Balada Pria Pemijat

Dua minggu ini, tema kehidupanku tak jauh dari pijat memijat. Setelah minggu lalu ditawari pijat plus plus di Shanghai, kali ini aku mendengarkan kerasnya kehidupan seorang pemijat.

Sabtu malam aku mencoba layanan pijat refleksi. Katanya mereka menggunakan cairan campuran minyak zaitun dan garam khusus untuk memijat. Kalau dilihat-lihat layanan serupa, pijat refleksi nampaknya bukan layanan utamanya. Layanan utama justru ruangan garam, yang diyakini mampu menyembuhkan sinus dan asma. 

Malam itu seorang pria yang memijatku. Kekasihku yang dipijat juga di sebelahku, mendapatkan pemijat perempuan. Sesi kami banyak diisi dengan obrolan. Salah satunya adalah pengalaman si pria yang memijatku.

Usia pemijat itu mungkin sekitar 20-an akhir hingga 30-an. Ia asli Purworejo. Tiap mudik ia kembali ke kampung naik motor RX King. Katanya, pulang pergi bisa menghabiskan uang untuk bensin sebesar 500-an ribu rupiah.  Belum lagi ditambah badan pegal dan mata pedas karena perjalanan jauh.

Awal karir pemijatannya dimulai dengan ikut semacam sertifikasi pemijat. Biayanya kurang lebih 2.5 juta rupiah. Ia bekerja pertama kali di tempat refleksi dekat dengan markas Marinir.

“Pernah sehari melayani sampai 10 orang,” katanya.

“Di situ, tangan kanan dan kiri jadi sama kuatnya. Badan marinir udah kayak batu,” lanjutnya.

Dua tahunan di situ, ia merasa tidak kuat, dan akhirnya melanglang buana hingga sampai ke beberapa tempat refleksi lain.

Sebelum di tempat sekarang ini, ia pernah mendengar bahwa tempat pijat lainnya memang memberikan layanan plus.

Mosok pijat 30 menit, dibayarnya 1.5 jam. Aneh kan,” katanya.

Bahkan ada tempat yang menolak klien perempuan. Alasannya tempat penuh. Padahal masih kosong. Mungkin klien laki-laki lebih diprioritaskan, apalagi yang meminta layanan lebih.

Saat ini ia baru 5 bulanan di tempat baru. Ia pernah memijat seorang kakek berusia 70-an tahun. Kakek itu katanya mantan atlit. Yang menarik dari kakek itu, ia meminta pijatan dengan kekuatan penuh. Padahal pemijatnya juga was-was, kalau-kalau terlalu kencang dan justru melukai otot atau tulang si kakek.

Pengalaman lain lagi adalah ketika mendapati gangguan dari, klien yang diduganya menyukai sesama jenis. Ada klien yang hanya ingin dipijat dibagian bokong saja. Ada juga yang pijatannya hanya seperti belaian saja. Ada juga yang ketika selesai pijat, minta diantarkan ke mobil menggunakan payung, ketika hujan deras.

Pengalaman yang paling menakutkan menurutnya adalah ketika ia diminta memijat di rumah klien. Kala itu hari sudah tengah malam. Begitu selesai memijat, ia pamit pergi menuju pintu. Kagetlah ia mendapati pintu keluarnya dikunci.

“Sudah malam mas, tidur di sini saja,” kata kliennya. Mas pemijat jadi panik.

Untungnya dia sudah berjaga-jaga. Ia membawa obeng sebagai pengamanan. Ternyata obeng itu berguna. Karena ketakutan, dicabutlah obeng itu dari dalam tas.

“Bapak mau apa? Berantem? Ayo sini,” katanya, mencoba mempertahankan diri.

Klien tersebut kaget dengan keberaniannya, dan akhirnya klien tersebut melepaskannya.

Ternyata, kehidupan pemijat pun penuh pengalaman menarik. Kadang seru, kadang seram. Namun pada dasarnya mereka juga mencari nafkah juga seperti pekerja lainnya. Hanya kadang, karena perilaku negatif segelintir pemijat yang nakal, mereka juga kena imbas citra negatifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *