Berjumpa Jostein Gaardner

Gemetaran, tak tahu mau melakukan apa! Itu yang kualami saat Jostein Gaardner, penulis novel filsafat Dunia Sophie, sedang duduk di meja di hadapanku.

Rabu 12 Oktober 2011, di Perpustakaan Pusat UI lantai 6, Jostein Gaardner memberikan kuliah umum berjudul “Human Rights and Human Obligations. What can be done to address climate change.”

Yap, aku juga heran kenapa penulis macam dia memberikan kuliah bertema lingkungan? Kupikir dia akan bicara tentang filsafat atau tentang buku-bukunya.

Ternyata setelah dilihat-lihat, kedubes Norwegia sedang mengadakan pameran di UI dengan tema perubahan iklim. Pantas saja. Tapi itu tidak jadi masalah. Yang penting bisa bertemu penulis ngetop, dan syukur-syukur dapat tandatangan.

Pukul 10 lewat beberapa menit, kuliah umum dibuka dengan sambutan dari dubes Norwegia di Indonesia. Kemudian dilanjut langsung dengan kuliah umum dan tanya jawab; sekitar 50 menit setelahnya.

Menurutku kuliahnya cukup menarik; meski kadang Jostein Gaardner melafalkan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan kurang jelas, sehingga agak mengganggu pemahamanku terhadap kuliahnya. Namun demikian, satu yang bisa dijadikan bahan refleksi adalah: dia menyarankan adanya Copernican Revolution. Selama ini, manusia cenderung melihat dirinya sebagai pusat dari segalanya, sehingga merasa memiliki kuasa terhadap lingkungan. Cara pikir ini yang menurutnya harus diubah, sama seperti Copernicus mengemukakan teori bahwa bumilah yang sebenarnya mengitari matahari, bukan alam semesta mengitari bumi.

Selepas tanya jawab, penulis kelahiran Oslo 59 tahun lalu ini langsung meninggalkan mimbar. Semua penonton tampak cemas.

“Yah, kapan book signing-nya?” pikirku.

Ternyata penandatanganan buku dilakukan di ruang pameran dr kedubes Norwegia di lantai dasar. Segeralah aku dan yang lain buru-buru menuju kesana.

Begitu keluar dari lift, aku menuju ruang pameran; menuntun beberapa yang tampaknya tak familiar dengan perpustakaan UI ini. Jadilah kami termasuk yang pertama tiba di lokasi. Dan disanalah Jostein, duduk di meja dengan kemeja dibalut semi-jas, blue jins, kacamata dan rambut putih.

Dan disinilah aku: gemetaran memegang buku untuk ditandatangan. Memang, aku baru mulai membeli dan membaca Dunia Sophie ini, namun aku langsung jatuh cinta dengan isinya. Tak hanya buku. Tiba-tiba aku pun bingung menggunakan kamera ponsel yang sudah disiapkan sebelumnya.

Bukupun kubuka, dan segera ditandatanganinya.

Masih belum puas, aku minta tolong seorang teman yang kebetulan membawa kamera DSLR.

“Mr. Jostein, can I have a picture with you?” deg-degan aku bertanya.

“Of course,” begitu jawabnya, ramah.

Aaah! Senangnya!

Tak lama kemudian, penggemar lainnya mulai berbondong datang. Dan antrian pun memanjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *