Buku Dijital dan Kunjungan di Tengah Salju #H5

Setelah pada hari keempat berjumpa salju, hari kelimaku di Korea Selatan diisi dengan materi baru tentang buku elektronik interaktif dan berjalan-jalan di tengah hujan salju menuju sebuah universitas.

Hari kelima ini ada materi yang terkait dengan materi di hari sebelumnya, yaitu tentang smart learning, atau ubiquitous learning. Kali ini kami dibekali pandangan baru dalam memandang buku elektronik (ebook).

Biasa kukenal ebook sebagai buku dalam format PDF, dimana tidak ada perbedaan dengan buku aslinya, kecuali format dan alat pembacanya. Kalau buku interaktif ini, tidak hanya berisi teks, namun juga video, audio, tempat coret-coret dan kuis-kuis yang bisa dikerjakan. Kabarnya, pada tahun 2015 pemerintah ingin program dijitalisasi ini menyeluruh.

Namun menariknya, dari beberapa kabar lain, pemerintah menurunkan targetnya, dan menyandingkan ebook dengan buku tercetak. Alasannya karena ahli pendidikan di sana menganggap siswa akan lebih mendapatkan manfaat dari less-gadget environment. Alasan lain karena hasil survei yang dilakukan pemerintah, dimana 1 dari 12 anak usia 5 hingga 9 tahun, mengalami kecanduan internet. Wah, pelajaran juga untuk Indonesia yang beruntung belum memulai program serupa.

Setelah materi selesai, kami akan berkunjung ke Bucheon University. Institusi yang terletak di kota Seoul ini mirip seperti politeknik atau vokasi, yang mempelajari keterampilan-keterampilan praktis untuk bekerja di industri.

Sebelum sampai sana, ini pertama kalinya aku naik bus dalam kondisi hujan salju. Senang sekaligus ngeri, karena melihat berita-berita tentang badai salju. “Jangan-jangan akan ada badai juga di sini,” pikirku. Tapi syukurlah tidak terjadi. Kami pun sampai di Bucheon dan berkeliling di sana.

Menembus Salju

Hal yang menarik di sana adalah, dikatakan pemuda-pemuda Korea yang sudah tahu mau jadi apa, akan masuk ke sekolah macam ini. Kalau masih bingung, justru masuk universitas yang fokusnya pada pengembangan ilmu. Berbeda sekali dengan di Indonesia. Kalau di sini, sekolah yang non universitas dipandang sebelah mata.

Hal menarik berikutnya adalah eratnya hubungan antara industri di sana dengan institusi pendidikan. Produk-produk penelitian dan juga lulusan-lulusannya sangatlah terpakai di dunia industri. Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga. Korea tak punya banyak sumber daya alam. Kekuatan mereka adalah sumber daya manusia, yaitu yang menciptakan teknologi melalui industri. Keeratan ini perlu juga dicontoh di Indonesia.

Bucheon University

Setelah berkeliling dan mendengar pemaparan kurikulum di sana, plus merayakan ulang tahun kedua rekan partisipan, kami pun pulang dan sampai di KOICA sekitar pukul tujuh malam. Makan malam, lalu istirahatlah kami untuk menutup hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *