Pembudayaan Ilmiah a la @iwanpranoto

Senin, 18 November lalu, kami kedatangan dosen tamu dari jurusan matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Namanya Iwan Pranoto, profesor di bidangnya. Ia membuka paparan dengan menyajikan beberapa berita tentang mahasiswa-mahasiswa di ITB yang berhasil “dirayu” untuk mengikuti organisasi sesat. Bahkan dalam salah satu situs berita dituliskan bahwa anak yang menjadi anggota organisasi tersebut sampai menganggap ibunya halal untuk dibunuh, karena dianggap menghalangi organisasi tesebut. “Di mana nalarnya?” kata Pak Iwan. Continue reading

Menjadi Penampil Musik

Saya senang bermusik, khususnya bermain gitar, menciptakan lagu, mendengarkan musik dan sedikit bernyanyi. Dosen tamu kali ini, Dr. Weny Savitry S. Pandia, Psi., M.Si, membawakan materi yang sesuai dengan minat tersebut. Dalam presentasinya, pengajar di Universitas Atma Jaya ini memaparkan beberapa hal terkait penampilan musik, atau music performance, mulai dari keterampilan yang dibutuhkan oleh penampil hingga tips mengatasi kecemasan ketika hendak menampilkan musik. Continue reading

Kata Ibu Profesor

“Keberhasilan proses belajar mengajar adalah ketika orang yang diajar berminat mendalami yang disampaikan gurunya,” kata seorang profesor di kelasku.

Pengetahuan yang disampaikan oleh guru memang penting. Namun jika di perguruan tinggi, minat untuk mendalami ilmu jadi lebih penting. Sebab, universitas merupakan tempat pengembangan ilmu. Jadi wajar, semestinya minat peserta terhadap ilmunya menjadi salah satu tujuan penting dalam proses pembelajaran. Dari situlah ilmu akan berkembang terus; karena ada yang  menyukain dan kemudian ‘mengurusinya’. Lanjutnya, seorang guru dinyatakan berhasil jika ada anak didik yang kemudian mengikuti jejaknya menekuni bidang yang kurang lebih sama.

Aku manggut-manggut saja mendengar ceramahnya. Dalam hati aku berkata nyaring, “Ibu prof telah berhasil melakukannya padaku, meski aku tentunya belum sepandai engkau.”

AnxSIAKty Disorder

Aneh ya. Dulu ketika S1, nilai tampaknya tidak terlalu penting-penting amat bagiku. Dapat A, syukur, dapat D, ya sudah mengulang lagi. Tapi ketika S2, kok lain ceritanya.

Hari ini (25/06/13) perkuliahan resmi berakhir, karena kemarin adalah batas waktu bagi pengajar untuk memasukkan nilai-nilai ke sistem akademik kampus.

Bagiku, dan tampaknya banyak dari teman-teman seangkatan, semester ini cukup berat beban perkuliahannya. Mata kuliah ada 6: 3 mata kuliah bebannya 3 SKS, dan 3 lainnya 2 SKS. Masing-masing ada tugas-tugas yang harus dikerjakan: ringkasan bab buku, makalah ringkasan hasil penelitian, reaction paper perkuliahan, laporan-laporan kerja kelompok, kunjungan ke institusi dan juga proposal tesis. Semuanya terasa seperti 3 SKS. Fiuuuh…

Akibat aktivitas di semester 2 ini, pasrahlah aku untuk mendapatkan nilai yang mungkin lebih rendah dari sebelumnya. Jadinya, menjelang hari batas pengumpulan nilai, jadi rajin membuka sistem akademik yang bisa diakses online. Penasaran sekaligus cemas akan dapat nilai berapa.

Pagi-pagi buka ponsel, lalu berselancar. Nilai belum keluar. Siang-siang.. Sore-sore.. Malam-malam.. Tiap 2 jam.. Tiap jam.. Buka laptop, berselancar di situs yang sama.. Tekan F5 untuk refresh laman situs.

Argh, gile! Kayaknya dahulu pas S1 santai-santai saja. Kenapa sekarang jadi begini?

*anxSIAKty Disorder= gangguan kecemasan karena SIAK

Makin Tidak Tahu Apapun

Menjadi peneliti itu bukan lantas menjadi orang yang paling tahu sedunia. Justru akan makin jelas kenyataan, bahwa banyak yang belum diketahui.

Itu insight yang terpikir saat aku mulai berkuliah lagi di jurusan sains psikologi pendidikan. Di sini aku dididik untuk menjadi peneliti di bidang psikologi pendidikan.

Hampir tiap hari kami disibukkan dengan aktivitas sok pintar, macam membaca jurnal hasil penelitian, membuat makalah, berdiskusi, dan sebagainya. Tapi bukannya makin pintar, justru makin merasa banyak yang belum diketahui.

Banyak sekali fenomena-fenomena psikologis yang belum terkuak. Penelitian yang sudah ada pun, tentu masih ada kelemahannya. Nah, itu penelitian-penelitian dengan partisipan orang luar negeri, dengan pola teori mereka juga. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Siang ini (13/05/2013) aku berkesempatan menonton sidang terbuka promosi seorang calon doktor di kampus. Penelitiannya sangat menarik, karena ia meneliti tentang pemaafan dalam budaya Jawa.

“Wow, keren sekali!”

Anggapanku juga diamini oleh guru besar yang menguji calon doktor tersebut. Kata mereka, pemaafan itu sesuatu yang sangat penting, sehingga penelitian tentang itu pun juga penting. Apalagi ketika penelitiannya dibalut perspektif budaya Jawa.

Dari presentasi calon doktor, yang akhirnya menjadi doktor, makin menguatkan bahwa aku belum tahu apa-apa. Banyak sekali hal yang tadinya kupikir sudah kuketahui, tapi ternyata tidak.

Jadi hati-hati saja, ketika kita pikir kita tahu segalanya. Jangan-jangan justru kita tidak tahu apapun.

“Please, dear self. Stay humble.”