Ingin Menginspirasimu

Bepergian dengan bis dan angkot memang menyenangkan; jika kita kesampingkan masalah kemacetan. Saat-saat duduk di kursi yang keras dan jauh dari nyaman itu selalu bisa kugunakan untuk melakukan hal yang kusuka: berpikir. Mulai dari mengomentari papan iklan besar yang terpampang di pinggir jalan, hingga memikirkan krisis iklim atau masalah kehidupan dan kematian. Kadang pikir memikir ini membuatku lelah, namun kadang membuatku terkagum-kagum sendiri; seperti hari ini.

Pagi ini, begitu bangun tidur jam 7, langsung dibuka dengan menulis. Alasanya sederhana: sudah entah berapa lama hari Sabtuku selalu terisi, entah itu dengan bekerja atau pergi-pergi. Jadi ketika ada kesempatan menggunakan waktu yang banyak, kuputuskan untuk mengisinya dengan menulis. Sampai kurang lebih jam 9, sebuah tulisan tentang bangun tidur di pagi haripun selesai tertuang di blog (berlanjut ke milis Agenda 18 dan notes Facebook). Selanjutnya, sempat istirahat sebentar, menonton tivi, lalu mandi dan pergi ke Plaza Senayan.

Selama perjalanan, makin intens ketika perjalanan pulang, pikiranku melayang ke kejadian pagi ini: menulis. Aku memang suka menulis; walau bisa dibilang saat ini sedang dalam keadaan kurang produktif. Topik penulisanku juga beberapa macam; tulisan singkat (macam microblogging 140 karakter), cerita-cerita lucu, (kadang) cerpen, artikel psikologi dan kisah-kisah curhat teman-temanku. Pikiranku di hari ini sedang fokus pada “apa sebenarnya yang mendasari kepenulisan ini?”

Kucoba membedah tulisan-tulisan yang pernah kuhasilkan dan mencoba memahami sari yang sama diantara mereka. Awalnya kupikir, keinginan untuk berbagi yang melandasinya. Memang, Aku senang berbagi sesuatu, tapi nampaknya bukan hanya itu; ada yang lebih dari itu. Tapi apa ya?

Pandangan kuperluas, tak hanya mengenai tulisan, namun juga segala tindak tandukku. Yang terpikirkan adalah saat Aku menyampaikan sesuatu; entah itu saat mendengarkan teman yang curhat, memberikan pendapat tentang skripsi mereka, atau bahkan saat memberikan umpan balik pada pengajar mengenai e-learning. Di dalam kejadian-kejadian itu, Aku menemukan bahwa Aku ingin sekali memberikan pengetahuan, hingga bisa melakukan sesuatu; memotivasi mereka.

Inspirasi! Itu dia istilah yang kucari!

Dari semua yang kulakukan itu, ujung-ujungnya Aku ingin orang tersebut mendapatkan sesuatu; pengetahuan, pemahaman, dll, sehingga mereka bisa melakukan sesuatu. Ya, itulah dia yang kumau, dan Aku menyebutnya menginspirasi. Dan yang lebih menyenangkan adalah: menginspirasi ini bisa dilakukan di segala bidang; baik dalam pekerjaanku menjadi fasilitator, sebagai koordinator komunitas menulis, dan juga ketika teman-teman meminta opiniku. Aku tetap bisa menginspirasi di setiap peran itu.

Kebahagiaan menyelimutiku seketika.

Terbayang besok Aku akan mulai menjadikan ini sebagai dasar dalam bertingkah laku. Sulit memang, tapi paling tidak itu adalah sesuatu yang kusukai dari dalam, sehingga tentunya akan jauh memudahkanku.

Jadi, kalau Aku sudah menemukan apa yang kusuka, bagaimana dengan Kamu?

Hanya Pemikiran Kita Yang Tidak Baru

Kubuka mata setelah tidur menutupnya malam ini. Kugapai-gapai ponsel, yang biasanya ada di samping kiri badanku (atau kadang tertindihnya). Kupicingkan mata menatapnya; mencoba mencari tahu jam berapa sekarang.

05.36. Begitu terlihat di layarnya. Sudah beberapa minggu ini aku selalu terbangun di jam-jam yang kurang lebih sama seperti hari ini.

Aku jadi teringat pada suatu masa dalam hidupku. Kala itu, Aku terbangun di pagi hari dalam kondisi tak menyenangkan; badan letih, tak termotivasi karena tak ada tujuan yang jelas. Belum lagi aura ketidakjelasan yang terasa hingga seharian. Dan di malam harinya, perasaan bersalah menyerang karena telah menyia-nyiakan hari ini. Hidupku seperti hanya berputar-putar begitu saja setiap hari.

Kalau Aku mengingat-ingatnya, ada campur-campur perasaan yang kualami. Menyesal, pasti; kenapa dulu Aku bisa ada dalam kondisi itu? Sedih, iya; betapa Aku membuang-buang waktu masa itu. Tapi Aku juga bahagia. Pengalaman itu memberikanku sebuah cara pandang baru terhadap kehidupan. Kata orang bijak, kita akan mengetahui keberhargaan sesuatu jika kita kehilangannya. Yup, itu yang kualami. Tak ada bahagia-bahagianya diriku saat itu. Semua yang terjadi seperti bekerja melawanku. Apapun yang kulakukan pun seperti melawan arus hidup. Tak ada benarnya diriku rasanya. Aku sadar betapa membahagiakannya sebuah kebahagiaan itu.

Namun itu dulu.

Pagi ini, kubuka dengan puji syukur dan harapan-harapan. Jendela di belakang kepalaku segera kubuka juga, sambil kubangunkan badan ini. Kusibakkan gordyn dan tampaklah gelapnya pekarangan rumahku. Kubuka kunci jendela, lalu jendelanya. Udara dingin segera menyentuhi kulitku, mengaliri kamarku; sayang sekali model jendelaku tak memungkinkan untuk dibuka selebar-lebarnya, dan membiarkan udara pagi memenuhi kamar. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang dan kuhembuskan keluar. Belum puas, kutarik nafas lebih panjang, lalu kuhembuskan lagi. Tarikan ketiga lebih kuat lagi, hingga memenuhi paru-paruku. Kurasakan energi pagi memenuhi tubuhku. Kurasakan dia mengalirinya.

Kubuka mata dan mendapatkan pemahaman: udara, pepohonan di sekitar rumahku memang itu-itu saja; tak banyak perubahan. Namun pasti ada sesuatu yang baru dari mereka, entah itu ada sel-sel baru yang lahir, ada hewan baru yang menghuninya, dan juga oksigen baru yang telah membantu fotosintesis di hari sebelumnya. Aku, sebagai bagian dari dunia yang sama pula, bukan tidak mungkin terikat dengan hukum alam yang sama pula. Pasti ada sesuatu yang baru juga dalam tiap harinya. Sejenak kupikir.

Aha! Tampaknya, pemikiranku sendirilah yang mengaburkan pemahaman itu. Pemikiran bahwa hari ini akan jadi hari yang sama seperti kemarin!

Kubalik badanku, membuka pintu, keluar dan bersiap untuk mandi. Ya, memang hari ini akan sama seperti hari-hari kemarin; bangun pagi, makan, mandi, berangkat ke kantor, bekerja, pulang (sesekali mengunjungi rumah kekasih) lalu tidur dan bangun lagi. Namun, bahwa setiap hari adalah sesuatu hari yang benar-benar baru dan sayang jika dianggap sama seperti hari-hari lalu, membuatku beraktivitas dengan gaya yang berbeda juga. Pastinya Aku akan menjalani peran lamaku, namun kali ini penuh dengan nuansa baru.