tersumbat dan akhirnya terdiam

ada yang meletup di alam rasaku.
sebentuk entah-aku-tak-tahu-apa,
bagai meminta dialirkan;
menimbulkan kegelisahan hati.

perasaan itu mulai juga membuncahkan pikiran.

hasilnya,
satu dua kata mulai berkeliaran di alam pikirku.
bergerak kanan,
kiri,
putar,
balik,
mencoba mewujud jadi kalimat kalimat yang berarti,
sambil menyiapkan jalan
dan bersiap menitis sebagai huruf-diatas-kertas

namun,
apa itu yang tiba tiba menyumbat jalurnya?
apa itu yang menghambat lajunya?

jariku di muara sana,
seperti tuli;
tak mampu mendengar omongan pikiran,
dan tak sanggup menulis sepenggal katapun.

dan aku hanya terdiam..
diam..
dengan pena yang siap menggores,
namun tak bisa memulainya.

setelah berapa lama,
aku menyerah saja;
meninggalkan segumpal rasa yang tak terselesaikan ini.

berharap,
suatu waktu nanti
tiba giliran untuk merampungkannya.

*terinspirasi oleh writer’s block

© 2007 oleh FA Triatmoko HS

dua bocah di tepi jalan

di tepian jalan,
di siang yang penuh terik matahari,
dua bocah kecil sedang melahap
sebungkus nasi dengan ikan dan sayuran.

satu anak,
bercelana pendek,
berkaos hitam,
berkulit sama hitam
tengah menyendok santapannya,
dengan tangan dibungkus plastik hitam.
“supaya tidak terkotori tanah di jari jari” mungkin begitu pikirnya.

sesuap nasi, sesobek ikan, sedahan sayuran,
dijejalkan masuk ke mulut.
lagi,
lagi,
dan lagi..
begitulah siklusnya.

satu yang lainnya,
yang terlihat lebih kecil dan muda,
dengan tak sabar menanti giliran.
sama menantinya
seperti baju dan celana–pelindung kulit anak itu,
yang akan segera terkoyak gerusan waktu.
“aku lapar, kapan aku makan?” matanya mengatakan hal itu

satu suap, satu sobek, satu dahan,
lagi,
lagi,
dan lagi,
disaksikan tak jua masuk ke mulutnya..

akhirnya tiba waktu yang ditunggu.
si kaos hitam berhenti makan,
dan kini saat bagi yang lebih muda untuk mengambil kesempatan;
menghabiskan separuh rejeki di depannya.
diganyanglah makanan itu..

aku,
mengamati dari sisi jalanan yang lain.
aku,
memalingkan mataku agar tak memperhatikan mereka.
dan mataku menurut.
aku,
mengalihkan pikiranku agar tak memikirkan mereka.
dan pikiranku tunduk.

tapi,
yang ada di dalam dada;
hatiku,
seolah memiliki mata dan pikiran sendiri.
hatiku terus melihat mereka–dengan matanya sendiri,
hatiku terus memikirkan mereka–dengan pikirannya sendiri.

dengan mata dan pikiran melihat lurus ke depan,
bersama kaki yang melangkah lurus pula,
aku meninggalkan tempat itu.

tapi hatiku,
masih menatap
masih merenungkan kedua anak tadi..
menahan diriku menapak..

hatiku,
masih tertinggal di sekitar meja makan si kaos hitam dan si muda.

© 2007 oleh FA Triatmoko HS