisan yang cukup acak temanya.

Bulan Juli bisa jadi adalah bulan terberat di 2011. Enam tulisan, tema umumnya penderitaan manusia.

  • Minus Dua dan Nol,  1 Juli 2011. Kalau kupikir-pikir, tulisan ini agak berat karena cukup filosofis. Di sini aku menulis tentang makna angka: plus, minus dan nol. Tak menyangka akan dapat 5 jempol Facebook.
  • Varweel Enschede, 21 Juli 2011. Nampaknya inilah klimaks dari perjuangan mendapatkan kuliah S2 di University of Twente. Dari tiga beasiswa yang kudaftar, tak satupun menghasilkan berita baik. Padahal aku sudah diterima di universitasnya. Sungguh, walau tak kusadari dan sudah coba di-cope,  tetap saja pengalaman ini menggoncang diriku.
  • Edwin McCain – I Could Not Ask For More, 21 Juli 2011. Salah satu lagu favoritku sepanjang masa! Edwin McCain is so underrated!
  • Muse – Invincible, 30 Juli 2011. Nice song with powerful and moving lyrics from Muse.
  • Lebih Baik (Tidak) Sakit Gigi, 30 Juli 2011. Di bulan ini aku mengalami operasi pencabutan gigi yang cukup serius; mengingat kegagalan di operasi pertama dan perlu menanti operasi kedua.
  • Lebih Baik Sehat, 30 Juli 2011. Setelah gagal di percobaan pertama, operasi kedua berjalan dengan baik; meskipun akhirnya mengganggu kegiatan pelatihan yang sedang kujalankan.

Bulan kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini isinya 4 tulisan dengan tema refleksi dan kesedihan.

Bulan Oktober, aku tak banyak menulis, dan hanya menghasilkan 3 tulisan.

Sudah masuk November, dan aku bisa menghasilkan 3 tulisan. Salah satu highlight-nya adalah pernikahan masku.

Untuk bulan Desember, tak ada tulisan selain tulisan ini.

Selama 2011, aku menghasilkan 46 tulisan. Meningkat dari 2010 (22 tulisan) dan 2009 (36 tulisan). Ternyata banyak juga ya! Tidak kusangka.

Dari ke-46 tulisan itu, ada beberapa insight yang kupahami. Pertama, tahun ini seperti naik roller coaster; naik turun. Ada kisah bahagia (rumah baru dan nikahan) tapi juga tak sedikit kisah sedih (berpulangnya Simbah dan kegagalan kuliah lagi). Seru sekali hidupku tahun ini! Dan pastinya banyak yang bisa disyukuri.

Kedua, aku memang lebih nyaman dengan tulisan yang “personal” “reflektif” namun tetap diusahakan “faktual”. Juga ditambah sedikit nuansa cerpen.

Benar lho, seru sekali membuat kaleiblogskop ini. Insightful!

Aku sudah buat, lalu kamu?

Susan Boyle – Prayer of Saint Francis

Make me a channel of your peace:
Where there is hatred, let me bring your love,
Where there is injury, your pardon, Lord,
And where there’s doubt true faith in you.

Make me a channel of your peace:
Where there’s despair in life, let me bring hope,
Where there is darkness, only light,
And where there’s sadness, ever joy.

O Master, grant that I may never seek
So much to be consoled as to console;
To be understood as to understand,
To be loved, as to love with all my soul!

Make me a channel of your peace:
It is in pardoning that we are pardoned,
In giving of ourselves that we receive,
And in dying that we are born to eternal life.

Awan Mendung dan Panas Mentari

Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.

“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.

“Mengapa tak suka, nak?”

“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!”

“Tapi inilah tugas kita nak. Apa kau mau melepaskan diri darinya?”

“Jika memang harus!” Serangkai petir terlepas dari mata awan kecil.

Sejenak mereka terdiam, sambil berpandangan.

“Aku akan pergi!” lanjutnya.

Ayah masih dan hanya terdiam melihat awan kecil membebaskan tangan dari gandengannya lalu melayang sendirian.

Awan kecil kemudian kembali ke jalur yang telah dilaluinya tadi, dengan wajah muram.

Ia melihat sebuah desa dengan mayoritas atap rumah daun kelapanya sudah terlepas. Beberapa pohon sudah tumbang. Penduduk desa sedang berkeringat membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dua ekor tikusmengapung tak bernyawa di sungai yang meluap.

Awan kecil makin sedih. Dan ia pun menangis.

Kemudian ia menengok ke jalur yang tak dilalui kawanannya. Di sana, tanah sudah pecah pecah. Daun-daun lesu mencoklat. Penduduk desa bersusah payah mencangkul sawah yang tak akan bisa dipanen hasilnya. Dan tak jauh dari situ,  seekor rusa mati di samping sungai kecil yang sama matinya.

Awan kecil terhenti dalam hening. Air matanya makin deras.

Sayup-sayup ia mendengar suara, “Terus. Terus. Aku haus.”

Tersadar, ia segera kembali ke tempat ayahnya berada.

“Ayah! Aku mau jadi mendung!”

“Aku mau turun menjadi hujan!”

“Aku mau menangis dalam bahagia, seperti seorang yang berkorban bagi sesamanya yg kesulitan.”

“Baiklah nak! Kutunggu kau di tanah sini ya!”

Dengan senyuman, awan kecil terjun dan memecahkan dirinya.

*Bisa dibaca juga di WritingSessionClub.Blogspot.com

Ditampar Hebat

Kesombongan, tak kusadari telah menggerus niat untuk lanjut kuliah S2; dan aku menyadarinya dengan cara menyakitkan.

Kupikir perjalananku setahun ini akan membawaku ke kota Enschede, kota kecil di Belanda tempat bermukimnya University of Twente. Namun kenyataan bicara lain. Meski sudah diterima di universitasnya, aku tak mendapat satu pun beasiswa. Alhasil, tak punya uang cukup untuk berkuliah.

Sedih, pasti. Bertanya-tanya, iya. Tak terima, juga. Tapi kini ku belajar dari pengalaman itu.

Kalau kulihat lagi apa-apa yang terjadi dan kupikir serta kurasa selama ini, ada kesombongan yang menjadi kompasku.

Sejak pertengahan 2010, saat pertama kali minat kuliah di Enschede muncul, virus itu sudah muncul. Kala itu aku mengunjungi open house UT di Bandung. Dari pendaftar di sana, banyak yang nota bene adalah lulusan dari universitas-bukan-universitasku. Dan aku, dengan sombongnya berkata, “gue pasti bisa keterima!”

Seorang penerima beasiswapun juga dari asalnya dari suatu instansi pemerintar, lulusan universitas negeri yang lagi-lagi bukan-universitasku. “Gue kerja di Depok. Gue pasti bisa lebih dari dia.”

Namun ternyata tidak. Dia saat ini mungkin sudah akan lulus dan kembali ke Indonesia. Sedangkan aku? Masih di sini-sini saja. Aku seperti ditampar dengan hebat. Sekali saja, namun dengan hebat.

Aku malu. Benar, malu. Kesombongan telah menjadi bahan bakarku selama ini. Untuk saat ini, aku akan mendinginkan diri dulu, mencoba menyelami, apa motivasi terdalamku kini.

Dan dengan rendah hati, Tuhan, aku mohon ampunanMu.

1 2 3