tidak tahu mau menulis apa

 

“Nak, aku hanya bisa memberimu mentimun. Tak ada yang lain,” kata pak kancil sambil tertunduk.

“Nanti, kalau aku sudah bisa cari sendiri, lalu?”

 

menjadi matahari?

aku bulan, tentu aku tak bisa.

 

Tak perlu rangkai kata jadi puisi untuk gambarkan kita.

Karna, kitalah sang puisi, kekasihku.

 

kudekap dia, erat.

pelan, pelan, ku melepas pelukan.

Aku sayang dirimu, katanya.

Aku tersenyum,
dan kulihat ibu pun tersenyum balik.

 

oh, maafkan dia,
yang menghancurkan hati
dan
melelehkan air mata seorang ibu.

 

Aku ingin jatuh cinta kembali pada hujan,
yang memandikan ibu pertiwi akhir-akhir ini.

 

kulihat ke atas,
kutemukan
bulan tengah disunting langit:
sebuah sinaran cincin melingkari indah, tepiannya.

 

ah, sudah gatal jari ini ingin menyapamu kembali!

 

Switch to our mobile site