Belajar dari Ayu Utami

Sebuah pintu kayu berukuran kurang lebih 1×2 meter menerima kedatangan kami. Dari dalam, keluar sesosok wajah bermata tajam dengan senyum mengembang. Dia adalah  Ayu Utami. Dan hari ini, aku dan teman-teman Agenda 18 akan belajar tentang menulis dan filosofi tulisannya dari novelis peraih Katulistiwa Literary award 2008 itu.

Setelah memborong beberapa buku diskon di Gramedia Matraman dan nyasar di kawasan Utan Kayu, kami akhirnya tiba di rumah Mbak Ayu. Rumahnya tampak bersahabat dengan lingkungan. Di pagar depan ada serumpun bambu. Begitu masuk ruang pertama, langsung masuk ke ruang kerjanya. Di ruangan itu, sama seperti ruang lain, tak ada pendingin ruangannya. Sebagai ganti, ruangan tersebut berjendela banyak, tak berpintu bagian dalamnya dan tinggi jarak antara lantai dan atap. Ia juga membuat pupuk kompos untuk tanaman di rumah. Beginilah caranya untuk tidak tergantung dengan teknologi dan menjadi terpisah dari alam sekitar.

Begitu masuk, mata otomatis diarahkan ke sebuah dinding dengan lemari buku besar. Entah ya, mungkin ukurannya 10x5m; dan isinya buku semua. Sebuah tangga beroda tampak bersandar disana. Di sebelahnya, semuah meja kayu, kursi dan laptop berinternet. Di sinilah Ayu biasa menulis, sambil juga membaca.

Ia lalu menempatkan sebuah kursi di depan meja perpustakaannya dan mulai berkisah.

Menurutnya, ia tak pernah merasa jenuh ketika menulis. Ia selalu punya sesuatu untuk ditulis. Kejenuhan ini beda dengan tak bisa menuangkan ide. Kalau itu, dia juga pernah mengalaminya. Solusi yang dijalankannya: istirahat dulu, nonton film, main piano atau naik papan panjat.

Terkait dengan hobi panjat dinding dan naik gunung, novelis berusia 42 tahun ini mengaku hobi ini sangat berpengaruh terhadap penulisannya. Ketika menulis Bilangan Fu, ia bisa naik ke Gunung Gede 3 kali dalam sebulan.

Dari beberapa cerita yang telah dibaginya, yang menurutku menarik adalah pendapatnya mengenai pengaruh alkitab bagi penulisannya. Ditemani ubi dan talas rebus, sari kacang dan diiringi rintik hujan, ia membagikan pandangannya itu.

Ayu, yang dibesarkan di keluarga penganut Katolik,  merasa sangat terinspirasi oleh kitab sucinya. Meski saat ini ia mengaku tak lagi mempercayai institusi agama, tapi kitab suci sangatlah menarik baginya. Katanya, di dalam cerita alkitab, banyak hal yang bisa didapat. Kita bisa menemukan berbagai macam karakter manusia, sebagai bahan pembuatan karakter. Juga bisa ditemukan berbagai macam konflik di sana. Dia sangat kaya sebagai karya sastra. Namun yang terpenting, nilai-nilai di dalamnya yang kemudian menjadi dasar pemikiran Ayu dalam melakukan berbagai hal.

Selain itu, dia juga mengutarakan pandangannya terhadap pertelevisian di Indonesia. Menurutnya, saat ini jarang ada acara televisi bagus. Oleh sebab itu, dia merasa tak butuh televisi teknologi terbaru. Televisi di ruang kerjanya, hanyalah televisi jadul yang difungsikannya jika ingin menonton DVD.

Ngobrol dengan Mbak Ayu memang butuh kemampuan menalar agak mengawang. Topik bahasannya banyak yang filosofis dan mendasar. Sehingga perlu perhatian ekstra dalam memahaminya. Namun, pemikiran kritis itulah yang memang menjadi ciri khasnya yang ingin ditularkan pada orang lain.

Tak terasa pukul 4 lewat. Kami pun segera mohon pamit pada empunya rumah. Setelah sesi foto-foto dan tanda tangan, kamipun bertolak dari rumahnya.

Terima kasih sudah bersedia diganggu hari Minggunya. Lain kali kami ganggu-ganggu lagi.

2 thoughts on “Belajar dari Ayu Utami

  1. Selamat ya agenda 18 akhirnya berhasil ketemu dg novelis berkarakter kuat, Ayu Utami. Ditunggu ya karya2nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *