Pulang dari Taman Bunga Nusantara

Kami kira perjalanan panjang dan keliling-keliling di Taman Bunga Nusantara akan jadi akhir petualangan kami hari itu. Namun ternyata kami salah.

Kurang lebih pukul 16.00-an kami pulang ke Jakarta. Untuk rute pulang, kami berniat naik angkot ke Pasar Cipanas, lalu naik bus apapun ke Jakarta. Tak lama menanti di depan TBN, angkot kuning jurusan Cipanas sudah muncul. 20-an menit kami sudah sampai di Pasar Cipanas.

Kami mampir pasar dulu hendak beli oleh oleh. Kue-kue kering jadi pilihan. Bingung juga sih mau pilih apa. Tapi keripik talas dan keripik tahu sepertinya enak (memang enak!). Kami kira akan murah, tapi ternyata 1 Kg keripik tahu dan setengah Kg keripik talas menghabiskan Rp. 50.000. Namun untuk harga itu, sebanding dengan rasanya yang enak.

Keripik Tahu

 

Keripik Talas

Setelah keluar pasar, kami tertarik dengan Surabi dan juga Colenak. Bagi yang belum tahu surabi itu apa, surabi adalah kue mirip pancake, terbuat dari tepung beras dan biasa diberi kuah gula kelapa. Saat ini banyak variannya, seperti coklat, keju dsb. Kalau colenak (singkatan dicocol enak), terbuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar dan diberi parutan kelapa serta kuah gula merah. Bagi yang tak tahu bentuknya, kurang lebih seperti di bawah ini.

Surabi dan Wajannya

 

Dicocol Enak

Kami pun menerima 3 bungkusan, 2 paket surabi dan sepaket colenak. Setelah membeli air mineral kami menunggu di depan pasar.

Kami masih tidak yakin akan pulang naik bus apa. Terbayangnya, akan muncul bus Kurnia Bakti atau Doa Ibu yang menuju Kampung Rambutan. Ketika menunggu surabi pun, kami lihat bus Doa Ibu lewat di depan pasar. “Aman” pikir kami.

Tak berapa lama, bus hijau Kurnia Bakti muncul. Namun bukan bus AC seperti yang kami tumpangi tadi pagi. Karena tak yakin akan ada bus lain, maka kami naik Kurnia Bakti itu. Tapi keputusan kami itu salah!

Begitu masuk ke dalam bus, kami seperti masuk ke dalam ruang khusus merokok, dimana ruang tersebut penuh dengan orang! It was like a living hell! Masuk pintu bus, bagian kursi-kursi belakangnya seperti berkabut. Memang kami dapat duduk di bagian depan. Namun setelah mempertimbangkan secara kilat, kami turun dan mengambil risiko menunggu bus lain.

Sampai hampir jam 19.00 kami masih belum dapat bus. Kami hampir saja naik angkot menuju Ciawi dan mencari bus di sana. Tapi syukurlah, sebuah bus kapasitas 30-an, ber-AC, jurusan Jakarta, muncul dari kejauhan. Keputusan kami turun dari bus sebelumnya sangat tepat. Bus ini jauh lebih manusiawi. Fiuuuh!

Ternyata petualangan belum berhenti. Di depan pasar, macet sudah melanda. Seisi bus dihinggapi kecemasan. Supir dan kondektur pun demikian. Sampai akhirnya mereka memilih mengambil jalur lain, lewat Jonggol tembus Cileungsi. Penumpang yang ke arah Ciawi lalu diturunkan. “Kasihan juga sih mereka,”

Bus lalu berputar dan mengambil jalur tersebut. TBN kami lewati lagi. Jalur yang kami lewati ternyata serem.  Lewat pinggir jurang, jalan ajut-ajutan dan gelaaaap! “Ngeriii deh.” 

Perjalanan seram mulai pukul 19.00-an itu berakhir sekitar pukul 21.00-an, sampai akhirnya kami tiba di Cileungsi lalu Cibubur pada pukul 22.00-an.  Kami turun di Cibubur lalu lanjut naik taksi ke Depok, mengingat sudah cukup larut malam. Dan petualangan kami resmi berakhir!

“Syukurlah!”

 

Wisata Taman Bunga Nusantara

Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan (termasuk kemacetan di Ciawi dan menuju Puncak), kami tiba di Taman Bunga Nusantara dan siap berwisata!

Wisata di Dalam Taman Bunga Nusantara

Kami lalu masuk ke TBN dan membeli tiket. Begitu masuk kami disuguhi pemandangan luar biasa!

Panorama di Taman Bunga Nusantara

Kegiatan pertama yang ingin kami lakukan adalah berkeliling TBN menggunakan kereta, namanya Dotto Train. Uang Rp. 25.000 kami keluarkan untuk membeli tiket, sekaligus naik kereta.

Tapi karena menjelang makan siang, kami pun makan dulu saja. Di dalam TBN ada kantin, namun cukup kecil. kira-kira hanya bisa memuat 15-20 orang. Harga makanannya pun tidak murah juga. Rata-rata harganya 20 hingga 30 ribu rupiah. Karena penuh, kami pun makan di areal parkir TBN. Tapi ternyata sama mahalnya. Nasi pakai sup, ati dan ampela serta es teh manis 2 gelas, plus pocari sweat  kecil, harganya Rp. 28.000. Ugh!

Setelah makan, kami ke toilet, foto-foto sebentar lalu naik Dotto Train. Dengan kereta ini, kami diajak mengelilingi lingkar luar TBN. Mulai dari areal Taman Jam, Taman Perancis, hingga Taman Jepang dan rumah kaca. Perjalanan keliling ini memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Perjalanan Dengan Dotto Train

Berikutnya kami naik ke menara pantau, niatnya mau berfoto bersama. Setelah naik ke lantai 4, Aku sadar tak membawa konektor tripod dan kamera. Huhuhu. Batal deh foto bersama dengan tripod. Di menara ini pula kami bisa melihat seluruh area TBN, termasuk Taman Labirin yang akan kami sambangi.

Taman Rahasia

Kami turun lalu masuk ke labirin. Setelah berputar-putar, ternyata kami bisa sampai di tengah dengan cukup mudah. Ternyata tak sesulit yang dibayangkan; meski banyak orang lain yang tersesat. *sombong*

Selepas labirin, kami menuju taman-taman lain. Perancis, Bali, Jepang lalu Rumah Kaca jadi tujuan kami. Sebenarnya ada beberapa taman lain dan objek wisata lain, tapi kami tak datangi. Objek lain seperti go kart, kolam apung, kereta-keretaan, tempat outbound dan beberapa lainnya (lupa).

Di tengah-tengah perjalanan, hujan deras melanda. Untungnya kami sedang berisitirahat di semacam gubuk di Taman Bali. Sampai akhirnya atap yang bocor memaksa kami pindah. Tapi setelah hujan berhenti, udara nan segar dan matahari cerah, menyemangati wisata kami (baca: si kekasih foto-foto).

Ah, memang tempat ini tempat yang pas untuk dinikmati pemandangannya. Bunga di mana-mana. Warna-warni di sana sini. Apalagi kalau untuk foto pre-wedding. Eeh..

Setelah puas foto-foto, kami lalu membeli beberapa kaktus untuk oleh-oleh dan bergerak pulang ke Jakarta. Kami kira petualangan kami sudah selesai, namun ternyata belum lho..

…cerita selanjutnya tentang perjalanan pulang dari taman bunga nusantara.

Menuju Taman Bunga Nusantara

Berangkat gelap, pulang gelap, tapi seruu!

Kira-kira bergitulah perjalananku dan kekasih di awal libur panjang akhir pekan (23/03/2012). Bagaimana tidak? kurang lebih jam 05.30 kami sudah beranjak pergi ke Taman Bunga Nusantara (TBN) dan baru sampai Depok kembali jam 23.30-an. Namun di tengah-tengahnya, banyak petualangan seru yang kami alami. Mau tahu? Mari kumulai.

Menuju Taman Bunga Nusantara

Mengingat Jumat itu adalah permulaan long weekend, kami memutuskan berangkat pagi-pagi. Harapannya, jalanan masih kosong. Jam 05.30-an kami berangkat dari Depok menuju Kampung Rambutan (KR). Menurut info dari internet, kami bisa sampai ke TBN dengan menaiki bus dari sana, apapun yang menuju Tasikmalaya dan lewat Puncak. Katanya, naik bus Doa Ibu lalu turun di Pasar Cipanas dan naik angkot menuju TBN. TBN sendiri letaknya di Jalan Mariwati Km. 7, Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

 
Lihat Peta Lebih Besar

Tak sampai setengah jam kami sampai di KR. Setelah membayar Rp. 8.000 kepada supir, kami masuk terminal KR di mana terdapat bus antar kota antar propinsi. Untuk masuk ke dalam, kami membayar Rp. 2.000. Karena ragu, kami tanya petugas karcis. Katanya, kami bisa naik Doa Ibu atau Kurnia Bakti. Di samping tukang karcis, ternyata kondektur Kurnia Bakti sudah menjajakan busnya. Kami pun masuk terminal dengan kondektur di samping kami.

Kami masih belum yakin dengan bus tersebut. Beberapa informasi yang didapat, tak menyebutkan info apapun tentang bus tersebut. Namun akhirnya kami naik bus Kurnia Bakti, karena Doa Ibu tak kunjung muncul.

Jam 06.15 bus mulai beranjak. Tapi baru jam 07.00-an, setelah ngetem, bus berjalan keluar terminal. Setelah sampai jalan baru KR, bus sudah penuh. Banyak penumpang yang berdiri di koridor. Fiuh, kami beruntung bisa jadi dua penumpang pertama, sehingga bisa duduk dan memilih kursi.

Kondisi bus cukup nyaman: ber-AC, kursi cukup bersih dan yang penting tak ada asap rokok! Tarif bus ini cukup variatif. Kami sampai Cipanas, dikenai Rp. 15.000. Tapi ada mbak-mbak yang hanya membayar Rp. 7.000. Ada juga yang lebih dari itu.

Perjalanan penuh macet pun dimulai. Di dalam tol dekat Ciawi, kalau tak salah di KM 42, kami sudah mulai terjebak macet. “Dinikmati sajalah,” kata si kekasih.

Dan memang, sampai Puncak, kami masih menemui beberapa titik kemacetan. Meski demikian, kami beruntung karena saat naik ke Puncak, jalur turun sedang ditutup. Jadi bus kami bisa cukup lancar jalannya.

Dua Alternatif Jalur

Sesampainya dekat Puncak Pass, kami mulai bingung akan turun dimana. Rencana awal kami adalah turun di Pasar Cipanas lalu lanjut ke TBN. Namun sang kondektur bus bilang kami turun di Hanjawar (dibaca Hanyawar) saja. Kami pun memutuskan minta bantuan kondektur untuk mengingatkan jika sudah tiba di Hanjawar.

Kondektur pun menepati janjinya. Kami lalu turun di pertigaan Hanjawar. Lalu kami naik angkot lagi, berwarna kuning, menuju ke TBN. Tapi ternyata kami harus naik 1 angkot lagi agar sampai TBN. Setelah kami tanya supir angkot tersebut, ternyata ada angkot lain dari Pasar Cipanas menuju Mariwati, dan ini yang langsung sampai TBN. Mestinya ini yang tadi kami naiki jika turun di Pasar Cipanas.

Kami lalu diturunkan di perempatan, lalu nyambung angkot menuju TBN. Dan kami pun sampai di TBN kurang lebih pukul 11.00-an. Lumayan juga waktu yang dibutuhkan. Hampir 5 jam.  Tapi kami sudah siap untuk berwisata! TBN sudah menanti untuk dijelajahi!

Taman Bunga Nusantara Menanti

kisah selanjutnya di wisata di dalam taman bunga nusantara