Menjadi Penampil Musik

Saya senang bermusik, khususnya bermain gitar, menciptakan lagu, mendengarkan musik dan sedikit bernyanyi. Dosen tamu kali ini, Dr. Weny Savitry S. Pandia, Psi., M.Si, membawakan materi yang sesuai dengan minat tersebut. Dalam presentasinya, pengajar di Universitas Atma Jaya ini memaparkan beberapa hal terkait penampilan musik, atau music performance, mulai dari keterampilan yang dibutuhkan oleh penampil hingga tips mengatasi kecemasan ketika hendak menampilkan musik. Continue reading

Menanyakan dan Mengamati Sindhunata

Membaca kumpulan feature Sindhunata itu seperti melihat potret manusia dalam keseharian yang selalu luput dari pengamatan. Ada hal-hal sepele yang ada di sekitar, namun tak pernah menjadi pusat perhatian, dan akhirnya lewat begitu saja. Tentang sekumpulan pedagang rambutan yang semuanya sedang sial, tentang pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Kramat Tunggak, atau tentang penumpang mikrolet di jalanan Jakarta. Kisah-kisah tersebut tentu hanya bisa didapatkan melalui wawancara dan juga observasi yang baik terhadap narasumber. Dari buku kumpulan feature “Burung-burung di Bundaran HI”, keterlibatan langsung dengan narasumber dan kemampuan membina hubungan dalam wawancara menjadikan Sindhunata penulis yang khas, meskipun bisa ditemui ada kekurangan dalam tekniknya menyampaikan hasil amatan.

Burung-burung di Bundaran HI

Dalam buku terbitan Penerbit Buku Kompas tahun 2006, bisa disimpulkan bahwa Sindhunata terlibat secara langsung dengan narasumbernya. Ini menjadi keunggulan pertamanya. Ia terjun langsung ke Pasar Minggu, toko “Tikungan” di kawasan Ciganjur (Sindhunata, 2006, hal. 33) dan juga pinggiran Jalan Senayan (Sindhunata, 2006, hal. 38) untuk menggali kisah pedagang-pedagang rambutan. Sindhunata (beserta seorang rekan) bahkan tinggal di Kramat Tunggak untuk mendapatkan berita, “Berhari-hari berada di kompleks pelacuran Kramat Tunggak, kami sedikit banyak menyaksikan gejala-gejala itu” (Sindhunata, 2006, hal. 4).

Keunggulan kedua Sindhunata adalah kemampuannya membina hubungan dalam wawancara. Wawancara sendiri adalah proses komunikasi interaksional antara 2 pihak, dimana setidaknya salah satu pihak memiliki tujuan yang serius, dan melibatkan tanya jawab antar keduanya (Stewart & Cash, JR, 2006, hal. 4). Salah satu hal penting yang bisa mempengaruhi hasil wawancara adalah rasa percaya. Narasumber tak akan membuka diri dan menjawab pertanyaan pada orang yang tidak bisa dipercaya. Dari buku kumpulan feature bertema Manusia & Keseharian itu, bisa dilihat bagaimana kemampuan unik Sindhunata dalam membangun hubungan yang saling percaya dengan narasumber, sehingga bisa mendapatkan informasi yang mendalam dan tak jarang sensitif. Misalnya, kisah pernikahan dan keluarga Si Mungil (Sindhunata, 2006, hal. 8), kondisi kamar-kamar tempat PSK bekerja atau cerita lelaki pemakai jasa PSK Kramat Tunggak (Sindhunata, 2006, hal. 15-18).

Namun meski unggul dalam keterlibatan dan kemampuan membina hubungan baik dengan narasumber, tulisan Sindhunata memiliki kekurangan, yaitu dalam melaporkan hasil pengamatan. Pengamatan atau observasi adalah proses sistematis melihat dan merekam perilaku orang lain untuk tujuan pengambilan keputusan (Cartwright & Cartwright, 1984, hal. 25). Hasil pengamatan kemudian akan disimpulkan menjadi kesimpulan sementara, yang bisa saja berubah seiring bertambahnya data. Pada satu tulisan Sindhunata, bisa ditemukan bahwa kesimpulan sudah dibuat oleh penulis, bukan dari data yang ada. Misalnya, “Pelbagai perasaan kami alami saat itu. Perasaan ini seakan membangkitkan kesadaran bahwa tiba-tiba agama bisa menjadi amat palsu…” (Sindhunata, 2006, hal. 27). Atau, “Apa artinya agama buat mereka? Kata seorang tukang rokok di dekat tempat itu. Tentu ucapan tukang rokok sederhana ini tepat” (Sindhunata, 2006, hal. 28). Dari sini bisa dilihat bahwa ada subjektivitas dalam pelaporan hasil pengamatan. Nilai-nilai dari penulis muncul di dalam tulisan dan seakan menjadi kesimpulan dari pengamatan. Hal ini adalah sebuah error dalam proses pengamatan. Meski objektivitas murni tidak mungkin dicapai, penulis perlu menyadari subjektivitasnya sendiri sehingga tidak justru ‘mencemari’ hasil observasi yang mestinya apa adanya.

Akhir kata, tulisan-tulisan dalam “Burung-burung di Bundaran HI” memang menunjukkan kualitas khas dari Sindhunata, dalam hal mendapatkan bahan tulisan dan menyajikannya. Keinginannya untuk terjun langsung dengan narasumber, serta kemampuannya dalam membina hubungan saling percaya dengan narasumber, menjadikan tulisan Sindhunata menjadi pembuka mata akan adanya fenomena sepele yang menarik, yang selalu luput dari tangkapan. Namun meski begitu, perlu disadari bahwa selain menulis feature yang baik, Sindhunata juga melibatkan subjektivitas yang mengurangi kekuatan tulisannya.

Kepustakaan
Cartwright, C. A., & Cartwright, G. P. (1984). Developing Observational Skills. New York: McGraw-Hill.

Sindhunata, G. P. (2006). Bakminya Belum Habis…. Dalam G. P. Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI (hal. 15-21). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sindhunata, G. P. (2006). Dewi Kwan Im Tidak Marah? Dalam G. P. Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI (hal. 22-29). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sindhunata, G. P. (2006). Kisah Si Mungil dari Indramayu. Dalam G. P. Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI (hal. 3-8). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sindhunata, G. P. (2006). Mereka yang Sedang Sial. Dalam G. P. Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI (hal. 38-42). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sindhunata, G. P. (2006). Ya Ampuuun Pelitnya. Dalam G. P. Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI (hal. 33-37). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Stewart, C. J., & Cash, JR, W. B. (2006). Interviewing Principles and Practices. New York: McGraw-Hill.

Pacific Rim: Aksi, Ilmu dan Antarmanusia

Godzilla melawan Transformers bergaya perang Ultraman, ditambah dengan sedikit bumbu neurosains dan hubungan antarmanusia. Kira-kira itu yang muncul dalam memoriku ketika menyaksikan film Pacific Rim produksi Warner Bros dan Legendary Pictures. Meski begitu, ada yang lebih dari sekadar ingatanku, ketika selesai menonton film yang disutradarai Guillermo del Toro tersebut.

Begitu film mulai, aku diingatkan akan kehancuran yang didatangkan Godzilla ketika muncul pertama kali. Kemudian muncullah robot Transformers: Jaeger (dibaca yeiger) atau pemburu dalam Bahasa Jerman, dengan gaya berkelahi tangan kosong seperti Ultraman.

Gypsy Danger, salah satu Jaeger

Jaeger yang setinggi gedung pencakar langit dan mampu menggunakan kapal tanker sebagai tongkat tersebut, datang untuk melawan monster-monster alien yang dinamai Kaiju, atau monster dalam Bahasa Jepang. “Bigger is better” benar-benar berlaku di dalam film ini. Dan aku tak menyesal menyaksikan aksi mereka.

Namun Pacific Rim tidak berhenti di situ. Bumbu ilmu tentang saraf dipadukan dalam film untuk menjelaskan proses pengendalian robot raksasa. Menarik sekali, karena di dunia psikologi yang kupelajari,khususnya di negara-negara barat, ilmu saraf dan efeknya pada perilaku manusia, sedang hot sekali. Sehingga, momen munculnya Pacific Rim tampak kontekstual; setidaknya bagiku. Meskipun tak banyak penjelasan lanjutan, tapi lumayanlah sebagai permulaan.

Satu hal lagi yang menurutku paling menarik adalah hubungan antarmanusia dalam film ini. Diceritakan di sini bahwa seluruh dunia melupakan persaingan dan bergabung untuk melawan Kaiju. Gambaran ini diperjelas dengan bergabungnya Amerika Serikat, China dan Rusia dalam pertempuran. Selain itu, nampak juga dalam bersatunya pilot Jaeger dari Amerika dan Jepang, ras kulit putih dan hitam, serta ayah dan anak. Mungkinkah ini bisa terjadi di kehidupan nyata?

Kesimpulanku, film ini sangat menarik, baik dari aksi serta efek spesialnya, bumbu-bumbu ilmu pengetahuannya serta pesannya tentang hubungan antar manusia. Ditonton di bioskop 3D atau Imax mungkin akan lebih menarik lagi.

Book Wish List

Paling bahaya memang mampir ke toko buku. Semuaaa buku ingin dibeli. Padahal, lemari buku di rumah, termasuk setengah tempat tidurku, sudah penuh buku yang belum terbaca.

Sejauh ini ada beberapa buku incaran yang belum terbeli. Ini dia:

  • 102 Minutes. Jim Dwyer & Kevin Flynn. 2nd ed 2011. Isinya adalah kisah-kisah korban selamat tragedi runtuhnya menara kembar WTC 11 September 2001. Tampaknya akan mengerikan sekaligus mengharukan. 
  • Buyology: Truth and Lies About Why We Buy. Martin Lindstrom. 2010. Buku hasil riset mendalam ini menjelaskan bagaimana manusia mengambil keputusan untuk membeli sesuatu. Menarik! 
  • The Magic of Reality. Richard Dawkins. 2012. Ceritanya, tentang penjelasan fenomena-fenomena alam dari sudut pandang sains. 
  • A Taxonomy for Teaching, Learning & Assessing. Lorin W. Anderson, et.al. 2000. Bukunya berisi revisi taksonomi Bloom yang terkenal itu. 

There! Semoga ada yang berbaik hati membelikan. Apalagi buku terakhir, yang sulit didapat di toko buku lokal.

Karna Tak Mungkin Aku Untuk Tak Merindukanmu

Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.

Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai gitaris 2.

Rasanya seperti baru kemarin aku tergabung di sana. Latihan dari 1 studio ke studio lain. Dari yang sound system-nya pas-pasan hingga mencoba studionya personil band Stinky.

Seperti baru kemarin juga, gerilya dari satu panggung ke panggung lain. Dari 1 festival ke festival lain. Satu radio ke radio lain.

Kupikir dulu jalanku adalah di musik, yaitu jadi musisi. Sejak kecil, musik sudah jadi bagian hidupku. Tiap pagi selalu terputar alunan lagu dari kaset milik bapak ibu. Saat SMA, aku mulai ngeband secara resmi. Dari 1 acara ulang tahun teman ke ulang tahun teman lain, hingga acara ulang tahun sekolah.

Setelah tergabung dalam Harmonic, aku pun makin yakin dengan jalan musik. I’m willing to go through everything for it. Tawaran menjadi salah satu kepala bidang di senat kampus ditolak. Tawaran kerja dengan gaji menggiurkan juga kutolak. Semua untuk bisa bermain musik dalam band dan manggung, lalu bisa menghasilkan kaset.

Namun makin lama, aku merasa ada yang tidak pas. Sepertinya bukan jadi musisi seperti itu yang kubutuhkan. Yang selalu terbayang saat mengandaikan diri menjadi musisi adalah: panggung kecil, dekat penonton, suasana hangat, diselingi minuman hangat dan obrolan santai. Bukan seperti band-band di televisi.

Band-band di televisi juga turut membentuk keputusanku. Aku tak ingin seperti mereka, yang tak otentik. Dicitrakan sesuai kebutuhan dan kemauan produser, demi keinginan pasar. Belum lagi isi lagu mereka. Rata-rata lagu-lagu cinta yang..yah, tak mengajarkan hal-hal positif bagi pendengarnya. Aku takut suatu saat akan jadi bagian roda itu.

Pemikiranku makin bulat. Jalanku bukan di situ. Dan aku pun mengundurkan diri dari band.

Malam ini, hampir 5 tahun kemudian. Ingatanku terbang menuju masa itu, saat aku dan Harmonic berjalan bersama. Kami telah membuat lagu-lagu yang bagus. Enak didengar lah. Tapi memang jalan kita hanya sampai di situ saja; setidaknya untuk kali ini.

Namun kawan, aku doakan kita, kamu dan kamu, supaya, meski tak lagi bersama dalam musik, akan tetap menjalani hidup masing-masing yang penuh berkah. Sungguh kawan, karena tak mungkin aku untuk tak merindukanmu.

Kelas Koki Cilik!

Memperkenalkan aktivitas terbaruku dan kekasih:

Kelas Koki Cilik!

Kami akan bersenang-senang dengan anak-anak usia SD, berbagi pengalaman positif saat memasak, dan tentunya membekali mereka dengan ketrampilan hidup yang penting: memasak makanan sehat sendiri.

Koki Cilik Menggulung Sushi

Penasaran? Yuk, mampir ke blog Kekoci atau ikuti Kekoci di Twitter Kekoci.

Sudah ada 6 kelas lho; dan akan terus bertambah.

Jason Mraz – 93 Million Miles

Lagu favorit terbaru: Jason Mraz – 93 Million Miles.

93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
’cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes
Oh, my my how beautiful, oh my beautiful mother
She told me, “Son in life you’re gonna go far, and if you do it right you’ll love where you are
Just know, that wherever you go, you can always come home”

Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…

240 thousand miles from the Moon, we’ve come a long way to belong here,
To share this view of the night, a glorious night, over the horizon is another bright sky
Oh, my my how beautiful, oh my irrefutable father,
He told me, “Son sometimes it may seem dark, but the absence of the light is a necessary part.
Just know, you’re never alone, you can always come back home”

Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…

You can always come back…back…

Every road is a slippery slope
There is always a hand that you can hold on to.
Looking deeper through the telescope
You can see that your home’s inside of you.

Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home

Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…

Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…
Ohh…ohh…ohh…

93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
’cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes…

*liriknya: 93 Million Miles

Soto Tangkar Asemka

Menemukan tempat makan enak nan murah itu amat menyenangkan, seperti yang kami rasakan siang ini di kawasan Asemka, kawasan kota tua.

Tujuan utama ke Museum Bank Mandiri. Tapi karena sudah lapar, maka aku dan kekasih memutuskan mau makan siang dulu. Daerah itu amat asing bagi kami, dalam hal lokasi makan enak. Maka sebelum berangkat, kami googling dulu. Kami menemukan ada penjual soto tangkar di kawasan Asemka. Rasa penasaran membuat kami ingin dan akan mencarinya.

Setelah keluar Stasiun Jakarta Kota, kami menyeberang lewat terowongan, lalu berjalan menuju Jalan Asemka. Terus. Kami terus berjalan, namun tak juga menemukan tempat makan itu. Kami pun menanyakan ke pedagang sekitar, dan diberitahukan lokasinya. Patokannya, jika menemukan pos terpadu di Jalan Asemka, langsung belok kanan. Kemudian gang pertama di sebelah kiri, segera masuk.


View Soto Tangkar in a larger map

Tempat pedagang ini agak terpencil. Masuk gang kecil. Meja dan kursinya pun tak banyak. Paling banyak hanya 5 orang makan bersamaan di situ.

Menu di sana ada soto daging, ayam, sapi, jeroan dan sejenisnya. Kami memesan soto sapi, namun ternyata sudah habis. Akhirnya kami memesan soto campur. Ada tulang lunak, emping, daun bawang dan jeroan di dalamnya. Soto ini disajikan terpisah dengan nasi, dan ditambah dengan kerupuk putih 1 buah.

Soto Tangkar di Jalan Asemka

Tangkar itu sendiri berarti tulang lunak. Dan menurut pedagang yang telah berjualan 10 tahun di tempat itu, soto ini asalnya dari Bogor. Kami kira dari daerah mana..

Setelah kami coba, ternyata sotonya enak. Soto campur yang tampilannya mirip tongseng, namun lebih muda warnanya ini, dagingnya lembut. Kuahnya juga enak. Pas lah di lidah. Harganya pun tak mahal. Hanya Rp. 10.000. Pantas banyak yang datang beli soto di sana (setidaknya saat kami selesai, ada sekitar 8 pembeli lainnya).

Kalau ada kesempatan sehabis belanja barang di Pasar Asemka, bisalah mampir kesini. Asal hati-hati saja dengan kolesterol.

Siomay Mami, Bikin Mau Lagi

Aku ingat dulu ketika masih kuliah, seorang teman namanya Ucrit, biasa dipanggil Asthri, sering membawa siomay buatan ibunya. Bagi mahasiswa dengan radar anak kos-an (baca: pecinta gratisan), ini ibarat upacara pesta. Bagaimana tidak? Siomay-nya enaaaaaak sekaliiii! Dan hari ini aku mencicipinya lagi.

Namun kali ini siomay itu sudah berlabel Siomay Mami. Dan sudah ada siomay keju, yang rasanya nyam nyam nyam! Kalau kata kekasihku, “enyak parah yg kezuuu.” Tapi siomay rasa asli juga enak kok.

Siomay sedang dikukus

Dan memang enak sekali. Ketika tengahnya terbuka, ada keju meleleh dari dalamnya. Apalagi kalau dimakan selagi hangat. Harganya pun tak mahal. Per butir antara Rp.3.500-4.500.

Kalau tertarik, bisa mampir-mampir ke situsnya dan pesan di sana. Pemesanannya bisa lewat telpon ataupun e-mail. Kalau jauh, bisa juga diantar ke rumah; ongkos kirim tergantung lokasi.