Monggo Coklatnya

“Tadi lo bawa coklat gue dari kulkas ya?”

Begitu pesan singkat kukirimkan pada masku. Alasannya simpel. Sebatang coklat Monggo milikku di dalam kulkas, telah raib saat mau dimakan.

Sebelum kubuka kulkas, terbayang rasa coklatnya yang agak pahit. Terbayang pula mau laporan di plurk. Namun begitu kubuka, coklat itu telah hilang. Api seperti membakar hingga ubun-ubun. Coklat itu diberikan kekasihku sebagai oleh-oleh dari Jogja. Sebenarnya ada 2, tapi 1 batang telah kuberikan pada mbakku. Jadilah coklat yang raib itu satu-satunya yang kupunya.

Kututup kulkas dengan sedikit membanting. Aku pun misuh-musih pada bapak dan ibu yang di sekitarku.

“Paling dibawa mas,” kata bapak.

Kemungkinan memang benar sih. Soalnya tak ada orang lain di rumah, yang mungkin suka dengan coklat itu. Maka segera kuambil HP dan kukirimkan pesan itu dalam kemarahan.

Ternyata benar. Sepulangnya ia, katanya, “itu coklat elu ya?”

“Iya.”

Kemudian ia berlalu.

“Ugh!”

Itu kejadian kemarin. Sore ini, aku terkejut ketika membuka kulkas. Sebatang coklat monggo muncul kembali. Kulihat label harganya, dan disana tertulis “Mirota Batik”.

“Iya, itu benar coklat oleh-oleh dari Jogja.”

Aku malu.

Memang, coklat itu oleh-oleh dari kekasihku; dibeli di Jogja pula. Memang, coklat itu tinggal satu-satunya. Tapi apa perlu aku marah sebegitu hebatnya? Apakah persaudaraan kami lebih murah dari coklat seharga 14 ribu rupiah itu?

Aku makin menyesal.

Kuambil kembali ponselku, dan kuketik sebuah pesan singkat.

“Sori ya, kemaren gue sebel karena coklatnya ilang. Soalnya dari Tasya dan tinggal 1. Kalau mau makan, makan aja tapi sisain juga buat yang lain :)”

Segera kukirim pesan itu, dan hatiku pun lega.

Mas, maaf ya.

Tuhan, ampuni hambamu ini.

*Monggo, dalam Bahasa Indonesia artinya “silahkan”.

Gratitoday: 150411

Syukurlah atas hari ini!

Setelah hampir 40 menit dari pertama kali weker berbunyi, aku akhirnya bisa bangun, mandi dan lalu siap bekerja. Hari ini aku ditugaskan menggantikan atasanku untuk rapat di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Sesi hari ini dimulai jam 09.00 dan akan membahas panduan program pendidikan jarak jauh.

Agar tak kena macet, aku berniat bangun pagi. Rencananya jam 04.30 aku sudah bangun dan membaca-baca bahan rapat. Tapi apa daya, kantuk mendera. Jadilah jam 05.20-an baru bangun. Mandi, pakai baju lalu aku makan.

Pagi-pagi sudah disuguhi terlu dadar gulung buatan ibu. Yummmy!

Pukul 6 lewat, segera ku jalan ke gang depan, akan menunggu angkot. Ya, untuk urusan pergi jauh, aku lebih senang naik bis. Kalau naik motor, aku merasa lebih mudah capai. Sedangkan di bis, aku bisa duduk, ngelamum, mikir ini itu atau tidur.

Setelah bingung beberapa saat, kebetulan membuatku memutuskan naik Transjakarta. Tampaknya tak sia-sia pilihanku. Setelah turun di kawasan Mabes Polri dan sedikit terjebak macet, aku sampai di TKP pukul 8 kurang.

Jam 9-an, rapat dimulai. Aku tergabung dengan beberapa orang dengan wajah familiar dan tidak. Salah satunya adalah pemberi rekomendasi yang membuatku diterima kuliah di University of Twente.

Rapat pun selesai jam 16-an. Capek memang. Namun aku bangga. Meski statusku hanya menggantikan atasan, tapi aku memiliki kesempatan berdiskusi dengan orang-orang hebat yang peduli dengan pendidikan nasional. Tak kalah membanggakan, di situ aku andil dalam pembuatan panduan pendidikan jarak jauh dan juga revisi peraturan menteri tentang hal itu. Serunya!

Selepas selesai, aku pulang kembali ke rumah.

Kebingungan kembali menyeruak. “Jam segini, dimana-mana pasti macet.”

Benar saja. Selain macet, bis yang kutumpangi pun mogok. Terpaksa aku pindah bis; penuh dan harus gelantungan di pintu. Alhasil, sampai rumah jam 20-an dengan tangan pegal.

Tapi tak mengapa. Di meja dapur, sekotak martabak telur sudah menanti. Yummy!

Syukurlah atas hari ini!

Senja Remang-remang

“Papa, apakah kau sungguh akan pergi?”

“Mama, aku baru saja pulang kerja. Masih capek. Kenapa ditanya macam-macam sih?” sambil berlalu menuju kamar tidur.

“Mengapa, pa? Mengapa?” aku pun mengikutinya.

Dia tak menjawabku. Sambil melepaskan dasi dan kemeja, dia menuju ranjang kami dan duduk disana.

“Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi dan tak kembali lagi,” katanya.

“Kau tak lagi peduli padaku? Peduli pada anak dalam kandunganku?” kudekati dan kupeluki dia. Kubiarkan tangisanku membasahi tubuhnya.

“Justru karena aku tak mau melukaimu, makanya aku pergi. Apa katanya kalau sudah besar nanti?”

Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasibku dalam hati. Hanya dalam hati. Berharap si jabang bayi bisa mendengar lalu meminta papanya untuk tinggal.

Dia melepaskan pelukanku dan mulai mengepaki pakaiannya. Aku terduduk lemas di depan cermin.

“Maafkan aku. Nanti tiap bulan akan kukirimi uang,” setelah memakai kaos, ia berlalu dan keluar dari pintu.

Kepergiannya memang sudah kuduga sejak dulu. Tapi tak kusangka akan secepat ini.

Kupandangi lekat-lekat wajahku di cermin dalam geming. Pantulannya menggambarkan seorang wanita dalam tangisan putus asa. Cermin ini juga yang memantulkan wajah papa saat sedang bedakan, memakai wig dan memulas bibirnya dengan lipstick, sebelum bekerja kembali.

*cerpen hasil kelas penulisan cerpen bersama PlotPoint.

Tentang Kesederhanaan

Kupikir selama ini aku orang yang sederhana, namun ternyata aku belum, dan masih jauh dari sana.

Aku lahir dan besar dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bisa dibilang cukuplah, untuk bisa hidup sehari-hari. Bahkan aku dan kedua kakakku bisa kuliah, meski ibu hanya guru SD dan bapak hanya karyawan biasa.

Dari kecil aku terbiasa tidak hidup menghamburkan uang. Kuingat ketika SMP, kepergianku nonton bioskop 21 bisa dihitung dengan jari tangan kananku saja. Begitu pula saat SMA. Tiga tahun sekolah di kawasan Bulungan, kedatanganku ke Blok M Plaza juga bisa dihitung dengan jari tangan sebelahnya lagi.

Ketika kuliah, biasa dengan hidup susah; makan dengan uang pas-pasan, pulang naik angkot dan kereta ekonomi atau harus ikutan puasa jika mau beli celana jins baru. Sudah begitu, celananya dicuci sendiri tiap minggu.

Namun kini, setelah memiliki penghasilan sendiri, kok tampaknya aku melemah. Tadinya saat makan, harganya dibatasi sekian rupiah, kini batasannya meningkat. Sekarang sudah lebih memilih naik patas AC, kereta ekonomi AC atau Transjakarta. Lalu kalau mau beli pakaian tapi tak bawa uang, bisa langsung pakai kartu debet.

Tak cuma itu. Beli laptop yang seharga motor. Beli setumpukan buku; beberapa tumpuk. Beli kamera, bersama beberapa lensa. Beli ini. Beli itu. Dan banyak lainnya.

Perubahan ini ternyata memunculkan disonansi: “katanya aku sederhana, tapi kok kelakuannya begini?”

Lalu aku sampai pada kesimpulan bahwa dengan memiliki uang itu sama sulitnya dengan tak memiliki uang. Bahkan kalau boleh kubilang, lebih sulit. Ibaratnya, semakin tinggi pohon, angin makin kencang meniup.

Benar juga teori ekonomi ya? Semakin banyak penghasilan, konsumsi pun semakin banyak. Ada saja yang ingin dibeli. Apalagi bagiku yang dulu tak mudah mendapatkan sesuatu. Seperti kuda lepas dari kekangnya. Jika dulu kesederhanaan muncul dari keterbatasan, maka jika keterbatasan hilang, kesederhanaan pun hilang akarnya. Sebab itu, saat ini kesederhanaan harus diusahakan secara sadar. Bukan lagi karena dibatasi ketiadaannya penghasilan, seperti ketika jadi mahasiswa, tapi karena adanya keinginan sadar dari dalam untuk hidup cukup tak berlebih.

Hmmm. Tampaknya aku masih perlu banyak belajar untuk menghayati nilai kesederhanaan. Belajar lagi untuk mengelola penghasilan. Dan lebih dalam lagi, mengelola keinginan ini dan itu; jika ingin bisa mengajarkan nilai kesederhanaan pada istri dan keluargaku nanti.

Belajar dari Ayu Utami

Sebuah pintu kayu berukuran kurang lebih 1×2 meter menerima kedatangan kami. Dari dalam, keluar sesosok wajah bermata tajam dengan senyum mengembang. Dia adalah  Ayu Utami. Dan hari ini, aku dan teman-teman Agenda 18 akan belajar tentang menulis dan filosofi tulisannya dari novelis peraih Katulistiwa Literary award 2008 itu.

Setelah memborong beberapa buku diskon di Gramedia Matraman dan nyasar di kawasan Utan Kayu, kami akhirnya tiba di rumah Mbak Ayu. Rumahnya tampak bersahabat dengan lingkungan. Di pagar depan ada serumpun bambu. Begitu masuk ruang pertama, langsung masuk ke ruang kerjanya. Di ruangan itu, sama seperti ruang lain, tak ada pendingin ruangannya. Sebagai ganti, ruangan tersebut berjendela banyak, tak berpintu bagian dalamnya dan tinggi jarak antara lantai dan atap. Ia juga membuat pupuk kompos untuk tanaman di rumah. Beginilah caranya untuk tidak tergantung dengan teknologi dan menjadi terpisah dari alam sekitar.

Begitu masuk, mata otomatis diarahkan ke sebuah dinding dengan lemari buku besar. Entah ya, mungkin ukurannya 10x5m; dan isinya buku semua. Sebuah tangga beroda tampak bersandar disana. Di sebelahnya, semuah meja kayu, kursi dan laptop berinternet. Di sinilah Ayu biasa menulis, sambil juga membaca.

Ia lalu menempatkan sebuah kursi di depan meja perpustakaannya dan mulai berkisah.

Menurutnya, ia tak pernah merasa jenuh ketika menulis. Ia selalu punya sesuatu untuk ditulis. Kejenuhan ini beda dengan tak bisa menuangkan ide. Kalau itu, dia juga pernah mengalaminya. Solusi yang dijalankannya: istirahat dulu, nonton film, main piano atau naik papan panjat.

Terkait dengan hobi panjat dinding dan naik gunung, novelis berusia 42 tahun ini mengaku hobi ini sangat berpengaruh terhadap penulisannya. Ketika menulis Bilangan Fu, ia bisa naik ke Gunung Gede 3 kali dalam sebulan.

Dari beberapa cerita yang telah dibaginya, yang menurutku menarik adalah pendapatnya mengenai pengaruh alkitab bagi penulisannya. Ditemani ubi dan talas rebus, sari kacang dan diiringi rintik hujan, ia membagikan pandangannya itu.

Ayu, yang dibesarkan di keluarga penganut Katolik,  merasa sangat terinspirasi oleh kitab sucinya. Meski saat ini ia mengaku tak lagi mempercayai institusi agama, tapi kitab suci sangatlah menarik baginya. Katanya, di dalam cerita alkitab, banyak hal yang bisa didapat. Kita bisa menemukan berbagai macam karakter manusia, sebagai bahan pembuatan karakter. Juga bisa ditemukan berbagai macam konflik di sana. Dia sangat kaya sebagai karya sastra. Namun yang terpenting, nilai-nilai di dalamnya yang kemudian menjadi dasar pemikiran Ayu dalam melakukan berbagai hal.

Selain itu, dia juga mengutarakan pandangannya terhadap pertelevisian di Indonesia. Menurutnya, saat ini jarang ada acara televisi bagus. Oleh sebab itu, dia merasa tak butuh televisi teknologi terbaru. Televisi di ruang kerjanya, hanyalah televisi jadul yang difungsikannya jika ingin menonton DVD.

Ngobrol dengan Mbak Ayu memang butuh kemampuan menalar agak mengawang. Topik bahasannya banyak yang filosofis dan mendasar. Sehingga perlu perhatian ekstra dalam memahaminya. Namun, pemikiran kritis itulah yang memang menjadi ciri khasnya yang ingin ditularkan pada orang lain.

Tak terasa pukul 4 lewat. Kami pun segera mohon pamit pada empunya rumah. Setelah sesi foto-foto dan tanda tangan, kamipun bertolak dari rumahnya.

Terima kasih sudah bersedia diganggu hari Minggunya. Lain kali kami ganggu-ganggu lagi.