Berserah Diri dan Ikhlas Menerima

Sudah kurang lebih 3 bulan aku mempersiapkan diri untuk hari ini. Namun nampaknya aku kurang maksimal hari ini. Jadilah ketidaktenangan ini muncul sedari siang. Namun aku bisa apa lagi, selain berserah padaYang Punya Segala Kuasa?

Tiga bulan sudah aku ikut persiapan internet-based TOEFL (iBT). Tujuannya jelas, agar siap ambil tes tersebut, mendapat nilai 90 dan mendaftarkan diri ke University of Twente, Belanda.

Seminggu kemarin pun, aku sudah coba siap-siap. Tiap hari bicara sendirian pakai Bahasa Inggris, bergaya mengerjakan soal bagian speaking; karena di bagian itu aku merasa lemah. Sabtu kemarin pun , seharian aku pergi menjauh dari rumah, maksudnya ingin semedi dan belajar. Namun hari ini hasilnya aku rasa kurang maksimal.

Jam 5 pagi aku sudah bangun. Jam 6 mandi, lalu berangkat jam 6.40-an. Hujan deras pun kuterobos untuk bisa ke Plaza Sentral, Sudirman, tempat aku akan ikut tes. Sesampainya disana, celanaku agak basah, namun tak kuambil pusing. Aku siap ikut tes!

Selesai registrasi ulang dan menyimpan seluruh barang di loker, jam 8.30-an ku memulai tes. Seperti biasa, aku tak mengalami kesulitan berat saat mengerjakan soal reading dan listening. Kedua jenis soal tersebut sudah biasa kukerjakan; meski kali ini soalnya lebih sulit dari soal yang kutemui saat les persiapan.

Kurang lebih pukul 10-an, aku sudah selesai dan beristirahat 10 menit sebelum masuk soal speaking. Cemas-cemas-optimis, itu yang kurasakan ketika istirahat. Plus, agak kedinginan karena AC di dalam ruangan tes.

Setelah 10 menit, aku masuk dan mulai mengerjakan soal speaking. Sejujurnya aku kurang puas dengan jawaban-jawabanku. Dari total 6 soal, ada 1 yang 1 kata terakhirnya kusebutkan tepat saat waktu berakhir. Ada juga jawaban yang harus kupotong, karena waktu tak cukup. Tampaknya aku terlalu panjang bicara di bagian lain dari jawabanku. Sisanya, nampaknya biasa-biasa saja. Tak ada yang benar-benar mantap jawabannya. Hampir semua jawaban, mengandung kata “emm” dan dengan tata bahasa yang kadang kurang tepat.

Bagian terakhir, writing, aku juga tak menemui kendala berat. Namun harus kuakui, kali ini aku harus berpikir ekstra keras dalam menulis.  Bahkan aku membutuhkan seluruh 30 menit untuk menulis.

Secara keseluruhan, sejujurnya aku kurang puas dengan jawabanku, terkhusus bagian speaking. Namun, hari ini usahaku sudah selesai. Jawaban tersebut sudah dikirim ke server pembuat soalnya. Yang bisa kulakukan hanya berdoa, memohon hasil terbaik  dan mencoba untuk ikhlas menerima kekuranganku. Hal positifnya, setidaknya aku sudah pernah merasakan tes TOEFL iBT, naik motor ke kawasan Sudirman; pagi-pagi dan hujan-hujan, serta punya kekasih dan ibu yang suportif.

Terima kasih banyak atas doanya ya! 🙂

One thought on “Berserah Diri dan Ikhlas Menerima

  1. Pingback: Menuju TOEFL iBT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *