Menuju Cipanas, Sampainya ke Nirwana

Sejak berangkat pukul 6 pagi, sudah terbayang Taman Bunga Nusantara, seperti yang kukunjungi di awal 2012. Namun karena kami pergi di hari ketiga libur lebaran, semua warna-warni kembang yang terbayang, memudar segera.

Kami berangkat bertujuh: Ibu, Bapak, 3 kakak dan 1 keponakan. Kami pergi dari Ciganjur, dan masuk tol Cijago. Karena lewat tol itu, kami lebih cepat sampai dekat tol Ciawi. Bersyukur sekali, saat kami tahu ternyata ada kemacetan dari tol di kawasan Cawang hingga Ciawi.  Continue reading

#gratitoday 070612 – Beasiswa, Bangga dan Bahagia

Setelah seminggu tak ada kabarnya, akhirnya terdengarlah info bahwa surat permohonan bantuan biaya pendidikanku sedang diproses. Semoga dalam waktu dekat ada berita menggembirakan. Kalau tidak, ya tak mengapa. Aku siap!

Kabar itu muncul di sela kegiatan wawancara yang sedang kami jalankan di kantor. Aku dan beberapa teman sedang mencari fasilitator untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru, lewat wawancara itu.

Yang membahagiakan lagi adalah saat mendengar beberapa testimoni fasilitator yang ikut tahun lalu. Katanya, kegiatan pelatihan untuk mempersiapkan mereka, sangat bermanfaat ketika terjun langsung dalam orientasi mahasiswa baru. Bahkan seorang di antaranya mengaku kesempatan menjadi fasilitator menjadikannya seorang yang lebih baik dalam mengajar.

Tak kurang membahagiakannya adalah saat mengetahui beberapa yang tadinya pernah jadi muridku, saat ini akan menjadi guru bagi orang lain. Seperti ini ya rasa bahagia campur bangga campur syukur, seorang guru saat melihat murid lebih baik dari dirinya?

Ah, syukurlah atas hari ini!

Awan Mendung dan Panas Mentari

Awan mendung berduyun-duyun, dengan gagah sekaligus menyeramkan, mulai menutupi wajah suatu negeri antah berantah. Namun, satu di antaranya berwajah masam.

“Ayah, aku tak pernah suka jadi awan mendung!” kata segumpal awan mendung kecil.

“Mengapa tak suka, nak?”

“Lihat saja. Penduduk di bawah sana pasti langsung menghindariku. Tak ada yang mau main denganku. Kita ini selalu membawa ketakutan; bahkan bencana!”

“Tapi inilah tugas kita nak. Apa kau mau melepaskan diri darinya?”

“Jika memang harus!” Serangkai petir terlepas dari mata awan kecil.

Sejenak mereka terdiam, sambil berpandangan.

“Aku akan pergi!” lanjutnya.

Ayah masih dan hanya terdiam melihat awan kecil membebaskan tangan dari gandengannya lalu melayang sendirian.

Awan kecil kemudian kembali ke jalur yang telah dilaluinya tadi, dengan wajah muram.

Ia melihat sebuah desa dengan mayoritas atap rumah daun kelapanya sudah terlepas. Beberapa pohon sudah tumbang. Penduduk desa sedang berkeringat membersihkan rumah mereka dari lumpur. Dua ekor tikusmengapung tak bernyawa di sungai yang meluap.

Awan kecil makin sedih. Dan ia pun menangis.

Kemudian ia menengok ke jalur yang tak dilalui kawanannya. Di sana, tanah sudah pecah pecah. Daun-daun lesu mencoklat. Penduduk desa bersusah payah mencangkul sawah yang tak akan bisa dipanen hasilnya. Dan tak jauh dari situ,  seekor rusa mati di samping sungai kecil yang sama matinya.

Awan kecil terhenti dalam hening. Air matanya makin deras.

Sayup-sayup ia mendengar suara, “Terus. Terus. Aku haus.”

Tersadar, ia segera kembali ke tempat ayahnya berada.

“Ayah! Aku mau jadi mendung!”

“Aku mau turun menjadi hujan!”

“Aku mau menangis dalam bahagia, seperti seorang yang berkorban bagi sesamanya yg kesulitan.”

“Baiklah nak! Kutunggu kau di tanah sini ya!”

Dengan senyuman, awan kecil terjun dan memecahkan dirinya.

*Bisa dibaca juga di WritingSessionClub.Blogspot.com

Siapa Butuh Siapa?

Ternyata sesungguhnya kita yang membutuhkan mereka.

Dari kecil, kita selalu diajarkan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Anak yatim piatu, pengemis, gelandangan, dan orang-orang yang hidupnya tak senyaman kita. Bantuan bisa berupa uang, makanan pakaian atau seminimal mungkin, doa.

Ajaran itu masih ‘nempel’ sampai sekarang. Jadi kadang kita merasa enggan untuk memberikan sumbangan. Alasannya, kita juga membutuhkannya lho.

Tapi kalau kita coba resapi lebih dalam, bukan mereka yang membutuhkan kita.

Memang, hidup mereka tak senyaman kita. Makan dan minum saja sulit. Tapi, seperti sebuah kutipan “burung -burung di langit yang tak pernah mengumpulkan makanan dalam lumbung saja selalu diberkahi,” orang-orang tersebut selalu juga mendapati berkah.

Justru kita inilah yang seringkali, karena kesibukan dalam kehidupan dunia, jadi merasa tak diberkahi. Kita terlalu sibuk mengharapkan anugerah yang ekstravaganza, sampai lupa hal-hal kecil yang bermakna. Hembusan angin di tiap pagi. Cicit burungnya. Masakan bikinan ibu. Doanya saat kita pergi kerja. Juga saat memberikan sesuatu pada yang butuh. Aaah, nikmatnya.

Jadi, pagi ini aku mendeklarasikan diri untuk berbagi rejeki pada mereka. Bukan hanya karena ingin membantu mereka, tapi juga untuk belajar lebih memaknai hidup dengan penuh syukur. Dan caranya adalah dengan berbagi.

pesan bagi diri sendiri: semoga tak hanya omong belaka