Vaarwel Enschede

Jelas sudah!

Setelah mood naik turun karena 2 beasiswa yang ditolak, hari ini tuntas sudah semuanya. Sejak beasiswa Depkominfo dan StuNed yang ditolak, aku kemudian mendaftarkan diri untuk Beasiswa Unggulan Dikti.

Awal Mei, seluruh aplikasi sudah terkirim ke panitia. Katanya, pengumuman akan ada di Juli atau Agustus. “Arrrgh! Rentang waktu kok 2 bulan? Membuat makin tidak jelas saja,” begitu kecemasanku bicara.

Apalagi, di bulan-bulan tersebut, kegiatanku akan meningkat drastis. Ketidakjelasakan akan jadi membuatku harus bergerak dengan hati-hati. Kalau aku mengurusi sebuah kegiatan, tapi diterima beasiswa, rtinya aku harus meninggalkan kegiatanku. Tapi kalau aku tidak ikutan, tapi ternyata beasiswa tidak diterimaakan sulit mengikuti kegiatan di tengah-tengah.

Tapi malam ini semuanya sudah dipastikan. Aku tidak dapat beasiswa. Alasannya, IPK-ku tidak mencukupi. Dari syarat 3.0, IPK-ku hanya 2.87.

Di satu sisi, aku sudah lega karena ada kejelasan dan bisa fokus berkegiatan seperti biasa. Namun di sisi lain, kesedihan pasti tetap ada. Bagaimana tidak. Persiapannya sudah kulakukan dari Mei tahun lalu, saat aku pergi ke Bandung, mengunjungi kantor perwakilan University of Twente di sana. Oktober, aku mulai ambil les TOEFL iBT, dan di Desember aku ikut tesnya. Maret aku mendapatkan kepastian diterima di universitasnya.

Selain itu, pikiran-pikiran negatif sering menghantuiku. Pikiran seperti “memang orang miskin gak boleh bermimpi sekolah tinggi, apalagi di luar negeri” atau “kadang hidup ini tidak adil”, seperti meracuniku. Justru tak membantuku melenting kembali dari kesedihan.

Saat ini, dengan keletihan untuk mencoba lagi, aku mau ucapkan selamat tinggal untuk Enschede. Jika berjodoh, kita pasti akan jumpa suatu saat nanti.

Vaarwel Enschede!

Dari Enschede, 17.00 WIB

Syukurlah! Penantian sejak pertengahan Januari usai sudah dengan kejelasan; yang menegangkan sekaligus membahagiakan.

Maret sudah masuk, tapi pengumuman penerimaan belum ada. Di akhir Maret, 2 deadline beasiswa incaran akan datang. Kalau aku tak segera mengirimkan aplikasi beasiswa, dimana disertakan surat pernyataan penerimaan, maka melayanglah kesempatan kuliah di Belanda.

Maka pertengahan Maret, aku minta tolong salah satu pemberi rekomendasiku  untuk bertanya ke sana; sebelumnya e-mail pertanyaanku tak dibalas staf penerimaan. Jadilah 22 Maret terjadi perbincangan tentang status aplikasiku.

Menurut panitia penerimaan, aplikasiku cukup menjanjikan. Namun mereka masih butuh bukti bahwa aku memiliki skill menulis dan juga penalaran. Jadilah pada tanggal 23 aku ditugaskan membuat sebuah esai, untuk dikumpulkan pada 26 Maret.

Tugasnya adalah: aku diminta membuat sebuah rencana sistematis untuk mempersiapkan elemen-elemen di universitas (mahasiswa, pengajar, peneliti dan staf administrasi) bisa menghadapi sebuah perubahan (detilnya tak bisa kuceritakan lebih banyak).

“Lho, kenapa ya, aku diminta buat esai? Kayaknya gak ada di pengumuman awal deh.”

“Apa gue kurang meyakinkan ya?”

“Jadi gak pede nih.”

DAG DIG DUG!

Karena deadline itu, Kamis dan Jumatnya, aku minta ijin bos untuk menyepi di perpustakaan. Setelah berjuang, tugas pun selesai dan berhasil dikirim pada 26 Maret siang. Rencananya pagi-pagi mau kirim, tapi masukan dari kekasih membuatku menambahkan satu paragraf baru pada esai itu.

Usai tambahan separagraf, esai pun di-attach, lalu didoakan, kemudian dikirim. Amin! Tinggal tunggu pengumuman tanggal 28.

Senin, 28 Maret pun tiba. Sembari menunggu, seluruh aplikasi mendaftar beasiswa sudah kusiapkan. Tinggal masukkan surat penerimaan, lalu amplopnya dilem dan dikirim. Tapi sampai jam 16.30, kabar dari panitia belum masuk ke folder Twente di gmail-ku. Aku pun segera pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, seperti biasa aku langsung memarkir motor lalu masuk kamar. Setelah ganti baju, ponsel kuambil, lalu Opera Mini kubuka. Laman Gmail menjadi destinasinya. Saat itulah folder Twente sudah terisi sebuah e-mail.

“Ya Tuhan, inikah jawabannya?”

Perlahan kuarahkan kursor ke folder itu.

“Aduh, apa ya isinya?”

Ku klik folder tersebut dan membaca kalimat pertama, “Dear Mr. Triatmoko Heru Santoso, The Admission Committee evaluated your assignment and are happy to inform you..”

“Syukurlah, aku diterima!” hanya kubaca sekilas lanjutannya.

Tak sadar, mataku berkaca-kaca.

Kututup segera Opera Mini, lalu kurimkan sebuah pesan singkat ke ponsel kekasihku.

“Syukurlah, mas diterima.”

Ku jalan segera menuju dapur. Di sana ibuku berada.

“Ibu, aku keterima di Belanda.”

“”Puji Tuhan,” katanya sambil mengecup pipi dan keningku. Kulihat air mata menitik di pipinya.

Mbak yang sedang di samping ibu juga menyalamiku.

“Itu beneran?” tanyanya.

“Iya lah. Tapi asal beasiswanya keterima. Kalau enggak, ya ga jadi berangkat.”

Aku pun keluar dari dapur. Senyum mengembang di wajahku.

“Mungkin ini memang jalan yang sudah disiapkan bagiku. Aku akan menjalaninya, semoga dengan baik dan penuh dedikasi.”

Lama-lama Bisa Gila!

Kubuka laptopku. Kunyalakan tombol kecil di kanan atas keyboard-nya. Kutarik kabel LAN dan kutancapkan di Bi-iyo, panggilan laptop Fujitsu P8110 ku.

Aku berdiri lalu menuju colokan listrik. Kutancapkan kabel power modem, lalu menyalakan tombol On.

Ku kembali ke kursi di hadapan Bi-iyo. Sembari menunggu koneksi internet, kubuka beberapa aplikasi. Winamp, sambil memasang headphone dan menyetel lagu apapun di dalam playlist-nya. Firefox; namun belum menampilkan laman apapun.

Biasanya aku perlu menunggu untuk waktu yang tak jelas, sebelum terkoneksi dengan internet.

Begitu ikon di pojok kanan bawah menandakan koneksi internet sudah hadir, ku kembali ke peramban yang telah terbuka. Ikon home di firefox segera kutekan. Dia akan membawaku ke laman akun surat elektronik Gmail. Karena membutuhkan waktu untuk loading, aku biasa menunggu beberapa detik, sebelum aku bisa melihat seluruh surat masuk.

“Cepatlah kau Gmail! Kelambatanmu membuatku tersiksa!”

Kurang lebih 5-10 detik; bahkan bisa lebih lama, akhirnya aku bisa masuk.

Mataku segera menuju ke satu folder di dalamnya. Folder itu tertulis Twente. Isinya, seluruh email masuk yang mengandung kata Twente. Aku membuat penyaring ini semenjak mulai tertarik masuk ke Univ. of Twente, Belanda.

Pada mulanya, folder ini akan tersembunyi jika tak ada email masuk ke dalamnya. Namun sekarang ia akan selalu tampil; ada atau tidak ada email baru. Kalau tidak ada email baru, aku berharap dia ada. Kalau ada email baru, pastinya aku akan deg-degan.

“Aah, apa ya isinya? Semoga pemberitahuan bahwa aku diterima S2,” begitu bunyi harapanku.

Hampir tiap hari-hari belakangan ini, aku selalu melakukan ritual yang sama. Di kantor pun demikian. Hah, semoga ini tidak membuatku gila atau apa.

Menunggu Kabar Dari Belanda

Akhirnya!

Siang ini aku telah mengirimkan dokumen-dokumen untuk mendaftar kuliah S2 di University of Twente, Belanda. Tinggal menunggu kabarnya saja. Mudah-mudahan kabar baik dan aku bisa kuliah di Fakultas Educational Science and Technology, dengan spesialisasi Curriculum Instruction and Media Appication.

Sudah sejak, kira-kira Mei 2010, aku sudah berminat mengambil masters degree di UT. Alasan utamanya, karena program CIMA amatlah menarik. Harapannya, pengetahuan yang bisa kudapat kalau aku kuliah disana, bisa berguna bagiku dalam beraktifitas sehari-hari di kantor.

Sejak itulah aku mulai berburu informasi tentang segala hal yang diperlukan untuk berkuliah disana. Mulai dari pendaftaran hingga beasiswa yang kubutuhkan untuk membayar kuliahnya. Bahkan aku sempat berkunjung ke kantor perwakilan UT di Bandung.

Dan disinilah aku hampir setahun kemudian. Setelah menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, ikut persiapan TOEFL iBT dan mendapatkan nilainya, aku bisa secara resmi mendaftarkan diri. Awalnya, aku mendaftarkan diri secara online, kemudian mengirimkan dokumen fisik ke UT.

Setelah mencari tahu harga pengiriman di 2 perusahaan jasa pengiriman yang terkenal, aku kemudian menjatuhkan pilihan pada FedEx. Lokasinya pun tak jauh, hanya di samping Depok Town Square. Meski begitu, biayanya tak sedikit. Aku mesti mengeluarkan Rp. 365.000. Namun kupikir, itu harga yang sesuai, sebab paket akan sampai dalam 2-3 hari kerja.

Sekarang, aku hanya bisa berserah diri. Kalau memang Dia mengijinkan aku sekolah disana, kuterima. Tapi kalau tidak, ya pastinya mesti kuterima juga; meski butuh beberapa waktu untuk sembuh dari kekecewaan.

Mohon doanya ya teman.

Hello, Dear iBT

Setelah mendaftarkan dan mempersiapkan diri untuk tes TOEFL iBT, aku akhirnya sudah siap tempur.

Hari H-nya

Aku dapat jadwal tes di Plaza Sentral, Sudirman. Awalnya kupikir akan di Menara Imperium, Kuningan. Namun ternyata di hari itu hanya ada di Plaza Sentral. Tesnya akan mulai jam 09.00, sehingga aku memutuskan berangkat jam 06.30-an dari rumah (maklum, sering cemas kalau datang telat).

Baru keluarkan motor dari garasi, hujan deras mengguyur rumahku. Tanpa ba bi bu, kupakai jas hujan dan menerjang hujan. “Ayo jangan berpikiran negatif. Pasang optimisme dalam kepalaku!” begitu usahaku melawan keluhan, yang mungkin berdampak pada menurunnya kesiapan mengerjakan ujian.

Sampai Sudirman, motor dan jas hujan basah kuyup, mengingat hujan yang amat deras. Celanaku pun sedikit basah.

Sesampainya di lt. 15, aku langsung mendaftar ulang pada panitia yang sudah siap. Ada beebrapa hal yang dikerjakan ketika daftar ulang:

  1. menunjukkan confirmation ticket,
  2. mengisi surat pernyataan,
  3. menandatangani form peminjaman loker untuk menyimpan barang bawaan kita,
  4. menunjukkan paspor atau KTP,
  5. diambil fotonya oleh panitia, untuk dimasukan dalam sertifikat.

Setelah sudah siap semuanya, aku ternyata sudah boleh masuk dan mengerjakan tes jam 08.30. Aneh pikirku. Padahal di jadwal tertulis jam 09.00 tes dimulai. Ternyata, setiap orang bisa memulai sesudah mereka siap. Nah, konsekuensinya akan ada peserta yang sudah lebih dulu selesai dari yang lainnya. Lebih jauh, bisa jadi akan ada orang yang tiba-tiba ngomong sendiri lebih dulu daripada kita. Jadi, bagi yang sering merasa cemas kalau orang lain sudah lebih dulu selesai, aku sarankan datang dan ikut tes lebih awal.

Begitu masuk ke ruangan tes, di dalamnya kulihat ada sekitar 20-30an meja dengan laptop berinternet di atas mejanya. Plus, ada headphone, pensil dan kertas buram untuk mencatat. Perlu diingat bahwa kita hanya diberi 3 kertas. Jika sudah habis, baru kita boleh minta ganti. Secara umum, perlengkapan untuk tes, sangat memadai. Minusnya hanya ruangan yang dingin, apalagi buat aku yang baru kehujanan.

Selepas berdoa, akupun memulai perjuangan.

Mengerjakan Tes

Seperti diceritakan dalam les persiapan iBT, akan ada 4 kemampuan berbahasa inggris yang akan dinilai: reading, listening, speaking dan writing. Soal-soalnya pun tak jauh beda. Jadi, bagi yang pernah ikut les persiapan iBT di LBI FIB, tak perlu khawatir, karena pasti sudah terbiasa dengan soal-soal tersebut.

Soal pertama hingga kesekian adalah materi reading. Aku lupa ada berapa soal. Berikutnya adalah soal listening. Secara umum, soal-soal di kedua bagian tersebut agak lebih sulit daripada yang kukerjakan dalam les persiapan (walaupun aku akhirnya bingung kenapa bisa mendapat skor 27 dan 29 di kedua bagian itu).

Selepas kurang lebih pukul 10.30, aku sudah menyelesaikan 2 bagian tersebut. Aturannya, jika sudah selesai ada 10 menit sesi istirahat wajib. Peserta tes wajib keluar dari ruangan untuk istirahat di luar. Setelah 10 menit, panitia akan memanggil kita. Di luar, aku ngobrol-ngobrol dengan panitia; tentang rencana sekolah lagi, tentang kapan hasil tes bisa keluar, dsb.

Selepas 10 menit, aku dipanggil memasuki ruang tes kembali. Panitia yang tadi kuajak ngobrol, memberikan ucapan semoga berhasil. “Amin,” kata sekaligus doaku.

Sekarang aku akan menghadapi bagian tersulit dan yang paling kucemaskan. Bukan karena bagian ini sulit, namun karena aku sering grogi ketika menjawab pertanyaan yang mengharuskan aku berpikir dan berespon cepat. Hal ini menjadi kendala bagiku ketika menjawab pertanyaan. Namun aku sudah siap. Akan kuterjang soal-soal tersebut.

Satu, dua, tiga, hingga soal speaking terakhir berhasil kujawab. Sejujurnya aku merasa tidak percaya diri dengan jawabanku. Begitu pula dengan bagian berikutnya; writing. Aku merasa di bagian ini adalah kelebihanku. Namun ketika mengerjakan tes, aku kesulitan. Tema yang harus kutulis agak sulit. Bahkan aku menuliskan kalimat terakhir di detik-detik terakhir. Tak biasanya aku begitu.

Meski begitu, akhirnya aku menyelesaikan keseluruhan tes hingga pukul 12.00-an. Setelah melaporkan pada panitia dan memeriksa kelengkapan, aku meninggalkan ruang tes. Di luar, ketika aku mengambil tas di loker, sorang panitia bilang padaku, “Mas, jangan ngambil hape ya.”

Aku bingung. “Kenapa gak boleh?”

Langsung saja kubilang, “Saya udah selesai kok.”

“Ooh, sudah toh. Cepet juga ya. Jarang ada yang bisa cepet selesai,” katanya.

“Hihihi. Belum tau aja dia. Kecepatan ini sebenarnya karena sudah tak bisa ngerjain lagi, dan untuk membuat peserta lain panik,” pikirku dalam hati.

Setelah itu, aku mengembalikan kunci loker, ke WC, turun dari lantai 15, dan menyenangkan diri sendiri dengan membeli makanan di sebuah restoran cepat saji di gedung tersebut.

Apa yang Kudapat

Selama masa persiapan hingga pengerjaan tes iBT, ada beberapa pelajaran yang bisa kupetik:

  1. Persiapan teknis (latihan membaca, menulis, dll) itu penting. Namun tak kalah penting persiapan fisik dan psikis. Istirahat dan makan yang cukup. Tak perlu cemas berlebihan, sebab inilah yang bisa membuat kita tak bisa berpikir dan mengerjakan soal dengan baik.
  2. Daftar tes jauh-jauh hari, sehingga tidak grasag-grusug menjelang hari tes dan mengurangi waktu persiapan.
  3. Optimis sebelum mengerjakan. Percaya diri juga penting. Namun berserah diri atas hasilnya juga penting. Jangan sampai merasa down jika merasa tak mampu mengerjakannya.

Akhir kata, semoga pengalamanku ini bisa bermanfaat buat pembaca semua.

PS: to all of my iBT preparation class, good luck for the test! I’m waiting to hear some good news about the results. :)

Menuju TOEFL iBT

Setelah sempat bercerita tentang kegalauan setelah mengikuti tes TOEFL iBT dan kegembiraan dengan hasilnya, sekarang aku akan berbagi proses persiapan dan pelaksanaan tes tersebut.

Aku mengikuti tes pada 12 Desember 2010, di Plaza Sentral, Sudirman. Meski demikian, aku sudah mendaftar kurang lebih 3 minggu sebelumnya.

Mencari Info TOEFL iBT

Yang pertama aku lakukan adalah mencari info tentang tes TOEFL iBT itu sendiri. Tes TOEFL ini dikeluarkan oleh satu lembaga bernama English testing Service, atau ETS. Di Indonesia, ternyata The Indonesian International Education Foundation (IIEF) yang bisa melaksanakan TOELF iBT.

Berikutnya, aku mencari info lebih dalam tentang pendaftaran TOEFL iBT. Ada beberapa laman yang bisa ditelusuri:

Nah, yang kulakukan kemarin adalah: (1) mencari tahu tatacara registrasi tes, (2) menghubungi IIEF; menanyakan tatacara registrasi dan pembayaran pendaftaran, (3) lalu menentukan tanggal tes yang kuinginkan.

Mendaftarkan Diri

Tahap berikutnya adalah mendaftarkan diri. Pertama, perlu diketahui bahwa ada beberapa metode pendaftaran: secara online, telepon, surat atau langsung. Tentu saja, cara online atau langsunglah yang paling mungkin kulakukan. (panduan mendaftar secara online bisa diunduh disini).

Pendaftaran online ini dilakukan dalam situs ETS. Disana aku lalu membuat profil/username. Yang harus diingat ketika membuat profil adalah: profil ini WAJIB sesuai dengan keterangan; entah di KTP atau paspor. Info ini akan dipakai untuk pembuatan sertifikat dan juga pengiriman hasil ke instansi yang diinginkan. Ketika mendaftar, ikuti saja petunjuk-petunjuk dan isi kolom-kolom yang tersedia.

Kedua, aku membayar untuk mendapatkan bukti pendaftaran, yang akan digunakan ketika hendak mengerjakan tes. Ada beberapa metode pembayaran, yaitu melalui kartu kredit/debit, cek elektronik atau voucher. Metode ketiga inilah yang paling mungkin buatku. Aku lalu mengirimkan e-mail ke IIEF; bertanya tentang proses pendaftaran dan pembayaran. Mereka kemudian mengirimkan formulir pembelian voucher beserta nomor rekening untuk ditransfer. Voucher ini sendiri seharga tes aslinya; USD199 atau Rp. 1.518.000 (dengan kurs saat itu).

Setelah membayar, IIEF kemudian memberikan konfirmasi dan nomor voucher. Nomor inilah yang kemudian perlu dimasukkan dalam kolom metode pembayaran; di dalam profil yang telah dibuat di situ ETS tadi. Di dalam profil tadi, aku juga bisa mengatur kapan dan dimana tes iBT akan kuambil. Aku juga bisa memilih institusi/universitas mana yang akan kukirimi hasilnya (ETS menggratiskan pengiriman ketika kita memilih ini sebelum mengambil tes).

Jika semua sudah diisi, ETS akan mengirimkan confirmation ticket yang harus dicetak, lalu dibawa saat pelaksanaan tes.

Mempersiapkan Diri

Setelah selesai mendaftar dan aku sudah tahu akan tes kapan dan dimana, selanjutnya adalah fase persiapan. Tak banyak yang kulakukan untuk mempersiapkan diri, sebab aku mau banyak waktu yang bisa kupakai untuk istirahat dan menyenangkan diri. Asusmsinya, kalau hati senang, pikiran juga tenang. hahaha

Pertama, tentunya belajar di area yang kurang kukuasai: speaking! Aku mencari contoh pertanyaan di internet dan menemukan beberapa. Aku juga mencari contoh jawaban di YouTube. Bahkan aku mengkhatamkan diri dengan latihan dari buku Longmann di kosan teman; berhubung di rumahku sedang ada acara dari sore hingga malam.

Kedua, aku mulai mencoba menjawab-jawab pertanyaan dari contoh-contoh untuk speaking section. Hampir tiap pulang kantor, selalu berbicara sendirian menjawab soal-soal tersebut.

Ketiga, aku memperbanyak membaca buku berbahasa inggris dan mencoba bersuara ketika membacanya. Niatnya hendak meningkatkan kemampuan mengucapkan dan menambah kosakata. Kala itu, novel Eat, Pray, Love jadi korbannya. Aku juga membiasakan ngobrol di jejaring sosial dengan Bahasa Inggris; tidak selalu, namun misalnya menginisiasi English day.

Sebenarnya aku tak mempersiapkan untuk tes dengan terlalu serius. Yang penting hepi. Kalau kita hepi, hati tenang, pikiran terang, tes pun bisa dikerjakan dengan lancar.

Bersambung

Satu Langkah Menaiki Anak Tangga

Dua belas Desember lalu, aku telah mengambil tes TOEFL internet-based, atau iBT TOEFL. Targetnya adalah skor minimal 90 untuk mendaftar kuliah di University of Twente, Belanda. Aku cukup optimis dengan persiapanku; kurang lebih 3 bulan meluangkan hari Sabtu pagi hingga siang untuk ikut kelas persiapan TOEFL iBT di LBI FIB UI. Namun seselesainya mengerjakan tes di hari Minggu pagi itu, aku mulai pesimis dengan hasilnya. Bahkan sudah terpikir untuk mengambil ulang tes tersebut, atau ikut tes IELTS saja.

Meskipun demikian, hari ini pesimismeku buyar sudah. ETS, selaku pengelola tes iBT, telah mengeluarkan hasil tes tersebut.

Pagi ini, seperti di hari-hari libur lainnya, aku membuka internet untuk bersosialisasi dan mencari informasi. Saat membuka e-mail, ada sebuah pesan yang mengatakan bahwa skor tes iBT-ku sudah keluar. Dag dig dug rasanya jantung ini. Dilema juga, mau buka email itu atau tidak. Penasaran sekaligus takut melihat hasilnya.

Ketika kubuka, ternyata ETS hanya memberikan info bahwa skor sudah dapat dilihat di situs ets.org. Fiuh, lega..

Masih dag dig dug, kutelusuri laman ets.org, login ke dalamnya, lalu melihat skor tesku. Jantungku berdegup makin kencang. Ketika skorku sudah tampil, langsung kuganti laman; saking takutnya melihat skor. “Pasti jelek dan gak sesuai harapanku,” pikiran pesimisku berkata.

Walau begitu, tak lama kemudian aku membuka laman ETS kembali.

DUAAAAR!!

Tak percaya aku dibuatnya! Ternyata aku mendapat skor sebesar 102! Jauh melebihi targetku  90!

“Syukurlah Tuhan. Engkau memang Maha Kuasa.”

Begitu senangnya diriku, karena kurang lebih 2 mingguan setelah aku ambil tes, perkiraan skorku hanya 80-an. Bahkan aku sempat berencana mengambil ulang tes ini; meski harus keluar uang Rp. 1.518.000 lagi. “Gak apa-apa, asal nilainya sampai target,” pikirku. Tapi ternyata itu tidak perlu.

Dari angka 102, aku mendapat skor 27 untuk materi reading, 29 untuk listening, 22 untuk speaking dan 24 untuk writing. Sesuai dugaan, skor speaking pasti akan jadi yang terendah. Namun skor 22, jelas tak sesuai dugaan. Tadinya aku pikir hanya akan dapat sekitar 14-an. Ketika les persiapanpun skor itu tak pernah lebih dari 20.

Selain skor itu, ternyata ada komentar-komentar dari penilai. Untuk reading dan listening, aku berada dalam level high (skor 22-30) dan ada beberapa komentar positif dari mereka. Untuk speaking, aku ada dalam level fair (skor 2.5-3.0) serta beberapa umpan balik yang sangat membangun. Untuk writing, aku dalam level fair ketika menulis berdasarkan listening dan reading. Aku juga dalam level good (4.0-5.0) ketika menulis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan pribadi.

Aku masih terdiam; tak percaya dengan angka 102.

Satu langkah sudah terlewati. Masih ada beberapa langkah lagi yang harus kuambil, sebelum sampai di tujuan: skolah di luar Indonesia. Jadi, daripada terus terlarut dalam kesenangan ini, aku harus sudah bergerak untuk mempersiapkan beberapa hal lagi.

Berserah Diri dan Ikhlas Menerima

Sudah kurang lebih 3 bulan aku mempersiapkan diri untuk hari ini. Namun nampaknya aku kurang maksimal hari ini. Jadilah ketidaktenangan ini muncul sedari siang. Namun aku bisa apa lagi, selain berserah padaYang Punya Segala Kuasa?

Tiga bulan sudah aku ikut persiapan internet-based TOEFL (iBT). Tujuannya jelas, agar siap ambil tes tersebut, mendapat nilai 90 dan mendaftarkan diri ke University of Twente, Belanda.

Seminggu kemarin pun, aku sudah coba siap-siap. Tiap hari bicara sendirian pakai Bahasa Inggris, bergaya mengerjakan soal bagian speaking; karena di bagian itu aku merasa lemah. Sabtu kemarin pun , seharian aku pergi menjauh dari rumah, maksudnya ingin semedi dan belajar. Namun hari ini hasilnya aku rasa kurang maksimal.

Jam 5 pagi aku sudah bangun. Jam 6 mandi, lalu berangkat jam 6.40-an. Hujan deras pun kuterobos untuk bisa ke Plaza Sentral, Sudirman, tempat aku akan ikut tes. Sesampainya disana, celanaku agak basah, namun tak kuambil pusing. Aku siap ikut tes!

Selesai registrasi ulang dan menyimpan seluruh barang di loker, jam 8.30-an ku memulai tes. Seperti biasa, aku tak mengalami kesulitan berat saat mengerjakan soal reading dan listening. Kedua jenis soal tersebut sudah biasa kukerjakan; meski kali ini soalnya lebih sulit dari soal yang kutemui saat les persiapan.

Kurang lebih pukul 10-an, aku sudah selesai dan beristirahat 10 menit sebelum masuk soal speaking. Cemas-cemas-optimis, itu yang kurasakan ketika istirahat. Plus, agak kedinginan karena AC di dalam ruangan tes.

Setelah 10 menit, aku masuk dan mulai mengerjakan soal speaking. Sejujurnya aku kurang puas dengan jawaban-jawabanku. Dari total 6 soal, ada 1 yang 1 kata terakhirnya kusebutkan tepat saat waktu berakhir. Ada juga jawaban yang harus kupotong, karena waktu tak cukup. Tampaknya aku terlalu panjang bicara di bagian lain dari jawabanku. Sisanya, nampaknya biasa-biasa saja. Tak ada yang benar-benar mantap jawabannya. Hampir semua jawaban, mengandung kata “emm” dan dengan tata bahasa yang kadang kurang tepat.

Bagian terakhir, writing, aku juga tak menemui kendala berat. Namun harus kuakui, kali ini aku harus berpikir ekstra keras dalam menulis.  Bahkan aku membutuhkan seluruh 30 menit untuk menulis.

Secara keseluruhan, sejujurnya aku kurang puas dengan jawabanku, terkhusus bagian speaking. Namun, hari ini usahaku sudah selesai. Jawaban tersebut sudah dikirim ke server pembuat soalnya. Yang bisa kulakukan hanya berdoa, memohon hasil terbaik  dan mencoba untuk ikhlas menerima kekuranganku. Hal positifnya, setidaknya aku sudah pernah merasakan tes TOEFL iBT, naik motor ke kawasan Sudirman; pagi-pagi dan hujan-hujan, serta punya kekasih dan ibu yang suportif.

Terima kasih banyak atas doanya ya! :)