Awan Kecil & Burung Jalak

Awan kecil siap menitik menuju tanah ibunya. Ditengoknya kembali langit dan ayahnya yang bergantung di sana. Ayah tersenyum bangga. Namun awan kecil merunduk dalam ketidakrelaan.

“Aku masih ingin di langit. Bercanda dengan angin. Dikelitiki petir. Untuk apa aku mesti berjumpa dengan bumi?”

Ia pun makin meluncur ke bumi dan makin tak ikhlas.

Tiba-tiba seekor burung jalak ikut menukik di samping awan kecil. Badannya kecil. Bulunya campuran putih dominan dan hitam. Paruhnya yang kuning satu-satunya warna yang berbeda.

“Halo kawan! Mau bertemu dengan pohon juga ya?” katanya dengan suara setengah berkicau.

“Iya,” awan kecil menjawab dengan was-was binatang yang baru dikenalnya itu.

“Wah, kau harus siap-siap berbagi ruang dengan yang lain ya. Banyak yang ingin tidur di dalamnya.”

“Ngomong-ngomong, kau orang baru di sini ya? Aku belum pernah melihatmu,” tanya si jalak.

“Betul,” awan kecil menjawab. Dalam hati ia bergumam, “burung ini bodoh sekali, tak kenal siapa aku.”

“Kau tahu? Aku sudah tua, namun pepohonan masih saja memberikan dirinya untukku dan keluargaku.”

Awan kecil terdiam.

“Di dalam lubang di salah satu pepohonan itu, istri dan ketiga anakku, dilindunginya.”

“Kalau kami lapar, kami tinggal mencari buah di rantingnya atau ke bawah mencari serangga.”

“Kalau haus, kami tinggal melompat, hap, dan kami sudah di kolam.”

“Sungguh mulia, Siapapun yang menyediakannya. Pohon yang kokoh nan subur. Kolam yang segar. Tanpa mereka, kami tak akan hidup.. Ah, sudahlah omong kosongku. Kau mau mampir ke tempatku dulu?” tanya busung jalak.

“Tak usah. Titipkan salam bagi keluargamu,” balas awan kecil.

Burung jalak berbelok menuju sebuah pohon rindang. Cicitan anak-anaknya sudah terdengar nyaring.

Nyanyian keluarga jalak itu, entah bagaimana mampu menenangkan awan kecil. Ia merasa dirinya tak akan sia-sia. Ia memiliki peran penting dalam kehidupan, meski kadang ia menginginkan peran lain.

Ia pun kini telah siap menyambut tanah.

“Oia, jalak, kita akan jumpa lagi. Pasti itu!” teriaknya dalam senyuman.

Awan Kecil

“Ayah, nanti aku mau jadi awan terus ya?” sambil berputar kesana kesini bersama angin.

Ayah hanya tersenyum mendengar tingkah polah awan mini di sampingnya.

“Di sini enak. Aku bisa lihat semua makhluk bumi. Atap pepohonan. Liukan sungai. Indah sekali mereka ya. Aku suka!”

Ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut.

Sampai suatu waktu.

“Ayah, badanku kok makin berat ya? A..a..aku takut akan ja..jatuh,” awan kecil buru-buru menggandeng tangan ayah.

“Tak mengapa nak. Ini sudah waktunya menemui ibu bumi,” sambil ayah menunjuk ke bawah.

“Aku tak mau ayah. Aku ingin di sini saja,” awan kecil mulai berkaca-kaca.

“Nak, kamu lihat ikan di sungai itu? Tanpa keberadaanmu, mereka pasti akan kekeringan dan mati. Coba bayangkan kalau kamu tidak turun dan sungainya menipis.”

“Coba lihat pula pepohonan itu. Mereka tak akan bisa berbincang dengan kita jika tak bertumbuh dengan baik. Tanpa kamu, mereka tak akan setinggi itu.”

“Jadi memang aku harus kesana ya? Meski aku tak ingin?”

“Benar nak. Peranmu adalah sebagai ‘yang mengindahkan’ mereka, sehingga yang lain pun bisa menikmatinya. Tidakkah itu mulia, anakku?”

Awan kecil pun tersenyum.

Dilepaskan tangan ayahnya. Dan dia segera meluncur setitik demi setitik menjumpai pohon dan sungai.

Berpisah Dengan Mentari

Ombak kecil bergantian memasuki garis pantai. Bergulungan. Merayap menuju pantai, lalu hilang. Datang lagi segulung dan hilang kembali. Kalau dilihat-lihat ibarat pungguk yang tak berhenti mendatangi bulan, meski sudah berkali-kali gagal mencoba. Kakiku yang menghalangi jalan mereka pun tak membuat mereka menyurutkan perjuangan.

Aku lalu kembali berjalan.

Di Barat, perlahan-lahan mentari siap beranjak menuju peraduannya. Warnanya yang lembayung berpadu cantik dengan biru berkilau wajah laut. Di kakinya, barisan awan memanjang di atas cakrawala sudah siap menyelimuti. Jauh di pantai, sepasang muda-mudi, basah kuyup, berangkulan erat memandanginya. Mereka tersenyum. “Selamat tinggal Mentari yang cantik. Kini saatnya kita mesti berpisah.”

Di Utara, gerombolan nyiur sedang berdansa sambil bersiul bersama angin sore. Tubuhnya yang tinggi ramping bergoyang bergantian menyambut nelayan dengan harta mereka. Di belakangku, suara teriakan anak-anak makin terdengar jelas. “Ayah pulang! Ayah bawa ikan!” Salah satunya terjatuh dan meninggalkan cetakan tubuhnya di pasir. Tapi segera ia bangkit, tertawa-tawa dan lanjut berlari menuju pelabuhan. Tak lama mereka kembali dengan segerobak ikan segar.

Hidup memang ibarat matahari terbit dan tenggelam. Ada yang datang, lalu ada yang pergi. Ada ikan yang ditangkap dan dimakan, esoknya sudah ada ikan yang baru. Yah, itu memang adanya hidup ini. Syukurilah meski terlihat menyedihkan.

“Ah, sudah saatnya aku juga harus pulang dan berhenti. Sudah terlalu lama aku menanti suamiku yang tak kunjung pulang melaut.”

Kubalikkan badan dan tersenyum menanti terbitnya matahari esok.

Senja Remang-remang

“Papa, apakah kau sungguh akan pergi?”

“Mama, aku baru saja pulang kerja. Masih capek. Kenapa ditanya macam-macam sih?” sambil berlalu menuju kamar tidur.

“Mengapa, pa? Mengapa?” aku pun mengikutinya.

Dia tak menjawabku. Sambil melepaskan dasi dan kemeja, dia menuju ranjang kami dan duduk disana.

“Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi dan tak kembali lagi,” katanya.

“Kau tak lagi peduli padaku? Peduli pada anak dalam kandunganku?” kudekati dan kupeluki dia. Kubiarkan tangisanku membasahi tubuhnya.

“Justru karena aku tak mau melukaimu, makanya aku pergi. Apa katanya kalau sudah besar nanti?”

Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasibku dalam hati. Hanya dalam hati. Berharap si jabang bayi bisa mendengar lalu meminta papanya untuk tinggal.

Dia melepaskan pelukanku dan mulai mengepaki pakaiannya. Aku terduduk lemas di depan cermin.

“Maafkan aku. Nanti tiap bulan akan kukirimi uang,” setelah memakai kaos, ia berlalu dan keluar dari pintu.

Kepergiannya memang sudah kuduga sejak dulu. Tapi tak kusangka akan secepat ini.

Kupandangi lekat-lekat wajahku di cermin dalam geming. Pantulannya menggambarkan seorang wanita dalam tangisan putus asa. Cermin ini juga yang memantulkan wajah papa saat sedang bedakan, memakai wig dan memulas bibirnya dengan lipstick, sebelum bekerja kembali.

*cerpen hasil kelas penulisan cerpen bersama PlotPoint.