Berkenalan dengan Metakognisi

Setelah beberapa kali tertunda, kuliah kapita selekta dengan tema metakognisi, bisa dilaksanakan juga. Hari ini, Rabu 18 Desember 2013, Prof. Sri Hartati, MA., Ph.D, pakar di bidang psikologi kognitif membagikan pengetauannya tentang tema yang mungkin tidak terlalu umum, yaitu metakognisi.

Metakognisi didefinisikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan kontrol aktif terhadap proses kognitif yang dilibatkan ketika belajar. Di dalamnya terdiri dari: (1) proses perencanaan, atau bagaimana pendekatan terhadap suatu tugas, (2) monitoring pemahaman, dan (3) evaluasi kemajuan menuju penyelesaian tugas. Singkatnya, metakognisi adalah berpikir tentang pikiran kita sendiri. Metakognisi membutuhkan unsur kesengajaaan, usaha dalam menjalankannya dan motivasi intrinsik dari siswa. Selain itu, langkah awal menuju metakognisi adalah kesadaran akan pemikiran sendiri, dengan kata lain, adanya proses refleksi terhadap proses berpikir sendiri.

Metakognisi berbeda dengan kognisi. Misalnya, dalam hal perencanaan, kognisi berupa perencanaan yang akan dilakukan untuk mengerjakan suatu tugas, sedangkan metakognisi berisi pertanyaan akan perencanaan yang sudah dilakukan. Perencanaan dalam kognisi sasarannya adalah untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan metakognisi saarannya adalah memastikan tujuan bisa tercapai. Misalnya, kognisi akan bilang, “bagaimana cara saya bisa menyelesaikan tugas A. Apakah googling dulu atau ke perpustakaan?” Sedangkan setelah memutuskan ke perpustakaan, metakognisi akan bilang, “Apakah ke perpustakaan adalah cara yang tepat?”

Selama presentasi, saya teringat akan tugas observasi dan wawancara pada kuliah efektivitas dan manajemen pembelajaran. Dalam tugas itu saya mengamati satu kelas MPKT B, sebuah mata kuliah umum UI yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan kemampuan metakognitif pesertanya. Dari wawancara saya menemukan bahwa mahasiswa tingkat satu merasa diskusi online, memberikan tekanan. Tekanan ini muncul karena diskusi tersebut memungkinkan mahasiswa berpikir dulu sebelum menulis. Mereka merasa harus menuliskan sesuatu yang benar, berbobot, atau ilmiah. Proses refleksi muncul di sini. Namun jika mereka merasa tertekan, saya ragu kemampuan metakognisi bisa tumbuh subur dengan lancar. Bu Tati bilang, ada kepercayaan diri yang belum tumbuh, sebagai akibat pembelajaran-pembelajaran terdahulu yang lebih mementingkan hasil yang benar, ketimbang prosesnya.

Selain memikirkan MPKT B, saya juga baru tahu tentang hubungan metakognisi dan berpikir kritis, topik tesis saya. Metakognisi, atau biasa disebut higher order thinking atau executive function atau metacomponent adalah payung besar dari berpikir kritis. Di dalam metakognisi terkandung refleksi, demikian juga berpikir kritis. jadi, tanpa metakognisi, berpikir kritis tak akan ada. Karena pengetahuan baru ini, saya akan mulai memasukkan teori-teori metakognisi dalam tesis saya. Namun saya belum tahu sejauh apa akan metakognisi akan saya singgung dalam tesis tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *