Paling bahaya memang mampir ke toko buku. Semuaaa buku ingin dibeli. Padahal, lemari buku di rumah, termasuk setengah tempat tidurku, sudah penuh buku yang belum terbaca.
Sejauh ini ada beberapa buku incaran yang belum terbeli. Ini dia:
Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking. Susan Cain (2012). Dari judulnya [...]
Paling bahaya memang mampir ke toko buku. Semuaaa buku ingin dibeli. Padahal, lemari buku di rumah, termasuk setengah tempat tidurku, sudah penuh buku yang belum terbaca.
Sejauh ini ada beberapa buku incaran yang belum terbeli. Ini dia:
- Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking. Susan Cain (2012). Dari judulnya juga sudah ketahuan isi buku ini; termasuk mengapa aku ingin membelinya.

- 102 Minutes. Jim Dwyer & Kevin Flynn. 2nd ed 2011. Isinya adalah kisah-kisah korban selamat tragedi runtuhnya menara kembar WTC 11 September 2001. Tampaknya akan mengerikan sekaligus mengharukan.

- Buyology: Truth and Lies About Why We Buy. Martin Lindstrom. 2010. Buku hasil riset mendalam ini menjelaskan bagaimana manusia mengambil keputusan untuk membeli sesuatu. Menarik!

- The Magic of Reality. Richard Dawkins. 2012. Ceritanya, tentang penjelasan fenomena-fenomena alam dari sudut pandang sains.

- A Taxonomy for Teaching, Learning & Assessing. Lorin W. Anderson, et.al. 2000. Bukunya berisi revisi taksonomi Bloom yang terkenal itu.

There! Semoga ada yang berbaik hati membelikan. Apalagi buku terakhir, yang sulit didapat di toko buku lokal.
Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.
Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai [...]
Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.
Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai gitaris 2.
Rasanya seperti baru kemarin aku tergabung di sana. Latihan dari 1 studio ke studio lain. Dari yang sound system-nya pas-pasan hingga mencoba studionya personil band Stinky.
Seperti baru kemarin juga, gerilya dari satu panggung ke panggung lain. Dari 1 festival ke festival lain. Satu radio ke radio lain.
Kupikir dulu jalanku adalah di musik, yaitu jadi musisi. Sejak kecil, musik sudah jadi bagian hidupku. Tiap pagi selalu terputar alunan lagu dari kaset milik bapak ibu. Saat SMA, aku mulai ngeband secara resmi. Dari 1 acara ulang tahun teman ke ulang tahun teman lain, hingga acara ulang tahun sekolah.
Setelah tergabung dalam Harmonic, aku pun makin yakin dengan jalan musik. I’m willing to go through everything for it. Tawaran menjadi salah satu kepala bidang di senat kampus ditolak. Tawaran kerja dengan gaji menggiurkan juga kutolak. Semua untuk bisa bermain musik dalam band dan manggung, lalu bisa menghasilkan kaset.
Namun makin lama, aku merasa ada yang tidak pas. Sepertinya bukan jadi musisi seperti itu yang kubutuhkan. Yang selalu terbayang saat mengandaikan diri menjadi musisi adalah: panggung kecil, dekat penonton, suasana hangat, diselingi minuman hangat dan obrolan santai. Bukan seperti band-band di televisi.
Band-band di televisi juga turut membentuk keputusanku. Aku tak ingin seperti mereka, yang tak otentik. Dicitrakan sesuai kebutuhan dan kemauan produser, demi keinginan pasar. Belum lagi isi lagu mereka. Rata-rata lagu-lagu cinta yang..yah, tak mengajarkan hal-hal positif bagi pendengarnya. Aku takut suatu saat akan jadi bagian roda itu.
Pemikiranku makin bulat. Jalanku bukan di situ. Dan aku pun mengundurkan diri dari band.
Malam ini, hampir 5 tahun kemudian. Ingatanku terbang menuju masa itu, saat aku dan Harmonic berjalan bersama. Kami telah membuat lagu-lagu yang bagus. Enak didengar lah. Tapi memang jalan kita hanya sampai di situ saja; setidaknya untuk kali ini.
Namun kawan, aku doakan kita, kamu dan kamu, supaya, meski tak lagi bersama dalam musik, akan tetap menjalani hidup masing-masing yang penuh berkah. Sungguh kawan, karena tak mungkin aku untuk tak merindukanmu.
Memperkenalkan aktivitas terbaruku dan kekasih:
Kelas Koki Cilik!
Kami akan bersenang-senang dengan anak-anak usia SD, berbagi pengalaman positif saat memasak, dan tentunya membekali mereka dengan ketrampilan hidup yang penting: memasak makanan sehat sendiri.
Penasaran? Yuk, mampir ke blog Kekoci atau ikuti [...]
Memperkenalkan aktivitas terbaruku dan kekasih:
Kelas Koki Cilik!
Kami akan bersenang-senang dengan anak-anak usia SD, berbagi pengalaman positif saat memasak, dan tentunya membekali mereka dengan ketrampilan hidup yang penting: memasak makanan sehat sendiri.

Koki Cilik Menggulung Sushi
Penasaran? Yuk, mampir ke blog Kekoci atau ikuti Kekoci di Twitter Kekoci.
Sudah ada 6 kelas lho; dan akan terus bertambah.
Lagu favorit terbaru: Jason Mraz – 93 Million Miles.
93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
’cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes
Oh, my my how beautiful, oh my beautiful mother
[...]
Lagu favorit terbaru: Jason Mraz – 93 Million Miles.
93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
’cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes
Oh, my my how beautiful, oh my beautiful mother
She told me, “Son in life you’re gonna go far, and if you do it right you’ll love where you are
Just know, that wherever you go, you can always come home”
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
240 thousand miles from the Moon, we’ve come a long way to belong here,
To share this view of the night, a glorious night, over the horizon is another bright sky
Oh, my my how beautiful, oh my irrefutable father,
He told me, “Son sometimes it may seem dark, but the absence of the light is a necessary part.
Just know, you’re never alone, you can always come back home”
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
You can always come back…back…
Every road is a slippery slope
There is always a hand that you can hold on to.
Looking deeper through the telescope
You can see that your home’s inside of you.
Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
’cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes…
*liriknya: 93 Million Miles
Menemukan tempat makan enak nan murah itu amat menyenangkan, seperti yang kami rasakan siang ini di kawasan Asemka, kawasan kota tua.
Tujuan utama ke Museum Bank Mandiri. Tapi karena sudah lapar, maka aku dan kekasih memutuskan mau makan siang dulu. Daerah itu amat asing bagi kami, dalam hal lokasi makan enak. Maka sebelum berangkat, kami [...]
Menemukan tempat makan enak nan murah itu amat menyenangkan, seperti yang kami rasakan siang ini di kawasan Asemka, kawasan kota tua.
Tujuan utama ke Museum Bank Mandiri. Tapi karena sudah lapar, maka aku dan kekasih memutuskan mau makan siang dulu. Daerah itu amat asing bagi kami, dalam hal lokasi makan enak. Maka sebelum berangkat, kami googling dulu. Kami menemukan ada penjual soto tangkar di kawasan Asemka. Rasa penasaran membuat kami ingin dan akan mencarinya.
Setelah keluar Stasiun Jakarta Kota, kami menyeberang lewat terowongan, lalu berjalan menuju Jalan Asemka. Terus. Kami terus berjalan, namun tak juga menemukan tempat makan itu. Kami pun menanyakan ke pedagang sekitar, dan diberitahukan lokasinya. Patokannya, jika menemukan pos terpadu di Jalan Asemka, langsung belok kanan. Kemudian gang pertama di sebelah kiri, segera masuk.
View Soto Tangkar in a larger map
Tempat pedagang ini agak terpencil. Masuk gang kecil. Meja dan kursinya pun tak banyak. Paling banyak hanya 5 orang makan bersamaan di situ.
Menu di sana ada soto daging, ayam, sapi, jeroan dan sejenisnya. Kami memesan soto sapi, namun ternyata sudah habis. Akhirnya kami memesan soto campur. Ada tulang lunak, emping, daun bawang dan jeroan di dalamnya. Soto ini disajikan terpisah dengan nasi, dan ditambah dengan kerupuk putih 1 buah.
Tangkar itu sendiri berarti tulang lunak. Dan menurut pedagang yang telah berjualan 10 tahun di tempat itu, soto ini asalnya dari Bogor. Kami kira dari daerah mana..
Setelah kami coba, ternyata sotonya enak. Soto campur yang tampilannya mirip tongseng, namun lebih muda warnanya ini, dagingnya lembut. Kuahnya juga enak. Pas lah di lidah. Harganya pun tak mahal. Hanya Rp. 10.000. Pantas banyak yang datang beli soto di sana (setidaknya saat kami selesai, ada sekitar 8 pembeli lainnya).
Kalau ada kesempatan sehabis belanja barang di Pasar Asemka, bisalah mampir kesini. Asal hati-hati saja dengan kolesterol.
Aku ingat dulu ketika masih kuliah, seorang teman namanya Ucrit, biasa dipanggil Asthri, sering membawa siomay buatan ibunya. Bagi mahasiswa dengan radar anak kos-an (baca: pecinta gratisan), ini ibarat upacara pesta. Bagaimana tidak? Siomay-nya enaaaaaak sekaliiii! Dan hari ini aku mencicipinya lagi.
Namun kali ini siomay itu sudah berlabel Siomay Mami. Dan sudah ada siomay [...]
Aku ingat dulu ketika masih kuliah, seorang teman namanya Ucrit, biasa dipanggil Asthri, sering membawa siomay buatan ibunya. Bagi mahasiswa dengan radar anak kos-an (baca: pecinta gratisan), ini ibarat upacara pesta. Bagaimana tidak? Siomay-nya enaaaaaak sekaliiii! Dan hari ini aku mencicipinya lagi.
Namun kali ini siomay itu sudah berlabel Siomay Mami. Dan sudah ada siomay keju, yang rasanya nyam nyam nyam! Kalau kata kekasihku, “enyak parah yg kezuuu.” Tapi siomay rasa asli juga enak kok.
Dan memang enak sekali. Ketika tengahnya terbuka, ada keju meleleh dari dalamnya. Apalagi kalau dimakan selagi hangat. Harganya pun tak mahal. Per butir antara Rp.3.500-4.500.
Kalau tertarik, bisa mampir-mampir ke situsnya dan pesan di sana. Pemesanannya bisa lewat telpon ataupun e-mail. Kalau jauh, bisa juga diantar ke rumah; ongkos kirim tergantung lokasi.
Kami kira perjalanan panjang dan keliling-keliling di Taman Bunga Nusantara akan jadi akhir petualangan kami hari itu. Namun ternyata kami salah.
Kurang lebih pukul 16.00-an kami pulang ke Jakarta. Untuk rute pulang, kami berniat naik angkot ke Pasar Cipanas, lalu naik bus apapun ke Jakarta. Tak lama menanti di depan TBN, [...]
Kami kira perjalanan panjang dan keliling-keliling di Taman Bunga Nusantara akan jadi akhir petualangan kami hari itu. Namun ternyata kami salah.
Kurang lebih pukul 16.00-an kami pulang ke Jakarta. Untuk rute pulang, kami berniat naik angkot ke Pasar Cipanas, lalu naik bus apapun ke Jakarta. Tak lama menanti di depan TBN, angkot kuning jurusan Cipanas sudah muncul. 20-an menit kami sudah sampai di Pasar Cipanas.
Kami mampir pasar dulu hendak beli oleh oleh. Kue-kue kering jadi pilihan. Bingung juga sih mau pilih apa. Tapi keripik talas dan keripik tahu sepertinya enak (memang enak!). Kami kira akan murah, tapi ternyata 1 Kg keripik tahu dan setengah Kg keripik talas menghabiskan Rp. 50.000. Namun untuk harga itu, sebanding dengan rasanya yang enak.
Setelah keluar pasar, kami tertarik dengan Surabi dan juga Colenak. Bagi yang belum tahu surabi itu apa, surabi adalah kue mirip pancake, terbuat dari tepung beras dan biasa diberi kuah gula kelapa. Saat ini banyak variannya, seperti coklat, keju dsb. Kalau colenak (singkatan dicocol enak), terbuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar dan diberi parutan kelapa serta kuah gula merah. Bagi yang tak tahu bentuknya, kurang lebih seperti di bawah ini.
Kami pun menerima 3 bungkusan, 2 paket surabi dan sepaket colenak. Setelah membeli air mineral kami menunggu di depan pasar.
Kami masih tidak yakin akan pulang naik bus apa. Terbayangnya, akan muncul bus Kurnia Bakti atau Doa Ibu yang menuju Kampung Rambutan. Ketika menunggu surabi pun, kami lihat bus Doa Ibu lewat di depan pasar. “Aman” pikir kami.
Tak berapa lama, bus hijau Kurnia Bakti muncul. Namun bukan bus AC seperti yang kami tumpangi tadi pagi. Karena tak yakin akan ada bus lain, maka kami naik Kurnia Bakti itu. Tapi keputusan kami itu salah!
Begitu masuk ke dalam bus, kami seperti masuk ke dalam ruang khusus merokok, dimana ruang tersebut penuh dengan orang! It was like a living hell! Masuk pintu bus, bagian kursi-kursi belakangnya seperti berkabut. Memang kami dapat duduk di bagian depan. Namun setelah mempertimbangkan secara kilat, kami turun dan mengambil risiko menunggu bus lain.
Sampai hampir jam 19.00 kami masih belum dapat bus. Kami hampir saja naik angkot menuju Ciawi dan mencari bus di sana. Tapi syukurlah, sebuah bus kapasitas 30-an, ber-AC, jurusan Jakarta, muncul dari kejauhan. Keputusan kami turun dari bus sebelumnya sangat tepat. Bus ini jauh lebih manusiawi. Fiuuuh!
Ternyata petualangan belum berhenti. Di depan pasar, macet sudah melanda. Seisi bus dihinggapi kecemasan. Supir dan kondektur pun demikian. Sampai akhirnya mereka memilih mengambil jalur lain, lewat Jonggol tembus Cileungsi. Penumpang yang ke arah Ciawi lalu diturunkan. “Kasihan juga sih mereka,”
Bus lalu berputar dan mengambil jalur tersebut. TBN kami lewati lagi. Jalur yang kami lewati ternyata serem. Lewat pinggir jurang, jalan ajut-ajutan dan gelaaaap! “Ngeriii deh.”
Perjalanan seram mulai pukul 19.00-an itu berakhir sekitar pukul 21.00-an, sampai akhirnya kami tiba di Cileungsi lalu Cibubur pada pukul 22.00-an. Kami turun di Cibubur lalu lanjut naik taksi ke Depok, mengingat sudah cukup larut malam. Dan petualangan kami resmi berakhir!
“Syukurlah!”
Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan (termasuk kemacetan di Ciawi dan menuju Puncak), kami tiba di Taman Bunga Nusantara dan siap berwisata!
Wisata di Dalam Taman Bunga Nusantara
Kami lalu masuk ke TBN dan membeli tiket. Begitu masuk kami disuguhi pemandangan luar biasa!
Kegiatan pertama yang ingin kami lakukan adalah berkeliling TBN menggunakan [...]
Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan (termasuk kemacetan di Ciawi dan menuju Puncak), kami tiba di Taman Bunga Nusantara dan siap berwisata!
Wisata di Dalam Taman Bunga Nusantara
Kami lalu masuk ke TBN dan membeli tiket. Begitu masuk kami disuguhi pemandangan luar biasa!
Kegiatan pertama yang ingin kami lakukan adalah berkeliling TBN menggunakan kereta, namanya Dotto Train. Uang Rp. 25.000 kami keluarkan untuk membeli tiket, sekaligus naik kereta.
Tapi karena menjelang makan siang, kami pun makan dulu saja. Di dalam TBN ada kantin, namun cukup kecil. kira-kira hanya bisa memuat 15-20 orang. Harga makanannya pun tidak murah juga. Rata-rata harganya 20 hingga 30 ribu rupiah. Karena penuh, kami pun makan di areal parkir TBN. Tapi ternyata sama mahalnya. Nasi pakai sup, ati dan ampela serta es teh manis 2 gelas, plus pocari sweat kecil, harganya Rp. 28.000. Ugh!
Setelah makan, kami ke toilet, foto-foto sebentar lalu naik Dotto Train. Dengan kereta ini, kami diajak mengelilingi lingkar luar TBN. Mulai dari areal Taman Jam, Taman Perancis, hingga Taman Jepang dan rumah kaca. Perjalanan keliling ini memakan waktu kurang lebih 30 menit.
Berikutnya kami naik ke menara pantau, niatnya mau berfoto bersama. Setelah naik ke lantai 4, Aku sadar tak membawa konektor tripod dan kamera. Huhuhu. Batal deh foto bersama dengan tripod. Di menara ini pula kami bisa melihat seluruh area TBN, termasuk Taman Labirin yang akan kami sambangi.
Kami turun lalu masuk ke labirin. Setelah berputar-putar, ternyata kami bisa sampai di tengah dengan cukup mudah. Ternyata tak sesulit yang dibayangkan; meski banyak orang lain yang tersesat. *sombong*
Selepas labirin, kami menuju taman-taman lain. Perancis, Bali, Jepang lalu Rumah Kaca jadi tujuan kami. Sebenarnya ada beberapa taman lain dan objek wisata lain, tapi kami tak datangi. Objek lain seperti go kart, kolam apung, kereta-keretaan, tempat outbound dan beberapa lainnya (lupa).
Di tengah-tengah perjalanan, hujan deras melanda. Untungnya kami sedang berisitirahat di semacam gubuk di Taman Bali. Sampai akhirnya atap yang bocor memaksa kami pindah. Tapi setelah hujan berhenti, udara nan segar dan matahari cerah, menyemangati wisata kami (baca: si kekasih foto-foto).
Ah, memang tempat ini tempat yang pas untuk dinikmati pemandangannya. Bunga di mana-mana. Warna-warni di sana sini. Apalagi kalau untuk foto pre-wedding. Eeh..
Setelah puas foto-foto, kami lalu membeli beberapa kaktus untuk oleh-oleh dan bergerak pulang ke Jakarta. Kami kira petualangan kami sudah selesai, namun ternyata belum lho..
…cerita selanjutnya tentang perjalanan pulang dari taman bunga nusantara.
Berangkat gelap, pulang gelap, tapi seruu!
Kira-kira bergitulah perjalananku dan kekasih di awal libur panjang akhir pekan (23/03/2012). Bagaimana tidak? kurang lebih jam 05.30 kami sudah beranjak pergi ke Taman Bunga Nusantara (TBN) dan baru sampai Depok kembali jam 23.30-an. Namun di tengah-tengahnya, banyak petualangan seru yang kami alami. Mau tahu? [...]
Berangkat gelap, pulang gelap, tapi seruu!
Kira-kira bergitulah perjalananku dan kekasih di awal libur panjang akhir pekan (23/03/2012). Bagaimana tidak? kurang lebih jam 05.30 kami sudah beranjak pergi ke Taman Bunga Nusantara (TBN) dan baru sampai Depok kembali jam 23.30-an. Namun di tengah-tengahnya, banyak petualangan seru yang kami alami. Mau tahu? Mari kumulai.
Menuju Taman Bunga Nusantara
Mengingat Jumat itu adalah permulaan long weekend, kami memutuskan berangkat pagi-pagi. Harapannya, jalanan masih kosong. Jam 05.30-an kami berangkat dari Depok menuju Kampung Rambutan (KR). Menurut info dari internet, kami bisa sampai ke TBN dengan menaiki bus dari sana, apapun yang menuju Tasikmalaya dan lewat Puncak. Katanya, naik bus Doa Ibu lalu turun di Pasar Cipanas dan naik angkot menuju TBN. TBN sendiri letaknya di Jalan Mariwati Km. 7, Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.
Tak sampai setengah jam kami sampai di KR. Setelah membayar Rp. 8.000 kepada supir, kami masuk terminal KR di mana terdapat bus antar kota antar propinsi. Untuk masuk ke dalam, kami membayar Rp. 2.000. Karena ragu, kami tanya petugas karcis. Katanya, kami bisa naik Doa Ibu atau Kurnia Bakti. Di samping tukang karcis, ternyata kondektur Kurnia Bakti sudah menjajakan busnya. Kami pun masuk terminal dengan kondektur di samping kami.
Kami masih belum yakin dengan bus tersebut. Beberapa informasi yang didapat, tak menyebutkan info apapun tentang bus tersebut. Namun akhirnya kami naik bus Kurnia Bakti, karena Doa Ibu tak kunjung muncul.
Jam 06.15 bus mulai beranjak. Tapi baru jam 07.00-an, setelah ngetem, bus berjalan keluar terminal. Setelah sampai jalan baru KR, bus sudah penuh. Banyak penumpang yang berdiri di koridor. Fiuh, kami beruntung bisa jadi dua penumpang pertama, sehingga bisa duduk dan memilih kursi.
Kondisi bus cukup nyaman: ber-AC, kursi cukup bersih dan yang penting tak ada asap rokok! Tarif bus ini cukup variatif. Kami sampai Cipanas, dikenai Rp. 15.000. Tapi ada mbak-mbak yang hanya membayar Rp. 7.000. Ada juga yang lebih dari itu.
Perjalanan penuh macet pun dimulai. Di dalam tol dekat Ciawi, kalau tak salah di KM 42, kami sudah mulai terjebak macet. “Dinikmati sajalah,” kata si kekasih.
Dan memang, sampai Puncak, kami masih menemui beberapa titik kemacetan. Meski demikian, kami beruntung karena saat naik ke Puncak, jalur turun sedang ditutup. Jadi bus kami bisa cukup lancar jalannya.
Dua Alternatif Jalur
Sesampainya dekat Puncak Pass, kami mulai bingung akan turun dimana. Rencana awal kami adalah turun di Pasar Cipanas lalu lanjut ke TBN. Namun sang kondektur bus bilang kami turun di Hanjawar (dibaca Hanyawar) saja. Kami pun memutuskan minta bantuan kondektur untuk mengingatkan jika sudah tiba di Hanjawar.
Kondektur pun menepati janjinya. Kami lalu turun di pertigaan Hanjawar. Lalu kami naik angkot lagi, berwarna kuning, menuju ke TBN. Tapi ternyata kami harus naik 1 angkot lagi agar sampai TBN. Setelah kami tanya supir angkot tersebut, ternyata ada angkot lain dari Pasar Cipanas menuju Mariwati, dan ini yang langsung sampai TBN. Mestinya ini yang tadi kami naiki jika turun di Pasar Cipanas.
Kami lalu diturunkan di perempatan, lalu nyambung angkot menuju TBN. Dan kami pun sampai di TBN kurang lebih pukul 11.00-an. Lumayan juga waktu yang dibutuhkan. Hampir 5 jam. Tapi kami sudah siap untuk berwisata! TBN sudah menanti untuk dijelajahi!
…kisah selanjutnya di wisata di dalam taman bunga nusantara
Rekomendasi
Komentar
- FA Triatmoko HS on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Book Wish List
- Ibe on Book Wish List
- Ibe on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Catatan Akhir Semester
- auliyyaa on Catatan Akhir Semester
- Novani Nugrahani on Tentang Kesederhanaan
- Bali, Saya Datang! | aku dalam kata on Sorry, You’re the Speaker
- iiE on Sorry, You’re the Speaker
- FA Triatmoko HS on Seminggu Pertama Kuliah
Kategori
- Acak (201)
- Artikel (1)
- Berita Dunia (12)
- Inspirasi (5)
- Lingkungan (2)
- Bukuku (1)
- Cerita (74)
- Foto (5)
- Pendidikan (4)
- Psikologi (44)
- Kebersyukuran (26)
- Kisah Manusia (12)
- Kreativitas (1)
- POPsy! (5)
- Puisi (66)
- Refleksi (19)
- Tentang Cinta (9)
- Twente (8)
- Ulasan (20)
Arsip
Telusuri blog ini















