Bahasa dan Anak

Perkembangan Bahasa. Itulah judul presentasi yang dibawakan Luh Surini Yulia Savitri, atau Mbak Vivi, pada kuliah 28 November 2013 lalu. Mbak Vivi adalah dosen bagian psikologi perkembangan. Ia tertarik pada kognitif anak. Dalam presentasinya, ia memaparkan beberapa hal seperti bahasa dan fungsinya, perkembangan bahasa dan isu dwibahasa.

Dalam literatur tentang bahasa, ada banyak definisi bahasa. Namun dari sekian banyak definisi ada benang merah yang bisa ditarik, yaitu: bahasa merupakan simbol, ada aturannya yang disepakati bersama dan digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa di sini merujuk pada bahasa lisan maupun tulisan, dan juga bahasa tubuh atau gestur.

Berbicara tentang bahasa, aku jadi teringat obrolan dengan salah satu rekan di kantor. Ia seorang ibu muda dengan seorang anak perempuan berusia 3 tahunan. Ia merasa cemas karena putrinya mulai lancar menghapal lirik-lirik lagu orang dewasa, yang mayoritas isinya tentang percintaan. Ia khawatir anaknya akan mencontoh isi lirik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Di kelas aku pun menanyakan kecemasan tersebut.

Menurut Mbak Vivi, anak-anak mengetahui kata-kata yang sering dipakai orang dewasa, tidak apa-apa, selama orang tua tahu apa makna kata-kata tersebut bagi si anak. Hal ini wajar pada anak usia 3 tahun. Pada masa itu, ia sudah bisa mengombinasikan kata-kata. Selain itu, 5 tahun awal anak-anak adalah masa keemasan. Perkembangan akan berjalan dengan cepat pada usia tersebut. Namun jika kembali ke teori perkembangan kognitif dari Piaget, anak rekan saya tersebut belum akan memahami makna kata, apalagi yang abstrak. Misalnya, kata “pacaran” bagi anak usia 3 atau 4 tahun mungkin hanya berarti memegang tangan lawan jenisnya, dan bukan seperti yang dibayangkan orang dewasa.

Selain ingat pertanyaan rekan kerja, aku juga ingat dengan topik tesisku sendiri, yang tentang diskusi online dan berpikir kritis. Ada hal yang membuatku penasaran, yaitu apakah ada perbedaan antara perkembangan kemampuan bahasa lisan dan tulisan? Aku penasaran karena, pertama, topik tesisku terkait dengan bahasa tulisan dalam diskusi online. Kedua, aku menduga ada perbedaan, apalagi di Indonesia yang kuanggap sebagai budaya lisan, di mana komunikasi lisan lebih mendominasi daripada komunikasi tulisan. Namun kami belum mendapat jawabannya dalam sesi diskusi di kuliah itu.

Diskusi lain yang muncul adalah tentang kedwibahasaan, atau yang ngetop dengan bilingualism. Di dunia akademik, isu dwibahasa masih menjadi menjadi perdebatan. Ada pihak yang pro dan ada juga yang kontra. Pihak yang mendukung menemukan bahwa anak bilingual tidak mengalami keterlambatan bahasa, perkembangan bahasanya sama seperti yang monolingual, memiliki kemampuan lebih dalam baik dalam memecahkan masalah, hingga memiliki executive function yang lebih baik. Sedangkan yang kontra menemukan bahwa anak bilingual memiliki perbendaharaan kata yang lebih sedikit, membutuhkan usaha keras mempelajari 2 bahasa, memiliki kesulitan dalam tata bahasa dan memiliki kesulitan dalam menamakan suatu benda.

Diskusi pun ditutup dengan isu sekolah yang menjual bilingualisme. Bilingualisme dijadikan alat untuk menarik minat calon siswa. Padahal ketika praktiknya, bilingualismenya tidak sesuai dengan teori ataupun hasil-hasil penelitian. Yang penting adalah siswa mendaftar, sehingga sekolah akan mendapatkan untunng dari uang setoran siswa. Sangat disayangkan jika pendidikan pada akhirnya dimaknai sebagai sarana mencari uang. Sangat disayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *