Gratitoday: 150411

Syukurlah atas hari ini!

Setelah hampir 40 menit dari pertama kali weker berbunyi, aku akhirnya bisa bangun, mandi dan lalu siap bekerja. Hari ini aku ditugaskan menggantikan atasanku untuk rapat di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Sesi hari ini dimulai jam 09.00 dan akan membahas panduan program pendidikan jarak jauh.

Agar tak kena macet, aku berniat bangun pagi. Rencananya jam 04.30 aku sudah bangun dan membaca-baca bahan rapat. Tapi apa daya, kantuk mendera. Jadilah jam 05.20-an baru bangun. Mandi, pakai baju lalu aku makan.

Pagi-pagi sudah disuguhi terlu dadar gulung buatan ibu. Yummmy!

Pukul 6 lewat, segera ku jalan ke gang depan, akan menunggu angkot. Ya, untuk urusan pergi jauh, aku lebih senang naik bis. Kalau naik motor, aku merasa lebih mudah capai. Sedangkan di bis, aku bisa duduk, ngelamum, mikir ini itu atau tidur.

Setelah bingung beberapa saat, kebetulan membuatku memutuskan naik Transjakarta. Tampaknya tak sia-sia pilihanku. Setelah turun di kawasan Mabes Polri dan sedikit terjebak macet, aku sampai di TKP pukul 8 kurang.

Jam 9-an, rapat dimulai. Aku tergabung dengan beberapa orang dengan wajah familiar dan tidak. Salah satunya adalah pemberi rekomendasi yang membuatku diterima kuliah di University of Twente.

Rapat pun selesai jam 16-an. Capek memang. Namun aku bangga. Meski statusku hanya menggantikan atasan, tapi aku memiliki kesempatan berdiskusi dengan orang-orang hebat yang peduli dengan pendidikan nasional. Tak kalah membanggakan, di situ aku andil dalam pembuatan panduan pendidikan jarak jauh dan juga revisi peraturan menteri tentang hal itu. Serunya!

Selepas selesai, aku pulang kembali ke rumah.

Kebingungan kembali menyeruak. “Jam segini, dimana-mana pasti macet.”

Benar saja. Selain macet, bis yang kutumpangi pun mogok. Terpaksa aku pindah bis; penuh dan harus gelantungan di pintu. Alhasil, sampai rumah jam 20-an dengan tangan pegal.

Tapi tak mengapa. Di meja dapur, sekotak martabak telur sudah menanti. Yummy!

Syukurlah atas hari ini!

Tentang Kesederhanaan

Kupikir selama ini aku orang yang sederhana, namun ternyata aku belum, dan masih jauh dari sana.

Aku lahir dan besar dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bisa dibilang cukuplah, untuk bisa hidup sehari-hari. Bahkan aku dan kedua kakakku bisa kuliah, meski ibu hanya guru SD dan bapak hanya karyawan biasa.

Dari kecil aku terbiasa tidak hidup menghamburkan uang. Kuingat ketika SMP, kepergianku nonton bioskop 21 bisa dihitung dengan jari tangan kananku saja. Begitu pula saat SMA. Tiga tahun sekolah di kawasan Bulungan, kedatanganku ke Blok M Plaza juga bisa dihitung dengan jari tangan sebelahnya lagi.

Ketika kuliah, biasa dengan hidup susah; makan dengan uang pas-pasan, pulang naik angkot dan kereta ekonomi atau harus ikutan puasa jika mau beli celana jins baru. Sudah begitu, celananya dicuci sendiri tiap minggu.

Namun kini, setelah memiliki penghasilan sendiri, kok tampaknya aku melemah. Tadinya saat makan, harganya dibatasi sekian rupiah, kini batasannya meningkat. Sekarang sudah lebih memilih naik patas AC, kereta ekonomi AC atau Transjakarta. Lalu kalau mau beli pakaian tapi tak bawa uang, bisa langsung pakai kartu debet.

Tak cuma itu. Beli laptop yang seharga motor. Beli setumpukan buku; beberapa tumpuk. Beli kamera, bersama beberapa lensa. Beli ini. Beli itu. Dan banyak lainnya.

Perubahan ini ternyata memunculkan disonansi: “katanya aku sederhana, tapi kok kelakuannya begini?”

Lalu aku sampai pada kesimpulan bahwa dengan memiliki uang itu sama sulitnya dengan tak memiliki uang. Bahkan kalau boleh kubilang, lebih sulit. Ibaratnya, semakin tinggi pohon, angin makin kencang meniup.

Benar juga teori ekonomi ya? Semakin banyak penghasilan, konsumsi pun semakin banyak. Ada saja yang ingin dibeli. Apalagi bagiku yang dulu tak mudah mendapatkan sesuatu. Seperti kuda lepas dari kekangnya. Jika dulu kesederhanaan muncul dari keterbatasan, maka jika keterbatasan hilang, kesederhanaan pun hilang akarnya. Sebab itu, saat ini kesederhanaan harus diusahakan secara sadar. Bukan lagi karena dibatasi ketiadaannya penghasilan, seperti ketika jadi mahasiswa, tapi karena adanya keinginan sadar dari dalam untuk hidup cukup tak berlebih.

Hmmm. Tampaknya aku masih perlu banyak belajar untuk menghayati nilai kesederhanaan. Belajar lagi untuk mengelola penghasilan. Dan lebih dalam lagi, mengelola keinginan ini dan itu; jika ingin bisa mengajarkan nilai kesederhanaan pada istri dan keluargaku nanti.

Gratitoday: 040411

Syukurlah atas hari ini!

Sudah hampir sebulan sejak Gratitoday terakhirku. Dalam sela waktu itu, banyak sekali yang bisa disyukuri.

Pertama, kelas online cerpenku telah selesai dengan baik. Aku jadi tahu bagaimana proses penulisan sebuah cerpen, bagaimana mencipakan konflik, menggambarkan sesuatu dengan vivid atau nyata dan tentunya berkenalan dengan teman baru.

Kedua, SKCK-ku sudah jadi (akan kuceritakan prosesnya di tulisan berikutnya). Hasil TPA-ku juga sudah keluar. Hasilnya, 618 koma sekian. Sudah lebih dari cukup untuk mendaftar beasiswa.

Bicara tentang beasiswa, ya, aku pun sudah resmi diterima di University of Twente. Hasilnya keluar pada 28 Maret lalu. Sekarang, tinggal menunggu pengumuman beasiswa StuNed dan Depkominfo. Konon, bulan Juni sudah ada kabar. Semoga aku dan kekasihku bisa dapat biaya itu untuk sekolah di Belanda.

Keempat, baru saja kemarin aku secara impulsif membeli komik silat Pukulan Geledek. Maklum, mau nostalgia masa kecil.

Syukurlah atas hari ini!

Gratitoday: 120311

Syukurlah atas hari ini!

Minggu ini banyak sekali yang bisa disyukuri, meski banyak cobaan-cobaan.

Di awal minggu, dapat kabar bahwa kekasihku diterima di Leiden University, Belanda (selamat ya :). Dua hari setelahnya, diwawancara lewat Skype oleh perwakilan dari Edinburgh University. Tampaknya hasil wawancaranya positif, walaupun belum ada pengumuman resmi. Beginilah kalau punya kekasih pintar. Tak susah cari sekolah; bahkan di luar negeri.

Kalau dia sudah ada tanda-tanda kepastian, aku belum. Ya, agak membuat cemas sih, mengingat tenggat waktu untuk mendaftar beasiswa Stuned dan Depkominfo adanya di akhir bulan ini.

Daripada tenggelam dalam cemas, aku pun mulai mengisi-isi formulir dan menyiapkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk kedua beasiswa tersebut. Dari keduanya, beasiswa Depkominfo yang paling ribet. Aku harus ikut tes potensi akademik dan juga membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian.

SKCK memang belum, tapi hari ini aku sudah ikut TPA. Capai juga ternyata. Tapi lumayan optimis, walau di bagian hitung-hitungan ada lumayan soal yang tak terjawab.

Oiya, malam ini, jam 20-an, ponakanku kecelakaan bareng temannya. Mereka menabrak seorang anak yang ragu; mau maju atau mundur di tengah jalan. Kaki dan tangannya beset-beset. Kening kirinya juga benjut. Tapi syukurlah tak ada yang parah.

Syukurlah atas hari ini.

PS: soal pertama TPA-nya adalah mencari padanan dari kata Tarbiyah! Lah, mana ku tahu jawabnya. Kalau ada pilihan jawaban yang dekat dengan kata Nurul, mungkin aku akan jawab itu (lawakannya lokal) 😀

Sayang, Aku Bukan Supir

Mengikuti berita pasangan selebritis sangatlah menarik. Bukan karena aku adalah penggemar mereka, namun karena ada saja hal-hal lucu-ajaib-tak bisa dipercaya, yang keluar dari mereka.

Siang itu aku dan kekasihku sedang, tak sengaja, menonton sebuah acara gosip. Di dalam tayangannya ada pasangan selebriti tengah diwawancara. Dari wawancara diketahui bahwa alasan si selebriti wanita sayang pada si selebriti pria adalah, “Dia selalu ada saat aku butuhkan.”

Sontak aku pun kaget.

“Ada setiap kali dibutuhkan?”

Dalam pikiranku, “Kasihan sekali cowoknya.”

Seperti diketahui, kebutuhan manusia itu banyak. Logikanya, kalau si wanita bilang bahwa prianya selalu ada saat dibutuhkan, berati tiap kali dia membutuhkan sesuatu, si pria akan langsung ke tempat si wanita berada, untuk memenuhi kebutuhannya.

“Hahahaha! Menurutku itu sesuatu yang tidak realistis dalam hidup ini.”

Memang, sebagai pasangan, alangkah baiknya jika bisa memenuhi kebutuhan pasangannya. Namun bukan berarti harus dan selalu. Menurutku, akan ada saatnya dimana pasangan kita tak ada saat dibutuhkan. Di saat semacam inilah orang tersebut akan belajar untuk mengendalikan dirinya, mencoba mencari jalan keluarnya sendiri, dan ujung-ujungnya, belajar untuk mandiri.

Saat si wanita berkata seperti itu, aku pun menyahut ke arah kekasihku, “Wah, bukan gue banget tuh.”

Maklum, aku memang bukan tipe yang seperti si pria selebritis. Aku tidak selamanya bisa selalu hadir menemani kekasihku. Jarak rumah yang jauh dan kesibukan masing-masing, menjadi faktor utama penyebabnya. Meski begitu, kekasihku memandangiku dan tersenyum serta membelai pipiku. Saat itu aku tahu, di dalam keterbatasan kami ini, dia tetap menyayangiku (terima kasih ya).

Kami pun menyeletuk dan tertawa bersama, “Selalu ada? Supir itu namanya! Hahahahahaha!”

PS: Sore ini kekasihku menerima email. Isinya, dia tidak diterima dalam program Erasmus Mundus. Hilang deh harapan bersekolah di Norwegia, Malta dan Irlandia. Meski demikian, aku sangat (amat) bersyukur, ketika surel itu masuk, aku sedang duduk di sampingnya. Aku memang tak begitu tahu persis perasaanya saat itu. Namun begitu aku sudah pulang, ada pesan singkat masuk ke ponselku, “Gue tau kenapa pengumumannya hari ini. Karena tadi ada elo di samping gue, waktu terima kabar kalo gue gak dapet. Makasih dukungan mas yah.”

Ah, syukurlah atas hari ini.

@Food Court Margo City, Depok.

Gratitoday: 080211

Syukurlah atas hari ini!

Sudah hampir 20 hari lalu sejak Gratitoday terakhirku. Sejak itu, sudah banyak hal-hal baru yang amat layak disyukuri.

Sampai saat ini, aku belum menerima kabar pengumuman apakah aku diterima kuliah lagi atau tidak. Sebel bercampur deg-degan sih. Tapi tak apa. Aku jadi punya waktu untuk konsentrasi mengerjakan kegiatanku seperti biasa.

Selain itu, di bulan Februari aku memberikan 2 kali pelatihan e-learning. Satu bagi pengajar di fakultas kedokteran dan 1 di fakultas kesehatan masyarakat. Pelatihan yang pertama, kurasa lebih menguras tenaga; baik ketika pelatihan maupun dalam perjalanan menuju ke dan dari sana Sedang pelatihan kedua, seru sekali, karena hanya 3 orang pesertanya! Dengan sedikitnya jumlah peserta, diskusi jadi lebih hidup.

Di bulan ini juga aku memiliki sepatu untuk jogging; dan sudah sekali dipakai lari serta beberapa kali jalan-jalan. Semoga bisa terus dipakai untuk lari. Ini dia penampakannya.

Namun diantara itu, yang tak lupa harus disyukuri adalah proyek pengembangan mata kuliah e-learning di kampus dan 2 insiden kekerasan di Pandeglang dan Temanggung. Untuk yang pertama, meskipun menyita waktu, pikiran dan tenaga, plus akrobat jumpalitan, tapi aku yakin ini akan membuatku belajar hal-hal baru. Untuk yang kedua, aku yakin dengan adanya dua insiden tersebut, kesadaran masyarakat akan pentingnya Bhineka Tunggal Ika akan semakin tinggi.

Oh iya, hari ini kekasihku sakit. Katanya ia terserang bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih. Katanya, kalau ia buang air kecil, akan terasa sakit 🙁 Namun sore ini dia sudah ke dokter. Semoga lekas sembuh ya.

Syukurlah atas hari ini!