Surat Untuk Kekasih

Aki aki minum selasih.                                                   Hai kekasih!

Aki-aki memoles roti dengan selai.                              Maaf ya, hari ini aku lalai.

Aki aki makan roti sambil nonton Jumanji. Iya, benar tadi aku tak menepati janji.

Aki aki duduk di depan tivi sama besan. Karenanya, aku tidak akan memberi alasan.

Aki aki juga sudah siapkan udang galah. Tidak ada alasan karena aku memang salah.

Aki aki kedinginan lalu nyalakan tungku. Dan sebab itu aku harus mengaku.

Aki aki senyum bak melihat pelangi. Aku akan berusaha tidak mengulangi.

Aki aki senang dan tak jemu. Salam, dari kekasihmu.

17 Januari 2012

Edwin McCain – I Could Not Ask For More

Great song with great lyrics.

Lying here with you
Listening to the rain
Smiling just to see the smile upon your face
These are the moments I thank God that I’m alive
These are the moments I’ll remember all my life
I found all I’ve waited for
And I could not ask for more
Looking in your eyes
Seeing all I need
Everything you are is everything to me
These are the moments
I know heaven must exist
These are the moments I know all I need is this
I have all I’ve waited for
And I could not ask for more

Chorus
I could not ask for more than this time together
I could not ask for more than this time with you
Every prayer has been answered
Every dream I have’s come true
And right here in this moment is right where I’m meant to be
Here with you here with me

These are the moments I thank God that I’m alive
These are the moments I’ll remember all my life
I’ve got all I’ve waited for
And I could not ask for more

Chorus

I could not ask for more than the love you give me ‘Coz it’s all I’ve waited for
And I could not ask for more
I could not ask for more

PS: Dear Tasya, let’s sing this song. Shall we?

Awan Kecil & Burung Jalak

Awan kecil siap menitik menuju tanah ibunya. Ditengoknya kembali langit dan ayahnya yang bergantung di sana. Ayah tersenyum bangga. Namun awan kecil merunduk dalam ketidakrelaan.

“Aku masih ingin di langit. Bercanda dengan angin. Dikelitiki petir. Untuk apa aku mesti berjumpa dengan bumi?”

Ia pun makin meluncur ke bumi dan makin tak ikhlas.

Tiba-tiba seekor burung jalak ikut menukik di samping awan kecil. Badannya kecil. Bulunya campuran putih dominan dan hitam. Paruhnya yang kuning satu-satunya warna yang berbeda.

“Halo kawan! Mau bertemu dengan pohon juga ya?” katanya dengan suara setengah berkicau.

“Iya,” awan kecil menjawab dengan was-was binatang yang baru dikenalnya itu.

“Wah, kau harus siap-siap berbagi ruang dengan yang lain ya. Banyak yang ingin tidur di dalamnya.”

“Ngomong-ngomong, kau orang baru di sini ya? Aku belum pernah melihatmu,” tanya si jalak.

“Betul,” awan kecil menjawab. Dalam hati ia bergumam, “burung ini bodoh sekali, tak kenal siapa aku.”

“Kau tahu? Aku sudah tua, namun pepohonan masih saja memberikan dirinya untukku dan keluargaku.”

Awan kecil terdiam.

“Di dalam lubang di salah satu pepohonan itu, istri dan ketiga anakku, dilindunginya.”

“Kalau kami lapar, kami tinggal mencari buah di rantingnya atau ke bawah mencari serangga.”

“Kalau haus, kami tinggal melompat, hap, dan kami sudah di kolam.”

“Sungguh mulia, Siapapun yang menyediakannya. Pohon yang kokoh nan subur. Kolam yang segar. Tanpa mereka, kami tak akan hidup.. Ah, sudahlah omong kosongku. Kau mau mampir ke tempatku dulu?” tanya busung jalak.

“Tak usah. Titipkan salam bagi keluargamu,” balas awan kecil.

Burung jalak berbelok menuju sebuah pohon rindang. Cicitan anak-anaknya sudah terdengar nyaring.

Nyanyian keluarga jalak itu, entah bagaimana mampu menenangkan awan kecil. Ia merasa dirinya tak akan sia-sia. Ia memiliki peran penting dalam kehidupan, meski kadang ia menginginkan peran lain.

Ia pun kini telah siap menyambut tanah.

“Oia, jalak, kita akan jumpa lagi. Pasti itu!” teriaknya dalam senyuman.

Awan Kecil

“Ayah, nanti aku mau jadi awan terus ya?” sambil berputar kesana kesini bersama angin.

Ayah hanya tersenyum mendengar tingkah polah awan mini di sampingnya.

“Di sini enak. Aku bisa lihat semua makhluk bumi. Atap pepohonan. Liukan sungai. Indah sekali mereka ya. Aku suka!”

Ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut.

-

Sampai suatu waktu.

“Ayah, badanku kok makin berat ya? A..a..aku takut akan ja..jatuh,” awan kecil buru-buru menggandeng tangan ayah.

“Tak mengapa nak. Ini sudah waktunya menemui ibu bumi,” sambil ayah menunjuk ke bawah.

“Aku tak mau ayah. Aku ingin di sini saja,” awan kecil mulai berkaca-kaca.

“Nak, kamu lihat ikan di sungai itu? Tanpa keberadaanmu, mereka pasti akan kekeringan dan mati. Coba bayangkan kalau kamu tidak turun dan sungainya menipis.”

“Coba lihat pula pepohonan itu. Mereka tak akan bisa berbincang dengan kita jika tak bertumbuh dengan baik. Tanpa kamu, mereka tak akan setinggi itu.”

“Jadi memang aku harus kesana ya? Meski aku tak ingin?”

“Benar nak. Peranmu adalah sebagai ‘yang mengindahkan’ mereka, sehingga yang lain pun bisa menikmatinya. Tidakkah itu mulia, anakku?”

Awan kecil pun tersenyum.

Dilepaskan tangan ayahnya. Dan dia segera meluncur setitik demi setitik menjumpai pohon dan sungai.

Bersabarlah Kekasih

Ya Tuhan,

sore ini kekasihku tidak kau berikan beasiswa LExS dari Leiden University. Kala itu dia pasti sedang dalam kesedihan karenanya. Dan apapun kata sabar dariku belum tentu bisa menuntaskan riak di hati dan pikirannya.

Ya Tuhan,

jika boleh aku meminta, berikanlah keikhlasan hatinya untuk menerima. Kami yakin inilah jalan yang telah Kau siapkan. Dan kami yakin, kalau inilah yang terbaik baginya.

Amin.

PS: kami berdua sekarang sedang menanti pengumuman beasiswa StuNed yang rencananya akan ada di Juni ini.

Update: Kami tidak jadi kuliah di Belanda. Sedih, tapi kami mensyukurinya :)