Berhentilah Mengirimi Saya SMS!

Aku lupa kapan pertama kali mulai mendapatkan pesan singkat dari orang-orang tak dikenal. Namun yang pasti, aku merasa terganggu karenanya.

Drrrrtttt. Drrrrrrttt.

Begitu bunyi yang keluar karena gesekan meja kantor dengan ponselku yang bergetar. Aku memang tak pernah membunyikannya, selain ketika di rumah. Kulihat layarnya yang hanya kurang lebih 3×2.5 cm. Ternyata ada pesan singkat dari nomor tak dikenal.

Akhir-akhir ini memang banyak yang mengirimiku pesan singkat dengan nomor tak dikenal, namun rata-rata adalah pengajar atau mahasiswa yang meminta bantuanku. Tapi aku lupa, ada orang yang benar-benar tidak kukenal; dan tidak ingin kukenal, mengirimkan SMS. Dan isinya: promosi ini itu; yang tak kubutuhkan.

Pada mulanya, aku tak terganggu. Namun seiring makin banyaknya promosi-promosi dari berbagai macam organisasi; bahkan ada yang perseorangan, aku mulai muak dengan SMS-SMS tersebut. Biasanya aku akan membuka, lalu langsung menghapus, begitu tahu kalimat pembukanya.

Okelah, bahwa mereka juga mencari uang, sama sepertiku. Okelah, jika memang pemerintah memperbolehkan promosi-promosi macam ini. Tapi meski begitu, bukan berarti semua orang boleh mengirim apapun ke dalam inbox ponselku!

Pada dasarnya, aku tak masalah dengan adanya izin mengirimkan konten promosi ke ponsel. Tapi yang kusayangkan adalah tidak adanya kebebasan untuk menentukan konten mana yang boleh dan mana yang tidak. Alangkah baiknya jika SMS-SMS tersebut dikirimkan sesuai dengan kebutuhan pengguna ponsel.

Misalnya, aku suka menulis. Maka konten-konten kiriman pun mestinya disesuaikan dengan preferensi tersebut. Contohnya, kalau ada lembaga yang mengadakan pelatihan menulis, bolehlah dia mengirimkan promosi kepadaku. Jangan seperti sekarang ini, dimana konten-konten yang masuk adalah promosi peminjaman uang (beberapa temanku bahkan dikirimi SMS dari seorang wanita yang menjajakan diri… Yap, menjajakan jasa seks).

Menurutku, pemerintah; dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika atau siapapun yang berwenang, perlu menciptakan suatu kebijakan yang mengatur prosedur promosi-promosi tersebut. Mulai dari siapa saja yang boleh berpromosi, kontennya apa, kapan boleh promosi, dan yang terpenting hak pengguna ponsel untuk memilih konten-konten mana yang ingin didapatnya. Jadi pengiklan tetap bisa mengiklankan produk, konsumen juga tetap terjaga kenyamanannya.

Lagipula, bukankah konsumen adalah raja ya?

Beberapa usaha yang bisa dilakukan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *