tidak tahu mau menulis apa
tidak tahu mau menulis apa
“Nak, aku hanya bisa memberimu mentimun. Tak ada yang lain,” kata pak kancil sambil tertunduk.
“Nanti, kalau aku sudah bisa cari sendiri, lalu?”
“Nak, aku hanya bisa memberimu mentimun. Tak ada yang lain,” kata pak kancil sambil tertunduk.
“Nanti, kalau aku sudah bisa cari sendiri, lalu?”
menjadi matahari?
aku bulan, tentu aku tak bisa.
Tak perlu rangkai kata jadi puisi untuk gambarkan kita.
Karna, kitalah sang puisi, kekasihku.
kudekap dia, erat.
pelan, pelan, ku melepas pelukan.
Aku sayang dirimu, katanya.
Aku tersenyum,
dan kulihat ibu pun tersenyum balik.
oh, maafkan dia,
yang menghancurkan hati
dan
melelehkan air mata seorang ibu.
Aku ingin jatuh cinta kembali pada hujan,
yang memandikan ibu pertiwi akhir-akhir ini.
Aku ingin jatuh cinta kembali pada hujan,
yang memandikan ibu pertiwi akhir-akhir ini.
kulihat ke atas,
kutemukan
bulan tengah disunting langit:
sebuah sinaran cincin melingkari indah, tepiannya.
kulihat ke atas,
kutemukan
bulan tengah disunting langit:
sebuah sinaran cincin melingkari indah, tepiannya.
Rekomendasi
Komentar
- FA Triatmoko HS on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Book Wish List
- Ibe on Book Wish List
- Ibe on Tentang Kesederhanaan
- FA Triatmoko HS on Catatan Akhir Semester
- auliyyaa on Catatan Akhir Semester
- Novani Nugrahani on Tentang Kesederhanaan
- Bali, Saya Datang! | aku dalam kata on Sorry, You’re the Speaker
- iiE on Sorry, You’re the Speaker
- FA Triatmoko HS on Seminggu Pertama Kuliah
Kategori
- Acak (201)
- Artikel (1)
- Berita Dunia (12)
- Inspirasi (5)
- Lingkungan (2)
- Bukuku (1)
- Cerita (74)
- Foto (5)
- Pendidikan (4)
- Psikologi (44)
- Kebersyukuran (26)
- Kisah Manusia (12)
- Kreativitas (1)
- POPsy! (5)
- Puisi (66)
- Refleksi (19)
- Tentang Cinta (9)
- Twente (8)
- Ulasan (20)
Arsip
Telusuri blog ini




