Awalan Tentang Kekasih

Sesekali aku ingin berkisah tentang sang kekasih. Namanya Tasya, seorang anak pramuka yang suka melayani sesama.

Kami bertemu secara tidak disengaja, lewat media sosial paling hits saat itu: Friendster. Awalnya berpikir, “palingan ini junior di kampus.” Namun permintaan pertemanan pun diterima juga.

Friendster

Lalu kami jumpa di konser bilik musik psikologi tahun 2008. Ketertarikanku mulai muncul saat melihatnya bernyanyi di paduan suara. Maklum, konsep diriku saat itu adalah anak gitar. Kurang afdol kalau tidak dapat anak musik juga.

Ketertarikan berlanjut dengan mencari tahu alamat yahoo messenger. Tak sengaja pula, ia adalah teman kost temanku, Wiwit. Lebih mudahlah proses stalking kala itu. 😀

Setelah kenal, aku akhirnya tahu bahwa ia sering ke Kampung Lio; sebuah daerah di Depok, yang konon adalah kampung pengemis. Ia sering datang dan bermain bersama mereka. Skripsinya, yang berhasil dipertahankan tahun 2009 pun tentang anak-anak di sana.

Kesukaannya pada kegiatan membantu orang lain, berlanjut hingga lahirnya Rumah Pintar Ciangsana; sebuah rumah kontrakan sekitar 5x3m yang berisi buku-buku untuk dipinjam anak-anak warga sekitarnya. Sempat beberapa waktu, ide tersebut hanya berhenti di dunia ide, tanpa ada realisasi. Namun akhirnya tahun 2012 RPC bisa berdiri, tentunya dengan bantuan banyak orang.

Sampai saat ini, ia masih saja melakukan aktivitas kesukaannya tersebut. Terbang hingga Papua, seminggu menginap di Sintang pun dijabaninya. Kegiatannya mulai dari pelatihan bagi fasilitator, hingga pendidikan seks bagi anak-anak. Pantas saja ia suka bertualang. Dari kecil sudah terbiasa ikut pramuka. Tentunya aku deg-degan. Siapa tak khawatir kalau orang yang dikasihi pergi jauh ke daerah antah berantah.

Selain itu, kebanggaan mengembang di dada saat ia menjalankan Kelas Koki Cilik. Mengajari anak-anak mulai usia 5 tahun untuk memasak, bekerja sama, sambil bermain. Melihatnya melakukan hal yang disukai, dan bermanfaat bagi orang lain, amatlah membanggakan.

Begitulah dia. Ia yakin bahwa salah satu tugasnya di dunia adalah memberikan berkah bagi sesamanya. Dan kalau ingat slogan dari Ki Hadjar, aku ingin menjalani peran Tut Wuri Handayani; di belakang memberi dorongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *