Catatan Pagi di 29 Januari

Aku terbangun. Kuambil ponsel di sampingku. Pandangan yang masih kabur menunjukkan pukul 5 pagi hari. Kuputuskan untuk bangun dan menikmati pagi ini.

Kubangkit dari posisi tidur, ucapkan doa sejenak, lalu berbalik membuka gordyn dan jendela. Di luar, halaman samping rumah yang dihiasi tiang dan tali jemuran, seperti biasa sudah menunggu. Kabut tipis menggantung di pepohonan. Kudorong daun jendela hingga menimbulkan suara seperti sesuatu lepas dari posisi terhimpit; jendelaku memang agak sulit dibuka.

Udara dingin namun segar segera menyusupi kamar 3×4 meterku ini. Mulai jelas terdengar beberapa suara pagi: gemericik air kolam dan akuarium, kumandang adzan di dekat dan kejauhan, kicau burung, kokok ayam seperti bersahutan dan suara-suara tak dikenal.

Telah lama aku tak bangun sepagi ini, beda dengan dulu. Saat aku SMA, setiapa hari aku bangun di jam-jam ini; bahkan lebih pagi. Langsung mandi, makan dan berseragam SMA. Maklum, jarak yang jauh dari sekolah membuatku harus berangkat pagi. Kadang aku bangun lebih pagi; jam 4, jika akan ada ulangan. Aku bangun untuk belajar dan membaca buku.

Meski demikian, aku sangat enjoy dengan kebiasaan pagi itu. Dunia masih sepi dan gelap. Jalanan kosong, angkot jarang penumpang, orang-orang masih bersahabat karena belum diburu-buru dan di pagi inilah aku berkesempatan bertemu Dewi Venus ketika menunggu angkot di depan gang rumah.

Apapun alasannya, aku sangat suka pagi hari. Inilah saat dimana indera pendengaran berfungsi dengan maksimal. Inilah saat dimana suara-suara halus, yang setiap hari tertimbun deru kehidupan, bisa bersuara dengan lantang. Inspirasi, dan juga termasuk suara hati.

Syukurlah atas pagi hari.

2 thoughts on “Catatan Pagi di 29 Januari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *