belum penuh memaafkan

ada perasaan benci,
terselip diantara keinginan untuk memaafkan;
aku belum sepenuhnya bisa memaafkan kau.
kau!
tak tahukah kau?
dirimu menggoyahkan kehidupanku!
meruntuhkan bangunan rasa percaya
yang telah berdiri lama,
menghancurkan kemapanan
yang telah tercipta lama.
aku tahu :

aku seharusnya bisa memaafkan.
tapi aku sadar,
baru sebesar ini aku bisa…
aku akan mencoba membesarkannya lagi…
tapi,

dibalik keguncangan ini :
ada kebijakan yang bisa kuperoleh,
ada kekuatan yang akan kudapatkan,
ada pembaharuan yang akan kurasakan.
karena itu : terima kasih Kehidupan…

lagu tentang rumah

mendengarkan lagu
yang memberi suasana nyaman bagimu,
kadang begitu menyenangkan
dan
di saat yang sama
kadang begitu memilukan…

menyenangkan karena :
penggalan cerita masa lalu yang kusimpan saja
dan gambaran cerita masa depan yang kubuat sendiri
mulai mengalir dalam pikiranku,
dan tentunya amat membahagiakanku.

memilukan karena :
penggalan cerita itu hanyalah tinggal cerita
dan gambaran cerita itu hanyalah tinggal angan
tetap mengalir dalam pikiranku,
dan tentunya amat menyedihkanku.

duduk di sudut

aku akan duduk kembali di sudut itu;
di tempat kita bercakap-cakap waktu itu.
hari ini aku akan kembali ke tempat itu,

duduk, melakukan tugasku
sambil menyimpan harapan:
kau datang lagi,
dan kita akan bercakap-cakap lagi.
hari esok aku juga akan kembali ke tempat itu.

duduk, mengamati pemandangan di jendela
sambil mengingat-ingat hari itu:
aku mendatangimu,
dan kita pun bercakap-cakap.
hari ini aku akan duduk kembali di sudut itu;

menantikan percakapan berikutnya.
aku ingin tahu,

apa makna waktu itu untukmu?
ketahuilah, ini maknanya untukku..

–di sudut ruang perpustakaan 10 Juli 2006

terlepas dari-aku-yang-menjalaninya

adakalanya,
hidup seperti terlepas dari-aku-yang-menjalaninya:
semua seperti terasa tanpa makna..
waktu berlalu begitu saja:
kilasan-kilasan manusia,
awan-awan bergerak,
dedaunan bergoyang;
lewat begitu saja di depan mataku
udara segar dari tetumbuhan; lewat begitu saja dalam paru-paruku
sentuhan-sentuhan lembut sahabat; lewat begitu saja-tanpa menancap tegas dalam hatiku

entah,
kapan keutuhan itu akan kembali kurasakan?
seperti waktu dahulu waktu kehidupan begitu indah..

lepas dari-kendali-ku

adakalanya,
hidup seperti terlepas-kendalinya:
semua seperti bergerak tanpa arah..
aku kesini,
aku kesana,
lalu kemari,
lalu kesitu,
dengan sedikit kendali..
aku melihat,
aku memikirkan,
aku merasakan:
tapi aku seperti tak mengendalikannya

entah,
kapan kendali itu akan kembali kuraih?
seperti waktu dahulu waktu kehidupan begitu indah..

bukan diriku

Bukan Diriku.
Bukan aku yang mampu
menerangi gelap malam mu.
Bukan aku yang mampu
melukis indah pemandangan hidupmu
Bukan aku pula yang mampu
memberi warna warni duniamu.
Aku hanyalah setitik debu
dalam setiap jengkal hidupmu.
Ada yang lebih sanggup
memayungimu dari kegelisahan.
Ada yang lebih sangup
memberi nafas yang kau ingini.
Adalah yang lebih mampu
menenangkan risau hatimu,
dan bukan diriku…

ada apa?

aku tidak tahu apa yang menggerakkan hatiku
hingga terus memikirkannya,
apa yang memenuhi hatiku
hingga terus ingin mendekatinya,
apa yang mendorong hatiku
hingga terus ingin mengenalinya..
aku ingin tahu,
apa yang sedang Kau kerjakan padaku?

maaf telah menghantam dirimu

maafkan aku dahulu,
aku telah memakimu,
telah mengantammu dengan kata-kataku,
mengejutkanmu dengan umpatan itu..
aku sungguh harus minta maaf padamu,
atau aku akan segera memperdalam lubang gelap kehancuranku sendiri..
Tuhan,
aku tahu Engkau tahu permintaanku…
bantu dia temukan kebahagiaan dalam hidupnya,
yang mungkin selama ini tengah diperjuangkannya…….
hanya kepadaMu aku bisa mengharapkan itu..
hanya kepadaMulah…
tak ada lain yang bisa…