Jason Mraz – I Won’t Give Up

Lagu yang sangat indah, tentunya! :)

Jason Mraz – I Won’t Give Up

 

Hmmmm … Hmmmm … Hmmmm … Hmmm …

When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
There’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find

‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got yeah, we got a lot at stake
And in the end, you’re still my friend at least we did intend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I’ve got, and what I’m not
And who I am

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
Still looking up.

I won’t give up on us (no I’m not giving up)
God knows I’m tough enough (I am tough, I am loved)
We’ve got a lot to learn (we’re alive, we are loved)
God knows we’re worth it (and we’re worth it)

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

lirik dari azlyrics.

Sherlock: Sebuah Review

Intelectually and emotionally rewarding!

Serial televisi ini adalah adaptasi dari Sherlock Holmes karya klasik Sir Arthur Conan Doyle. Disutradarai oleh Steven Moffat dan Mark Gatiss, serta diperankan oleh Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock, Martin Freeman sebagai kawan setianya, Dokter John Watson, serta Rupert Graves sebagai Inspektur Lestrade.

BBC Sherlock

Sherlock Holmes dan Dr. Watson modern

Dikisahkan di sini bahwa Sherlock dan Dr. Watson berkeliaran di jalanan Baker Street di abad 21, bukan lagi di tahun 1891-1904. Tentu saja, lengkap dengan ponsel, laptop, internet, mikroskop dan berbagai teknologi lainnya. Dr. Watson yang senang menulis jurnal pun, diceritakan memiliki blog tentang petualangan mereka berdua. Bahkan Sherlock punya situs sendiri; The Science of Deduction.

Serial yang sudah mengudara selama 2 seri, masing-masing 3 episode ini sangatlah menarik. Kisahnya penuh teka-teki yang membuat pikiran tak berhenti bertanya-tanya. “Bagaimana selanjutnya? Apa jawabannya?”

Dan pada akhirnya, semua terkuak dan it’s a delightful experience!

Meski demikian, serial ini tak kehilangan sisi emosinya. Interaksi antara kedua tokoh protagonisnya menghidupkan suasana. Sherlock yang brilian namun minim kemampuan sosial, berpadu dengan Watson yang berani dan penuh empati. Belum lagi “kisah cinta” Sherlock dengan Irene Adler serta perseteruan abadinya dengan Jim Moriarty.

Sejak 2010 hingga sekarang sudah 6 episode mengudara di BBC: A Study in Pink, The Blind Banker, The Great Game, A Scandal in Belgravia, The Hounds of Baskerville dan The Reichenbach Fall. Mungkin akan ada lagi yang berikutnya?

Kesimpulanku, jika dibandingan dengan 2 versi filmnya, aku lebih suka serial ini!

Surat Untuk Kekasih

Aki aki minum selasih.                                                   Hai kekasih!

Aki-aki memoles roti dengan selai.                              Maaf ya, hari ini aku lalai.

Aki aki makan roti sambil nonton Jumanji. Iya, benar tadi aku tak menepati janji.

Aki aki duduk di depan tivi sama besan. Karenanya, aku tidak akan memberi alasan.

Aki aki juga sudah siapkan udang galah. Tidak ada alasan karena aku memang salah.

Aki aki kedinginan lalu nyalakan tungku. Dan sebab itu aku harus mengaku.

Aki aki senyum bak melihat pelangi. Aku akan berusaha tidak mengulangi.

Aki aki senang dan tak jemu. Salam, dari kekasihmu.

17 Januari 2012

Jumat Sehat

Semasa SD, tiap pagi sebelum masuk kelas, aku dan kawan-kawan selalu bermain bola di lapangan. Tak jarang kami disetrap karena masuk kelas dalam keadaan basah kuyup dan bau. Waktu SMP, pelajaran yang kutunggu-tunggu adalah olahraga, karena bisa main bola.

Ketika SMA, hampir setiap pulang sekolah atau istirahat, selalu bermain bola; tak terkecuali saat pelajaran olahraga. Tak beda ketika kuliah. Semenjak kampus psikologi memiliki lapangan futsal sendiri, hampir tiap sore (selepas mengerjakan skripsi), dia jadi tempat tujuanku untuk bermain futsal. Tak salah jika pengalaman-pengalaman tersebut membuatku mengidam-idamkan sebuah tempat kerja di mana aku bisa juga tetap bermain bola; minimal futsal. Namun ternyata harapan tak seindah nyatanya.

Sejak 2005 aku sudah terlibat di beberapa proyek pendidikan berbasis e-learning di kampus. Pengalaman ini yang membuatku direkrut menjadi staf tetap di bidang yang sama, pada 2008. Sejak itulah, kebiasaan menendang si kulit bundar makin lama makin tak terasah. Kasihan sekali sepatu futsal baruku tak kunjung diperawani.

Aku mencoba banting setir ke olahraga lain. Beli raket badminton dan beberapa perlengkapannya dengan harapan akan rajin bermain. Tapi pengalaman bermain bersama staf dan satpam-satpam kampus (jawara-jawaranya badminton di UI), membuatku trauma. Jarang-jarang lho, ada pebulutangkis minta digantikan orang lain di tengah pertandingan. Apalagi pebulutangkis itu menggunakan sepatu futsal.

Setelah badminton, aku coba beli sepatu lari. Namun tak juga memaksaku untuk berolah raga. Sesekali sih, aku jogging pagi di kampus. Tapi itu tak serajin yang kuharap. Sampai akhirnya 2 minggu lalu muncul pengumuman dari bagian SDM.

Bagian SDM menjalankan ujicoba kegiatan olahraga rutin di lingkungan UI. Waktunya adalah Jumat, mulai dari jam 07.00 hingga jam 10.30. Sebelumnya, karyawan-karyawan di UI sudah ada jadwal olahraga masing-masing. Tapi itu inisiatif sendiri, bukan anjuran resmi dari UI. Nah, kali ini program olahraga dari SDM adalah program resmi.

“Aaah, Senang sekali aku membaca program itu.” Dan aku pun memutuskan untuk ikut program itu secara berkala.

Ujicoba minggu pertamaku gagal. Malu-malu kucing saat harus datang ke lokasi dan bersosialisasi dengan staf bagian lain, menjadi alasannya. Tapi percobaan minggu keduaku berjalan dengan baik.

“Aku main futsal lagi!”

Meski tak mencetak gol atau memberi umpan, sangatlah lumayan untuk menyegarkan badan yang agak berkarat ini. Tapi imbasnya, 2 hari badan pegal-pegal karena kurang pemanasan.

Hari ini aku sudah tak sabar mau bertemu Jumat kembali. Bukan karena esoknya akhir pekan (bohong), tapi karena akan ada sesi keringat-keringatan di lapangan futsal lagi. Dan keringat-keringat itu adalah salah satu jalan menuju sehat.

“Yihaaaa!”

PS: Maaf ya, para pengguna layanan, aku sedang berolah raga di Jumat pagi. Hari itu saja kok.

Malu Tulisan Masa Lalu

Aku mulai blogging di tahun 2005. Awalnya iseng saja, mau bagi-bagi cerita-cerita lucu kepada teman-teman dekatku. Tak terasa itu setelah 6 tahun beberapa bulan lalu.

Posting pertamaku judulnya tes…1…2…3…1…2…3. Hahaha. Sungguh tak penting sekali isinya:

hhmmm, ngapain yah? ngetes ajah..kapan2 g akan cerita yg laen..cu
buat temen2 g, sering2 baca yah ;p

Rasanya malu sekali pernah menulis itu. Mau ditaruh di mana mukaku ini? reaksi berlebihan

Lalu aku jadi ingat ketika SMA. Waktu itu aku menemukan buku harian semasa SMP. Isinya jauh lebih memalukan dari yang di atas. Antara lain kegalauan masa remaja; merasa sendiri, tak ada yang bisa mengerti hingga kebutuhan akan seorang wanita.

Yeah, saking malunya, buku itu sampai kusobek dan kubakar di samping rumah.

Tapi sekarang aku menyesal telah memusnahkannya. Semalu apapun, ya itulah aku pada usia itu. Namanya juga remaja. Semua juga pasti mengalami masa-masa memalukan saat remaja. Justru itu jadi bukti nyata kondisiku saat itu; labil dan penuh gejolak.

Kemudian jika dibandingkan dengan kondisiku kini, tentunya ini membuat ku tersenyum dan terkagum sendiri. Betapa hidup mengajariku banyak sekali. Dari yang tadinya culun, hingga sekarang tidak terlalu culun lagi. Dari yang tulisannya asal dan acak-acakan, menjadi lebih rapi dan jelas. Dari yang labil dan bergejolak, jadi lebih tenang dan bijak.

Jad buat apa perlu malu?

Ah, sangatlah patut disyukuri.