Sayang, Aku Bukan Supir

Mengikuti berita pasangan selebritis sangatlah menarik. Bukan karena aku adalah penggemar mereka, namun karena ada saja hal-hal lucu-ajaib-tak bisa dipercaya, yang keluar dari mereka.

Siang itu aku dan kekasihku sedang, tak sengaja, menonton sebuah acara gosip. Di dalam tayangannya ada pasangan selebriti tengah diwawancara. Dari wawancara diketahui bahwa alasan si selebriti wanita sayang pada si selebriti pria adalah, “Dia selalu ada saat aku butuhkan.”

Sontak aku pun kaget.

“Ada setiap kali dibutuhkan?”

Dalam pikiranku, “Kasihan sekali cowoknya.”

Seperti diketahui, kebutuhan manusia itu banyak. Logikanya, kalau si wanita bilang bahwa prianya selalu ada saat dibutuhkan, berati tiap kali dia membutuhkan sesuatu, si pria akan langsung ke tempat si wanita berada, untuk memenuhi kebutuhannya.

“Hahahaha! Menurutku itu sesuatu yang tidak realistis dalam hidup ini.”

Memang, sebagai pasangan, alangkah baiknya jika bisa memenuhi kebutuhan pasangannya. Namun bukan berarti harus dan selalu. Menurutku, akan ada saatnya dimana pasangan kita tak ada saat dibutuhkan. Di saat semacam inilah orang tersebut akan belajar untuk mengendalikan dirinya, mencoba mencari jalan keluarnya sendiri, dan ujung-ujungnya, belajar untuk mandiri.

Saat si wanita berkata seperti itu, aku pun menyahut ke arah kekasihku, “Wah, bukan gue banget tuh.”

Maklum, aku memang bukan tipe yang seperti si pria selebritis. Aku tidak selamanya bisa selalu hadir menemani kekasihku. Jarak rumah yang jauh dan kesibukan masing-masing, menjadi faktor utama penyebabnya. Meski begitu, kekasihku memandangiku dan tersenyum serta membelai pipiku. Saat itu aku tahu, di dalam keterbatasan kami ini, dia tetap menyayangiku (terima kasih ya).

Kami pun menyeletuk dan tertawa bersama, “Selalu ada? Supir itu namanya! Hahahahahaha!”

PS: Sore ini kekasihku menerima email. Isinya, dia tidak diterima dalam program Erasmus Mundus. Hilang deh harapan bersekolah di Norwegia, Malta dan Irlandia. Meski demikian, aku sangat (amat) bersyukur, ketika surel itu masuk, aku sedang duduk di sampingnya. Aku memang tak begitu tahu persis perasaanya saat itu. Namun begitu aku sudah pulang, ada pesan singkat masuk ke ponselku, “Gue tau kenapa pengumumannya hari ini. Karena tadi ada elo di samping gue, waktu terima kabar kalo gue gak dapet. Makasih dukungan mas yah.”

Ah, syukurlah atas hari ini.

@Food Court Margo City, Depok.

Belajar Menulis Cerita Pendek

Seingatku, aku sudah mulai menulis sejak SD; di pelajaran mengarang. Dan seingatku juga, aku dulu menyukai pelajaran itu. Hal tersebut nampaknya bisa kujadikan dasar bahwa sebenarnya dari dulu aku sudah suka menulis. Namun, seingatku juga, aku jarang sekali menulis cerita pendek.

Sejak SMP, aku biasa menulis tulisan-tulisan singkat; dua hingga 5 baris. Kebiasaan ini bertahan hingga kuliah. Baru setelah lulus dan ikut pelatihan jurnalistik bersama Agenda 18, aku mulai mencoba bentuk tulisan baru. Aku jadi tahu tentang menulis hard news dan juga softnews. Namun, belum sampai cerpen.

Menulis cerpen itu ibarat ingin memakan mentimun; meskipun mau tapi aku tak bisa karena akan dibuatnya pusing. Sekitar tahun 2008/9, aku pernah membuat 2 cerpen untuk dikirimkan ke majalah Hidup. Namun tak ada yang masuk.

Satu diantaranya sebenarnya pernah diberi komentar oleh F. Rahardi. Meski demikian, kurangnya waktu membuatku tak bisa menyelesaikan cerita itu. Jadinya berimbas panjang: aku jadi jarang menulis cerpen. :(

Kemudian aku ikut les menulis esai akademis Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional UI. Ini membuat keinginan belajar cerpen menurun lagi. Apalagi saat aku mulai menikmati menulis gaya esai; plus gaya feature jurnalistik. Cerpen menjadi urutan kesekian dalam daftar “ingin belajarku”.

Tapi semesta berkata lain. Kesempatan belajar cerpen muncul saat seorang temanku ternyata mengajar kelas menulis ekspresif di PlotPoint. Aku jadi tertarik ikut salah satu kelasnya. Setelah melihat-lihat katalognya, terpilihlah kelas cerpen online! Mengapa kelas cerpen online? Pertama karena aku bisa belajar cerpen, kedua karena aku bisa belajar tentang sistem kelas online tersebut. “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui,” begitu pikirku.

Kelas itu akan diadakan selama 5 minggu, dimana di masing-masing minggunya akan ada tugas. Tutor di kelas ini adalah Sitta Karina, penulis novel, cerpen dan esai. Seru sekali tampaknya!

Hari ini, aku sudah masuk hari pertama di kelas ini. Ada 10 orang di kelas ini. Kamipun sudah berkenalan di forum diskusi online-nya. Aku yakin akan bisa belajar banyak dari kelas ini; baik dari tutor maupun teman-teman sekelas. Tapi harapanku tak muluk-muluk. Aku hanya ingin bisa menulis beberapa cerpen dulu saja. Kalau nanti ketagihan, ya urusan belakangan. :D

Gratitoday: 080211

Syukurlah atas hari ini!

Sudah hampir 20 hari lalu sejak Gratitoday terakhirku. Sejak itu, sudah banyak hal-hal baru yang amat layak disyukuri.

Sampai saat ini, aku belum menerima kabar pengumuman apakah aku diterima kuliah lagi atau tidak. Sebel bercampur deg-degan sih. Tapi tak apa. Aku jadi punya waktu untuk konsentrasi mengerjakan kegiatanku seperti biasa.

Selain itu, di bulan Februari aku memberikan 2 kali pelatihan e-learning. Satu bagi pengajar di fakultas kedokteran dan 1 di fakultas kesehatan masyarakat. Pelatihan yang pertama, kurasa lebih menguras tenaga; baik ketika pelatihan maupun dalam perjalanan menuju ke dan dari sana Sedang pelatihan kedua, seru sekali, karena hanya 3 orang pesertanya! Dengan sedikitnya jumlah peserta, diskusi jadi lebih hidup.

Di bulan ini juga aku memiliki sepatu untuk jogging; dan sudah sekali dipakai lari serta beberapa kali jalan-jalan. Semoga bisa terus dipakai untuk lari. Ini dia penampakannya.

Namun diantara itu, yang tak lupa harus disyukuri adalah proyek pengembangan mata kuliah e-learning di kampus dan 2 insiden kekerasan di Pandeglang dan Temanggung. Untuk yang pertama, meskipun menyita waktu, pikiran dan tenaga, plus akrobat jumpalitan, tapi aku yakin ini akan membuatku belajar hal-hal baru. Untuk yang kedua, aku yakin dengan adanya dua insiden tersebut, kesadaran masyarakat akan pentingnya Bhineka Tunggal Ika akan semakin tinggi.

Oh iya, hari ini kekasihku sakit. Katanya ia terserang bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih. Katanya, kalau ia buang air kecil, akan terasa sakit :( Namun sore ini dia sudah ke dokter. Semoga lekas sembuh ya.

Syukurlah atas hari ini!